
"Udah buruan jalan," ucap Alya.
"Gimana gue bisa jalan kalau mata gue di tutup."
"Ya udah, Lo ikutin instruksi dari kita," balas Andin yang yang tak tahan lagi dengan drama yang ada dihadapannya. Dan Maisya mengangguk paham.
"Lo jalan aja, jangan belok-belok. Lurus!"__Alya.
"Al, Din, kalian nggak ngejebak gue kan?" Maisya terus berjalan dengan kedua tangannya meraba ke samping kanan dan kirinya.
Bugh
Tanpa sengaja Maisya menabrak sesuatu didepannya. Dengan rasa sakit di bagian keningnya Maisya hendak membuka penutupnya dan tentu saja dicegah oleh Alya dan Andin secara bersamaan.
Hingga sebuah tangan menyentuh dan mengusap lembut keningnya. Maisya terpaku, tubuhnya tak mampu bergerak saat wangi aroma parfum yang begitu ia hafal terasa menyeruak kedalam Indra penciumannya.
"Apakah ini sakit?" tanya orang itu.
Deg deg deg deg.
Untuk sesaat kantuk Maisya berdetak begitu kencang hingga cukup terasa ia rasakan.
Mimpi, ataukah hanya halusinasi untuk sesaat setelah sebelumnya ia sempat memikirkan orang yang berada jauh di seberang sana. Orang yang seharian tidak memberikannya kabar.
Dengan gerakan cepat Maisya melepaskan kain penutupnya, merasa penasaran siapa yang berada dihadapannya saat ini.
"Kejutan!" seru Zifran sambil tersenyum kearah Maisya.
__ADS_1
"Kak Zi," ucap Maisya lirih. Gadis itu tak menyangka bahwa wa kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Kaget ya? Hem." Zifran mencubit pipi Maisya gemas.
"Dasar. Jahat!"
"Awssh, sakit Sya." Zifran mengadu kesakitan saat pinggangnya terasa panas akibat cubitan maut dari gadis itu.
Dari sisi lain kedua Alya dan Andin tertawa cekikikan melihat kelakuan anak dari pemilik sekolah yang terlihat begitu konyol jika berdekatan dengan sahabatnya.
"Kayaknya kita bakal jadi obat nyamuk deh.
"Ho'o," balas Alya. kini pandangan keduanya tak terlepas dari dua makhluk yang sibuk dengan kegiatannya.
Maisya mengedarkan pandangannya menelisik sekelilingnya, "kak, ini kita dimana sih? Kok tempatnya serem. Mana gelap, ada suara-suara aneh lagi."
"Tutup mata kamu!" perintah Zifran.
"Buat apa? Aku nggak mau."
"Udah tutup aja, bawel banget." Zifran berjalan kebelakang tubuh Maisya, lalu ia menutup mata gadis itu sambil mengkode kedua orang yang masih berada pada tempatnya. Dan mereka kompak mengangguk bersamaan.
"Kak, ini kita mau ngapain sih. Kok pake beginian?" tanya gadis itu.
"Tunggu sebentar lagi," balas Zifran, "siap ya. Satu... dua... ti...," Zifran mulai menghitung.
"Tadaaaaaa!" teriak Alya, Andin dan Arlan bersamaan. Arlan yang baru saja tiba dan langsung ikut bergabung dengan Alya dan andin.
__ADS_1
Mereka berdiri dihadapan Maisya sambil memegang bunga mawar merah dan juga sebuah balon yang bertuliskan 'I love you' di masing-masing balon yang mereka pegang.
Di belakang mereka bertiga sudah berdiri dua ekor gajah yang memegang spanduk dengan tulisan yang sama seperti yang ada pada ketiga balon itu. Yang terlihat begitu indah dengan sorotan dari beberapa lampu yang berada tepat dibawahnya.
Maisya membekap mulutnya tak percaya. Rasa haru dan bahagia kini tengah menyelimuti hatinya, ketika melihat apa yang saat ini ada dihadapannya.
Suasana yang sebelumnya tampak gelap kini berubah terang dengan adanya lampu-lampu kecil yang menyala yang menerangi tempat itu. Barulah tampak sekelilingnya saat ini bahwa mereka sedang berada di salah satu kebun binatang yang ada di Bogor. Ditambah lagi dengan kehadiran dua ekor gajah yang membuat ia begitu yakin.
Susana yang sebelumnya terasa mencekam seketika hilang terganti dengan sorak-sorai dari kedua sahabatnya dan juga Arlan. Dan tak lupa pula kedua hewan itupun ikut berpartisipasi dengan mengeluarkan suara khasnya.
Malu, itulah yang saat ini menghampiri dirinya yang semula berpikiran negatif untuk kedua sahabatnya. Zifran yang menyadari raut wajah gadisnya. Perlahan ia memutar tubuh Maisya agar menghadap kearahnya. Tangganya terulur menarik dagu wanita itu agar mau menatap matanya.
Zifran menggenggam kedua tangan Maisya begitu lembut. "Kakak tau, kalau kakak ini bukanlah pria yang terbaik buat kamu. Tapi cinta kakak ke kamu itu tulus. Kakak tau, kalau kakak bukan cowok yang romantis seperti kebanyakan cowok lainnya yang bisa merangkai seribu kata cinta menjadi kalimat romantis untuk wanitanya. Tapi kakak cuma butuh satu kalimat sederhana. Izinkan kakak untuk mencintai kamu seumur hidup kakak."
Pria itu mencium salah satu tangan Maisya. Sementara itu, Maisya menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bahagia, haru kini telah menjadi satu membuat mata Maisya Perlahan mulai berkaca-kaca. Mulutnya terbungkam tak mampu untuk berkata-kata.
"Jadi, maukah kamu menerima cinta dari pria yang nggak sempurna ini?"
Diam, tak bersuara. itulah yang Maisya lakukan saat ini. Begitupun dengan ketiganya yang berada tak jauh dari mereka yang terdiam seketika mendengar ucapan serius dari Zifran.
"Kenapa diem aja. Apa kamu nggak ada rasa sama kakak?"
Mendengar itu malah membuat air mata Maisya mengalir deras. Suara tangis yang ia tahan kini mulai terdengar lirih. Zifran melepaskan pegangan tangannya untuk bisa menghapus air mata Maisya.
"Kalau kamu diem kakak anggap jawaban kamu nggak." Zifran menampilkan raut wajah sedihnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir gadis itu. "Ternya benar, kalau kamu nggak cinta sama kakak. Maaf kalau kakak lancang udah ngungkapin perasaan kakak ke kamu. Makasih untuk waktunya."
Pria itu melangkah pergi membiarkan Maisya larut dalam pikirannya. Bukan dengan raut wajah sedih, melainkan senyum yang mengembang menghiasi wajah tampannya tanpa sepengetahuan gadis yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Ternya benar dugaannya, baru beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara langkah kaki menyusulnya.