
Zifran mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menyediakan dengan cahaya yang berada di ruangan tersebut. Pandangan menelisik setiap sisi ruangan yang berwarna putih dengan aroma obat-obatan yang begitu kentara.
Sedetik kemudian pandangannya terpaku melihat seseorang yang telah melahirkan dirinya tengah menangis sesenggukan sembari bersandar di bahu pria yang berstatus sebagai papanya.
Dengan rasa sakit yang teramat sangat Zifran berusaha untuk bangkit. Namun ternyata tindakannya terlihat oleh sang Mama.
Mama Sarah yang melihat putranya sudah siuman buru-buru menghampirinya.
"Apa kau ingat Mama, Nak?" Itulah pertanyaan yang diucapkan Mama Sarah ketika putranya tersadar setelah hampir delapan jam terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Zifran mengangguk. "Bagaimana keadaan Maisya dan Papanya? Apa mereka baik-baik aja?"
"Ya, mereka baik-baik saja. Sekarang Maisya sedang beristirahat," ucap Papa Arya menghampiri putranya.
Flashback on
Berada tak jauh dari Maisya, Zifran melihat sebuah mobil berwarna putih melaju dengan kecepatan tinggi. Pandangan terarah memandang Maisya yang terhenti di pertengahan jalan.
Jantung Zifran seakan terhenti dengan situasi yang ada dihadapannya. Tanpa berpikir panjang Zifran berlari sekuat tenaga, melupakan rasa sakit yang menyerang lutut dan pangkal pahanya. Ia berusaha agar menggapai Maisya secepat mungkin untuk menyelamatkan kekasihnya itu.
Mobil itu semakin dekat, Zifran semakin mempercepat larinya. Di saat bersamaan terdengar suara teriakan lantang dari mereka yang menyaksikan aksinya ketika mobil itu kini berjarak beberapa meter dengan dirinya dan kedua orang yang ada dihadapannya.
"AWAASSS!!!" Mereka semua berteriak lantang.
"MAISYA, AWAASSH!" teriak Zifran bersamaan.
Zifran mendorong tubuh Maisya dan Papa Bram sekuat mungkin hingga tubuh mereka terlempar sekitar dua meter dari posisi sebelumnya.
Brakk!
Tubuh Zifran menghantam kuat bemper depan mobil yang sempat mengerem. Tapi sayang, semua itu sudah terlambat.
Bruk!
__ADS_1
Tubuh Zifran terpental beberapa meter dan menghantam pembatas jalan.
Sakit, remuk, redam itulah yang Zifran rasakan saat ini. Maisya yang menyaksikan kejadian itu berteriak histeris memanggil nama Zifran. Gadis itu dan beberapa orang yang berada di sana berlari menghampiri Zifran yang sudah tak sadarkan diri dengan luka di kepala bagian belakang, beberapa goresan di bagian wajah, terutama di dahi dan beberapa luka yang terdapat di lengan, siku dan juga lutut yang terkena gesekan aspal.
Darah segar mengalir dari belakang kepala Zifran. Maisya meletakkan kepala Zifran di atas pahanya. Memanggil, bahkan mengguncang tubuh Zifran berharap pria itu mau membuka matanya, namun nihil, kedua mata Zifran enggan untuk terbuka.
Papa Bram berlari menghampiri putrinya yang menangis dan terus memanggil nama pria yang berada dalam pangkuannya. Panas Papa Bram tertuju pada sosok pria yang memejamkan matanya. Dengan tindakan cepat Papa Bram meminta bantuan kepada beberapa pria yang berada di sana untuk membantu mengangkat Zifran dan dibawa ke mobilnya.
Sementara mobil yang menabrak Zifran sudah pergi dan melarikan diri setelah kejadian. Kini Papa Bram dan Maisya langsung membawa Zifran ke rumah sakit terdekat agar segera mendapat pertolongan pertama.
Selama di perjalanan Maisya tak henti-hentinya menangis sembari menghapus darah di wajah Zifran. Dan tak lupa juga Maisya menghubungi Arlan, memberitahukan kepada pria itu tentang kecelakaan yang menimpa Zifran barusan.
