
Maisya dan papanya baru saja tiba di rumah sakit milik keluarga Samudera. Keduanya berjalan beriringan di sepanjang koridor menuju ruangan dimana Zifran dirawat.
Di depan pintu kamar bertuliskan VIP, Maisya dan Papa Bram masuk. Di sana rupanya selain Zifran, ada juga papanya yang berdiri di sampingnya, sedangkan Mama Sarah tengah menyuapi putranya tang terlihat begitu manja.
Jangan ditanyakan lagi tingkat kemanjaan sang pewaris tunggal keluarga Samudera seperti apa. Tentu saja mengalahkan anak SD yang baru sunat. Bahkan mengalahkan ketika dulu ia di sunat. Oh, Tuhan... dalam hati Mama Sarah, ingin rasanya wanita itu menggadaikan putranya di pegadaian emas. Sebab jika sudah begini pasti ujung-ujungnya, Hem... ampun deh.
"Eh, ada Maisya dan pak Bram. Silahkan masuk pak. Kok berdiri di situ?" Papa Arya baru menyadari akan hal itu. Mama Sarah dan Zifran pun mengalihkan pandangan mereka.
"Sepertinya anakmu itu belum cukup dewasa, Tuan Arya," ucap Papa Bram berjalan mendekat. Papa Bram melirik Maisya ketika merasakan sebuah cubitan yang dilayangkan putrinya.
"Papa kalau ngomong jangan gitu, dong. Bikin malu tau nggak!" seru Maisya berbisik.
"Ya begitulah kelakuannya jika sedang sakit. Silahkan duduk, Pak!" Papa Arya menggeser kursi dan dan berikan pada pria yang hampir seusianya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Papa Bram pada Zifran.
"Sehat om."
"Kakak jadi pulang 'kan?" tanya Maisya.
"Hem."
"Sini Tan.Biar Maisya aja yang nyuapi kak Zifran. Nggak pa-pa 'kan?" Maisya mengambil piring yang ada di tangan Mama Sarah.
"Tentu saja."
"Oiya, Tan, jam berapa kak Zi pulang?"
"Sebentar lagi. Sekitar jam sepuluh."
"Kamu udah selesai ujian, Sya?" kini gantian Zifran yang bersuara.
"Belum. Masih beberapa hari lagi. Kenapa?"
"Nggak ada."
"Buka mulutnya!" perintah Maisya agar Zifran membuka mulut.
Di samping ranjang kini hanya ada Maisya dan Zifran di atas ranjang. Sementara ketiga orang tua berpindah ke sofa, memberi waktu pada dua insan yang baru saja berbaikan.
Papa Arya dan juga Papa Bram saling terlibat pembicaraan serius diantara mereka.
"Kapan?" tanya Papa Arya yang tak menjelaskan maksudnya.
"Apanya Tuan?"
"Ah, jangan panggil saya Tuan, Pak Bram. Sebentar lagi Kita 'kan akan menjadi besan."
"Baiklah. Apa maksud anda tadi Pak Arya?"
"Kapan mereka akan menikah? Saya dan Mamanya Zifran sudah sangat ingin menimang cucu."
__ADS_1
"Ukhuk... ukhuk... ukhuk." Maisya langsung meneguk air yang ada dihadapannya tanpa permisi Deng sang empunya. Setelah mendengar ucapan Papa Arya, tiba-tiba saja tersedak angin ketika menyuapi Zifran.
Apa tadi? Menikah? OMG. Seakan dunia Maisya runtuh saat itu juga. Dirinya saja baru hampir menyelesaikan semester satunya. Dan masih ada UAN. Setidaknya tunggu ia selesai atau bahkan hingga sarjana. Bukan seperti ini. Ingin rasanya Maisya kabur dari hadapan mereka.
"Kamu kenapa, Sya? Kok wajah kamu merah gitu. Kamu sakit?" Mengelus wajah Maisya. Sejak tadi tingkah gadis tersebut tak luput dari pandangan Zifran. Pria itu terus memperhatikan ada apa dengan kekasihnya .
Maisya menggeleng. "Eng-nggak kenapa-napa kok."
Ternyata kejadian itu membuat atensi para tetua kompak menatap mereka.
"Sudah, pak Bram. Lebih baik kita fokus kepada pembahasan mengenai hal yang saya tanyakan. Bagaimana? Anda setuju atau tidak?"
****
Sesuai harapan. Kurang dari jam sepuluh Zifran sudah di perbolehkan pulang. Maisya setia berada di samping pria dengan kadar kemesuman sudah over kapasitas.
Berjalan beriringan membuat keduanya semakin terlihat kompak dan begitu serasi. Entah karena di sengaja atau tidak keduanya saat ini mengenakan pakaian berwarna senada dengan celana jeans berwarna hitam yang di pakai Zifran dan navy, yang di pakai Maisya.
