Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Barusen Hills part 2


__ADS_3

"Kak, foto bareng, yuk!" ajak Maisya menarik tangan Zifran.


"Berdua?" tanya Zifran seraya melirik ke arah Andin dan Alya.


"Ya iyalah. Masa rame-rame. Gue pengennya berdua," sahut gadis tersebut.


Zifran tersenyum mengangguk, berdiri di samping Maisya untuk mengambil posisi yang tepat.


Andin dan Alya maju beberapa langkah, seakan tau dengan tatapan yang diberikan Maisya pada mereka.


Cuaca yang bersahabat dengan sinar yang tidak begitu menyengat, langit pun tampak mendukung terlihat redup dengan hembusan AC alam membuat rambut Maisya yang terurai berterbangan kesana-kemari. Dengan pose memeluk tubuh Zifran dengan satu tangan merentang, kaki kanan sedikit terbuka ke samping. Dan Zifran pun melakukan pose yang sama membuat pose mereka begitu estetik di tambah background pemandangan gunung dan hamparan bunga membuat foto yang dihasilkan akan terlihat lebih indah.


Alya yang memegang ponsel Maisya, mengambil foto dengan perasaan iri. "Mesranya jangan berlebihan. Kasian sama yang jomblo," ucap Alya memperingati keduanya yang tidak di dengar sama sekali.


"Udah?" tanya pada Alya yang baru selesai mengambil foto.


"Nih. Bagus 'kan hasilnya." Menunjukkan hasil jepretannya.


"Bagus, kak?" tanya Maisya pada Zifran.


Zifran tersenyum mengangguk. "Kan kamu modelnya," jawab Zifran mengambil topi Maisya, kemudian memakainya.


"Issshh, balikin nggak, kak. Panas tau!" ketus Maisya karena topinya di ambil.


"Kakak pinjem, Sya, Sini foto." Menarik Maisya, kemudian memberikan ponsel itu kembali pada Alya.


Tak lama suara Arlan memanggil Zifran. "Fran, ayo kita cari tempat duduk untuk istirahat."


"Tunggu bentar, nanggung."


"Ck, hobi bener sama yang nanggung. Dasar!" Arlan berdecak kesal karena dirinya terabaikan bersama Leon yang selalu menemaninya.


"Om itu kayak ABG labil ya, Om. Gitu amat tingkahnya. Emang sih wajahnya lebih ganteng dan bermodal dari Om, Arlan. Tapi tingkahnya lebih labil daripada gue," ucap Leon berjalan sembari melirik sekilas ke arlan yang tersenyum kecut mendengarnya.


"Sebenarnya mau kamu jatuhin. Saya atau dia?"

__ADS_1


"Dua-duanya karena yang paling normal itu gue," gumam Leon berjalan beberapa langkah di depan Arlan.


"Dasar bocah sia*lan!" Melempar tanah pada Leon dan tepat mengenai kepalanya.


Setelah beberapa jam kemudian.


"Abis ini kita kemana lagi. Mau jalan-jalan di sekitar sini atau mau cari spot lain?" tanya Arlan membuka botol air yang baru di belinya. Matanya menatap satu persatu yang ada di sana.


"Terserah sama mereka 'kan mereka yang liburan. Jadi, terserah mereka dong," sahut Zifran membuka botol minum Maisya.


"Emang selain taman bunga di sini, ada spot apa lagi kak? Tapi yang ikonik ya." Setelah selesai minum, Maisya kembali bersuara.


Selepas bersua foto dan berkeliling, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat di salah satu tempat yang tersedia di sana. Sambil menikmati pemandangan sekitar taman bunga Barusen Hills, mereka juga asik dengan cerita mereka masing-masing serat menghilangkan rasa penat ketika berjalan kaki.


"Di sini ada juga spot foto yang fotogenik banget, Kalau nggak salah nama tempatnya Bamboo love Garden. Itu tempatnya bagus banget Sya, kayak danau gitu. Terus di tengahnya kayak ada apalah gitu, tapi berbentuk love. Bagus 'kan? Kakak sering banget liat anak-anak kampung kakak pada unggah foto di sana. Kalau kamu mau nanti kita ke sana," jelas Arlan. Panjang lebar tentang lokasi sekitar. Banyak sedikitnya pria itu mengetahui walau sebagian informasi dia dapat dari mereka yang mengunggahnya.


"Boleh, kak. Pasti tempatnya bagus banget, mau 'kan, Al, Andin?" Maisya bertanya kepada kedua sahabatnya.


"Terserah. Kita mah ngikut aja, Mae."


"Selain di tempat ini, daerah mana lagi yang paling banyak di datengin?" Zifran yang sedang membuka google bertanya pada Arlan.


