Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Arlan dan Alya, dan kecerobohan Maisya


__ADS_3

Keesokan paginya.


Di tengah jalan yang terbilang cukup sepi dan jarang dilalui oleh kendaraan, seorang gadis cantik berambut cokelat sedang berdiri didepan mobilnya sambil menatap ban mobil miliknya di bagian samping kanan yang sudah tak berangin lagi.


Sesekali ia melirik kearah jam yang ada di pergelangan tangannya untuk memastikan bahwa dirinya tidak akan terlambat untuk tiba di sekolah.


Sudah satu jam lamanya ia menunggu pertolongan namun yang diharapkan tak menampakkan dirinya.


Jongkok, berdiri, hanya itu yang bisa ia lakukan. "Ah, sial! Kalau kayak gini gue bisa terlambat!" gerutunya. Gadis itu menendang ban mobilnya karena merasa kesal.


Sementara itu, dari arah belakang tampak sebuah mobil dengan kecepatan sedang yang di kemudikan oleh seorang pria bermata sipit dengan hidung mancung berpostur tinggi menyipitkan matanya melihat seorang wanita yang ia kenal sedang berjongkok di samping mobilnya.


Ia semakin memperlambat laju mobilnya saat menyadari bahwa sepertinya wanita itu sedang membutuhkan pertolongan.


Pria itu menepikan mobilnya di tepian jalan. Kemudian ia keluar dari balik kemudi menghampiri gadis yang menundukkan wajahnya di balik lipatan tangannya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya menawarkan bantuan.


Gadis itu mendongakkan wajahnya menatap seseorang yang berada disampingnya. "Kak Arlan!" seketika gadis itu berdiri Sambil mengibas-ngibaskan rok nya.


'Akhirnya usaha gue nggak sia-sia!' batinnya.


"Kenapa mobilnya, mogok lagi?"


"Bukan mogok kak, tapi bocor ban. Tuh liat!" tunjuk Alya.


"Ada bawa ban serep?" Alya menggeleng.


"Jadi gimana, saya juga nggak bawa. Atau gini aja, saya telepon orang bengkel untuk benerin mobil kamu, kamu bisa berangkat bareng sama saya. Gimana, mau?"


"Boleh!" ucap Alya semangat.


Didalam mobil sejak tadi Alya tak henti-hentinya tersenyum sambil menatap luar jendela mobil yang ia tumpangi.


Sesekali Alya melirik kearah Arlan yang tengah fokus mengemudikan mobilnya. Ah, entah mengapa setiap kali ia berdekatan dengan pria yang menjadi pujaan hatinya, jantungnya seakan ingin lompat keluar dari tempatnya.


"Ekhem!" Arlan berdeham untuk mencairkan


suasana.


"Kenapa senyum-senyum, ada yang lucu?" Arlan melirik sekilas ke Alya.


"Nggak kok," ucap Alya menampilkan senyum penuh arti.

__ADS_1


"Oooh," balas Arlan ber'oh'ria.


Setelah itu suasana didalam mobil kembali hening. Tak ada pembicaraan dari keduanya. Baik Arlan maupun Alya keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Kak, lo nggak inget sama gue?" Alya membuka suaranya.


"Maksudnya?" Arlan membagi fokusnya kearah Alya. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh gadis itu.


"Jadi bener lo nggak inget sama gue?" tanya Alya memastikannya. Arlan menggeleng sebagai jawabannya.


"Huh, ya udah deh kalau kak Arlan nggak inget."


Arlan menyerngitkan dahinya "Memangnya ada apa? Apa sebelumnya kita pernah ketemu. Mmmm....maksudnya, sebelum pertemuan kita di cafe, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" ucapnya memandang wajah alami gadis yang duduk disampingnya.


"Pernah! Sekitar dua tahun yang lalu."


"Dua tahun yang lalu. Dimana?"; tanya Arlan penasaran.


"Di-"


Cittttttt.


