
Sedari tadi di dalam mobil Maisya hanya diam dan terdiam tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibirnya hingga mereka tiba di tepat yang sudah di janjikan.
Ia melangkah terlebih dahulu meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berada di dalam mobil.
Berjalan sendiri menyusuri pantai diwaktu pagi memanglah sangat menyenangkan. Tapi bagi sebagian orang jika sudah memasuki pukul sembilan mungkin mereka akan berpikir kembali untuk melakukannya.
Namun itu tidak berlaku bagi Maisya yang masih merasa kesal pada seorang pemuda yang belakangan ini telah menjauhi dirinya. Entah karena sebab apa iapun tak tau.
Klontang!
Gadis itu menendang kaleng minuman ke arah laut yang dibuang sembarangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Apa bedanya dengan dirinya.
"SYA, TUNGGUIN GUE!!!!" teriak seseorang dari arah belakangnya.
"Hosh... hosh.. hosh..!" orang itu mendekati Maisya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Lo kenapa sih Sya, dari tadi diem mulu? Emang gue ada salah sama lo ya?" tanyanya.
"Sya, ayo ngomong!" timpalnya lagi.
Gadis itu memberhentikan langkahnya, duduk di batang pohon kelapa yang tumbang yang berada tidak jauh dari bibir pantai.
"Emang harus ya gue jelasin sama Lo?" tanya balik Maisya.
"Gue nggak suka Lo diemin Sya?"
"Nah itu lo tau Yon! Terus Kenapa kemarin dan beberapa hari sebelumnya lo ngehindar terus dan lo jauhi gue tanpa gue tau apa kesalahannya gue? Nggak enak kan kalau digituin!" ucap Maisya panjang lebar. (Selebar daster emak komplek).
'Sorry, kemaren gue lagi belajar buat ikhlasin Lo sama si Bambang. Setelah kejadian di rooftop, gue sadar kalau elo udah dimiliki orang lain Sya.'
"Lo jahat tau nggak!" timpalnya dengan raut wajah yang terlihat ingin menangis.
"Maafin gue, belakangan ini gue lagi sibuk dan mungkin karena kecapean juga. Lo mau kan maafin gue?"
Maisya pun mengangguk, "Hem!"
"Y udah, kalau gitu senyum dong jelek amat kalau lagi cemberut!"
" Isshh, apaan sih!" Maisya memukul lengan pemuda itu.
****
"Kak, bantuin gue ngerjain soal matematika ya? Soalnya gue nggak terlalu pintar sama nih pelajaran. Plisss!" pinta Maisya memohon kepada Zifran.
"Dasar bocil. Makanya guru jelasin tuh di perhatiin, jangan main ponsel terus kerjanya!"
"Ck, Lo niat bantuin gue nggak sih kak!"
"Ya udah mana sini bukunya. Gitu aja ngambek!" Zifran mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Nih!" Maisya memberikan buku paket beserta buku tulisnya kepada Zifran.
Selama berkutat dengan buku dan pulpen, Maisya terus menatap wajah serius Zifran yang sedang sibuk mengerjakan tugas yang ia minta.
Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa pria yang berada dihadapannya kini akan mau membantu nya dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru killer-nya.
Ketika sedang sibuk-sibuknya Zifran dengan tugasnya, tiba-tiba saja seseorang dari arah belakang memeluk tubuhnya yang mana
membuat ia terlonjak kaget dan langsung melepaskan tangan orang tersebut.
"Apaan sih Fran, kok lo kasar banget sama gue?!" ucap Casandra tak terima.
"Elo yang apa-apaan! Datang-datang main peluk sembarangan. Lo nggak malu apa diliatin banyak orang?!"
"Bukannya itu udah biasa ya? Tapi kenapa sekarang jadi masalah!"
Maisya yang berada diantara keduanya hanya bisa terdiam dan menyaksikan apa yang akan terjadi dihadapannya tanpa niat ikut campur dalam urusan mereka.
"Masalahnya ini tempat umum Casa. Lo ngerti itu Nggak sih!" ucap Zifran sedikit emosi.
"Kak, gue ke mobil balik duluan ya!" ucap Maisya Kepada Zifran. Ia sambil membereskan buku-bukunya kembali.
"Tunggu sebentar, nanti kakak antar."
"Sekarang gue ngerti kenapa Lo selalu nolak ajakan gue. Setiap gue telepon, lo alasannya sibuk. Ini yang Lo bilang sibuk Fran! Sibuk sama sama cewek baru lo," ucap Casandra.
"Kok lo bawa-bawa gue!" saut Maisya.
