
Zifran mengacak rambutnya frustasi setelah menghubungi pacarnya itu beberapa kali, namun tak pernah ada jawaban darinya. Bahkan nomor ponsel yang semula aktif kini telah dinonaktifkan.
Rasa penyesalan datang menghampiri dirinya.
Andai saja jika Casandra tidak hadir, tentu kesalahpahaman ini tidak akan terjadi diantara mereka. Zifran mengumpat dan memaki dirinya karena kejadian beberapa waktu lalu.
Pikirannya selalu berputar ke kejadian dimana Maisya memergoki dirinya sedang berduaan bersama wanita lain. Bahkan jarak dirinya begitu dekat dan intim membuat siapapun yang melihat akan menyangka jika ia dan Casandra sedang bercumbu mesra. Tak jauh berbeda dengan pemikiran Maisya saat itu.
Namun, kenyataannya bukanlah seperti yang dituduhkan gadis itu padanya. Semua itu hanya kesalahpahaman yang tidak berdasar membuat keadaan menjadi kacau.
Saat ini Zifran berdiri di depan pintu sebuah bangunan berlantai dua, dengan halaman yang begitu luas. Bangunan yang menjadi saksi perjuangan cintanya.
Ting tong... Ting tong...
Zifran menekan bel beberapa kali, namun tidak ada yang membukanya pintu untuknya. Cukup lama Zifran berdiri di sana hingga kehadiran seseorang dari balik pintu mengalihkan pandangannya.
"Maisya nya ada, om?" tanya Zifran pada pria yang berdiri dihadapannya. Tampak raut wajah penuh arti yang menghiasi rupa yang selalu memandangnya seolah ingin melahap tubuhnya.
"Ada di kamarnya.Apa kalian ada masalah?" tanya papa Bram to the poin. Sejak kepulangan Maisya dari danau situ Lembang, mata gadis itu terlihat sembab dan memerah.
Sebagai seorang ayah, papa Bram merasa khawatir ada apa dengan putrinya. Mengapa penampilannya tak seperti biasa.
Raut wajah kusam, mata sembab dan penampilan yang sedikit kacau. Memanggil putrinya berulang kali, namun tak ada kata yang terucap dari bibir putrinya itu. Karena rana penasaran mendera, akhirnya papa Bram menanyakan akan hal itu kepada Ucup, supir pribadinya. Dari situlah Papa Bram mengerti apa yang sedang dialami oleh putrinya saat ini.
"Sedikit kesalahpahaman diantara kami. Apa boleh aku menemui Maisya?"
"Sebaiknya kau pulanglah terlebih dahulu. Biarkan dia sendiri, karena percuma kalau kau menemuinya sekarang. Maisya itu anaknya keras kepala dan tidak mau mendengarkan siapapun, apalagi itu kau. Jadi sebaiknya pulanglah."
Papa Bram menepuk bahu Zifran, menyalurkan rasa simpati kepada pria yang pernah menjadi musuhnya. Pria yang selalu membuatnya naik darah jika mereka berhadapan. Namun kini rasa itu perlahan meluluh setelah Maisya menceritakan tentang sisi lain seseorang yang selalu menemani dan memberi perhatian kepada putri semata wayangnya itu.
"Tapi, om-"
"Pulanglah."
"Ya udah, kalau gitu aku pamit dulu. Sampaikan salam ku pada Maisya."
Zifran memutar tubuh, melangkahkan kakinya meninggalkan Papa Bram. Meskipun ada rasa kecewa tak bisa menjelaskan kepada Maisya yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Tapi apa boleh buat, mau tak mau Zifran harus membiarkan kekasihnya menyendiri untuk menenangkan hati yang terluka karenanya.
Tanpa disadari ternyata Maisya saat ini berada di atas balkon kamarnya, memperhatikan Zifran dengan langkah gontai memasuki mobil, dan meninggalkan kediaman keluarga Kumbara.
***
Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam pun telah berganti hari. Tak terasa sudah beberapa hari Zifran dan Maisya berlarut dalam suasana dingin dalam hubungan mereka.
Selama itu, tak henti-hentinya Zifran menghubungi nomor ponsel kekasihnya, namun selalu saja operator yang menjawab panggilannya.
Sudah berbagai cara Zifran lakukan, namun tak ada satupun yang berhasil. Mulai dari meminta bantuan sahabatnya. Mendatangi rumahnya melalui pintu, memanjat balkon kamar. Semua itu tetap saja sia-sia baginya.
Hingga pikiran buruk pun terlintas dalam benaknya. Tapi seketika otak Zifran menepis semua itu, ia tidak mau jika Maisya bertambah marah padanya. Cukup dengan kejadian kemarin Maisya kecewa.
Saat ini, entah sudah beberapa kali Zifran mondar mandir melewati gedung luas berlantai dua dengan pagar berdiri menjulang tinggi dengan tulisan 'SELAMAT DATANG DI SMA BUNGA DARMA' menunggu Maisya keluar dari dalam ruangannya. Berharap gadis itu mengiba dan memaafkan kesalahannya.
Sementara di koridar lantai bawah Maisya sedang asik bercanda, tawa bersama kedua sahabatnya. Alya dan Andin, mereka tau jika saat ini sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Senyum dan tawa yang menghiasi wajah Maisya hanyalah topeng untuk menutupi kesedihan hatinya.