Ternyata, selain taman Barusen Hills, daerah Ciwidey juga terdapat perkebunan teh paling sering dikunjungi oleh wisatawan untuk menikmati waktu luang mereka. Dan itu membuat Maisya dkk tak mau menyia-nyiakan kesempatan mereka ketika berlibur.


"Boleh. Kenapa nggak?" sahut mereka kompak. Zifran dan Leon hanya menghela napas kasar setelahnya. Mungkin setelah pulang dari liburan, mereka butuh jasa tukang pijat untuk memijat betis mereka yang bakal lempoh berjalan seharian.


"Udah cukup 'kan istirahatnya? kalau udah yuk, kita keliling lagi keburu sore entar."


"Nggak bisa tunggu sebentar, Om. Ini kaki gue belum lurus," sahur Leon.


"Aelah, Lo cowok apa cewek sih, Yon. Kita-kita yang cewek aja nggak manja kayak lo. Kalau lo emang kecapean, mending lo istirahat di sini. Gue temenin kok," ucap Andin. Gadis yang biasanya bertekak dengan Leon berubah nada bicaranya dan terlihat peduli pada pria itu.


Alya dan Maisya yang duduk bersampingan saling memberi kode satu sama lain tentang apa yang mereka lihat. Keduanya benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan terjadi.


"Lo serius mau nemenin dia, Din? Takutnya entar kalian berantem." Sedikit ketidakyakinan Alya terhadap mereka berdua yang terkenal musuh jika di sekolah.

__ADS_1


"Ya nggak lah, Al. Gini-gini gue juga punya perasaan kaki sebagai manusia. Ya kali tegaan sama nih, anak," balas Andin.


"Ya udah mending kalian pergi duluan nanti gue sama Andin nyusul. Kalian nggak usah khawatir, gue nggak bakal ngapa-ngapain Andin. Suer deh."


Leon mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sebagai tanda jika ia tidak main-main dengan ucapannya.


Mereka menatap Leon secara bergantian. Kecuali Zifran yang menatap pemuda itu dengan tatapan mengintimidasi. "Awas kalau Lo berani macem-macem, gue tinggal beneran Lo di tengah jalan. Kalau perlu gue ceburin Lo di kolam sana, mau?" ancam Zifran yang tidak main-main. Karena Andin adalah sahabat Maisya, dirinya harus bisa memastikan jika gadis itu selalu aman bersama mereka.


setelah mengatakan itu, mereka berjalan menjauh dari tempat Andin dan Leon,menuju lokasi yang sedari tadi sudah direncanakan.


Ternyata tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di tempat itu. Cuaca pun mendukung, sebab meski hari sudah siang, namun udara terasa sejuk dan sedikit berkabut karena manta hari bersembunyi dibalik gumpalan awan yang terlihat seperti mendung. Tempat sekita terlihat hijau, pohon-pohon berbaris rapi di tepian danau yang bada di sana.


Maisya yang untuk pertama kalinya datang langsung terpesona dengan keindahan yang ditawarkan tempat itu padanya hingga Maisya menatap sekelilingnya kagum.


"Kak, tempatnya bagus banget!" pekiknya terkagum-kagum.


Sama halnya yang dilakukan Maisya. Alya pun tak kalah terkagum dengan pesona taman tersebut. Pantas saja Arlan membawa mereka ke tempat itu, wong tempatnya bagus.


"Ini baru namanya liburan Made in lokal. Suasananya nggak kalah bagus sama yang di luar," ujar Alya menimpali ucapan Maisya.


"Sebenarnya di sini itu banyak banget tempat wisata yang bagus-bagus, bukan cuma ini aja. Kapan-kapan kalian, kakak ajak keliling lagi. Tapi untuk saat ini kita mampir ke sini dulu," sahut Arlan yang diam-diam memotret Alya yang membelakanginya.


Walaupun diambil secara diam-diam, namun hasil fotonya cukup bagus dengan latar belakang air danau yang jernih.


"Gue aduin, Lo ngambil foto orang sembunyi-sembunyi," gumam Zifran mengancam di telinga Arlan.


"Sssssttttt. Lo jangan kayak anak kecil main adu-aduan gitu. Kita fer-fer aja mainnya," balas Arlan memohon.


"Idih... sapa yang mau main sama elu. Gue masih normal, masih doyan sama donat bukan terong kayak elo.


Zifran melangkah lebih maju. "Sya, hadap sini dong," pinta Zifran.


Maisya berbalik. "Ada apa, kak?"


"Geser dikit, kakak mau ambil foto kamu."

__ADS_1


Ternyata Zifran tak mau kalah dia juga mengeluarkan ponselnya dan meminta Maisya untuk mencari spot yang paling bagus.


"Oh... ngomong dong." Bergeser beberapa meter dari posisi sebelumnya, meninggalkan Alya yang juga ikut memfoto dirinya sendiri.


__ADS_2