
Setelah selesai perkara celana, Maisya yang satu mobil dengan Zifran hanya duduk diam di samping sembari memainkan ponsel yang sedari tadi ada digenggaman tangannya. Ternyata Maisya masih marah dengan Zifran karena kejadian tadi. Pria itu memaksanya untuk berganti celana, dan kini iapun memakai celana panjang berbahan kulot yang sangat kontras dengan cuaca saat ini.
"Kamu kenapa? Masih marah masalah tadi?" Zifran melirik Maisya sekilas, kemudian kembali fokus terhadap jalan yang tak beraspal.
Tak ada jawaban dari Maisya. Gadis itu terus memainkan ponsel dan sesekali menyentuh kasar layarnya untuk melampiaskan kekesalan di hati.
"Bukan kakak nggak suka kamu pake celana itu, Sya. Di sana bukan cuma kakak doang yang liat kamu, tapi ada Arlan dan siapa itu namanya, mereka pasti memperhatikan kamu. Nggak ada cowok yang nggak ***** liat modelan begitu. Jadi jangan marah ya, entar ilang loh cantiknya." Zifran berusaha memberi pengertian kepada Maisya. Dan berharap agar gadis itu mau mengerti jika yang dilakukannya beberapa waktu lalu bisa saja mengundang mata jahat untuk menikmatinya. Meski bukan Arlan dan Leon orang yang dimaksud.
"Iya, iya, gue nggak marah. Tapi Lo jangan kayak tadi, gue nggak suka."
"Hem. Udah nggak ngambek lagi 'kan?" Zifran melirik sekilas Maisya yang juga menatap ke arahnya. Maisya menggeleng sebagai jawabannya.
Zifran mengurangi kecepatan mobil yang ia kemudi setelah menyadari mobil yang ditumpangi Arlan dkk berhenti di sebuah warung makan yang terletak dipinggir jalan dan terkenal akan kelezatan makanannya.
Di sinilah Arlan membawa Zifran untuk menikmati petualangan pertama mereka. Makan dipinggir jalan yang belum pernah ia coba sebelumnya.
"Mau pesan apa kalian?" tanya Arlan membuka satu persatu buku menu yang ada di meja.
"Terserah sama Lo aja, kita-kita pada ngikut soalnya kita nggak tau makanan khas sini," tutur Zifran me Arik kursi untuk Maisya.
"Cie... makin romantis aja, Pak," celetuk Alya menggoda Zifran.
"Diem, kamu! Atau saya tinggal kamu di tengah jalan," sinis Zifran yang masih konslet dengan Alya perkara celana tadi.
"Yeeee, sih Bapak lupa kalau saya sama kak Arlan. Mana mungkin bisa nurunin saya. Ya enggak, kak," balas Alya yang memberi kode pada Arlan yang berada di sampingnya.
"Tak tahu," ucap Arlan sembari mengangkat kedua bahunya.
"Buruan mau pesan apa? Entar keburu siang pasti bakal rame orang." Arlan memanggil pria yang memakai celemek
Pria itu datang menghampiri Arlan, membawa buku nota untuk menulis pesanan mereka.
"Selamat pagi kakak. Mau pesan apa ya?" tanya pria tersebut.
__ADS_1
"Saya pesan makanan yang menjadi andalan di tempat ini, Mas. Dan untuk minumannya sendiri pesan es teh manis tapi nggak usah pake es. Semua di samain aja," jelas Zifran yang mana salah satu pesanannya membuat si Mas itu tercengang tak percaya.
'Ini saya yang salah dengar atau si Masnya yang sakit kepala. Saya teh jadi bingung,' ucap pria itu di dalam hati.
"Baik, Mas. Ditunggu ya pesanannya." Pria itu melenggang pergi masuk ke dalam dapur untuk memberikan menu pesanan yang di pesan oleh pelanggan.
Selama menunggu, mereka selalu terlibat dalam percakapan ringan yang yang membahas hal-hal absurd yang mereka lakukan. Seperti halnya Zifran saat ini.
"Pak, saya boleh tanya, nggak?" tanya Alya cengir kuda.
"Apa?!" jawab Zifran sedikit sensian.
