
Seorang pria berperawakan tinggi baru saja keluar dari mobil yang baru saja terparkir di area sekolah. Pria itu berjalan dengan langkah tegas berwibawa membuat para ibu-ibu yang melihatnya begitu terpesona oleh ketampanan yang ia miliki.
Zifran, pria yang kini genap berusia 34 tahun itu masih terlihat tampan dan gagah meski di usianya yang tak lagi muda. Mendapat julukan sebagai hot Daddy dari emak-emak yang ada di sekolah putranya.
Seperti biasa, siang ini Zifran menjemput anaknya di tengah-tengah kesibukannya sebagai CEO di perusahaan ZA grup. Zifran terus berjalan dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajah tampannya saat para ibu-ibu menyapa ataupun menggodanya.
Ya, itulah Zifran. Meskipun sudah memiliki ekor, namun pesonanya tak pernah pudar dan malah semakin bertambah saja.
"Barusan datang Pak Zifran?" tanya salah satu orang tua murid yang kebetulan berpapasan dengan Zifran di halaman sekolah.
"Iya, Bu," jawab pria itu ramah.
"Saya duluan ya, Pak, soalnya belum beres-beres di rumah."
"Silahkan, Bu. Saya juga buru-buru takut anak saya ngamuk. Soalnya kalau dia udah ngamuk, bisa terancam keselamatan saya nanti. Hehehehe."
Ibu yang menggandeng anaknya itu pun ikut tertawa mendengar guyonan dari pemilik sekolah tersebut. Di saat yang lain terlihat sombong dan enggan berbaur, justru Bapak satu anak itu tak segan-segan memperlihatkan tingkah lakunya yang tidak ada jaim-jaimnya bersama siapapun.
"Hai, Papa, bro!" teriak bocah laki-laki berusia 6 tahun sambil berlari ke arah Zifran.
"Hei, bocil, bro jangan lari-lari nanti jatuh!"
Setelah kepergian ibu itu, Zifran menghampiri putranya.
"Papa bro kenapa sok tebar-tebar pesona sama ibu-ibu. Nanti Vano aduin ke Mama baru tau rasa," omel Zevano melipat kedua tangannya di depan dada seperti orang yang sedang marah.
"Ck. Dasar bocil kang ngadu! Lu pikir selera gue rendah banget apa?! Gue nggak nafsu liat yang begituan kalau yang di rumah lebih menjanjikan. Ayo kita pulang sebelum Nyonya besar ngasih tugas tambahan buat kita berdua."
Dengan kasar Zifran menarik tangan Zevano dan tentu saja bocah itu semakin kesal pada Papanya yang tidak berakhlak itu. Tubuhnya yang kecil harus dipaksa untuk menyamakan langkah orang dewasa yang dua kali lipat dibandingkan dirinya.
"Huuu .... Tampang aja yang sok garang kalau sama anaknya. Tapi giliran sama Mama bro, Papa bro nggak ada apa-apanya. Nyesel aku punya Papa kayak Papa bro. Dasar pengecut!" sarkas Zevano membuat Zifran berhenti sesaat dan menatap sinis dirinya.
Ternyata di balik usia Zevano yang masih kanak-kanak, bocah itu cukup kritis dan pandai kalau soal memojokkan Papanya. Apalagi dia tahu kalau sang Papa begitu lemah jika sudah berhadapan dengan Mamanya.
"Kalau kamu nyesel jadi anak Papa, terus kamu mau jadi anak siapa? Anak orang lewat?"
"Ya minimal jadi anak om Arlan lah. Gini-gini aku juga pengen waras kayak si Arkan," celetuk Zevano tak berdosa dan meninggalkannya begitu saja.
Sementara, Zifran hanya bisa melongo mendengar ucapan putranya barusan. Bisa-bisanya bocah itu berkata ogah menjadi anaknya.
__ADS_1
Sungguh dunia sudah terbalik di mana orang tua seperti dirinya harus ternistakan oleh putranya sendiri.
"Pa, si Arkan kemana?" tanya Zevano sambil melirik kesamping.
"Ya mana Papa tau."
"Aduh! Kayaknya tuh bocah ketinggalan deh Papa bro," panik Zevano seraya menepuk jidatnya saat melupakan bocah bernama Arkan yang merupakan putra sulung dari Arlan dan juga Alya. Bocah yang kini berusia lima tahun yang juga satu sekolah dengan Zevano di lingkungan yang sama namun berbeda tingkatan.
