Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Double couple


__ADS_3

Setelah selesai dengan acara pamer calon mantu, Mama Sarah dan juga Maisya pergi meninggalkan restoran itu.


Mobil yang ditumpangi oleh Maisya memasuki pekarangan yang cukup luas namun tak seluas halaman milik keluarga Samudera.


"Ini rumah kamu Sya,?" tanya Tante Sarah memindai pandangannya.


"Bukan Tan, ini rumah Alya. Malam ini aku nginep di rumahnya."


"Kapan-kapan ajak Tante main ke rumah kamu ya!"


"Siap Tan! Tante nggak mau mampir dulu?" tawar Maisya.


"Makasih, tapi ini udah sore entar suami Tante nyariin, karena tadi Tante izinnya cuma sebentar. Lain kali aja ya!" Maisya tersenyum membalasnya. "Tante pamit dulu. Bye-bye!" Mama Sarah melambaikan tangannya kearah Maisya. Maisya pun membalasnya.


Ting tong. Ting tong.


Maisya memencet bel rumah Alya.


Ceklek!


"Sepi amat rumah lo, Mama Lo kemana?" tanya Maisya kepada Alya yang baru membuka pintu.


"Baru aja keluar buat jemput adik gue di rumah nenek. palingan entar malam baru pulang."


Maisya manggut-manggut ber'oh'ria.


"Cepet amat lo balik Mae?"


"Gue mau ngajak lo nonton. Mau nggak?" Maisya berjalan memasuki rumah Alya.


"Boleh! Tapi masak cuma berdua doang? Mana seru!" balas Alya.


"Gimana kalau kita ngajak kak Zifran, siapa tau aja dia mau!"


"Yah, itu mah enak di elo."


Drettt drettt drettt.


Maisya merogoh ponselnya didalam tas.


"Tunggu dulu! Bokap gue nelepon."


Maisya menunjukkan ponselnya kepada Alya.


"Halo Pa!" ucap Maisya menjawab panggilan sang Papa.


"Kata Bibi kamu mau menginap di rumah temen kamu? Kenapa nggak bilang langsung sama Papa?" tanya Papa Bram.

__ADS_1


"Aku lagi kesel sama Papa."


"Ya udah jangan lama-lama ngambeknya. Oiya, Papa cuma mau kasih tau ke kamu kalau Papa lagi keluar kota untuk mengurus pekerjaan yang belum selesai. Jadi kalau kamu nginep di rumah temen kamu papa nggak terlalu khawatir."


"Jadi untuk itu Papa nelepon aku, sudah kuduga."


Tut!


Maisya mematikan panggilannya.


"Gue pikir Bokap gue bakal nyuruh gue balik. Ternyata dugaan gue salah," dengus gadis itu kesal.


"Sabar, orang sabar dadanya besar!" sambung Alya cekikikan .


"Sia*lan lo!"


****


Sekitar jam 19:32 wib. Maisya dan Alya sudah bersiap-siap untuk pergi ke bioskop. Sebelumnya Maisya sudah mengabari Zifran , dan pria itu setuju untuk pergi bersama mereka.


"Sya, tuh leher lo tutupi napa? Ngeri gue liatnya."


"Iya-iya, nih gue tutupi pake foundashion. Ini tuh alergi tau!"


"Alergi apaan. Perasaan Lo nggak punya Alegri apa-apa?"


Mereka berjalan keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju lantai bawah.


"Ha'. Maksud lo gimana?"


'Aisshh, nih mulut minta di sekolahin.' Maisya merutuki dirinya. "Ah, itu kak Zifran udah nunggu di depan!" tunjuk Maisya. Ia membuang nafas lega saat tersangka berdiri di samping mobilnya.


"Hai kak!" sapa Maisya.


"Hai juga! Udah cepetan masuk entar keburu di mulai filmnya."


Maisya dan Alya masuk kedalam mobil Zifran. Maisya duduk di depan, sedangkan Alya duduk di kursi penumpang.


Demi mempersingkat waktu Zifran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang terlihat sedikit senggang.


Hanya membutuhkan waktu beberapa menit kini mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju.


Disebuah mall terbesar di kotanya. Zifran, Maisya dan juga Alya tiba didepan gedung bioskop yang menjadi tujuannya.


"Kak, temenin gue beli tiket yuk! Entar keburu habis. Soalnya ini limited banget kak!"


"Udah kita disini aja nggak usah kemana-mana,"

__ADS_1


"Lah terus siapa yang mau beli," tanya Maisya bingung.


"Tuh orangnya!" Zifran menunjuk kearah seseorang dengan dagunya. Sementara tangannya ia letakkan di depan dada.


"Kak Arlan," ucap Maisya yang melihat pria itu berjalan kearah mereka.


Alya menghentikan kegiatannya bermain ponsel dan mendongakkan wajahnya.


Deg deg deg.


"Kok ada kak Ar...lan?!" Alya berusaha menutupi debaran jantungnya.


"Yuk masuk, gue udah dapet tiketnya!" ajak Arlan Sambil menyerahkan minuman dan popcorn kepada Zifran. Mereka melangkah masuk kedalam bioskop.


Suasana didalam terasa sepi, senyap. Bukan sepi karena tidak ada orang. Melainkan sepi karena semua yang berada disitu tengah larut dalam suasana romantis yang sedang mereka saksikan.


Tak sedikit dari mereka mempraktekkannya secara langsung. Dan tidak perduli dengan orang-orang disekitar mereka.


Berbeda dengan Maisya. Karena terbawa suasana gadis itu tanpa sadar menggenggam tangan Zifran dan memberinya sedikit rema*san untuk menyalurkan rasa yang ia rasakan. Zifran yang menyadari akan hal itu tidak mempermasalahkannya, justru membiarkan gadis itu berbuat sesukanya.


Maisya melepaskan genggamannya saat ia menyadari apa yang telah ia lakukan. Namun secepat kilat Zifran meraih tangan itu kembali. "Biar aja kayak gini!" ujar Zifran tersenyum.


Sementara di kursi lain, Alya dan Arlan duduk bersebelahan namun tidak ada hal-hal yang mereka lakukan. Terkadang mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing hingga suara seseorang mengalihkan pandangan mereka.


"Ar, gue sama Maisya keluar bentar. Lo nggak papa kan gue tinggal?" ucap Zifran.


"Hem. Tapi jangan lama-lama."


"Sipp!"


Zifran dan Maisya berjalan keluar dari tempat itu. Mereka masuk kedalam lift untuk menuju ke lantai dasar mall.


Setibanya mereka di sana, Zifran dan Maisya berjalan menuju area parkir untuk mengambil mobilnya.


"Pakai seat belt- nya," titah Zifran.


"Udah?" tanyanya.


"Hem." balas Maisya.


Kini mereka pergi meninggalkan area mall tanpa sepengetahuan Alya dan juga Arlan.


"Sya, kamu yakin mau bantuin kakak?" tanya Zifran disela-sela mengemudinya.


"Yakin. Emang kenapa sih dari tadi itu mulu yang kakak tanyain!" protes Maisya.


"Kakak cuma mau masti'in aja, entar kamu nyesel,"

__ADS_1


"Ya itung-itung bantuin kan nggak ada salahnya. Ya kan?"


"Hem," Zifran mengangguk, menatap penuh arti kearah Maisya.


__ADS_2