"Cerita Bapak kenal Maisya itu dimana. Kok saya jadi penasaran sama cerita kalian," ucap Alya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Maisya.
"Lo nggak usah ngorek aib gue, Al." Maisya tak terima dengan pertanyaan seperti itu yang mengingatkan dirinya betapa gila kelakuannya dulu.
"Jangan Lo jawab, kak. Sampek lo jawab, Lo nggak bakal dapet apa yang lo mau." Kini pandangan Maisya beralih kepada Zifran yang duduk santai di tempatnya, kaki bersilang dengan tangan bersedakep di dada.
"Memangnya apa yang diminta sama Zifran, Sya?" pertanyaan dari Arlan membuat mereka terdiam yang tadinya ketawa cekikikan menjadi penasaran.
"A-anu... kak," jawab Maisya gugup.
"Anu apa?"
"Ya itu."
"Itu apa?" tanya Arlan mendesak ketika Maisya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan.
"Kayak gini kan yang kamu maksud?"_ Zifran
Cup
Dengan santainya Zifran mencium pipi Maisya di hadapan orang banyak dan terutama di depan para sahabatnya. Tubuh Maisya menegang menerima kecupan singkat yang diberikan Zifran barusan. Seketika pipinya merona bak kepiting rebus dan itu tak luput dari pandangan mereka yang berada satu meja.
__ADS_1
"Cieeee...!" seru keempatnya kompak.
Beberapa pelanggan lain menatap mereka tersenyum karena mendapat tontonan gratis, terlebih lagi live secara langsung, itu adalah momen langka yang jarang mereka dapatkan.
"Lo apa-apaan sih, kak. Kan gue jadi malu." Maisya memukul lengan Zifran untuk melampiaskan rasa malu yang mendera.
"Alah, biasanya malu-maluin aja kok." Kini Andin yang angkat suara setelah menyudahi aksi tawa mereka.
"Bener banget. Lo itu cewek yang nggak punya rasa malu Mae. Jadi sejak kapan Lo malu dicium sama pak Zifran," celetuk Alya yang mendapat kepalan tangan dari si korban. Korban bully maksudnya.
"Emang setan lo berdua!"
Zifran menarik tangan Maisya agar gadis itu kembali duduk ditempatnya. "Udah, malu diliatin orang. Entar dikira kamu kesurupan," ucap Zifran menengahi pertikaian yang dapat dipastikan sebentar lagi adan terjadi.
"Wah, Mae udah udah nggak peraawan lagi dong. Tuh pipinya udah ternoda," celetuk Leon yang hampir membuat Maisya tersedak air ludahnya sendiri.
"Yeee, mulut Lo minta dicuci pake kaporit biar bersih nggak lemes kalau ngomong," sungut Andin sinis menatap pria yang berada di samping tempat duduknya.
"Kak, kayaknya di nggak aman deh buat kita berdua," ucap Maisya.
"Kenapa?"
"Gue abis diledekin Mulu sama mereka. Padahal mereka 'kan jomblo, kenapa gue yang jadi bahan ghibah'an mereka coba." Kesal, itulah yang Maisya rasakan saat ini.
"Itu karena mereka nggak mampu cari pacar, Sya," jawab Zifran dengan entengnya.
"Enak aja ngatain kita nggak mampu cari pacar. Asal lo tau Om, gue nggak punya pacar itu gara-gara Lo!" saut Leon ngegas.
"Iya pak. Saya bukan nggak mampu buat cari pacar, tapi cowok yang saya taksir rada nggak peka," imbuh Alya.
"Apalagi saya, Pak, belum ada yang cocok."_ Andin.
"Kenapa Lo diam Ar? Kenapa lo nggak kayak yang lain dari tadi ngegas Mulu ngomong sama gue? Jangan-jangan bener Lo nggak mampu buat cari yang lain. Atau move on." Zifran bertanya pada Arlan yang berdiam tanpa suara.
__ADS_1
"Enak aja! Gue bukan nggak bisa move-on, tapi gue lagi berusaha untuk memilih." Alya, Andin, Leon dan juga Maisya hanya jadi penyimak yang budiman.
"Alah, kebanyakan milih, Lo. Biasanya kalau kebanyakan milih, entar yang dipilih nggak sesuai harapan baru nyahok, Lo."