Suara decitan ban mobil saat Arlan mengerem mobilnya tiba-tiba. Terlalu serius mendengarkan ucapan Alya membuatnya tidak fokus menyetir dan hampir saja mereka melewati tempat tujuannya.


Hanya membutuhkan waktu 20 menit, kini mobil Arlan berhenti di depan gerbang SMA Bunga Darma.


"Hem. Sama-sama!" Arlan menatap gadis yang baru saja turun dari mobilnya. Setelah itu ia kembali menjalankan mobilnya menuju kantor tempatnya bekerja.


Sementara Alya, gadis itu terus memandangi mobil sang pujaan hatinya hingga menjauh hilang dari pandangannya.


"Suatu saat nanti pasti lo bakal inget sama gue. Entah itu gue yang bakal ingetin lo. Selama itu juga gue nggak bakal berhenti ngejer lo, kecuali lo yang minta gue akan lakuin." gumam Alya.


Ia berjalan memasuki gerbang sekolah sambil memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan untuk kedepannya.


Tinnnn!


Suara klakson motor sport yang baru saja memarkirkan motornya membuat Alya menatap wajah sang pelaku yang tak lain adalah Maisya sahabatnya.


"Gila lo. Lo mau bunuh gue!" omel Alya.


"Nanti malam gue nginep di rumah lo ya?"


Mereka berjalan menuju koridor. "Bokap lo pergi keluar kota?" tanya Alya.

__ADS_1


"Nggak. Gue lagi kesel sama bokap gue."


"Kenapa?"


"Entahlah. Eh, gue mau ke toilet dulu temenin yuk!" Maisya menarik tangan Alya.


"Aelah nih bocah main tarik-tarik aja."


Didalam toilet Maisya merapikan seragamnya yang terlihat sedikit berantakan. Tak lupa ia juga merapikan rambutnya yang panjang dan terlihat kusut akibat ia mengenakan helm-nya.


Begitupun dengan Alya, ia juga melakukan hal yang sama seperti yang Maisya lakukan, tetapi perhatiannya justru teralihkan saat Maisya mengikat rambutnya. Ia menatap sesuatu yang berbeda dari gadis itu.


"Sya, leher lo-" belum selesai ia berkata, namun Maisya sudah memotongnya.


"Kalung ini, bagus kan? Ini kak Zifran yang ngasih!" ucap Maisya Sambil menunjukkan kalungnya kepada Alya.


"Bukan Sya, tapi itu, leher lo kenapa?" tunjuk Alya ke leher Maisya yang terdapat tanda kepemilikan seseorang. Tanda itu begitu kontras dengan kulit Maisya yang terlihat putih dan mulus.


"Leher gue?" Maisya berbalik menghadap ke cermin.


Deg deg deg.


Jantung Maisya berdetak kencang saat melihat tanda merah di lehernya.


"Aishhh, kenapa gue bisa lupa," gumamnya lirih, ia melepaskan ikatan rambutnya kembali dan merapikannya.


"Lo baik-baik aja kan Sya," ada raut kekhawatiran dari wajah Alya.


"Gue nggak papa Al,"


"Terus, kenapa leher lo merah-merah gitu?"


"Ooooh, ini. Mmmm Al, lo dari tau hari ini Andin nggak masuk?" tanya Maisya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Ya tau lah, kan gue baca di grup."


Di sisi lain, di perusahaan ZA group.


Arlan baru saja memasuki ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk dihadapannya kini.


Namun baru beberapa lembar dokumen yang ia kerjakan, tiba-tiba saja pikirannya teralihkan oleh pertanyaan yang tadi ditanyakan oleh Alya kepada dirinya.


Arlan menghentikan pekerjaannya sejenak, memikirkan tentang gadis yang tadi bersamanya.

__ADS_1


Sampai saat inipun ia masih bingung tentang apa yang ditanyakan oleh gadis itu.


"Apa sebelumnya gue pernah kenal sama tuh bocah ya? Tapi dimana, gue kok nggak inget!" monolognya sendiri.


__ADS_2