Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Awal pertemuan (Arlan & Alya)


__ADS_3

"Kenapa nggak dijawab?" Arlan memandang wajah Alya yang tampak menahan sesuatu di sana. Namun ia tak tau apa yang sedang terjadi dengan gadis itu.


Sedangkan gadis yang dimaksud berusaha menahan kekesalan pada dirinya yang tak mengingat setelah kejadian kecelakaan yang membuat gadis itu harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.


Yang menumbuhkan rasa cinta pada pandangan pertama bagi seorang gadis bernama Alya Zealora.


Ternyata, pertemuan mereka yang tanpa di sengaja menumbuhkan benih cinta di hati Alya, dan menjebaknya dalam cinta sepihak diantara keduanya.


Sambil mengaduk makanan yang ada dihadapannya tanpa nafsu untuk menyantap, Alya berbalik memandang wajah Arlan yang tampak seperti menunggu jawaban darinya.


Alya menghela nafasnya berat, merutuki pria yang ada dihadapannya karena tidak mengingat dirinya saat ini.


"Lo inget kecelakaan dua tahun lalu? Apa Lo inget sama cewek yang pernah Lo tolong?" tanya Alya, terlihat raut wajah serius yang terpancar dari wajahnya.


Pandangannya begitu dalam menatap Arlan dari jarak satu meter. Arlan menautkan alisnya mendengar ucapan Alya. Seketika ingatannya langsung tertuju pada seorang gadis remaja, menggunakan seragam sekolah berwarna coklat yang tergeletak di pinggir aspal dengan luka di bagian kepalanya.


Flashback on


Kejadian 2 tahun lalu, lebih tepatnya sepulang sekolah.


Sebuah motor matic melaju dengan kecepatan sedang, dikendarai oleh seorang gadis berusia 15 tahun. Saat itu cuaca di ibukota sedang tidak bersahabat, udara terasa dingin disertai hujan yang perlahan turun membasahi jalanan kota Jakarta di siang hari.


Karena hujan turun semakin deras, gadis yang mengenakan seragam coklat itu hendak berbelok untuk meneduhkan tubuh yang mulai menggigil kedinginan.


Namun naas, karena jalanan begitu licin akibat hujan motor yang dikendarainya tergelincir hingga menabrak mobil yang berada didepannya.


Brakk!


Suara tabrakan terdengar begitu nyaring dan tak terelakkan, menyebabkan gadis itu jatuh dari motor yang ia kendarai. Remuk, redam, ia rasakan ketika tubuhnya menyentuh aspal secara kasar. Darah segar mengalir menutupi sebagian wajah gadis itu. Untungnya jalanan pada saat itu tidak terlalu padat dan ramai. Jika seperti biasa, sudah dipastikan tubuhnya akan tergilas oleh beberapa kendaraan yang melintas di sana.


Tak jauh dari posisi gadis itu, sebuah mobil berwarna silver memberhentikan lajunya saat melihat motor matic dengan kondisi cukup hancur menjadi pusat perhatiannya. Seorang pria mengenakan pakaian formal memandang seseorang yang tergeletak bersimbah darah. Menyadari akan hal itu, ia langsung berlari menghampiri sosok yang tak berdaya dengan luka di bagian kepala.

__ADS_1


Dengan sisa kesadaran yang mulai menipis, gadis itu menatap seseorang yang berjongkok disampingnya sembari berucap agar ia tetap tersadar hingga pertolongan tiba.


Pandangan gadis itu tak pernah terlepas dari wajah pria yang kini bersamanya. Perlahan matanya terpejam merasakan setiap sentuhan yang diberikan oleh pria itu.


Hingga pertolongan tiba pria itu membawanya menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Sayup-sayup terdengar suara beberapa dari mereka yang tengah berbincang satu sama lain. Tak ketinggalan, betapa hafalnya ia dengan suara itu.


Mata yang mulanya terpejam perlahan terbuka, mengedarkan pandangan, menelisik setiap sudut ruangan yang didominasi oleh warna putih. Dengan aroma obat-obatan begitu kentara hingga menusuk kedalam indra penciuman.


Tepat disampingnya, seorang pria berdiri menatapnya lega. "Akhirnya kamu sudah sadar. Maaf, aku tidak bisa lama-lama menunggumu. Dokter sudah menghubungi keluargamu dan mereka sebentar lagi akan sampai. Dan maaf, aku harus pergi."


