Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Dilema menuju hari H


__ADS_3

Setelah kejadian Zifran mengigau, tak berselang lama iapun berteriak saat rasa sakit kembali mendera. Mama Sarah dan Papa Arya di buat panik bukan kepalang melihat putranya meraung kesakitan.


Namun, disaat yang bersamaan rasa bahagia menyelimuti keluarga Samudera. Sebab, putra yang begitu mereka rindukan telah kembali mengingat siapa jati dirinya. Mengingat semua peristiwa yang terjadi terjadi beberapa tahun lalu dan kejadian yang baru saja ia alami.


Setelah mengalami proses pemeriksaan medis, Zifran telah di nyatakan sembuh dari amnesia. Bahkan kesembuhan Zifran pun lebih cepat dari perkiraan Dokter yang menanganinya.


Jika takdir sudah berkehendak, maka yang tidak mungkin bisa saja terjadi tanpa sepengetahuan kita.


Mama Sarah dan Papa Arya begitu terharu memandang Zifran penuh kerinduan, karena selama Zifran sakit sikap pria itu terlalu dingin dan asing bagi mereka. Dan sekarang mereka berharap bahwa Zifran kembali hangat seperti sebelumnya. Itulah yang mereka harapkan saat ini.


"Ma, Pa," panggi Zifran lirih. Hal itu membuat sepasang suami istri yang tak tak lagi muda itu langsung memeluk putranya diiringi tangis haru.


"Kau sudah sembuh dan mengingat kami, Nak?" tanya Mama Sarah yang masih tak percaya akan hal itu.


Zifran mengangguk membalas pelukan kedua orangtuanya.


*


*


Setelah dinyatakan sembuh dan kondisi Zifran baik-baik saja, hati ini Zifran sudah di perbolehkan pulang, namun harus tetap rutin kontrol demi memastikan tidak ada efek setelah benturan yang terjadi beberapa waktu lalu.


Zifran masuk ke dalam lift untuk sampai ke kamarnya di bantu Mama Sarah. Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Zean yang menyambut mereka. Bocah itu hanya diam menatap Zifran dengan tatapan penuh arti.


Apalagi Zifran yang ditatap seperti itu, membuatnya kikuk karena selama ini mereka tidak begitu dekat satu sama lain.


Zean menatap Zifran yang terlihat berbeda.


"Om Ji udah cembuh?" Zifran mengangguk. "Jean kangen cama Om Jipan," ucap Zean yang susah untuk melafalkan beberapa huruf.


Zifran pun tersenyum mendekati Zean yang berjarak setengah meter darinya.


"Kalau Zean kangen peluk dong Om Zifran," ucap Zifran sambil merentangkan kedua tangannya. Selama perjalanan tadi Mama Sarah banyak bercerita tentang kehadiran Zean ditengah-tengah keluarga mereka. Jadi, sebisa mungkin Zifran bersikap sebagaimana mestinya.


Semua itu tak luput dari penglihatan Mama Sarah dan Papa Arya yang tersenyum melihat perubahan Zifran saat ini. Apalagi pria itu mau berinteraksi dengan Zean. Bila dibandingkan dengan yang sebelumnya, hu... jauh berbeda. Bahkan dia pun bersikap dingin pada Zean.


"Om, lepacin pelukannya. Dada Jean cecak," ucap Zean. Spontan Zifran melepaskan pelukan mereka dan menatap Zean yang juga tersenyum padanya.


"Maafin Om ya? Soalnya Om seneng karena sekarang Om punya temen buat berantem. Zean mau 'kan main perang-perangan sama Om?"


Zean mengangguk. "Mau!!" seru bocah itu bersemangat.


"Tapi nggak sekarang ya? Soalnya Om Zifran-nya harus istirahat dulu. Zean main sama Opa, nanti Oma buatkan pudding kesukaan Zean kalau Zean nggak nakal," ucap Mama Sarah memberi pengertian pada Zean.


"Kamu sebaiknya istirahat dulu dan jangan memaksakan diri untuk melakukan aktivitas yang berlebihan. Soal Zean, Papamu yang akan menanganinya. Beristirahatlah," perintah Mama Sarah yang langsung dituruti oleh Zifran.


