
Di Jakarta.
Plakk!
Plakk!
Suara tamparan keras menggema di ruangan yang sepi dan minimnya cahaya. Dua orang pria tengah memegangi pipinya yang terasa panas. Sesekali keduanya mengucapkan kata maaf atas kesalahan yang mereka perbuat.
"Kenapa kalian seceroboh ini, huh!" ucap seorang dengan nada tinggi. "Kalian itu saya bayar mahal untuk membawa gadis itu, bukan malah mencelakainya."
"Maaf, abisnya dia ngelawan boss," sanggah pria yang tak lain si gempal. Ia dan rekannya terus mengusap pipinya.
"Benar boss. Ternyata tuh cewe jago bela diri," sambung pria kurus.
"Terus, kalian mau bu*nuh dia?"
"Abisnya dia dia ngeselin," jawab Pria gempal.
"Dasar bodoh! Kalau dia sampai kenapa-napa, polisi bakal nyeret gue!" amuknya.
"Tapi semua aman kok boss," sanggah pria bertubuh gempal.
"Kalau sampai terjadi sesuatu, kalian berdua yang bertanggung-jawab."
****
Kembali ke rumah sakit yang ada di kota Bandung.
Tangan Maisya dicekal oleh Zifran saat gadis itu akan membalikkan tubuhnya. Zifran menggeleng memberi isyarat agar Maisya tetap berada disisinya, kemudian Zifran menatap kedua orang tuanya, beralih ke Arlan dan yang terakhir ke arah Dokter yang sedari tadi tersenyum kearahnya.
"Ada apa, Nak? Apa ada yang sakit?" tanya Mama Sarah. Wanita itu tampak khawatir.
"Bisa kalian tinggalin kami bertiga di ruangan ini?" tanya Zifran.
"Memangnya ada apa?" Kini Papa Arya yang bertanya.
"Tidak ada apa-apa!"
"Baiklah, kami akan pergi." Namun sebelum papa arya pergi, pria itu menghampiri Zifran sembari menepuk bahu Zifran pelan. "Berjuanglah. Papa akan mendukungmu." Jeda, "Kami pergi dulu, selesaikan semua dengan baik-baik."
"Hem. Tentu!" balas Zifran singkat. Setelah itu mereka keluar dari ruangan tempat Zifran dirawat.
Pria yang masih mengenakan baju pasien itu sedari tadi menggenggam tangan Maisya, seakan Zifran tak ingin gadis nya pergi menjauh walau se-senti pun.
__ADS_1
Pria itu memandang papa Bram yang berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring. Zifran menurunkan kakinya kesamping brankar, kemudian melepas jarum infus yang melekat di punggung tangannya, namun ditahan oleh Maisya. Melihat itu semua papa Bram hanya terdiam untuk menyaksikan keduanya.
"Jangan dilepas, nanti tangan lo bakal berdarah, kak!" ucap Maisya, kemudian ia menempelkan kembali plaster yang digunakan untuk menahan jarum agar tidak bergerak.
"Sebentar aja, kamu nggak usah khawatir, kakak baik-baik aja." Zifran tetap kekeh dan keras kepala untuk melepaskan jarum tersebut.
"Ya udah deh. Dasar keras kepala." Maisya hanya bisa pasrah dan membiarkan Zifran sesuka hatinya.
Perlahan Zifran berjalan menghampiri papa Bram dengan dibantu oleh Maisya. Walaupun tertatih dan rasa sakit masih menderanya, tapi Zifran berusaha untuk tetap bertahan agar ia tak tumbang.
Sakit, perih, ngilu, semua ia tahan demi memperjuangkan seseorang yang memang harus ia perjuangkan.
Duk!
Zifran jatuh bersimpuh tepat dihadapan papa bram.
"Lo nggak papa kak?" Maisya yang panik langsung memegang lengan Zifran untuk membangkitkan pria itu. Namun pergerakannya terhenti saat mendapat gelengan kepala dari Zifran.
Zifran tersenyum sebagai tanda dirinya baik-baik saja. "Tetap disini!" pintanya.
Zifran menundukkan wajahnya dihadapan papa Bram. "Maaf. Maafkan kesalahan saya yang telah membawa Maisya pergi tanpa seizin anda. Jika anda mau marah, marah sama saya. Jika anda mau menghukum, hukum saya, tapi jangan Maisya. Ini murni salah saya," ucap Zifran berharap pria paruh baya itu mau memaafkan dirinya.
"Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan saya," timpalnya. Maisya ikut bersimpuh di samping Zifran sembari menggenggam erat tangan pria itu, menyalurkan kekuatan untuknya.
Cukup lama Papa Bram terdiam mendengarkan semua yang diungkapkan Zifran padanya. Rasa kecewa tentu saja ada, terlebih pada putrinya sendiri.
"Apa? Katakan saja," jawab Zifran cepat.
"Jauhi putri saya, tinggalkan dia." Mendengar itu Maisya menggeleng cepat, air matanya jatuh menetes membasahi pipinya, meninggalkan isakan yang terdengar lirih.
"Enggak, sampai mati pun saya nggak akan ninggalin Maisya!" tolak Zifran dengan nada lantangnya. Ia yang semula bersimpuh kini berdiri dihadapan papa Bram.
"Anda boleh meminta apa saja dari saya, tapi tolong jangan menyuruh saya untuk menjauhi Maisya karena itu tidak akan mungkin saya lakukan.
"Hanya itu keinginan saya. Jika kau tidak mau melakukan, sampai kapanpun saya tidak akan memaafkan kamu."
"Saya tidak akan pernah meninggalkan Maisya." Dengan emosi yang tertahan, Zifran bersikap setenang mungkin untuk menghadapi pria yang terkenal tegas dan angkuh itu.
"Dan sampai kapanpun saya tidak akan melepaskan putri saya untuk pria bre*sek seperti kamu." Suasana di dalam ruangan itu terasa mencekam karena perdebatan yang terjadi diantara mereka.
'Ternyata sakitnya di tolak lebih sakit dari pada di suruh terjun dari ketinggian.' Zifran membatin.
"Saya tau kalau saya ini breng*sek, baji*ngan di mata anda. Tapi apa salahnya kalau pria baji*ngan ini jatuh cinta sama putri anda TU-AN BRA-MA KUM-BARA YANG TER-HOR-MAT," ucap Zifran menekan setiap kata kalimat terakhirnya.
__ADS_1
"Kau sudah tau bahwa dirimu tidak layak untuk putriku. Kenapa kau bersikeras, huh!"
"Papa," lirih Maisya memelas, berharap keduanya mau berhenti.
"Karena aku sangat mencintai Maisya Indira!" teriak Zifran lantang penuh emosi. Maisya langsung memeluk Zifran dari samping. Kemudian pria itu kembali bersimpuh. "Tolong izinkan aku untuk mencintai dan membahagiakan Maisya dalam hidupku."
Pria itu tak tahu harus berkata apalagi untuk meyakinkan pria berusia 40'an tersebut bahwa dirinya benar-benar mencintai anak gadisnya.
"Tolong beri saya kesempatan untuk mencinta Maisya," ucapnya kembali bersimpuh.
"Jika aku menolak," tegas Papa Bram.
"Aku tidak perduli. Ia atau tidak tanpa restu, aku akan tetap mencintai putrimu dan d
aku akan membahagiakannya dengan caraku."
"Lakukan apa, yang kau mau."
"Maksudnya?" tanya Zifran bingung.
"kau bilang ingin membahagiakan putriku, bukan? Maka lakukan," ucap Papa Bram santai sembari memasukkan kedua tangannya kedua saku celana.
Maisya menatap Zifran dan Papanya bergantian, seolah bingung dengan perkataan sang papa barusan. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka suara.
"Apa maksud Papa?"
"Apa kamu mencintainya?" Maisya mengangguk. Zifran terdiam meresapi
"Apa kamu bahagia bersamanya?"
"Sangat!" jawab Maisya mantap.
"Genggam lah cintamu. Bahagia lah bers-"
"Jadi, Om ngerestuin gue sama Maisya?" Sambung Zifran yang terkejut plus bahagia bukan kepalang setelah mendengar ucapan dari pria dihadapannya itu. Zifran bangkit untuk memastikan kembali ucapan Papanya Maisya.
Takutnya pria itu khilaf.
"Menurut kamu?"
Sejenak keduanya terdiam dan saling memandang satu sama lain, kemudian melirik Papa Bram yang tersenyum sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Akhirnya!" seru Zifran dan Maisya kompak. Mereka saling berpelukan dan tanpa sadar Zifran mendaratkan ciuman di bibir Maisya tepat dihadapan Papanya.
__ADS_1
"Ekhem!" dekheman papa Bram.
"Hehehe. Sorry, Om, refleks."