
Sesuai janjinya kepada sang Mama, setelah selesai mengerjakan pekerjaan kantornya Zifran mengemudikan mobilnya menuju tempat yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Zifran segera sampai di tempat tujuannya.
Zifran memarkirkan mobilnya, lalu berjalan memasuki sebuah restoran yang terkenal di kotanya.
Sesampainya Zifran di dalam ia terus berjalan menuju salah satu ruangan yang sudah di beritahukan oleh Mamanya.
Kriieett!
Zifran membuka pintunya dan berjalan masuk.
"Sorry, aku terlambat."
Zifran yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi yang bersebelahan dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya.
"Akhirnya anak Mama datang juga!" ucap sang mama berbinar.
"Langsung aja Ma, nggak usah basa-basi lagi."
"Kenalin ini Amel, anak temen Mama yang Mama bilang tadi," ucapannya kepada Zifran
"Amel," ucap wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Zifran," balasnya.
"Kamu pasti belum makan kan? Aku pesenin kamu makanan ya," tawar Amel.
"Hem."
Mendengar ucapan dari Zifran, Amel hanya mengangguk dan melambaikan tangannya memanggil pelayan restoran.
Begitupun dengan Mama Sarah, wanita paruh baya itu merasa lega saat tak ada penolakan dari putranya.
"Yuk Pa, kita pulang biarkan mereka berdua saling mengenal, kita jangan mengganggunya," ajak Mama Sarah yang menarik lengan suaminya.
Setelah kepergian Mama Sarah, keduanya larut dalam perbincangan ringan yang mereka ciptakan.
****
Suasana pagi hari di kediaman keluarga Samudera tak jauh berbeda dengan hari biasanya. Tapi berbeda dengan Zifran yang baru saja tiba di meja makan dengan menampilkan senyum penuh arti bagi yang memandangnya.
"Jadi gimana Fran, kamu maukan?" tanya Mama Sarah sambil menuangkan susu dan roti untuk sarapan putranya.
"Apanya?" tanya balik Zifran.
"Kamu mau kan nikah sama Amel? Dia cantik dan juga mandiri Lo Fran," ucap Mama Sarah.
__ADS_1
"Mandiri kalau nggak jago di ranjang buat apa?" ucap Zifran santai sambil mengunyah rotinya.
Plakk!
Tepukan keras dari Papa nya mendarat di bibir sexy Zifran. Sungguh tak habis pikir papanya dengan jalan pikiran putra semata wayangnya itu.
"Jangan bilang kalau kamu menolaknya," Kini tak ada lagi suara yang lembut dan tenang dari Mama Sarah atas perkataan vulgar dari putranya.
"Apa lagi alasan yang akan kamu jelaskan kepada kami? Tidak cocok, itu kan kata yang selalu kamu ucapkan? jadi menurut kamu seperti apa yang cocok untuk kamu, yang da*danya lebih besar dan berpakaian minim bahan, iya! Pernikahan itu bukan di ukur dari keahliannya di kamar Fran." Ucap Mama Sarah yang tersulut emosi hingga tanpa sadar ia mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Mama tuh nggak habis pikir tau nggak sama jalan pikiran kamu. stop Main perempuan Fran!" timpal Mama Sarah.
"Dan Mama stop untuk menjodohkan aku sama perempuan pilihan Mama! Aku bisa kok nyari sendiri. Jadi berhenti untuk mencampuri hidup ku." Sambung Zifran dengan nada tingginya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini nak, benar kata Mamamu, sekarang kamu sudah dewasa dan sudah saatnya untuk menikah," balas Papa Arya.
"Aku bakal cari sendiri dan kalau untuk menikah... aku belum belum siap."
Zifran menyambar tas dan jas nya yang sudah di siapkan oleh Mamanya dan berjalan meninggalkan meja makan dengan raut kesalnya.
"Bagaimana mana ini Pa? Semua usaha sudah Mama lakukan, tapi tetap saja semuanya kacau, Papa kasih solusi kek, jangan diem aja kayak patung."
"Tau ah! Pusing Papa liat kamu sama anak kamu berantem terus kalau sudah masalah seperti ini, kalian itu sama-sama keras kepalanya dan tidak ada yang mau mengalah. Jadi sebaiknya Mama saja yang mengalah dan beri Zifran waktu untuk itu semua, Mama bisa kan?"
Mendengar ucapan sang suami hati Mama Sarah seakan tecubit saat sang suami memintanya untuk memberi waktu kepada Zifran. ya, jika di pikir-pikir ia sudah memaksakan kehendaknya demi menikahkan putranya.
