
(Masih POV Maisya)
Aku membuka pintu kamar rawat kak Zifran dan berniat untuk menyusul Leon yang sempat meminta izin untuk menerima telepon dari Onad, sahabat kami. Namun, saat aku ingin membuka pintu, bersamaan dengan itu pintu ruang rawat kak Zifran terlebih dahulu dibuka dari luar dan membuat aku terkejut saat mengetahui siapa yang membukanya.
"Maisya?!"
"Tante," sapa ku pada Tante Sarah yang terlihat terkejut sama sepertiku.
"Kamu-"
Aku tersenyum. "Silahkan masuk, Tan," ucapku memotong perkataan Tante Sarah, lalu mempersilahkannya.
"Ah iya." Tante Sarah lalu masuk diikuti Papa Kak Zifran yang tersenyum melihatku. Aku pun membalasnya.
Setelah itu aku pamit pergi untuk beristirahat di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat kak Zifran sambil menunggu Leon kembali. Jangan kalian berpikir aku menghindari orang tua kak Zifran mengenai perihal tentang masalah itu, aku hanya ingin menjaga perasaan Leon agar tidak berpikiran yang bukan-bukan tentang hubunganku dengan kak Zifran saat ini.
Sekitar 10 menitan aku menunggu, Leon tidak kunjung datang, padahal aku rasa menelpon Onad tidak memakan waktu hampir satu jam lamanya. Sambil menunggu, aku memainkan kakiku yang menggantung dengan mengayunkan maju-mundur beberapa kali hingga akhirnya rasa pegal yang aku dapat, namun Leon belum juga menampakkan batang hidungnya. Entahlah, entah kemana perginya pria itu aku tidak tahu.
Apa mungkin dia... usstt! Aku menggelengkan kepalaku berulang kali untuk mengusir pemikiran buruk tentang tunangan ku itu. Aku tau kalau Leon itu bukan orang yang egois mementingkan dirinya sendiri. Meskipun dia itu pencemburu, tapi dia tidak akan tega meninggalkan aku sendirian.
Seketika aku teringat untuk menelepon Leon. Ah... kenapa aku tidak kepikiran dari tadi ya?
Aku mengambil ponsel di dalam Sling bag, lalu ku cari nomor Leon diantara nomor yang ada di konta ponselku. Namun, aktivitasku terhenti setelah kehadiran seseorang yang membuat aku tersentak.
"Apa kabar, Sya? Udah lama ya kita nggak pernah ketemu?" Tiba-tiba aja Tante Sarah duduk di sampingku dengan senyum yang membuatku tidak enak hati.
Ya, aku merasa canggung setelah beberapa tahun kami tidak bertemu dan kini dipertemukan dalam situasi yang berbeda seperti sore ini.
"Baik, Tan. Tante sendiri bagaimana?" Aku memberanikan diri untuk menatap wajah Tante Sarah.
"Seperti yang kamu lihat saat ini. Terimakasih banyak ya kamu udah jagain Zifran. Maaf kalau dulu Tante udah egois sama kamu, Sya," ucap Tante Sarah terlihat sedikit sendu setelah mengutarakan semua itu.
__ADS_1
Aku terdiam sesaat untuk memikirkan sikap apa yang harus aku berikan padanya. Jika mengingat kejadian dulu rasanya aku sedikit kecewa, namun aku juga tidak bisa menyalahkan Tante Sarah karena aku pun tau kalau wanita yang ada di hadapanku saat ini ingin yang terbaik untuk kak Zifran.
Sial sungguh sial. Kenapa hatiku jadi melow begini sih!
"Em.... justru aku yang berterimakasih banget sama kak Zifran, Tan karena dia udah nolongin aku. Dan yang seharusnya minta maaf itu aku karena aku kak Zifran jadi kayak gini. Oiya, kak Zi udah sadar Tan?" tanyaku ingin tau karena di saat aku keluar pria itu masih memejamkan matanya.
"Belum. Yuk ikut Tante ke kantin, kita ngobrol di sana sambil makan malam, soalnya Tante belum sempat makan tadi. Pasti kamu belum makan juga 'kan?" ucap Tante Sarah menarik tanganku dan langsung mengajakku ke kantin yang ada di dalam area rumah sakit tersebut
Ternyata perhatian Tante Sarah tidak pernah berubah pikirku.
