Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Rencana Zifran


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Zifran yang hanya mengenakan lilitan handuk di pinggangnya. Tubuhnya yang tinggi atletis dengan kulit putih mulus bak porselen, perut sixpack bak roti cubit. Belum lagi bentuk rahangnya yang tegas serta hidung mancung dan bermata sipit.


Siapa coba yang nggak khilaf kalau modelan yang begini. 'Alamat iman emak kagak kuat Fran.' Author.


Zifran berjalan menuju ruang ganti yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya sembari mengeringkan rambut dengan handuk yang ia pegang. Entah apa yang dipikirkan oleh Zifran, sedari tadi ia terus tersenyum simpul, lebih tepatnya sebuah seringai tipis yang menghiasi wajah tampannya di pagi hari.


Tak lama kemudian Zifran keluar dengan pakaian casual melekat pada tubuhnya yang proposional. Semakin menambah ketampanan pria itu.


Ceklek.


Zifran membuka pintu kamar dan berjalan menuruni tangga sambil memainkan ponselnya. Tanpa memperdulikan sekitarnya, Zifran berjalan melewati Papa Arya dan Mama Sarah yang tengah duduk santai di ruang keluarga.


Seketika langkahnya terhenti mendengar suara yang menyapanya, lalu membalikkan tubuh, mengetahui bahwa itu suara sang Mama.


"Kau mau kemana, Nak?" tanya Mama Sarah melihat penampilan putranya yang begitu rapi dengan aroma parfum menyeruak memenuhi ruangan tersebut.


"Mau memperjuangkan cinta."


"Maksudnya?" Papa Arya dan Mama Sarah kompak menatap Putranya.


"kamu lagi marahan sama Maisya?" tanya Mamanya lagi. Pria itu menggeleng.


"Terus?" Kini giliran sang Papa.


"Mengejar restu Papanya," jawab Zifran.


Papa Arya menghampiri putranya. Menyentuh bahu Zifran dan bertanya, "apa orang tuanya tidak menyukaimu?" Zifran mengangguk samar.


"Pertemukan Papa dengan orang tua Maisya, biar Papa yang membujuknya."


"Nggak usah. Biarkan aku yang memperjuangkan cintaku. Dan maaf karena aku telah membohongi kalian," ucap Zifran menunduk penuh sesal. Ia sadar, jika ini adalah karma untuk dirinya yang tega membohongi kedua orang tuanya.


"Apa maksudmu, Fran?" tanya Mama Sarah yang berjalan ke arah mereka.


"Maafin Zifran yang udah bohong sama kalian, tentang hubunganku sama Maisya. Sebenarnya aku dan Maisya baru beberapa bulan saling mengenal dan baru beberapa hari terakhir menjalin hubungan, tapi papanya Bram, nggak suka kalau aku deketin anaknya."


"Jadi, Maisya itu anaknya Brama Kumbara. Dan kau tega membohongi. kami?" Terlihat raut wajah kekecewaan dari wanita yang telah mengandung dirinya.


Sakit. Sungguh sakit hati Zifran melihat Mamanya terluka. Pria itu mendekati sang Mama dan memeluknya erat.


"Maaf," ucapnya lirih.


****

__ADS_1


"Pa, boleh ya. Plisss," Maisya menyatukan kedua tangannya memohon kepada Papa Bram agar pria itu mengijinkannya untuk pergi ke rumah Alya.


"Papa bilang nggak, ya enggak."


"Ayolah, Pa. Ya, ya!"


"Nggak!"


"Kalau Papa nggak percaya, papa bisa nyuruh si Ucup buat ngikutin Maisya." Inilah cara terakhir untuk meyakinkan Papanya. Walaupun Maisya terlalu malas dengan pria itu. Tapi demi... ya sudah, mau tak mau emang harus.


"Cup. Ucup!!" teriak Papa Bram memanggil si empunya nama. Ucup berjalan cepat menuju majikannya.


"Ada apa, Pak boss, panggil Ucup?" pria itu berdiri dihadapan Papa Bram, membelakangi Maisya.


"Ikuti anak saya." Mendengar itu, wajah Maisya tampak sumringah. Senang? Tentu saja.


"Siap, Pak boss!"


"Makasih, Papa. Muach!" Maisya mengecup pipi Papanya sekilas, berlari meninggalkan pria itu ditempatnya.


***


"Pa, perasaan Mama kok nggak enak ya?" tanya Mama Sarah yang bersandar di dada bidang suaminya. Saat ini mereka tengah bersantai di sebuah taman yang terletak rumahnya.


"Alah, pangling juga Mama kepikiran adik ipar kesayangan Mama. Mama kan begitu, kalau sama Andi, sayangnya minta ampun. Tapi kalau sama Papa... beh, selalu-"


"Selalu apa? Huh!"