*


*


*


Pagi-pagi sekali Zifran sudah berangkat ke kantor untuk menyelesaikan tugas yang sudah menumpuk di meja kerja. Selama beberapa hari ia tidak masuk kerja, sekretarisnya sangat sibuk bolak-balik keluar kota untuk menangani pekerjaan yang tak bisa ia tangani. Sampai-sampai pekerjaan di kantornya ikut terbengkalai.

__ADS_1


Dan selama itu pula Arlan tak pernah bertemu dengan Zifran. Dan bahkan tentang keadaan Zifran yang sekarang pun Arlan belum mengetahui karena kesibukannya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" seru Zifran lantang saat pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang. Ia pun meletakkan map yang baru saja selesai ia kerjakan.


Iapun mendongak melihat siapa yang pagi-pagi sudah mengetuk ruang kerjanya. Karena setahu Zifran tidak mungkin jika itu Arlan, karena pria itu sedang berada di luar kota.


"Maaf, Pak mengganggu," ucap Arlan yang muncul dari balik pintu. Ia berjalan menghampiri Zifran.


"Ada apa?" tanya Zifran dalam mode tegas. Membuat Arlan terlihat gugup.


"Ma-maaf, Pak. Sa-saya hanya ingin... mengembalikan ka-kalung milik Pak Zifran," gugupnya seraya mengeluarkan kalung dari dalam dompet. Dan memberikannya pada Zifran. "Kemarin kalung itu saya temukan di jas Bapak dan hampir terjatuh, makanya saya ambil dan menyimpannya. Tapi... waktu saya ingin mengembalikannya, saya lupa, Pak."


Arlan belum menyadari jika sedari tadi Zifran menahan untuk tidak menertawakan Arlan yang begitu formal dengannya.


*


*


*


Jam sudah menunjukkan pukul 10:12 WIB. Zifran buru-buru keluar dari kantor, ditemani Arlan yang masih kesal pada Zifran karena tadi sempat mengerjainya. Bahkan sampai di dalam mobil yang sama pun Arlan masih begitu ketus ke Zifran yang terus meminta maaf, namun diabaikan.


Bisa-bisanya sahabatnya itu tidak memberitahu jika dia sudah kembali mengingat masa lalu dan orang-orang sekitar mereka. Dasar sahabat luknat. Pikirnya.


"Sebenernya kita ini kemana sih, Fran? Lo jangan bikin gue pusing. Cukup tadi gue pusing gara-gara lo ngeprank gue," sungut Arlan tanpa melirik Zifran.


Arlan melongo, sekaligus terkejut dengan keinginan Zifran yang gila menurutnya. Ia pun merutuki mulutnya yang sempat memberi tahu kegiatan Maisya hari ini.


"Lo jangan gila, Fran! Maisya itu udah tunangan dan bentar lagi dia bakal nikah, kalo Lo lupa. Lo jangan aneh-aneh deh!" sarkas Arlan menatap tajam Zifran.


Sementara Zifran yang di tatap masa bodo dengan sekretarisnya.


"Tenang, gue nggak bakal aneh-aneh kok. Gue janji deh!"


Arlan memutar bola matanya jengah. Berharap sahabatnya itu tidak melakukan hal-hal yang di luar dugaan.


*


*


*


Di cafe.


Maisya baru saja tiba dan langsung masuk kedalam sesuai arahan yang di berikan Alya. Suasana cafe yang begitu estetik dengan gaya bohemian. Dan ruang outdoor dengan berbagai tanaman hias di sekitarnya. Tak lupa juga payung besar sebagai peneduh serta beberapa payung berukuran sedang, bergelantungan di atas sebuah tali, menjadi daya tarik yang menjadikan cafe tersebut sebagai tempat tongkrongan anak muda dan mudi untuk menghabiskan waktu mereka bersama sahabat atau bahkan juga pacar.


Berada di area itu, Maisya melirik kesana-kemari mencari keberadaan Alya dan juga Andin. Matanya menatap lurus ke depan saat Alya melambaikan tangannya. Dan Maisya langsung menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Maaf ya, gue telat. Soalnya tadi harus ke rumah Onad dulu ngambil sisa undangan untuk anak kelas XII IPA 1dan 2. Nanti kalian bantuin gue nyebarin ya?"