"Sekarang kamu tau 'kan gimana keadaan Zifran? Tante harap kamu mau memaafkan kesalahan Zifran dulu yang udah nyakitin kamu ya? Kalau inget dulu... Tante jadi merasa bersalah sama kamu dan juga Zifran. Apalagi setelah tau kejadian yang sebenarnya, Tante semakin merasa bersalah karena udah nggak percaya sama anak Tante sendiri. Terlebih lagi dengan gampangnya Tante memisahkan kalian berdua."
Aku melihat guratan kesedihan dari wajah Tante Sarah. Aku nggak tau apa sebenarnya yang terjadi selama ini. Dari caranya berbicara sambil mengaduk makanannya, aku semakin yakin jika Tante Sarah memendam perasaan sedih dan rasa bersalah yang begitu mendalam tentang apa yang terjadi diantara kami.
"Masalah yang lalu nggak usah di bahas lagi lah, Tan semua itu udah jadi masa lalu yang bikin kita semakin sakit. Lagian sekarang aku baik-baik aja kok. Jadi, Tante nggak usah ngerasa bersalah kayak gini."
Dengan lembut, aku menggenggam tangan Tante Sarah untuk memberi pengertian padanya bahwa aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang. Wanita itupun langsung menimpali tanganku dan menggenggamnya erat. Kami mengabaikan tatapan mata dari pengunjung kantin yang sedari tadi terus memperhatikan kami.
Namu, perasaanku seketika berubah saat Tante Sarah mulai bercerita tentang kak Zifran setelah kami berpisah. Entah mengapa semua itu membuat aku jadi dilema seperti ini.
"Maksud, Tante?" Seketika rasa penasaranku tentang kak Zifran mencuat seiring dengan berita yang baru saja aku dengar.
Namun yang masih menjadi tanda tanyaku sampai saat ini adalah, kemana istri dan anak Lak Zifran. Selama kami berada di rumah sakit, aku tidak melihat. Terlebih setelah kehadiran Tante Sarah dan Om Arya.
"Tante Sarah melepas genggaman kami, lalu menghela napas dan menghembuskannya perlahan. "Jadi, begini ceritanya..." Tante Sarah mulai menceritakan tentang keadaan kak Zifran saat itu dan aku diam untuk mendengarkannya.
POV (Tante Sarah)
Setelah Zifran dinyatakan koma, Dokter yang menanganinya memberitahu kami bahwa kemungkinan untuk Zifran bangun itu sangat tipis, mengingat luka hantaman besi yang mengenai kepalanya membuat tempurung kepalanya retak dan mengenai otak sebelah kirinya. Terlebih setelah pendarahan hebat di kepala, Dokter menyimpulkan bahwa Zifran tidak bisa bertahan lama. Saat itu hatiku hancur berkeping-keping menerima kenyataan pahit jika putra semata wayang kami harus dalam situasi seperti ini.
Jika boleh memilih, biarlah aku yang berada dalam posisinya saat ini. Tidak ada seorang ibu yang sanggup melihat putranya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan tubuh yang dipasang peralatan medis dan selang ventilator (Selang yang dimasukkan kedalam mulut). Dengan kepala yang di perban dan kaki yang digantung di atas akibat kecelakaan yang membuat lututnya menjadi remuk dan harus di gips.
__ADS_1
"Terus, apa yang terjadi sama kak Zifran setelah itu?" tanya Maisya yang menatapku seolah memintaku melanjutkan kembali ceritanya.
"Saat itu kami hanya bisa pasrah dengan keadaan Zifran. Kata Dokter, kalau pun seandainya Zifran sadar, ada beberapa kemungkinan lain yang harus kami hadapi setelahnya," ungkap ku kembali mengingat kejadian saat-saat sulit yang harus kami hadapi.
"Maksudnya?"
"Huffff..." Aku mengambilnya nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Waktu itu Dokter Darmawan bilang kalau Zifran nggak akan bisa bertahan lama dengan kondisi dia yang saat itu emang nyaris mustahil buat bertahan karena cidera serius dan pendarahan hebat di kepalanya. Dokter Darmawan bilang, kalau pun seandainya Zifran sadar, kemungkinan dia akan mengalami amnesia. Dan yang terburuknya adalah..."
