Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
kejutan dan kenyataan


__ADS_3

"Tumben banget Lo ngajak gue jalan, Kak. Ada angin apa? Pasti habis gajian ya?" cerocos Maisya panjang lebar.


"Dari mana kamu tau?"


"Tau aja, soalnya tumben banget tiba-tiba ngajak jalan. Biasanya 'kan tunggu gue yang ngajak baru Lo mau. Jadi beber 'kan tebakan gue?" tanya Maisya melirik orang-orang sekitar yang tengah memperhatikan mereka di pusat perbelanjaan Jang ada di Kota Jakarta pusat.


"Kamu itu sok tau. Bukan peramal atau pun cenayang, jadi jangan sok-sokan main tebak-tebakan yang pasti bakal salah. Asal kamu tau, selama kakak kerja di perusahaan nggak pernah tuh kakak ngerasain yang namanya gajian."


"Masa sih nggak percaya gue?"


"Hem. Setiap uang yang kakak keluarkan itu dari transferan Papa. Jadi semua pemasukan kantor, Papa yang kelola. Makanya kakak capek di suruh kerja tanpa di gaji. Sedih nggak?"


Masih mengenakan seragam sekolah, Maisya menemani Zifran berkeliling mall tersebut tanpa arah dan tujuan yang pasti. Maisya melirik Zifran sekilas. "Nggak."


"Kok enggak sih, Sya." Zifran berhenti sesaat.


"Secara nggak langsung uang yang Lo dapet dari pak Arya itu adalah gaji untuk anaknya. Iya nggak sih? Lagian nih ya, itu 'kan perusahaan punya elo. Jadi, mereka mana mungkin gaji elo yang notabenenya ada CEO mereka. Lama-lama Lo aneh ih," jelas Maisya tak tahan dengan kelakuan kekasihnya itu.


"Bukan aneh sya, tapi emang begitu. Coba aja kamu bayangin, setiap hari kakak kerja tapi uang Papa yang pegang. Apa itu namanya bukan kerja cuma-cuma?"


"Tapi nggak gitu juga konsepnya, kak Zi," dengus Maisya mulai emosi.


"Tapi memang gitu faktanya, Sya," sanggah Zifran mengejar Maisya yang berjalan terlebih dahulu.


"Lama-lo ngeselin ya," sungut Maisya.


"Tapi cinta 'kan?" goda Zifran.


"Nggak tuh!"


"Yakin? Ya udah kalau gitu, Kakak cari lagi aja yang cinta sama kakak."


Zifran langsung mendapat tatapan tajam dari sang kekasih, bukannya takut justru, Zifran melengkungkan garis bibir ke atas, tersenyum simpul menatap Maisya yang kembali melanjutkan langkahnya dan Zifran pun menyusul.


"Cieeee, ngambekan," goda Zifran menyenggol bahu Maisya dengan tubuhnya yang tegap hingga membuat gadis itu sedikit terhuyung ke depan. Tapi, Zifran langsung memeluknya dengan cepat.


"Lo apa-apaan sih. Hampir aja gue jatuh."


Maisya berdecak kesal kepada Zifran yang sedikit lebay. Dan itu membuat dirinya malu di hadapan orang di sekitar mereka, terlebih lagi di tempat umum.


Memahami situasi, Zifran selalu bisa menghangatkan suasana kembali. "Mau es Boba?" tawar zifran menautkan tangan mereka. Ia tahu jika sudah begini, masi pasti akan luluh dengan hal-hal kecil yang ia sukai.

__ADS_1


Maisya gantian melirik Zifran, berpikir sejenak tentang tawaran pria itu. "Boleh. Tapi beneran 'kan?" tanya Maisya memastikan.


"Ya benerlah."


"Aaaa... makin cinta deh. Tau aja cara balikin mood gue yang anjlok gara-gara Lo."


"Ya tau lah. Masa kesukaan pacar sendiri nggak tahu. Biar kakak orangnya masa bodo, tapi kalau urusan ginian, kakak selalu inget, Sya."


"Alah, baru ini aja Lo inget kak. Dasar bebek silem," cibir Maisya.


"Nggak papa yang penting nggak tenggelam. Oiya, setelah ini kakak ada kejutan buat kamu?"


Mereka berjalan menuju salah satu stand minuman yang menjual aneka minuman Boba dengan berbagai varian rasa.


"Kejutan? Kejutan apa?" tanya Maisya penasaran.


"Ada deh."


"Ih, curang main rahasia-rahasiaan," gerutu Maisya.


"Ya bukan kejutan namanya kalau kakak kasih tau sekarang," balasnya, "mau rasa apa?" tanya Zifran berdiri saling berhadapan ketika sampai.


"Rasa cinta ada nggak, kak." Entah belajar dari mana bisa-bisanya gadis itu gombalin pria bertitle sang Casanova, yang terkekeh dengan ucapannya.