"Ya terus apa urusannya sama gue! Helloo, situ sadar situ siapa. Huh! Pacar bukan,calon istri apa lagi! Nih kenalin, gue calon istrinya. Mau apa lo. Wajar aja kan kalau dia lebih mentingin gue!" balas maisya. Ia merasa tak terima dengan ucapan wanita itu yang menyalahkan dirinya.
"Dasar cewek ganjen. Masih kecil udah berani lo rebut Zifran dari gue!"
"Eh, Tante lohan, lo sadar diri kenapa sih! Lo-"
"Stop! Kalian bi-"
"Diem lo! Ini semu gara-gara lo!" sentak Maisya dan Casandra bersama. Mereka menatap Zifran dengan tatapan tajam nya.
Glek!!
Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah ketika menyadari jika kedua wanita yang kini saling berhadapan jadi semengerikan ini.
"Oke-oke. Gue yang salah. Udah ya nggak usah berantem lagi, malu di liatin orang." Zifran mencoba melerai keduanya. Pasalnya kini mereka sudah menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung cafe tempat mereka saat ini.
"Dah ah, gue balik. Lo urusi tuh Tante lohan. Bye!" Maisya melangkah pergi.
"Sya, tungguin kakak!" Zifran hendak menyusul Maisya, namun langkahnya terhenti ketika Casandra mencekal tangannya.
Ia mengelus dada bidang pria itu, "udah disini aja. Ngapain lo ngejer tuh bocah nggak penting itu. Lo tau Fran, gue tuh kangen banget tau nggak sama lo."
__ADS_1
"Minggir!" Zifran menepis tangan Casandra. "Asal lo tau, dia itu lebih penting buat gue!" Zifran berlari ngejar Maisya.
Sementara Casandra. Wanita dengan lipstik tebalnya saat ini tengah menghentak-hentakkan kakinya kelantai persis seperti anak kecil kehilangan mainan nya.
"Awas aja lo, gue nggak terima lo gini'in Fran!" ucapnya kesal atas perlakuan Zifran kepadanya.
Selama dalam perjalanan tak ada sepatah katapun yang terlontar dalam bibir tipisnya. Sedari tadi ia hanya memandang ke arah luar jendela dan terus mengabaikan segala ucapan dari seseorang yang berada disampingnya saat ini.
Rasa kesal sang menghinggapi dirinya membuat Maisya memilih untuk diam sembari mengembalikan moodnya yang tiba-tiba buruk karena kehadiran wanita yang entah sejak kapan kini menjadi musuhnya bebuyutannya.
Zifran menyadarkan lamunan Maisya ketika mobilnya sudah terparkir indah dihalaman rumah berlantaikan dua dengan cat berwarna putih.
Brakk!
Maisya menutup pintu mobil Zifran tanpa perasaan. Ia berjalan terus berjalan tanpa menghiraukan seseorang yang sedari tadi memanggil namanya.
Settt!
Gadis cantik itu berhenti dan berbalik badan saat tangannya di raih oleh Zifran.
"Mending lo pulang deh kak. Badmood gue liat muka lo. Dan ya! Lo urusin tuh cewek lo yang mulutnya lemes kayak perosotan TK." omel Maisya.
"Sya, tunggu!!" panggil Zifran melihat Maisya berjalan menjauhinya.
Maisya terus berjalan dengan begitu cepat memasuki rumahnya membiarkan Zifran mengikuti dirinya dan memanggil namanya.
Namun seketika langkah Zifran terhenti mendadak karena kemunculan pria paruh baya yang sudah berdiri dihadapannya.
Sejak kapan dia ada disini?
"Mau ngapain kamu kesini? huh!" tanya Pspa Bram menatap tajam Zifran.
"Mau mengejar anak Om!" jawabnya enteng.
"Sejak kapan saya menikahi Tante mu? Lebih baik kamu pulang sebelum saya..." ucapannya menggantung sembari bari mengeluarkan senjata laras panjang dari balik pintu dan mengarahkannya kepada pria yang hendak mengejar putrinya.
Glekk!
Zifran menelan ludahnya yang tersangkut di kerongkongan melihat benda itu mengarah kearahnya.
Apakah ini akhir hidupnya?
"Cepat pergi dari rumah saya atau saya akan menembakkannya ke kepala kamu!"
"Tapi ada urusan penting yang mau saya jelaskan sama Maisya."
"Saya hitung sampai tiga. Kalau tidak enyau kau dari sini, siap Besok kau tidak akan bisa berjalan. Satu... !" ucapnya mulai menghitung. Zifran enggan beranjak.
"Dua... !"
__ADS_1
"Tunggu dul-" ucapan Zifran terhenti.
Dor!!