Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Sisi lain Maisya


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu bagi seluruh siswa-siswi SMA Bunga Darma.


Didalam ruangan yang luas dengan suara sorak-sorai yang terdengar begitu lantang menyuarakan seseorang yang berada ditengah-tengah keramaian.


Seorang wanita yang memakai pakaian serba putih dengan sabuk berwarna hitam melingkar di pinggangnya. Ia adalah Maisya Indira, gadis cantik berambut panjang kini telah berada di arena pertandingan.


Ia mengikuti pertandingan Taekwondo antar sekolah yang diadakan oleh SMA Bunga Darma sebagai tanda persahabatan setiap tahunnya sebelum menjelang ujian semester ganjil.


Sementara di sisi lain yang letaknya tidak terlalu jauh seorang pria dengan menggunakan pakaian formalnya tengah duduk di kursi tamu sambil asik memainkan ponselnya hingga perhatiannya teralihkan ketika ia mendengar teriakkan dari bangku penonton yang berteriak memanggil nama seseorang yang ia kenal.


Ia menyerngitkan dahinya menatap seorang gadis yang berdiri diarena pertandingan. Banyak pertanyaan yang mulai bermunculan dalam benaknya. Sedang apakah dia di sana? Begitulah pemikirannya saat ini.


Hingga suara seseorang membuyarkan lamunannya. "Hai pak!" sapa dua gadis yang melintas disampingnya.


"Hai, kalian berdua kemari!" perintah pria itu.


Kedua gadis itu menghampirinya. "Ada apa Pak!" tanya keduanya kompak.


"Itu temen kamu, ngapain dia disitu?" tanya pria itu yang tak lain adalah Zifran.


"Yeeee, sih Bapak nggak tau ya, kan dia ikut ambil bagian pak!" ucap Andin.


"Emang dia bisa? Nggak yakin saya."


"Yeeee, sih Bapak jangan ngeremehin sahabat saya, gitu-gitu dia pemegang sabuk hitam, dia juga pernah matahin tangan Leon. Tuh, cowok yang berdiri dipojokkan." Alya menunjuk kearah leon yang tak jauh dari mereka.


Ukhuk!


Tiba-tiba saja Zifran tersedak salivanya yang tercekat di tenggorokannya. Tenyata perkataan Maisya tempo hari bisa saja terjadi.


"Pak, kak Arlan kemana, kok nggak nampak?" sejak tadi Alya mencari-cari keberadaan lelaki itu.


"Dia kerja cari duit!"


Kembali ke topik awal.


Setelah selesai memastikan alat pelindung diri semua aman, Maisya dan lawannya yang berasal dari sekolah lain kini mereka saling berhadapan di arena pertarungan.


"Sudah siap?" tanya pengadil kepada Maisya dan juga lawannya.

__ADS_1


"Siap!" jawab keduanya.


"Mulai!" ucap pengadil itu memberi aba-aba.


Bugh!


Bugh!


Maisya mulai melayangkan tendangannya kearah lawan, namun sayang ternyata lawannya itu mampu menangkis serangan darinya.


Begitupun sebaliknya, lawan maisya tak mau kalah dan kini berbalik menyerang Maisya. Pukulan, tendangan saling mereka layangkan hingga pertandingan yang baru beberapa menit di mulai terasa begitu menegangkan ketika kedua petarung wanita itu saling serang dan saling membalas satu sama lain dengan kemampuan yang mereka miliki.


Bugh!


Bruk!


Satu tendangan dari Maisya berhasil menjatuhkan lawannya dengan mudah dan itu berhasil menambah satu poin untuk Maisya. Dengan gerakan cepat sang lawan bangkit dan menyerang Maisya dengan membabi-buta.


Bruk!


"Awwssh," ringis Maisya terjatuh saat kakinya terjegal oleh lawannya. Ia memegangi kakinya yang terasa amat sangat sakit namun Maisya tetap berusaha untuk bangkit dari posisinya.