****
Didalam mobil Zifran terus memikirkan perkataan yang sempat ia layangkan untuk sang Mama. Ia merasa menyesal karena telah membentak Mama hanya karena masalah sepele seperti ini.
Entah mengapa jika menyangkut masalah pernikahan ia akan sesensitif ini 'Ah, entahlah, Zifran pun bingung karenanya.'
Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, kini Zifran sudah sampai di kantornya lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Zifran melirik kesana-kemari sambil melangkah menuju pintu masuk gedung pencakar langit milik keluarga Samudera yaitu Papanya.
"Kok sepi? Apa gue datangnya kepagian ya?" ucap seorang diri.
setibanya Zifran di depan pintu lift khusus dirinya, seseorang wanita baru saja keluar dari dalam lift khusus untuk karyawan.
"Hai, kamu. Kemari lah!" tangan Zifran bergerak memanggil wanita itu.
"Iya Pak, ada apa?" tanya wanita itu dengan suara yang terdengar ****.
"Buatkan saya kopi dan antar keruangan saya."
"Baik pak. Ada lagi pak?" tanya nya, Zifran pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Zifran langsung masuk kedalam lift dan begitupun dengan wanita itu, ia langsung mengerjakan yang di perintahkan oleh atasannya itu.
Didalam ruangan kerjanya Zifran hanya duduk santai di kursi kebesarannya sambil menunggu sang sekretaris yang belum juga menampakkan batang hidungnya.
Hingga suara ketukan pintu menyapanya, Zifran pun segera menatap siapa yang hendak masuk keruangan nya.
Kreett!
Ketika pintu terbuka munculah seorang wanita yang sedang membawa nampan berisi kopi yang ia pesan. perlahan wanita itu menghampirinya dan meletakkan gelas yang berisi kopi tersebut di atas meja kerjanya.
Setelah melakukan tugasnya, wanita itu bukannya pergi tapi malah menghampiri zizran dan langsung mendudukkan tubuhnya di atas paha Zifran sebagai landasannya.
Zifran yang mendapat perlakuan seperti itu sudah biasa dan hanya membiarkan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Wajah Bapak kok keliatannya kusut banget sih?" tanya wanita itu sambil mencium bagian leher Zifran dan sedikit mel*matnya.
"Butuh servis dari saya pak?" tanya ia lagi.
Meski Zifran tak bersuara wanita itu terus mengeluarkan jurus nya. Sebab ia tau jika Zifran tak mampu menolaknya.
Melihat keterdiaman Zifran wanita itu langsung melancarkan aksinya.
Langkah pertama yang ia lakukan adalah membuka dua kancing kemejanya agar Zifran mau menatap benda besar padat berisi miliknya. Kemudian mencium dan melu*mat bibir tipis milik Zifran.
Perlahan Zifran pun membalas permainan yang sudah ia ciptakan. Ruangan yang semula sepi tak bersuara, kini di penuhi oleh des*han dan lenguhan dari mereka yang sedang menyalurkan hasrat dalam diri keduanya.
Zifran membuka beberapa sisa kancing kemeja milik wanita itu yang kini menampilkan sepasang bukit kembar yang menggoda imannya.
Tanpa perlu bertanya Zifran langsung memainkan benda itu dan sesekali menyesapnya seperti bayi yang sedang kehausan.
"Mmmpphh...ahh..," suara des*ahan lolos begitu saja saat Zifran memainkan pucuknya dengan lidah Zifran dan sesekali iapun menyesapnya.
"Ahh... ssshhh, uhhh."
Zifran yang mendengar suara seperti itu semangkin menggila di buatnya.
Kini tangan Zifran yang satunya perlahan-lahan mulai turun kebawah dan menyingkap rok wanita itu sedikit lebih tinggik hingga menampilkan bagian paha yang terekspos oleh Zifran.
Permainan pun semakin kian memanas saat wanita itu tak tinggal diam. Ia pun mencumbui Zifran dengan sentuhan lembut bibirnya yang menyapu setiap bagian wajah Zifran hingga turun sampai ke lehernya.
Sementara Zifran, pria itu masih setia dengan aktivitasnya, yaitu menyesap benda kenyal yang ada dihadapannya, serta tangan Zifran pun tak tinggal diam, ia terus mere*mas dan memainkannya dan jangan lupakan tangan Zifran yang satunya yang masih berada dibawah sana menikmati area terlarang.
Namun, ketika wanita itu merubah posisinya yang kini duduk mengapit tubuh Zifran dengan kedua pahanya, tiba-tiba saja terdengar suara...
Brakk!
...****...
__ADS_1
Nah! Hayo, suara apa itu, penasaran kan? Sama author juga 🤣🤣
Yuk kita cari tau sama-sama di part selanjutnya.😉