"Enggak ada sih. Tapi nggak ada salahnya dong, sekali-kali bikin baper pacar sendiri. Dari pada baperin cowok lain, emang mau?"


Cletak!


"Coba aja kalau berani," ancam Zifran setelah mendaratkan sentilan maut terhadap Maisya.


Karena terasa sakit dan panas, Maisya mendengus pada pria yang meninggalkan dirinya dan berlalu pergi.


"Dasar Zifran. Dia pikir sentilannya nggak pedes apa?! Enak banget! KDRT ini namanya. Liat aja entar," gerutu Maisya sambil mengusap kening yang terasa panas akibat ulah kekasihnya sendiri.


Tak berselang lama, pria itu datang membawa dua cup Boba dengan rasa yang berbeda. Lalu memberikannya kepada Maisya. "Nih!" Zifran meletakkan cup Boba di pipi Maisya.


"Dingin, kak Zi."


"Makanya kakak kasih ini biar dingin," sahut Zifran.


"Tapi yang sakit jidat gue, kenapa yang Lo Kadi ke pipi gue?" dengus gadis itu menyeruput es Boba pemberian Zifran dan melanjutkan kembali langkah mereka untuk mengelilingi mall.

__ADS_1


"Ya udah, sini biar Kaka ulang lagi." Zifran mengulurkan tangannya.


"Nggak usah!" tukas Maisya. "kak, kak Arlan sama yang lain pada kemana ya? Kok pada nggak keliatan," ucap Maisya memperhatikan sekitarnya.


"Nggak usah kamu urusi mereka. Palingan lagi asik berduaan. Eh, Sya, kamu tunggu sini sebentar ya? Kakak mau ke toilet dulu, titip ini ya," ucapnya memberikan minumannya pada Maisya.


"Jangan lama-lama ya? Gue tunggu di situ," tunjuk Maisya ke arah bangku yang ada di sana.


"Iya. Jangan kemana-mana," ucap Zifran memperingati Maisya. Gadis itu mengangguk tersenyum dan berjalan ke tempat yang mereka sepakati.


Zifran berjalan terburu-buru hingga tidak melihat situasi sekitar yang begitu banyak orang berlalu-lalang. Terus berjalan sampai tak memperhatikan jalan karena rasa kebelet buang air kecil yang tidak tertahankan.


Tidak berselang lama, Zifran keluar dari dalam toilet dengan wajah kembali bersinar setelah beberapa menit menahan racun di tubuhnya yang minta untuk segera di keluarkan.


Zifran merapikan kemejanya yang terlihat kusut, kemudian berjalan meninggalkan area toilet dan menghampiri kekasihnya yang sudah menunggunya di sana.


Ketika berjalan di tengah kerumunan orang-orang, tiba-tiba saja tangan Zifran di cekal oleh seseorang dari arah samping, membuat Zifran langsung menoleh ke arahnya.


"Lo! Lepasin!" Zifran menyentak tangannya setelah melihat siapa yang mencekal.


"Kebetulan kita ketemu di sini, Fran," ucap orang itu tersenyum sinis.


"Gue nggak ada urusannya sama Lo," ketusnya melangkah meninggalkan orang tersebut. Namun, baru beberapa langkah, tangan Zifran kembali di cekal olehnya. "Lepasin nggak!" sarkas Zifran menatap tajam.


"Gue perlu ngomong sesuatu sama elo, Fran. Dengerin gue dulu," ucap orang itu.


Zifran pun kembali melepaskan tangannya dari orang yang begitu dia benci. "Nggak ada yang perlu di omongin lagi. Gue harap Lo ngerti bahasa yang gue pake," pungkasnya.


"Tapi, lo nggak bisa ngehindari gue gitu aja karena ada dua dalam diri gue," ucap seorang wanita uang membuat Zifran menghentikan langkahnya. Tentu saja kejadian tersebut mengundang seluruh perhatian orang sekitar.


Zifran memutar tubuhnya kembali menghampiri tanpa memperdulikan orang memandang mereka.


Menyeret wanita yang terus memberontak saat Zifran mencekal erat pergelangan tangannya ke arah tempat sang sedikit sepi. "Apa maksud, Lo ngomong kayak gitu?"


"Tapi lepasin dulu tangan gue. Ini sakit, Fran," sanggahnya.


Dengan kuat, Zifran menghempaskan tubuh wanita itu kedinding di lorong toilet yang baru saja ia tinggalkan.


"Cepetan ngomong, gue nggak punya banyak waktu buat ngurusin cewek kayak Lo," sarkas Zifran terbawa suasana.


"Gu-gue...," ucap wanita itu terbata-bata.

__ADS_1


"Cepetan!" bentak Zifran.


"Gu-gue... hamil, Fran."


__ADS_2