Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kembali ke kota


__ADS_3

Sudah cukup bermain-main di taman Barusen Hills, mereka bertolak pulang untuk kembali ke rumah Arlan karena hari sore. Rencana untuk ke perkebunan teh harus di urungkan, sebab mereka tak mungkin ke sana di saat cuaca mulai tak bersahabat. Awan mendung yang sejak tadi menggantung, lini perlahan menurunkan bulir-bulir air yang dingin menyejukkan tubuh.


Entah karena cuaca atau mereka yang salah memprediksi cuaca hingga harus terguyur hujan dan berlama-lama berada di tempat singgah yang ada di taman Barusen Hills tersebut.


Di dalam mobil mereka masing-masing, Zifran dan Arlan mengemudi dengan kecepatan rendah mengingat jalan di sana sedikit berkabut dan licin. Sembari mengemudi, sesekali Zifran melihat keadaan Maisya yang menggigil kedinginan karena gadis itu sempat bermain hujan bersama Alya dan Andin.


Ketiganya bak anak kecil yang terlepas dari pengawasan orang tua mereka. Bebas tanpa ada yang mengusik. Dan terakhir menggigil dan bersin-bersin itu yang dirasakan, Maisya saat ini.


"Di belakang ada kemeja kakak, kamu bisa ganti pake itu dulu. Nggak mungkin sampai rumah kamu pake baju itu terus, yang ada malah tambah dingin, terus ujung-ujungnya demam. Cepet ganti gih," perintah Zifran yang memelankan laju mobil agar Maisya bisa meraih baju yang selalu tersedia di jok belakang.


"Udah nggak pa-pa gini aja. Lagian udah nggak terlalu dingin kok," sahut gadis keras kepala tersebut.


"Jadi orang itu jangan ngeyel, Sya, nanti kalau kamu sakit kakak yang ngerasa bersalah sama Papa kamu yang nggak bisa jagain anak gadisnya. Emang mau kalau Papa kamu marah, hem?"


Maisya melirik Zifran, kemudian menggeleng.


"Ya udah, kalau gitu ganti bajunya. Liat tuh badan kamu aja udah menggigil."


"Iya-iya, kakak bawel." Kemudian mengambil paper bag warna hijau army.


"Yang ini kak." Seraya mengangkat paper bag tersebut.


"Iya. Di dalam sana ana kemeja sama sama celana pendek. Tapi kayaknya kebesaran deh sama kamu," ucapnya setelah menimbang-nimbang melihat tubuh kekasihnya yang mungil, namun terlihat 'Hem...' untuk dirinya.


Setelah mendapat apa yang di cari, Maisya dengan cekatan membuka kancing baju yang dipakai, kemudian melepaskan cardigan dan baju tersebut di samping Zifran tanpa memperdulikan pria itu sedang mencuri-curi pandang padanya.


Setelah semua terlepas, hanya menyisakan bra berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih, membuat siapapun yang melihat tentu akan *****. Termasuk Zifran saat ini.


Apalagi kini buah dada Maisya semakin terlihat padat berisi akibat tangannya yang tidak berakhlak. Sungguh, itu sangat menggoda.


"Kenapa, kakak liatin kayak gitu? Ada yang aneh sama gue ya?"


"Kamu semakin hari semakin semok, Sya. Bikin kakak nggak tahan."


Gadis itu langsung menghentikan aktivitas memasang kancing baju, mendongak menatap Zifran yang fokus mengemudi.


"Mulut Lo makin hari semakin lemes banget sih, kak. Heran gue sama lo, pake pelet apa bikin gue semakin cinta sama otak mesum Lo itu. Ini juga gara-gara kakak," dengus Maisya melanjutkan mengancingkan kemejanya kembali.


Zifran hanya tersenyum sembari mengacak rambut Maisya yang tergerai basah membuatnya semakin terlihat sexy di mata Zifran. Terlebih dengan kemeja over size- nya membuat otak mesum pria itu berputar bagai gasingan membayangkan hal yang menyenangkan bersamanya


Zifran menggeleng beberapa kali untuk mengusir pikiran kotornya. Tak sadar jika mereka sudah sampai di tempat tujuan


Setelah menempuh waktu hingga dua jam, mobil milik Zifran terparkir di samping mobil Arlan yang sudah sampai terlebih dahulu, berjajar rapih di depan rumah sederhana milik orang tua Arlan.

__ADS_1


"Ayo turun," ajak Zifran baru melepaskan seat belt.


"Tapi penampilan gue kayak gini. Apa entar kata orang-orang. Pasti mereka bakal mikir kalau kita abis macem-macem. Gue nggak mau," jawab Maisya melirik kemeja yang dipakai dengan celana pendek Zifran yamg kedodoran di pinggangnya. Dan belum lagi pikiran aneh-aneh mereka melihat ini semua.


"Udah tenang serahin sama kakak, kamu tunggu sini." Zifran keluar dari dalam mobil, lalu membukakan pintu untuk Maisya. Berbalik membungkukkan tubuhnya.


"Cepetan naik," perintah Zifran.


"Tapi-"


"Udah naik jangan banyak ngomong. Buruan!"


Hap!


Maisya pun naik ke punggung Zifran. Melingkarkan tangannya di leher pria tersebut sembari meletakkan kepala di bahu.


