
Ia berbalik badan menatap orang yang telah menutup matanya, "kak Zi!" kagetnya.
"Kenapa? Nggak suka ya?"
"Lo ngapain kesini sih kak. Dan Lo ngapain masuk lewat jendela, kayak maling tau nggak!" omel gadis itu.
"Kangen. Kamu masih marah sama kakak soal tadi malam?"
"Gue nggak marah sama lo. Cuma gue kesel aja. Sana minggir!" Maisya mendorong tubuh Zifran. Akan tetapi usahanya itu sia-sia. Tubuh Zifran tetap tegak tak bergeser.
Pria itu mencekal tangan Maisya, "tunggu! Kakak ada sesuatu buat kamu." Ia mengeluarkan buket bunga dari balik punggungnya. "Nih! Sebagai permintaan maaf kakak. Kamu mau kan maafin kakak," Zifran memberikan bunga itu kepada Maisya.
Maisya menyerngitkan dahinya menatap buket bunga yang kini berada ditangannya, "Kak. Lo serius ngasih bunga ini ke gue?"
"Iya! Bunganya bagus kan? Itu buat kamu. Kenapa, kamu mau bunga ini lebih banyak lagi?"
"Kak Zi sebenarnya niat nggak sih minta maaf sama gue."
"Emangnya kenapa?!"
"Ini yang Lo kasih ke gue bunga kuburan kak! Masak iya orang minta maaf tapi ngasihnya bunga kayak gini! Lo sehat kan kak?" Maisya tak habis pikir dengan pria yang ada dihadapannya ini. Bisa-bisanya dia memberikan buket bunga yang berisi beberapa bunga kuburan, seperti bunga melati, mawar merah, putih. Bunga Kamboja dan yang terakhir bunga kantil yang telah dirangkai menjadi satu.
"Masak sih! Tapi kata penjualnya ini bunga mahal dan terbaik."
"Terbaik buat dia, bukan buat gue! Lo pikir gue dedemit yang lo kasih beginian. Heran gue sama lo. Lo beli dimana sih ini bunga?" tanya Maisya.
"Di persimpangan jalan yang mau arah ke rumah kamu!" jawab Zifran dengan entengnya.
"Kenapa nggak sekalian Lo pesan batu nisan buat gue kak. Itu toko bunga khusus pemakaman. Astaga!" gadis itu mulai merasa kesal.
"Sia*lan, berarti gue dikibuli."
'Ah sial! Gagal sudah rencana ku.' batinnya
"Elo aja yang bego mau di bodoh-bodohin. Dah ah, gue ngambek lagi sama Lo!"
"Oiya, gimana sama bunga yang kakak kirim, apa kamu suka?" tanyanya sambil rebahan. Entah sejak kapan pria itu jadi seenak jidatnya menganggap kamar Maisya menjadi seperti kamarnya sendiri. Membiarkan Maisya berdiri ditempatnya.
"Jadi bunga mawar hitam itu elo yang ngirim kak?" tanya Maisya tak percaya. Rasa marah dan kesal yang sempat menderanya kini hilang entah kemana.
"Benar! Itu katanya bunga paling mahal dan paling langka. Nggak ada cowok yang ngasih cewek pake bunga itu, makanya kakak beliin buat kamu." Ucapnya sombong.
__ADS_1
"Gue nggak habis pikir sama Lo kak. Asal Lo tau, selama gue jadi cewek, gue nggak pernah nemuin ada cowok yang ngasih tuh bunga buat cewek, siapapun itu. Horor banget tau nggak!"
"Siapa bilang horor. Mawar hitam itu lambang kesetiaan tau nggak!" Jawab Zifran semangat. Kemudian pria itu bangkit dari posisinya ketika Maisya duduk disampingnya. "Kayak kesetiaan kakak sama kamu."
"Ha', maksudnya?"
"Udah lupain aja!" ucapnya. Ia memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan gadis itu. "Jadi masih marah nggak sama kakak? Hem." Pria itu menaik-turunkan alisnya sembari tersenyum ke arah Maisya.
"Sya, kamu lagi sama siapa didalam!" teriak papa Bram dari luar. Pria baruh baya itu tanpa sengaja mendengar suara bising dari kamar sang putri.
"Aishhh, tuh kan kedengaran. Elo sih kak!" omelnya berbisik.
"Nggak sama siapa-siapa kok Pa, ini tadi ada kadal masuk kamar!" ucap Maisya setengah berteriak.
Cletak!!
"Awwsshh!" Maisya mengusap bibirnya yang terasa panas akibat sentilan maut dari Zifran.
"Apa sudah keluar kadalnya?" ucap Papa Bram.
"Issh, sakit tau kak!" decak maisya. "Belum Pa, ini lagi di usahain." teriaknya kepada sang Papa.