Ternya di sana juga ada Leon dan temannya yang ikut nimbrung, bergabung dengan Maisya dkk.
Sesekali Leon dan temannya menggoda Maisya. Meraka memang sangat hobi mengganggu dan menggoda gadis itu seperti saat sekarang ini.
Maisya menatap tajam, memberi isyarat agar pemuda itu menghentikan kegiatan yang mengundang atensi dari para penghuni sekolah yang menyaksikan adegan romantis dari sepasang kapten basket SMA Bunga Darma. Ya walaupun mereka tau jika tidak ada hubungan apa-apa yang terjalin diantara keduanya selain hanya hubungan pertemanan.
"Yon, lepasin ah! Malu tau diliatin sama anak-anak." Maisya memukul dada Leon berharap agar Leon mau berhenti.
"Ya biarin. Lagian mereka biasa kok," satunya enteng. "Mau pulang bareng gue nggak?" tanyanya melirik Maisya sekilas.
"Jangan macem-macem lo modusin sahabat gue!" cecar Andin menyikut lengan Leon. Pemuda yang berjalan disampingnya dan juga Maisya.
"Ngape sih lo nyahut aja omongan orang! Heran gue." Leon gantian menoyor kepala Alya hingga gadis itu bergeser beberapa senti dari tempatnya. Maisya, Alya dan teman leon yang melihat tingkah keduanya memutar bola matanya jengah. Jengah dengan kekanakan mereka maksudnya.
"Lo pulang bareng kita aja Sya. Gue nggak rela temen gue pulang sama nih kadal kupret," cibir Andin sinis menatap Leon.
"Oke, gue bakal pulang sama kalian." Maisya berucap sambil merangkul pundak kedua sahabatnya.
Tak jauh dari tempat mereka.
__ADS_1
"Sya!" panggil seseorang.
Maisya melepaskan pelukannya, menatap sosok yang memanggilnya barusan. Jelas terlihat perubahan raut wajah gadis itu ketika derap langkah seseorang menuju kearahnya.
"Kakak mau ngomong sebentar sama kamu." Setelah itu memalingkan wajahnya menatap mereka semua. "Bisa kalian tinggalin kami berdua?" pinta Zifran. Mereka tersenyum, dan mengangguk.
"Gue tunggu di mobil," ucap Alya memberitahu sambil menepuk pundak Maisya.
"Apa yang mau lo omongin ke gue?" tanya Maisya setelah kepergian sahabatnya.
"Apa kamu masih marah sama kakak?" tanya Zifran sebagai jawaban.
Di tempat lain.
"Si Mae sama pak Zifran lagi marahan ya?" Sebuah pertanyaan lolos dari bibir Onad, pemuda yang tidak lain adalah teman setia Leon.
"Ah, Lo sok tau Nad!" celetuk Leon.
"Bukan sok tau, Yon, tapi kenyataannya emang iya. Masak Lo nggak nampak aura-aura mencekam?" sanggah Onad.
"Mulut Lo, jangan asal mangap, Nad. Entar kalau kedengaran pak Zifran bisa mampus Lo!" jawab Alya yang tiba-tiba menyahut dari belakang. Ia berjalan bersama Andin di samping kiri.
Kembali ke tokoh utama.
"Gue nggak marah sama lo. Tapi gue kecewa sama kelakuan Lo. Lo itu cowok yang nggak peka, dan berapa kali gue bilang kalo gue nggak suka berbagi apa yang udah jadi milik gue." Tak ada nada kemarahan yang dikeluarkan Maisya, melainkan nada kekecewaan yang terdengar dalam pendengaran Zifran saat ini. "Dan lo tau kak. Awalnya gue pikir gue itu egois banget udah marah nggak jelas sama lo. Ninggalin lo gitu aja. Ngerijek nomor lo semau gue. Tapi apa yang gue liat waktu gue balik, lo malah enak-enakan berduaan sama cewek itu!" jelas mMaisya mengungkapkan isi hatinya.
Zifran hanya terdiam mendengar semua yang dikatakan gadis itu. Berada di area parkir membuat keduanya menjadi pusat perhatian beberapa murid yang masih berada di sana.
"Tapi semua itu nggak seperti yang kamu pikirkan, Sya. Semua itu salah paham!" sanggah Zifran.
"Menurut gue semua itu jelas kak. Dah lah, gue mau balik." Maisya melangkah pergi meninggalkan Zifran dan tidak mau menerima penjelasan apapun dari pria itu. Zifran mengacak rambutnya seperti orang kesetanan.
Mungkin si setan asli bakal ngiprit liat penampilan Zifran sekarang ini. Hihihi Author kabur ah, sebelum Zifran bener-bener kesetanan.
Maisya berjalan menuju mobil Alya yang terparkir tak jau dari tempat dimana ia dan Zifran berada. Sesekali Maisya menghapus bulir air mata yang membasahi pipinya. "Kasih gue waktu untuk ngeyakinin hati gue tentang elo kak. Hati gue terlalu sakit liat elo sedekat itu sama dia. Maafin gue," gumamnya lirih.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
NB: Sedikit bocoran nih ya.....
Beberapa part lagi menuju konflik utama. Konflik yang bener-bener konflik. Jadi siapkan diri kalian untuk part-part selanjutnya ya.