"Iya," jawab keduanya kompak.

__ADS_1


Maisya duduk. Dan setelah itu ia memanggil waiters untuk memesan minuman.


"Tumben Lo nggak bareng sama Leon? Kemana tuh anak?" tanya Alya. Karena setahunya di mana ada Maisya, pasti ada Leon yang selalu mengekor di belakang.


"Dia lagi sibuk bantuin Papanya. Kan kalian tau, setelah kita menikah, Leon di suruh ngurus perusahaan Papanya. Apalagi nanti kami bakal tinggal dan menetap di sini," jawab Maisya.


Sementara tak jauh dari tempat Maisya, dua pria kurang kerjaan tengah mengawasi mereka bertiga. Siapa lagi jika bukan Zifran dan Arlan. Keduanya berjongkok, bersembunyi di balik pot besar, Zifran dan Arlan mengintai seperti detektif.


"Sebenernya kita mau ngapain sih ngintip mereka? Kayak orang kurang kerjaan banget! Mana di sini panas lagi," gerutu Arlan yang terlalu pusing dengan cara berpikir Zifran.


"Ssssttt. Bisa diem nggak sih! Kalau suara Lo kayak toa bisa-bisa kita ketauan," jawab Zifran setengah berbisik.


"Ya abisnya lo aneh-aneh aja. Kalau kangen ya di samperin, bukan diintai kayak gini. Lama-lama gue lebih seneng sama Lo yang amnesia. Nggak banyak tingkah kayak sekarang!" pungkasnya.


"Jadi Lo lebih seneng gue amnesia? Sialan Lo! Dasar temen luknat, nggak punya otak. Apalagi hati!" maki Zifran.


Terjadilah keributan antara Zifran dan juga Arlan yang saling beradu argument.


Ternyata, suara keributan dari balik pot bunga mengundang perhatian beberapa pengunjung yang ada di area tersebut. Termasuk, Maisya dan kedua sahabatnya yang baru menyadari. Ketiganya saling memandang satu sama lain, bahkan saling bertanya lirih seolah ketiganya tau siapa sang pembuat keributan di siang bolong seperti ini.


Maisya pun bangkit untuk memastikan jika tebakan mereka benar.


"Kak Zifran?! Kak Arlan?!"


"Maisya!"


Zifran dan Maisya sama-sama terkejut ketika mata mereka menatap satu sama lain.


"Ngapain kalian di sini?" Maisya memicingkan matanya menatap tingkat Zifran dan Arlan yang saling sikut-sikutan.


"A-anu... a-"


"Dia katanya dia pengen ketemu Lo, tapi dia nggak berani," jawab Arlan memotong ucapan Zifran.


Zifran langsung melotot tak percaya dengan ucapan Arlan yang begitu jujur dan menjatuhkan harga dirinya di depan wanita yang masih ia cintai hingga sekarang.


Sementara, Maisya mengerutkan keningnya bingung. Bingung dengan situasi saat ini. Apa lagi dia tidak tahu jika Zifran sudah pulih dan mengingatnya kembali.


Akhirnya Maisya meminta Arlan dan Zifran untuk gabung bersama mereka. Dengan terpaksa karena sudah ketahuan, namun bahagia karena keinginannya terwujud, akhirnya Zifran menuruti ajakan Maisya. Ya... walaupun ada kecanggungan diantara mereka, namun Maisya bersikap senormal mungkin di hadapan mereka.


*


*


*


Setelah dari cafe, Maisya langsung pulang dan membatalkan rencana mereka yang ingin menghabiskan waktu bersama karena perasaannya yang sedang tidak baik-baik. Apalagi setelah mengetahui bahwa Zifran sudah mengingat semuanya, ada rasa bahagia dan rasa sedih yang mengikat hatinya.


Maisya langsung meletakkan tasnya di atas meja belajar dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil memeluk boneka kesayangannya.


Ingatannya kembali berputar pada ucapan Zifran yang begitu membuatnya terharu sekaligus merasakan sakit di waktu yang bersamaan.


Ia tak menyangka, jika Zifran benar-benar telah melepaskan dirinya dan menerima bahwa mereka akan menjalani kehidupan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2