Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Habis enak, terbitlah sial


__ADS_3

Waktu begitu cepatnya berlalu. Tak terasa seminggu sudah Zifran dan Maisya menikmati status mereka sebagai sepasang kekasih. Tak pernah sedikitpun bagi Zifran untuk menyia-nyiakan waktunya bersama sang pujaan hati, meski terhalang oleh restu dari calon mertua.


Namun itu tak menyurutkan niatnya untuk mendapatkan hati dari sang mertua. Berbagai cara pun ia lakukan. Mulai dari memperbanyak penanaman sahamnya di perusahan beliau. Terus, setiap ada meeting, pria itu tak pernah berulah. Tak ada perdebatan yang biasa terjadi diantara keduanya.


Bahkan yang terakhir, Zifran sempat menyogok Papa Bram dengan seperempat aset milik keluarga Samudera. Tak pernah di duga jika Pria itu secara terang-terangan menolaknya. Dan alhasil, segala usaha dan upaya yang Zifran lakukan gagal total untuk mendapatkan hatinya.


Namun, bukan Zifran namanya jika tak memiliki otak cerdas yang mana selalu membuat membuat calon mertuanya ketar-ketir. Selama seminggu ini, jika malam hari papa Bram harus cosplay menjadi ninja Hatori yang mengintai musuhnya dari balik pepohonan. Seperti yang dilakukannya saat ini.


Sudah hampir empat jam ia menunggu dibalik tempat pengintaian, namun tak ada tanda-tanda sang target muncul dan menampakkan dirinya.


Plak!


"Sialan. Dasar nyamuk tidak tau sopan santun. Sudah berani-beraninya kau mengigit ku. Mau coba-coba kau menghisap darahku," ucap papa Bram mengambil seekor nyamuk yang sudah tepar allias mati terkena tepukan maut darinya. Sesaat kemudian Papa Bram kembali mengarahkan pandangannya ke arah balkon kamar sang putri. Ia menyakini jika bocah luknat itu sedang bersama putrinya.


Berbeda dengan papa Bram yang sedang menderita, berbeda pula dengan sepasang kekasih yang sedang terbuai dalam lautan cinta surga dunia yang mereka ciptakan.


Suara deru nafas mereka begitu kentara telah memenuhi sebuah kamar yang kini telah diaktifkan peredam suara, agar tak ada yang mendengar aksi mereka dalam mengarungi sungai kenikmatan yang sedari tadi tak kunjung mereka gapai.


Di atas tempat tidur, tubuh Maisya yang berada dalam kungkungan Zifran tak henti-hentinya mengalunkan nada indah saat jari jemari Zifran sedang menari lincah dibawah sana.


Hangat, licin. itulah yang membuat pria itu semakin menggila, sehingga mampu menciptakan getaran hebat pada sang empunya.


Aliran listrik yang begitu kuat membuat tubuh Maisya tak mampu untuk menahan lebih lama saat isapan dan permainan jari begitu yang Zifran lakukan sangat memabukkannya.


"K-kak. G-gue udah pengen pipis," ucap Maisya terbata disela-sela kenikmatannya. Ia mengalungkan tangannya ke leher Zifran ketika merasakan sensasi berbeda kala pria itu mencumbunya sembari memainkan jarinya yang lihai berada di dalam surganya.


"Keluarin aja, jangan di tahan." Zifran kembali menyesap salah satu bukit kembar yang terlihat menantang. Sebenarnya ia juga sudah tak tahan dengan godaan dari rumah milik sidedek gemes yang terlihat begitu menggoda untuk segera dihuni oleh sidedek gemes


Tanpa melepaskan isapannya, Zifran memainkan jarinya tepat di rumah yang menjadi incaran para dedek gemes lainnya. Terkhusus dirinya.


Suara erangan dan desa*han kini melebur jadi satu dalam ruangan yang terasa panas dan menggairahkan meskipun AC sudah menyala full di kamar itu.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Zifran menegakkan tubuhnya. Kemudian ia membuka kedua kaki Maisya dan terpampang lah hunian si dedek yang berwarna pink pucat. Dengan hasrat yang sudah di ujung tanduk, tanpa menunggu lama, Zifran mengarahkan dedeknya ke rumah yang sudah siap dihuni.


Dengan sekali ketukan, si dedek sudah masuk dan tak terlihat. Nikmat! itulah yang saat ini mereka rasakan. Dengan pergerakan cepat berirama, si dedek gemes mulai berjalan maju mundur syantik mengikuti irama.


Begitulah kata mbak inces dalam jargonnya.


"Kak, lebih cepat lagi!" desak Maisya yang mulai terbang di atas awan saat merasakan sesuatu yang hendak keluar.


Sesuai dengan perintah gadisnya, Zifran menggerakkan panggulnya lebih cepat agar mereka segera mencapai puncaknya.


Tak berselang lama terdengar suara erangan dari keduanya.

__ADS_1


"Aaakhh!" Sama-sama mereka menggapai nya, Zifran menumpahkan laharnya di atas gunung kembar Maisya. Setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu dan mengecup bibir Maisya, lalu beralih ke keningnya.


"Terimakasih sayangnya kak Zi," ucap Zifran mencium bibir Maisya kembali. Gadis itu tersenyum hangat menatapnya.


Maisya bangkit dari tidurnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat pergulatan panas mereka.


Menyadari kepergian Maisya, Zifran memunguti pakaiannya yang sudah berhamburan kesana-kemari, kemudian ia memakai nya.


Tap tap tap


Tak berselang lama Maisya keluar dari kamar mandi dan menghampiri dirinya yang tengah memakai kemeja.