Aku menggantung ucapan ku sejenak karena air mataku nyaris tumpah saat aku mengingat kembali bagaimana perjuangan Zifran untuk bisa berada ditengah-tengah kami.
Di saat bersamaan, aku pun melihat air mata Maisya yang tanpa ragu luruh begitu saja membuat gadis yang dulu aku banggakan menggenggam kembali tanganku begitu erat.
"Sudah jangan dilanjutkan kalau membuat Tante nangis. Maaf kalau aku udah bikin Tante jadi keinget lagi," pinta Maisya padaku.
Memang keadaan Zifran dulu begitu menyakitkan untuk aku khususnya. Aku selalu terjebak dalam rasa bersalahku padanya. Setelah kejadian kami berdebat hebat di rumah, saat itu juga Zifran pergi dari rumah dengan raut wajah kesal setelah aku dan Papanya memaksa dia untuk segera menikahi Amel.
"Tidak apa, Sya." Aku melanjutkan kembali perbincangan kami yang sempat tertunda. "Dan hal terburuk yang dikatakan oleh Dokter Darmawan adalah, Zifran akan mengalami kelumpuhan karena cindera yang dialami mengenai syaraf motorik. Tentu saja itu adalah pukulan terbesar untuk Om dan Tante saat itu. Bagi kami Zifran itu anugerah dalam pernikahan kami, makanya waktu Dokter bilang Zifran bakal amnesia dan lumpuh membuat Om dan Tante... hiks... hiks... hiks"
"Namun, takdir berkata lain. Setelah setahun pasca sadar, perlahan Zifran mampu menggerakkan sedikit demi sedikit anggota tubuhnya dan kami selalu memanggil ahli terapis untuk membantu mempercepat proses pemulihannya. Dan seperti yang kamu lihat, sekarang Zifran bisa berjalan karena tekatnya yang kuat untuk sembuh," lanjut ku lagi.
"Udah ya, Tante nggak usah sedih. Aku ngerti kok perasaan Tante kayak gimana. Lagian aku udah maafin Kak Zifran kok. Sekarang Tante nggak usah khawatir ya? Tante akan tetap jadi orang yang aku sayang walaupun aku sama kak Zifran udah bisa sama-sama," ucap Maisya menenangkan ku.
Saat ini Maisya tengah memelukku dan berusaha untuk menenangkan hatiku yang pilu. Andai dia tahu kalau salah satu penyebab Zifran amnesia itu adalah masa lalu mereka. Masa lalu yang begitu membuat Zifran terluka hingga dia menaruh kenangan itu jauh-jauh dari ingatannya. Sepertinya yang dikatakan oleh Dokter Darmawan beberapa tahun lalu.
'Selain benturan keras di kepalanya, ada penyebabnya lain yang membuat kondisi Zifran seperti ini. Mungkin dia memiliki kenangan pahit di masa lalunya yang membuat Zifran enggan untuk mengingat semuanya. Meskipun ingatan itu masih ada, tapi Zifran menyimpannya jauh di alam bawah sadarnya. Dan sewaktu-waktu ingatan itu bisa kembali asal Zifran mau untuk mengingatnya. Dalam artian dia yang menginginkannya tanpa ada paksakan dan jika di paksakan, maka nyawa Zifran lah yang akan menjadi taruhannya.'
Bahkan sampai sekarangpun aku selalu mengingat hal tersebut.
Dalam hal ini aku pun enggan untuk membahas wanita yang membuat kehidupan putraku hancur berantakan. Karena ulahnya lah aku sampai tega memisahkan cinta antara Zifran dan juga Maisya.
Sungguh! Bila mengingat peristiwa itu, ingin rasanya aku memaki wanita yang telah mengandung cucuku itu. Gara-gara dia juga Zifran sekarang lupa padaku, bahkan kami semua.
__ADS_1
Dalam pelukan Maisya, sayup-sayup aku mendengar suara teriakan bocah kecil yang begitu aku hafal suaranya yang memanggilku dengan sebutan Oma.
"OMAAAA!!!"