"Jangan coba-coba dekati anak saya!"


Entah sudah berapa ronde mereka lalui, kini pertarungan yang terjadi semakin panas dan semakin sengit.


Dengan kemampuan yang ia miliki dengan gerakan cekatan Maisya menarik tangan lawannya, kemudian ia menjegal kaki sang lawan yang mana membuat tubuh lawannya terbanting kebelakang.


Suara teriakan penonton mengalihkan pandangannya menatap Seseorang yang sejak tadi ia tunggu kehadirannya. Siapa lagi jika bukan sang Papa.


Namun naas, pandangannya tidak fokus membuatnya tak menyadari sebuah tendangan yang kini tengah mengarah ke kakinya yang cidera hingga membuatnya jatuh bersimpuh di lantai yang beralaskan matras tersebut. Maisya baru menyadari bahwa lawannya ini cukup tangguh dan tidak bisa dianggap remeh.


Gadis itu berlutut menahan rasa sakit yang teramat menyakitkan, ia berusaha bangkit dari posisinya dengan keringat yang membasahi wajah cantiknya. Matanya menatap seseorang yang berjalan kearahnya.


Seluruh pasang mata kini menatap Zifran dan bertanya-tanya apa yang dia lakukan di sana.


Zifran mengulurkan tangannya kearah Maisya. "Perlu bantuan?"


"Kak Zi, ngapain kakak kesini? Balik gih!" gadis itu menatapnya.

__ADS_1


"Kalau nggak sanggup jangan dipaksain, entar yang ada tambah parah."


"Gue masih sanggup. Udah sana balik!" usir Maisya lagi.


Setelah membantu gadis itu berdiri Zifran kembali ke tempatnya.


Kini di hadapan para penontonnya, Maisya berdiri menatap nyalang kearah sang lawan yang tengah bersiap untuk menyerangnya kembali.


Dan benar saja, dengan gerakan cepat sang lawan melayangkan tendangannya kebagian dada gadis itu.


Bugh!


Bruk!


Seketika lawannya jatuh terjengkang saat menerima tendangan telak dari Maisya. Dengan perhitungan yang tepat ternyata gadis itu bergerak lebih cepat dari yang mereka bayangkan.


Sakit, nyeri dan sesak itu yang saat ini lawan Maisya rasakan. Dengan langkah tertatih Maisya menghampiri gadis yang menjadi lawannya.


Seluruh siswa-siswi SMA Bunga Darma bersorak melihat aksi yang dilakukan oleh Maisya.


Ia mengulurkan tangannya kearah gadis tersebut. "Sorry ya, gue nggak sengaja!" ucap Maisya ramah.


Gadis itu tersenyum menerima uluran tangan dari Maisya . "Thanks banget ya, gue akui ternyata lo jauh lebih kuat dari yang gue kira. Lo hebat!" Maisya hanya tersenyum mendengar penuturan dari lawannya itu.


Setelah pertandingan berakhir Maisya langsung menuju ruang ganti dengan langkah tertatih menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah yang ia taruh didalam lokernya. Dan tak lupa pula Alya dan Andin yang selalu berada disampingnya.


"Kaki lo bengkak Sya!" Panik Andin.


"Udah nggak papa," ucap Maisya dengan santainya.


"Cieeee, yang dapat perhatian dari pacar," goda Alya.


"Ralat. Bukan pacar tapi teman." Maisya membenarkan ucapan dari Alya.


"Tapi Sya, gue perhatiin nih ya, kayaknya pak Zifran suka deh sama lo! Buktinya dia perhatian banget sama lo, ya nggak Al?" celetuk Andin.


"Kayaknya iya Sya." ucap Alya membenarkan.


"Lama-lama kalian ngaco tau nggak!" Maisya pergi meninggalkan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Hatinya kini di penuhi dengan perkataan sahabatnya itu. Apakah benar yang dikatakan oleh keduanya? Itulah yang sedang ia pikirkan saat ini.


__ADS_2