"Perlu papa bantuin?"
"Oh, oke." papa Bram lalu pergi meninggalkan kamar putrinya.
Mengetahui Papanya telah pergi, Maisya menatap tajam kearah pria yang berani menganiaya bibir sexy-nya.
"Isshhh. Elo apa-apaan sih kak! Lo pikir nggak sakit apa?! Sakit tau!" ia masih mengusap bibirnya.
"Enak aja kamu bilang kakak kadal."
"Emang iya kan! Udah sana buruan balik, entar ketahuan bokap gue."
"Iya-iya, bawel amat sih. Muach!" Zifran mencium pipi Maisya. Setelah itu ia berjalan menjauhi gadis itu.
Namun baru beberapa langkah ia membalikkan tubuhnya menghampiri Maisya kembali, "Ada yang ketinggalan."
"Apa?" tanya Maisya bingung.
"Ini!" tunjuk Zifran kearah bibir Maisya.
__ADS_1
Pria itu langsung menyambar bibir mungil Maisya, lalu melu*matnya secara lembut tapi menuntut. Begitupun dengan Maisya, gadis itu tidak menolak permainan yang terasa mendadak untuknya.
Perlahan ia mengalungkan tangannya ke tengkuk pria ayang ada dihadapannya kini. Rasa marah, kesal kini hilang entah kemana berganti dengan rasa jangan dan nyamannya sebuah pelukan.
"Dah ah, besok lagi. Untuk malam ini nyicil dulu!" Ucapnya tersenyum menyudahi aksinya sembari mengusap bibir Maisya yang meninggalkan sisi cumbu'an sesaat mereka.
"Dah kakak balik dulu. Besok-besok jangan pakai celana pendek luknat ini lagi, kakak nggak suka ada yang liat tubuh kamu selain kakak. Paham!"
Maisya mengangguk, "Hem!"
Cup
Zifran mengecup kening Maisya. Setelah itu ia berjalan keluar dari kamar Maisya.
Sementara itu Maisya terus memandang kepergian dirinya hingga tak terlihat terhalang oleh jendela yang tertutup.
Setelah kepergian pria itu, tak henti-hentinya gadis itu mengembangkan senyumnya mengingat kekonyolan dan kenekatan mereka barusan.
Maisya merebahkan tubuhnya di atas kasur Queen size-nya, melupakan tugas yang baru saja ia mulai.
****
Di sebuah club malam seorang pria sedang tertawa puas hingga terbahak-bahak mendengar penuturan dari sahabat sekaligus atasannya. Dengan kesadaran penuh ia terus menertawakan kebodohan sahabatnya itu hingga umpatan terus ia terima dari sang sahabat.
"Hahaha. Dasar bego Lo. udah tau bunga kuburan ngapain Lo beli o*on. Untung gue bukan Maisya. Kalau gue jadi dia udah gue kirim Lo ke pemakaman umum nemenin mas poci sama mbak kunkun. Gilak aja, masak mau nembak cewek pake begituan, gue sih ogah!" ucap Arlan sembari menahan tawanya.
"Emang sia*lan tuh lo. Seneng banget liat temen menderita. Dasar sahabat luknat."
"Sorry, bro, bukan gue ngetawain Lo, tapi ini rekor dalam sejarah percintaan. Seorang cowok mau nembak cewek tapi pake bunga kuburan. Wow emezing. Pfffftttt!"
"Tapi ada untungnya juga karena gue bilang ke dia lalu itu bunga sebagai permintaan maaf gue kedua. Coba kalau gue ngungkapin perasaan gue pake tuh bunga, bisa Lo bayangin harga diri gue mau di taro kemana coba. Ah, emang sialan tuh tukang bunga!" sambungan Zifran dengan nada frustasi.
Memang niat awalnya ia ingin mengungkapkan perasaannya. Namun setelah ia mengetahui bahwa gadis itu masih kesal dengannya iapun mengurungkan niatnya.
"Hahaha, sabar Fran, Mungin ini ujian buat lo. Eh Fran, noh liat ada cewek yang nyamperin Lo!" ucap Arlan di sela tawanya. Ia mengkode pria itu saat seorang wanita melambaikan tangan kearah mereka. Bukan mereka, tapi lebih tepatnya kearah Zifran seorang.
"Alah biarin aja. Gue nggak nafsu sama yang begituan."
"Ah, serius Lo! Udah tobat Lo?" tanya Arlan merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Di bilang tobat ya enggak, tapi gue cukup sama dia aja!" jawab Zifran setelah meneguk wine yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Dia? Siapa?" tanya Arlan penasaran.
"Nggak usah kepo Lo!" Ia mengabaikan wanita dengan pakaian sexy-nya yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.