"Mau pulang sekarang, kak?" tanya Maisya sambil membantu Zifran mengancingkan kemejanya.


"Ya iyalah. Lagian udah malem. Entar kalau ketahuan Papa kamu bisa di gantung kakak di pohon besar di ujung jalan sana."


"Isssh, mulutnya. Gitu-gitu dia Papa ku, mana mungkin dia ngelakuin hal kriminal kayak gitu." Gadis lugu mengerucutkan bibirnya tak terima dengan perkataan Zifran barusan.


Cup!


Zifran mengecup bibir Maisya sekilas. Maisya berdecak sambil mengikat rambutnya yang tergerai bebas.


"Dah, kakak pulang dulu, jangan tidur malem-malem, karena ini udah malem. Ngerti?" Maisya pun mengangguk.


"Gadis pintar," ucapnya sambil mengacak rambut Maisya yang sudah tersisir rapi.


"Hem. Kakak pulang dulu." Zifran melangkah pergi meninggalkan Maisya. Ia berjalan keluar dari jendela yang merangkap sebagai pintu menuju balkon kamar gadis itu.


Zifran lompat memanjat pembatas balkon yang tingginya sekitar satu meter lebih. Ia membalikkan tubuh, menurunkan kakinya tepat di tangga yang selalu ia gunakan, namun sudah beberapa kali Zifran menjejakkan kakinya tapi tak kunjung mengenai tangga tersebut. Aneh, itulah yang ia rasakan.


"Sialan, kemana tangga yang gue tarok disini? perasaan tadi masih ada," gumamnya saat menyadari tangga miliknya tak ada di tempat. Dengan tubuh setengah menggantung dan kaki yang sebelahnya masih di sela-sela pembatas, Zifran melirik kesana-kemari mencari yang ia butuhkan. namun tetap saja tidak ada.


Dari dalam kamar, Maisya terus memperhatikan pria itu yang terlihat seperti kebingungan mencari sesuatu, akhirnya Maisya memutuskan untuk menyusul Zifran yang berada di balkon kamarnya.


"Ada apa kak Zi?"


"Tangganya ilang. Perasaan tadi masih ada, kok tiba-tiba ilang ya!"


"Masak sih. Jatuh mungkin,"


"Kalau jatuh pasti nampak Sya!"


"Iya juga ya."

__ADS_1


Sementara dari balik pohon yang hanya berjarak beberapa meter, papa Bram tersenyum puas saat menyandarkan tangga di pohon tempat ia mengintai. Ia mengambil tangga itu secara diam-diam setelah melihat bahwa Zifran hendak turun dari atas sana.


Setelah itu ia berjalan kearah tersangka yang berani-beraninya masuki kamar sang putri tanpa seizinnya.


"Turun...!" teriak papa Bram kepada pria yang masih setia pada posisinya.


Zifran melirik ke bawah. Ia tercengang tak percaya melihat siapa yang sedang menunggunya. Begitupun dengan Maisya, ia menepuk jidat merutuki kebodohannya.


"Mati kita," ucap Zifran dan Maisya bersamaan. Bukannya turun, Zifran malah kembali naik ke balkon.


"Eh, ada si Om. Apa kabar Om?" tanya Zifran sambil cengengesan.


"Tidak usah banyak tanya. Sekarang turun!"


"Tapi Pa-"


"Ssstttt." papa Bram meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Seketika Maisya terdiam.


"Aelah, Om, mana mungkin gue turun. Turun pake apa coba?"


"Lompat." Sontak mata Zifran melotot tak percaya mendengar ucapan dari Papanya Maisya. Sementara Maisya, gadis itu terkekeh geli melihat ekspresi yang ditunjukkan Zifran. Itu lucu menurutnya.


"Saya bilang lompat ya lompat. Mau saya tembak kamu!" Papa Bram mengangkat senapan yang berada disampingnya dan sudah ia siapkan sebelumnya.


"Lo jangan gila Om, ini tinggi banget loh. Kalau kaki gue patah gimana? mau tanggung jawab."


"Itu lebih baik. Dari pada punya kaki, tapi petakilan. Masuk rumah orang kaya maling."


"Itu karena yang punya rumah pel-, mmpphh."


Tiba-tiba saja mulut Zifran di bekap oleh Maisya. Gadis itu memberi tatapan tajam kepadanya, seakan mengode dirinya untuk 'Diam dan menurutinya.'


"Oke, oke. Gue bakal lompat nih. Tapi sebelum itu, kalau ada apa-apa sama gue, lo harus tanggung jawab. Dan satu lagi, ini gue lakuin karena anak lo. Kalau nggak, ogah gue!" ucap Zifran sambil misuh-misuh.


"Ah, sia*lan. Ini namanya bunuh diri karena terpaksa. Sial emang!" gerutunya lirih.


Tubuh Zifran tampak bergetar, keringat dingin mulai membasahinya kala ia sudah berada di pembatas balkon. Pandangannya selalu melihat ke arah bawah.


Apakah ia sanggup untuk melompat dari atas sampai bawah dengan selamat? terlebih lagi dengan ketinggian kurang lebih 7 meter. Mau jadi apa tubuhnya.


"Cepetan. Saya hitung sampai tiga. Kalau belum loncat juga bakal saya tembak kaki kamu. Satu...." Zifran masih berpikir.


"Dua...." semakin berpikir.

__ADS_1


"Ti-" ucapan papa Bram terhenti saat terdengar suara seperti benda jatuh.


Bruk!


__ADS_2