Tanpa menunggu lama Arlan yang berada di cafe bergegas pergi ke kediaman keluarga Samudera memberitahukan informasi yang ia dapat kepada Papa Arya dan Mama Sarah.
Mendengar kabar itu, Mama Sarah dan juga suaminya seketika shock. Dalam keadaan kalut mereka bertiga pergi menuju ke kota Bandung untuk melihat kondisi Zifran.
Flashback off
"Apa kau merasakan sakit?" Zifran mengangguk lagi dan hendak duduk, namun dicegah oleh Mamanya.
Tak berselang lama terdengar suara pintu ruangan yang terbuka, memperlihatkan seorang wanita cantik dengan jas putih yang melekat ditubuhnya. Wanita itu berjalan, diikuti oleh Arlan di belakang.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Papa Arya cemas.
"Semua baik. Hanya luka di bagian kepala yang harus di kontrol takutnya terjadi pembekuan darah ataupun pendarahan yang dapat berakibat fatal untuk kedepannya. Dan untuk yang lain, semuanya baik-baik saja," terang Dokter itu menjelaskan.
"Apa luka anak saya separah itu, Dok?" tanya Mama Sarah.
"Jika dilihat dari segi luka, tidak terlalu. Namun akibat dari benturan keras di kepalanya ini yang harus kita waspadai. Bila perlu kita harus melakukan CT scan untuk mengetahui secara pasti."
Papa Arya, Mama Sarah dan juga Arlan merasakan kecemasan setelah mendengar penuturan dari Dokter yang baru saja memeriksa kondisi Zifran. Namun ada sedikit kelegaan dihatinya mereka melihat bahwa Zifran baik-baik saja.
Terutama Mama Sarah, wanita itu merasa bersyukur karena putranya tidak mengalami amnesia seperti kebanyakan cerita pada novel-novel yang sering ia baca.
__ADS_1
Ceklek.
Suara handle pintu yang diputar seseorang mengalihkan seluruh pandangan mereka melihat siapa yang datang tengah malam begini.
Seorang gadis cantik dengan mata yang sedikit sembab muncul dari balik pintu bersama seorang pria paruh baya dengan wajah datar nya berjalan menuju brankar tempat Zifran berada. Gadis itu berjalan cepat ke arah Zifran yang tersenyum karena kedatangannya.
Slepp!
Tanpa memperdulikan sekitarnya gadis itu langsung memeluk Zifran erat hingga pria itu meringis menahan sakit di bagian punggungnya.
"Ssshhh. Sya, bisa kendorin sedikit, ini sesek loh!" ucap Zifran berbohong.
"Nggak mau. Biarin aja!" Tak terasa air mata Maisya jatuh membasahi kedua pipinya. Betapa khawatirnya ia dengan pria yang berstatus sebagai kekasih yang membuat dirinya menjadi secengeng ini.
Zifran melepaskan pelukan Maisya, menatap wajah sembab gadisnya. Tangannya terulur menghapus jejak air mata yang tersisa di pipi Maisya.
"Jelek banget kalau nangis. Senyum dong," ucap Zifran menggoda.
"Biarin jelek, ini semua gara-gara kak Zi, tau nggak."
Plak!
Zifran meringis ketika memar di punggungnya mendapat sapaan cantik dari gadis yang begitu menghawatirkan dirinya.
Semua gerak-gerik keduanya tak luput dari pandangan mereka yang berdiri menyaksikan mereka.
Cup!
Zifran membulatkan matanya ketika Maisya tanpa ragu mencium bibirnya sekilas di depan banyak orang.
Apakah gadis itu tidak menyadari situasi yang ada?
"Jangan bikin gue khawatir lagi ya? Soalnya gue takut kalau Lo bakal ninggalin gue," ucap Maisya. Setelah itu ia hendak mencium Zifran kembali, namun pergerakan Zifran mengisyaratkan agar dirinya untuk menoleh kebelakang.
__ADS_1
Maisya pun mengikuti arah pandang Zifran yang menatap mereka yang sedang menutup mata untuk menghindari mata dan otak suci mereka yang takut terkontaminasi dengan pasangan mesum yang berada dihadapan mereka.
Terkecuali Papa Bram. Pria itu menatap tajam putrinya seolah berkata untuk menjauh dari pria yang telah menyelamatkan nyawanya.