Terlebih lagi dengan kehadiran orang tua mereka semakin menjadi topik tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
Banyak pasang mata yang menatap kagum keduanya. Terlihat cocok meski usia mereka terpaut delapan tahun. Namun, itu tak menjadi jarak untuk Maisya dan Zifran dalam menjalin cinta.
*
*
*
Selama seminggu semenjak mereka berbaikan, segala ucapan yang Maisya keluarkan seakan menjadi magnet baginya. Banyak perkataan dari Maisya yang ia dengar dan patuhi.
Seperti tidak merokok. Tidak meminum minuman yang beralkohol. Pulang harus ke rumah utama, tidak ke apartemen. Dan yang terakhir, selalu memberi kabar di manapun Zifran berada.
Ya... anggap saja kalau Maisya bersikap posesif pada Zifran. Namun, bukannya merasa risih, Zifran justru dengan senang hati melakukannya.
Berhubung Maisya sudah libur sekolah, jadi Maisya memiliki banyak waktu luang untuk dirinya bersantai bersama kedua sahabat dan juga kekasihnya.
Sesuai janji yang pernah Papanya berikan jika Maisya memiliki nilai cukup bagus di tahun ini dari tahun sebelumnya, maka papa Bram akan memenuhi keinginannya itu.
Alhasil Maisya pun menagihnya beberapa hari lalu saat pembagian raport. Di mana dirinya mendapat peringkat 11dari 32 murid. Dari sebelumnya hanya peringkat 19 dari 32 murid.
Walaupun tidak masuk sepuluh besar, tapi Papa Bram tetap mengapresiasi usaha putrinya. Begitupun dengan Zifran, ia memberikan Maisya boneka Boba berukuran jumbo dan tiket liburan untuk mereka berlima.
Saat ini Maisya disibukkan dengan pekerjaannya baru yang beberapa saat ia dapatkan dari Zifran.
Di taman belakang rumah keluarga Samudera, Maisya dan Zifran duduk santai di sebuah saung yang terletak tak jauh dari kolam renang.
Ralat. Bukan mereka berdua yang duduk melainkan hanya Maisya. Sedangkan Zifran, pria itu rebahan dengan paha Maisya sebagai tumpuannya. Dan tak lupa pula Zifran menyuruh Maisya untuk membelai rambutnya hingga ia tertidur.
Dasar cowok buaya. Menang banyak si Zifran.
Bukannya tertidur, justru Zifran tersenyum sambil memainkan ponsel yang ada digenggaman tangannya.
__ADS_1
Inilah sifat Zifran. Selalu ingin dimanja dan diperhatikan. Sungguh enak bener hidupnya.
"Sya, jadikan kita liburan ke Bandung?" tanya Zifran disela-sela permainannya.
Eits! Jangan omes dulu. Main ponsel maksud si Zifran.
"Ya jadi, dong. Kapan kita berangkat?" tanya Maisya balik. Gadis itu masih setia dengan pekerjaan barunya.
"Lusa aja gimana. Soalnya itukan tanggal merahnya double. Jadi Arlan bisa libur."
"Oke. Kalau aku mah ayok aja kak. Kapan pun itu, gue siap kok."
"Ya udah hayok sekarang!" seru Zifran bangkit dan duduk dihadapan Maisya.
"Apanya?"
"Ya itunya."
"Kok mendadak sih kak. 'Kan gue belum siap-siap. Lagian belum ngabarin yang lain, juga!" cecar Maisya. Ya kali dia pergi tanpa persiapan. Yang bener aja tuh orang.
"Bukan itu Sya?"
"Lah terus apa? Ngomong yang jelas dong!" omelnya. Maisya semakin dibuat pusing dengan ucapan yang bertele-tele.
"Yang ini Maisya sayang," lirih Zifran sambil memperagakan adegan ciuman menggunakan kedua tangannya.
"CK. Otak Lo waras kak?!" Maisya berdecak kesal dengan isi kepala pria yang ada dihadapannya.
"Kenapa?" tanya Zifran dengan wajah tanpa dosa.
"Kan si otor lagi puasa. Ya kali buat begituan."
"Ya apa urusannya Yang?"
"Ishh, Lo itu dulu sekolah dimana sih kak. Kan siang-siang nggak boleh."
"Oh iya, kakak lupa. Berarti kalau malem bolehkan?" tanya Zifran semangat.
"Boleh. Tapi tergantung si otornya mau apa nggak."
"Kamu tenang aja. Entar kakak negosiasi dulu sama si otor."
"Emang bisa?" tanya Maisya menyepelekan.
"Bisa dong. Tinggal pilih, mau aset perusahaan, mobil sport Kakak yang kamu tabrak dulu. Atau-"
"Gue maunya elu gimana?"
Maisya dan Zifran menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
"Otor!" seru mereka kompak.
__ADS_1
...****...