Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Ternyata oh ternyata


__ADS_3

"Selamat ya sayang, Papa nggak nyangka kalau kamu ternya mempunyai bakat sehebat ini!" Papa Bram memberikan buket bunga kepada sang putri dan tak lupa sebuah pelukan hangat ia berikan.


"Makasih Pa! Papa dari mana sih kok baru keliatan." Maisya membalas pelukan sang papa.


"Papa tadi ada urusan sama rekan kerja papa. Mau langsung pulang atau mau makan dulu?"


"Makan. Soalnya Maisya udah laper banget."


"Temen kamu pada kemana, kok nggak kelihatan?" Papa Bram mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia cari.


"Tuh! Udah pada nunggu di dalam mobil mereka," Maisya menunjuk kearah mobilnya yang terparkir. Kini keduanya berjalan menuju mobil mereka masing-masing.


****


Hari menjelang sore Maisya terduduk termenung di bawah pohon sambil memandang ponselnya yang sejak tadi berada ditangannya.


Entah sudah berapa kali ia menghubungi Zifran namun pria itu tak pernah menjawab panggilan darinya hingga rasa kesal mendera karena setelah acara tadi Zifran belum menghubunginya Sampai saat ini.


"Isshh, emang dasar cowok nyebelin!" kesalnya sambil memukul angin.


Tak lama berselang ponsel Maisya berdering, ia melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel ternyata bukanlah dari orang yang ia tunggu melainkan Leon yang menghubungi, mau tak mau Maisya pun mengangkatnya.


"Ada apa Yon?" tanya Maisya.


"Mau makan malam bareng gue, hari ini gue traktir lo, mau nggak?!"


"Tapi gue masih kenyang! Gimana kalau kita jalan-jalan, soalnya gue lagi suntuk."


'Lebih tepatnya lagi badmood gara-gara tuh orang.' batinnya.


"Ya udah gue jemput lo sekarang!" ucap Leon penuh semangat.


"Hem."


Setelah Leon memutuskan sambungan teleponnya, Maisya bergegas masuk kedalam rumahnya untuk segera bersiap-siap.


"Mau kemana kamu Sya, kok udah dandan rapi?" Papa Bram mendekati putrinya yang baru saja menuruni anak tangga


"Maisya mau cari angin sama temen pa, boleh kan?" tanya gadis itu.


"cowok atau cewek. Siapa namanya?"


"Namanya Leon, dia temen sekolah Maisya, dan dia juga yang udah nganterin pulang waktu kaki Maisya sakit."


Tin tinnn!

__ADS_1


"Tuh kan, orangnya udah datang. Boleh ya Pa?" bujuknya dengan manja.


Leon mematikan motornya, membuka helm full face, kemudian ia letakkan di atas motornya. Ia melirik kearah Maisya yang berjalan menghampirinya namun kini arah pandangan Leon teralihkan menatap seorang pria paruh baya yang berdiri di belakang sang pujaan hati.


Tanpa rasa ragu Leon menghampiri pria itu dan mengulurkan tangannya. "Selamat sore Om, perkenalkan nama saya Leon, saya temennya Maisya!" ucapnya memperkenalkan diri.


Papa Bram pun membalasnya. "Saya Bram, Papanya Maisya."


"Boleh saya bawa Maisya sebentar untuk jalan-jalan, Om?"


"Kemana?"


"Ke taman. Saya janji sebelum jam sembilan malam saya akan mengantarkan Maisya kembali,"


"Baiklah, saya pegang ucapan kamu."


"Terimakasih Om!" ucap Leon bersemangat.


Akhirnya, setelah mendapat izin Leon membawa Maisya menuju motornya. "Nih, pake dulu helmnya!" Leon memberikan helm kepada Maisya.


"Makasih. Udah!" ucap Maisya.


"Pegangan yang kenceng entar lo jatuh bisa di gorok gue sama bokap lo!"


"Iya-iya, cerewet banget sih lo jadi cowok!" Maisya memegang jaket Leon.


Brumm!


Leon melajukan motornya meninggalkan kediaman Maisya.