"Mama tuh kepikiran sama Zifran, Pa."


Sementara di sisi lain.


"Bagaimana pengintaian kamu?" tanya seseorang yang sedang melakukan panggilan telepon.


"Semua beres boss, aman terkendali."


"Bagus," ucap orang itu sembari tersenyum penuh arti mendengar ucapan dari lawan bicaranya.


***


Selama dalam perjalanan menuju suatu tempat, senyum Zifran tak pernah luntur dari wajahnya yang tampan begitu menggoda iman. Entah apa gerangan yang membuat ia begitu bahagia.


Apakah ada sesuatu yang tengah ia pikirkan?


"Gue harap rencana konyol ini berhasil. Ya... walaupun berat resikonya, tapi demi cinta apapun bakal gue lakukan. Jangankan ngadepin si Bram, nyebrangin lautan pake perahu pun gue jabanin. Asal jangan nyuruh gue terjun dari balkon aja, ogah gue! Dapat restu kagak, mati iya."


Sedari tadi pria itu berbicara sendiri, sampai-sampai Zifran tersenyum memikirkan rencananya barusan. Sungguh nekat anaknya Papa Arya.

__ADS_1


Setelah hampir 40 menit Zifran berkendara, akhirnya pria itu sampai di sebuah rumah mewah yang berjajar rapi di komplek perumahan elite yang berada di bagian selatan ibukota Jakarta.


Dengan pintu gerbang menjulang tinggi berwarna silver. Halaman rumah yang begitu luas dan sebuah bangunan yang menjadi dominan, memiliki dua lantai dengan dinding bagian depan terbuat dari kaca transparan hingga terlihat sisi dalam bangunan tersebut.


Zifran langsung memarkirkan mobilnya setelah pintu gerbang dibuka oleh satpam penjaga rumah milik salah satu sahabat kekasihnya, yaitu Alya.


Zifran mengambil ponselnya yang berada di saku celana jeans-nya untuk menghubungi bocah itu.


Membuka layar ponselnya, mencari nomor seseorang yang akan ia hubungi.


Tutttt tutttt tuttt.


Suara sambung telepon yang terhubung. Tak lama kemudian terdengar suara dari seseorang.


"Iya, Pak. Bapak udah nyampe?" tanya Alya dari dalam rumah.


"Udah. Buruan keluar!"


"Ok. Tunggu sebentar ya," ucap Alya setengah berlari menuju pintu utama dengan ponsel yang ia genggam dan masih terhubung.


Ceklek!


Pintu utama terbuka, menampilkan wajah gadis yang selalu membantunya di setiap rencana yang ia buat. Zifran membuka pintu mobil, keluar dan menghampiri Alya yang berdiri di depan pintu.


Dengan langkah tertatih Zifran berusaha untuk menahan rasa nyeri di bagian lutut dan pangkal pahanya. Berjalan menaiki satu tangga rasanya seperti terkena hantaman keras yang mengenai kedua titik tersebut.


"Silahkan masuk Pak! Tapi maaf, beginilah keadaan rumah saya Pak. Semoga Bapak nyaman," ucap Alya yang berjalan beriringan dengan Zifran. Alya membawa Zifran taman di samping rumahnya.


"Bagus, nyaman saya suka. Oiya, rumah kamu kok sepi, pria kemana?"


"Mama sama papa lagi jalan-jalan ngajak sih bontot ngabisin weekend bareng. Maklumlah, anak manja banyak maunya."


"Kamu punya adek?" tanya Zifran sambil duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Begitupun dengan Alya.


"Punya Pak, masih kelas lima SD." Alya menggeser posisinya saat pembantunya membawa minuman yang berada di atas nampan. Kemudian pria itu meletakkan gelas itu di atas meja dan berlalu pergi setelah pekerjaan selesai. "Silahkan diminum, Pak?


Zifran mengangguk. "Terimakasih!" jeda. "Coba kamu telepon Maisya, sudah sangat mana dia."


"Kenapa bukan bapak aja?" ucap Alya polos.


"Udah nggak usah ngebabtah, kerjain apa yang saya suruh. Mau saya tarik kembali perjanjian kita," ucap Zifran mengancam.


"Eeits. Jangan gitu dong Pak, kita ini sama-sama berjuang. Bapak berjuang demi restu, saya berjuang demi sekretaris Bapak yang-"


"Udah buruan."


"Siap, Pak!" Alya pun segera menelepon Maisya, ternyata Maisya tak lama lagi akan tiba di kediamannya. Setelah mendengar ucapan sahabatnya, Alya langsung mematikan sambungan dan menarik tangan Zifran untuk segera bangkit.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Bapak sembunyi, buruan! Maisya sebentar lagi nyampe dan dia bilang kalau si Ucup ngikut buat ngawasin tuh anak."


__ADS_2