Setelah mengatakan itu, Arlan bergegas meninggalkan ruangan tersebut, namun sesaat langkahnya terhenti mendengar ucapan dari gadis itu.


"Tunggu! Nama lo siapa?" Terdengar suara lemah dari bibir gadis yang kini beranjak dewasa.


"Arlan." Hanya itulah yang terucap dari bibir pria yang mulai melangkah menjauh dari tempatnya berada.


"Gue berharap ini adalah pertemuan kita yang pertama. Gue pastiin kita bakal ketemu untuk yang kedua kalinya, karena gue suka sama lo." Gadis itu berkata sambil tersenyum kearah pintu.


Dengan keyakinan pasti, ia berharap Tuhan mau mempertemukan dirinya dengan pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.


Flashback off.


Setelah kejadian itu, keduanya tak pernah lagi bertemu. Baik Arlan, maupun Alya, keduanya sama-sama sibuk dengan urusan mereka, hingga takdir mempertemukan mereka kembali dengan waktu yang cukup lama.


"Jadi kamu anak sekolah yang pernah aku tolong?" tanya Arlan untuk memastikan bahwa ia tidak salah.


Alya mengangguk membenarkan pertanyaan Arlan untuknya. Sambil menyedot minuman yang ada dihadapannya, alya kembali memandang wajah Arlan.


"Sepertinya dunia begitu sempit ya untuk kita berdua. Saya nggak nyangka kalau kamu kita bakal ketemu lagi. Dan saya minta maaf karena waktu itu saya ninggalin kamu gitu aja."

__ADS_1


"Nggak papa kok kak. Btw, makasih banget ya, Lo udah nolongin gue. Dan maaf, gue baru bisa ngucapin makasih sekarang."


"Hem, it's okay," jawab Arlan singkat.


"Sekarang Lo tau kan, kak, betapa berartinya lo buat gue."


Arlan mengangguk. "Terus!"


"Gue udah jatuh cinta sama lo sejak pandangan pertama. Jatuh cinta sama orang yang udah nolongin gue dua tahun lalu. Dan tanpa lelahnya, gue nungguin elo kak selama itu." Tanpa menutupi, Alya mengatakan terus terang kepada Arlan tentang perasaannya selama ini. Berharap jika cintanya akan terbalaskan.


Arlan menyesap kopi kesukaannya sekedar menghilangkan rasa gundah di dalam hati. Ada rasa tak percaya karena masih ada seseorang yang begitu begitu mencintainya, namun di sisi lain, rasa kecewa dalam hatinya tak bisa ia lupakan jika mengingat bahwa dirinya bukanlah pria yang pantas untuk dicintai.


"Jadi gimana?" Pertanyaan dari Alya sukses membuat kening Arlan berkerut. Pria itu bingung dengan ucapan dari lawan bicaranya itu.


"Bagaimana apanya?"


"Lo mau nggak jadi pacar gue?"


"Ukhuk, ukhuk!" Seketika Arlan tersedak oleh makanan yang ia kunyah. Ia tidak menyangka jika perkataan Alya sebelumnya adalah serius.


Alya langsung memberikan air minum kepada Arlan. "Lo makan hati-hati dong, entar kalau Lo kenapa-napa bisa habis gue sama pak Zifran." Sambil menepuk punggung Arlan.


Arlan menegakkan tubuhnya. "Udah baikan?" tanya Alya sempat khawatir. Arlan mengangguk sebagai jawabannya.


"Oiya, gimana? Kakak mau kan?" tanya Alya kembali memastikan.


Arlan menarik nafasnya dalam-dalam untuk menetralisir degupan jantungnya yang berdetak kencang setelah sempat dibuat syok oleh ucapan gadis yang tak berfilter itu.


Dengan kemantapan hati, Arlan pun menjawab pertanyaan dari Alya, "kalau untuk saat ini maaf, saya tidak bisa. Tapi kalau boleh saya minta sama kamu, apakah kamu mau untuk menunggu saya hingga saya siap?" Arlan menatap mata Alya begitu dalam dan lekat, menyiratkan sebuah harapan besar dalam hati, berharap gadis itu mau menunggunya kembali.


Ada perasaan aneh dalam hatinya. Namun ia tak mau gegabah dalam memutuskan pilihan yang takut akan membuatnya terluka untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


__ADS_2