****


Di sebuah ruangan yang minim cahaya, terdengar suara alunan musik yang begitu memekakkan telinga.


Aroma alkohol begitu kentara menyeruak kedalam Indra penciuman. Seorang pria dengan tampilan yang begitu berantakan tengah terduduk di bar sambil meneguk minuman yang berada dihadapannya.


Jangan tanyakan sudah berapa lama dan sudah berapa banyak ia menghabiskan minumannya. Dengan sisa kesadaran yang hanya beberapa persen ia masih bertahan mendengarkan segala ocehan dari sahabat sekaligus sekretarisnya itu karena setelah acara selesai tadi ia tak menampakkan dirinya di kantor.


"Sstttttt. Diem, oke! Lo gue suruh kesini bukan untuk ngomelin gue, lo mau gaji lo gue potong. Huh!" ucap Zifran dalam keadaan mabuk.


"Tapi kan lo tau gue masih banyak kerjaan, lagian ngapain lo sore-sore udah nangkring disini kayak nggak punya kerjaan lo."


"Lo bisa diem nggak sih dari tadi lo ngoceh mulu, bikin kesel aja lo sama kayak si Bram!"


"Maksud lo?" Arlan menyerngitkan kebingungan. Ia tahu siapa itu Bram namun apa hubungannya ia dengan pak Bram sang pemilik perusahaan KMI properti.

__ADS_1


"Ck, makanya dengerin cerita gue jangan ngoceh terus tuh mulut. Jadi gini ceritanya..." Zifran mulai bercerita.


Flashback on


Setelah selesai acara Zifran yang duduk di kursi tamu berdiri hendak menemui Maisya untuk mengucapkan selamat kepada gadis itu namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan bahunya. Ia berbalik badan melihat siapa yang menyentuhnya.


"Maaf, bisa kita bicara sebentar pak Zifran?" ucap pria paruh baya yang tidak lain adalah Papa Bram


"Oh, pak Bram. Tentu saja bisa Pak! Mari kita ngobrol di ruangan saya."


Mereka berjalan menuju ruangan yang dimaksud oleh Zifran.


"Silahkan duduk Pak. Oiya, apa yang ingin anda katakan kepada saya?" ucap Zifran mempersilahkan pria itu.


Papa Bram duduk berhadapan dengan Zifran, "Terimakasih!"


"Langsung saja ke intinya. Jauhi putri saya!" ucapnya tegas.


"Jauhi, apa maksud anda menyuruh saya untuk menjauhi putri anda. Bahkan saya saja tidak mengenalnya."


"Maisya. Jauhi Maisya, dia itu putri saya! Saya tidak suka anda mendekatinya."


Ukhuk


Ukhuk


Ukhuk


Zifran memukul-mukul dadanya yang terasa nyeri akibat tersedak kopi yang ia minum saat mendengar ucapan lawan bicaranya itu.


'Ah, sial. Kok bisa sih! Kenapa hidup gue harus berurusan sama orang kayak dia, cukup urusan di kantor gue kesel sama nih orang!'


Batinnya ngedumel setelah mengetahui fakta bahwa orang yang paling menyebalkan baginya adalah Papa dari gadis yang dekat dengannya.


Zifran berdehem membenarkan posisinya kembali.


Flashback off


Pria itu kembali meneguk wine setelah menceritakan tentang masalah yang ia hadapi. Sementara Arlan, ia hanya terdiam tanpa suara dan sesekali iapun menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia faham.


"Terus, sekarang apa keputusan lo, apa lo bakal jauhi Maisya gitu aja?" tanya Arlan ikut meneguk minumannya.


"Hahaha, ya nggak lah. Enak aja dia nyuruh-nyuruh gue, emang dia siapa, huh! Gue nggak bakal ngelepas tuh bocah inget itu!"


"Lo cinta sama dia?" Arlan mulai penasaran. Ia ingin memastikan apakah benar jika orang yang dalam pengaruh alkohol semua itu adalah ungkapan dari hatinya yang terdalam.

__ADS_1


"Cinta?......"


__ADS_2