Zevano berlari kembali di mana tempat ia meninggalkan temannya itu dan diikuti oleh Zifran yang tertawa melihat kepanikan bocah itu.
"Dasar bocah, ngatain orang bocah, sementara dia sendiri aja masih bocah." Zifran menggelengkan kepalanya berulang kali.
*
*
*
Zevano, bocah laki-laki yang biasa di panggil Vano itu baru saja turun dari mobil setelah sebelumnya mengantarkan Arkan pulang karena rumah mereka itu bersebelahan dan langsung berteriak memanggil Mamanya yang saat ini tengah sibuk menyiapkan makanan.
"SPADAAAA!!! YUHU MAMA, ZEVANO PULANG!!"
"Eh, bocil, lu bisa nggak-nggak usah teriak-teriak gitu! Ini rumah, bukan taman ragunan yang bisa sesuka hati maen teriak-teriak kayak Tarzan! Kadang-kadang gue heran perasaan waktu proses dulu nggak bar-bar amat. Tapi kenapa jadinya begini sih!"
"MAMA BRO, TOLONGIN VANO! ADA SERIGALA BERBULU KUCING YANG MAU GIGIT BOKONGG VANO, MA!"
"Eh, diem lu!"
"MAMA-!!" teriak Zevano semakin kuat saat Papanya membekap mulutnya. Dan sejurus kemudian, Vano lari setelah berhasil menggigit tangan Papanya ke arah dapur di mana ia bisa menemukan Mamanya di sana.
"Bocil bro, kenapa lari-lari sayang? Nanti kalau jatuh gimana?" kata Maisya yang sekarang terlihat semakin dewasa di umurnya yang sudah menginjak 26 tahun.
"Papa bro jahat, Mama bro. Masak mulut Vano dibekap pake tangan Papa bro. Mana tangannya bau parfum perempuan lagi," adu Vano.
"Ah, masak sih?!" sahut Maisya dengan raut penuh arti.
"Iya, Mama bro. Tadi aja waktu jemput Vano, Vano liat sendiri kalau Papa bro lagi ngobrol sama Mama temen Vano sampai Arkan, Vano tinggal karena Papa kelamaan jemputnya."
Tanpa bersalah, bocah itu sudah membuat percikan api diantara kedua orang tuanya.
__ADS_1
Vano menahan tawanya saat membayangkan bagaimana wajah Papanya itu bila menghadapi amukan dari Nyonya besar.
PLETAK!!
"Dasar tukang ngibul! Kamu kira Mama bakal percaya sama omongan kamu, Van. Dasar bocah badung. Masih kecil udah pinter bikin orang ribut. Kalau besar mau jadi apa kamu?"
Maisya mengomeli putranya yang sedang meringis merasakan sakit di bagian kepalanya setelah mendapatkan sentilan di dahi.
"Sakit, bocil bro? Bagi rasa sakit dong! Hahahaha."
Zifran mengejek Vano dan berlalu pergi dengan camilan yang di ambil dari meja yang ada di depan Vano. Dan semua sikap usilnya itu tidak berubah.
Ternyata sejak awal Vano di dapur, Zifran juga ada di sana. Bersandar di dinding dan memperhatikan semua gerak-gerik putranya yang nakal itu untuk membohongi istrinya.
"Huuuaaa .... Mama bro, Papa bro jahat!!"
*
*
*
"Mama bro, tadi kan waktu di sekolah, Vano belajar soal cita-cita tau, Ma," kata Vano yang merebahkan tubuhnya di antara kedua orang tuanya.
"Terus," sahut Zifran yang memainkan rambut istrinya.
"Vano di tanya sama Bu guru soal cita-cita, Vano."
"Terus, Vano jawab apa?" tanya Maisya yang mulai was-was dengan jawaban anak ajaibnya itu.
q
"Ya, Vano bilang aja kalau Vano mau jadi buaya."
"Kok jadi buaya?!"
Maisya dan Zifran saling memandang satu sama lain.
"Iya. Vano mau jadi buaya kayak Papa bro. Bagus 'kan," kata Zevano bangga.
__ADS_1
Maisya dan Zifran menepuk jidat mereka masing-masing. Tak habis pikir dengan cita-cita anaknya yang ingin menjadi seorang buaya darat di usianya.
"Gue harap, anak gue nggak jadi buaya kayak Bapaknya," gumam Maisya meringis menatap wajah suaminya.