"Tutup mata kamu." Zifran menyuruh Maisya untuk menutup mata di saat Zifran membawanya masuk kedalam rumah yang terlihat ramai. Ada Arlan, Leon dan juga Abah yang duduk di ruang tamu.


"Malam, Abah," sapa Zifran diambang pintu.


"Malam. Kok baru sampai? Itu neng Maisya kenapa kok di gendong? Tidur?" tanya Abah memperhatikan tak ada pergerakan dari gadis tersebut.


Sambil melangkah masuk, Zifran berkata, "iya, Bah. Mungkin dia kelelahan," jawabnya sebelum melangkah masuk.


"Baik, Bah. Kalau begitu, saya permisi dulu." Zifran pergi meninggalkan mereka untuk mengantar Maisya ke kamarnya.


Sementara di ruang tamu...


"Siapa, Ar?" tanya Abah melihat Arlan terburu-buru mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja.


"Boss, Arlan, Bah, Papanya Zifran. Tunggu sebentar, Arlan mau angkat telepon."


Di tempat lain.


Zifran berjalan sambil menggendong Maisya yang terus berbisik di telinganya, tak sengaja berpapasan dengan Ambu yang membawa teh hangat untuk Arlan, Abah dan Leon.


"Eh, Nak Zifran. Baru pulang?" tanya Ambu basa-basi.


"Iya, Ambu. Maaf, saya harus ke kamar mengantarkan Maisya."


"Iya, mangga." Ambu tersenyum melihat Zifran yang berlalu dari jalannya.


"Kak, gue malu. Ini nggak banget buat gue," bisik Maisya lagi.

__ADS_1


"Sssssttttt, yang penting kamu sampai di kamar tanpa di interogasi sama si Arlan. Lagian jangan sampai si singa itu liat penampilan kamu yang sekarang. Kakak nggak rela sedikitpun. Inget, sedikitpun," ujar Zifran menekan dan mengulang kata terakhirnya.


"Sama aja, menghindar dari kak Arlan, terus di dalam gue bakal berhadapan sama Alya dan Andin. Apa itu nggak sama aja?"


"Yang penting mereka nggak liat tubuh kamu yang sexy ini. Ini cuma buat kakak, bukan buat tontonan mereka. Plisss, jangan berdebat lagi mending kamu diem dan pura-pura tidur. Jangan berisik entar ketahuan," ucap Zifran yang menyuruh Maisya untuk tidak banyak bicara.


Di dalam kamar yang di tempati Maisya, Alya duduk di ranjang, sedangkan Andin lesehan di karpet tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terketuk dari luar. Andin yang dekat dengan pintu bangun, lalu berjalan ke arahnya.


Ceklek.


Andin membuka pintu tersebut, terlihat pria berdiri, menggendong seseorang di belakangnya. Zifran, pria itu memberi kode Andin agar bergeser sedikit untuk memberinya jalan.


Tak banyak berkata, Zifran langsung meletakkan Maisya di samping Alya yang telah bergeser ke samping.


"Kalian jaga Maisya ya, soalnya dari tadi dia bersin terus, saya mau kebelakang sebentar. Jangan di ganggu," ucap Zifran memperingati mereka sebelum pergi.


"Yaelah Pak. Bapak kayak sama siapa aja nggak percayaan. Emang Bapak mau ngapain ke dapur?" tanya Andin.


"Mau ngapa-ngapain ya terserah saya. Kalau saya mau ke kamar mandi, kamu mau ikut?" tanya balik Zifran dan Andin langsung menggeleng cepat.


"Enggak lah. Mata saya masih perawan ya Pak," dengus Andin berbalik menatap Alya dengan wajah memerah menahan malu dengan pertanyaannya barusan.


Zifran menggelengkan kepala beberapa kali melihat kelakuan unik dari sahabat Maisya selama ia kenal mereka.


Setelah kepergian Zifran, Andin dan Alya terkejut melihat Maisya yang tiba-tiba bangun dari tidurnya. Memperhatikan sahabatnya, Maisya tersenyum kikuk karena diperhatikan.


Cukup lama Alya memperhatikan Maisya yang tampak berbeda dengan sebelumnya. Mulai dari pakaian dan celana yang dia pakai, bukankah itu adalah pakaian pria?


"Lo pura-pura tidur, Mae?" tanya Alya menyelidik. "Lo dari mana aja, kenapa lama banget nyampeknya? Dan ini... Lo pake baju sama celana siapa?"


"Hehehe, peace. Gue nggak bermaksud gu-gue bi... sa jelasin semuanya," ucap Maisya gugup.


Pria itu duduk di samping Maisya. Menyodorkan teh hangat untuk Maisya. "Nih, tehnya nya di minum dulu biar hangat. Dan jangan lupa setelah ini kamu mandi Kate tadi kena air hujan, lalu istirahat yang cukup karena besok kita bakal balik ke kota."


Maisya yang awalnya hendak minum, namun diurungkan karena ucapan Zifran.


"Maksudnya?" tanya Maisya.


"Kok cepet banget baliknya? Bukannya kita di sini sampai lusa ya?" sambung Andin.


"Iya, Pak. Kok cepet banget."__ Alya.


"Karena Arlan ada tugas dari Papa saya makanya dia mau balik. Lagian kalau dia balik, ngapain juga kita di sini. Kan dia yang tau tempat ini," jawab Zifran yang diberitahu Arlan ketika dirinya berada di dapur.

__ADS_1


__ADS_2