Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Bertemu kembali (Zifran & Maisya)


__ADS_3

Maisya menggeret koper sambil menatap seisi rumah yang telah lama ia tinggalkan dan lebih memilih menetap di luar negeri. pandangannya menyapu memperhatikan setiap sudut tampar tak ada yang berubah. Baik dari tatanan letak dan tempat semua barang-barang yang ada di sana masih sama seperti saat pertama ia tinggalkan.


Begitupun dengan Bi Nana yang tersenyum menyambut kedatangannya. Wanita itu sudah berkaca-kaca menahan tangis saat melihat Maisya yang kini tampak berubah menjadi gadis dewasa pada umumnya. Cantik, mandiri dan tentunya sedikit ada perubahan dengan penampilan terakhirnya sebelum ia pergi.


Gadis SMA yang biasa berpenampilan tomboy kini terlihat sedikit feminim dengan rok di atas lutut yang membuatnya tampak berbeda.


"Apa kabar Bi?" sapa Maisya langsung memeluk Bi Nana yang mulai meneteskan air matanya.


"Bibi sehat-sehat saja, Non. Non sendiri bagaimana?" tanya Bi Nana setelah menjawab pertanyaan Maisya.


"Seperti yang Bibi lihat. Aku baik-baik aja," jawab Maisya dengan senyum merekah, bersamaan mengurai pelukannya.


"Syukurlah kalau begitu. Oiya, Non Maisya mau makan? Bibi sudah siapin makan kesukaan Non. Mau makan sekarang?" tanya Bi Nana mengambil alih koper yang yang ada di tangan Maisya.


"Nanti aja, Bi masih kenyang."


"Kalau tidak mau makan sebaiknya kamu istirahat dulu karena Papa mau berangkat ke kantor ada pekerjaan yang belum Papa selesaikan. Dan jangan keluyuran kalau tidak mendapat izin dari Leon. Mengerti?" Pinta Papa Bram mengingatkan Maisya tentang tanggung jawabnya saat ini.


Maisya pun mengangguk mengerti.


*


*


*


"Kamu nggak ke kantor, Nak? Ini sudah hampir jam makan siang loh?" tanya wanita bersanggul ala ibu-ibu pejabat menghampiri putranya yang duduk santai di gazebo tak jauh dari kolam renang dengan sebatang rokok yang menemaninya dalam lamunan.


Wanita itu semakin mendekat ke arah putra yang tampak mengabaikan dirinya.


Sungguh, betapa sakit hati Mama Sarah melihat Zifran tak sana seperti dulu. Bahkan selalu bersikap dingin dengan orang-orang terdekatnya.


'Ini sudah tiga tahun, Fran. Apa kamu akan terus bersikap dingin terhadap kami?' tanya Mama Sarah di dalam hati yang tak pernah lelah meminta putranya untuk bersikap seperti dulu lagi.

__ADS_1


Setelah kejadian itu, sikap Zifran berubah 180° dari biasanya. Yang biasa bersikap hangat dan humoris kini berbanding terbalik. Dingin dan irit bicara.


"Apa kejadian itu benar-benar membuatmu seperti ini? Mama tau kamu masih bingung dengan semua, tapi jangan seperti ini, Fran. Hati Mama sakit melihatmu begini," ucap Mama Sarah pun duduk tepat di samping Zifran sambil melihat apa yang di lakukan putranya berjam-jam di tempat itu.


Zifran terus membisu tanpa memperdulikan Mamanya. Tak berselang lama Zifran beranjak dari gazebo berlalu meninggalkan Mama Sarah dalam kepedihan.


"Maafin aku, aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kalian," gumam Zifran telah menjauh.


*


*


*


"Kamu udah hubungi mereka buat buat ketemuan, sayang?" tanya Leon yang baru saja tiba di rumah Maisya. Rencananya siang ini mereka ingin


"Udah. Tapi kayaknya nggak jadi deh," sahut Maisya tertunduk lesu.


"Kenapa? Bukannya Alya sama Andin yang ngotot buat ketemuan hari ini? Kok tiba-tiba nggak jadi?" kesal Leon. Biar bagaimanapun dirinya juga merindukan ketua temannya itu.


"Cuma berdua?" tanya Leon.


"Iya. Jadi maunya se-komplek?"


"Ya nggak juga sih, hehehehe..." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ayolah kalau gitu." Lalu menautkan tangannya ke tangan Maisya. Maisya hanya tersenyum tidak percaya jika Leon akan memperlakukan dirinya seperti itu.


"Kok kita ke sini? Bukannya tadi kamu ngajak aku jalan-jalan ya? Ini 'kan tempat kita janjian sama mereka?" protes Maisya setelah sampai di salah satu restoran uang sebelumnya mereka sepakati untuk ketemu kangen pada kedua sahabatnya.


"Memangnya kenapa? Bukannya kamu pengen ketemu mereka buat lepas rindu?"


"Tapikan, Alya sama Andin nggak bisa datang. Gimana sih!"


"Siapa bilang mereka nggak bisa datang. Coba kamu ke arah sana," tunjuk Leon ke arah dua gadis yang tampak melambaikan tangan kearah mereka yang duduknya cukup jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


"Itu serius beneran Alya sama Andin?" tanya Maisya berkaca-kaca menahan tangis melihat kedua sahabatnya ada di sana.


"Ya iyalah. Kamu pikir siapa? Hantu?" ledek Leon.


Maisya langsung menghampiri kedua sahabatnya di susul Leon di belakang. Maisya langsung memeluk mereka, menuangkan segala kerinduan selama tiga tahun lamanya. Dan hanya bisa berkomunikasi dengan keterbatasan perbedaan waktu antara dua negara.


"Kalian bohongin gue...," isak Maisya menahan suaranya.


"Bukan kita, tapi tunangan Lo yang nyuruh kita ngelakuin itu. Iya 'kan Yon?" sanggah Alya tak mau disalahkan.


"Hehehe... maafin aku ya, Sya." Leon hanya hanya bisa menyerngit kuda saat mendapat tatapan tajam dari sang kekasih.


"Akhirnya... . Gue seneng banget tau Lo tunangan sama dia. Selamat ya buat kalian berdua," ucap Alya.


"Gue salut sama perjuangan elo, Yon. Gue kira Lo bakal nyerah gitu aja. Dan yang paling bikin gue bahagia itu, ternyata Lo bisa berubah sama sikap playboy Lo demi Maisya. Makasih untuk perlakuan Lo sama si Mae. Gue harap Lo tulus dan bisa bikin dia bahagia," timpal Andin benar-benar terharu melihat sahabatnya .


"Oiya, kalian udah bikin daftar nama anak-anak yang bakal kalian undang belum? Saran gue nih ya, coba Lo pake jasa si Onad." Alya menyedot minuman yang mereka pesan.


"Betul. Sekarang si Onad itu buka jasa cetak undangan dan WO juga. Jadi kalian nggak perlu susah-susah buat nulis daftar nama karena Onad pasti udah hapal semua anak-anak mulai dari IPA sampai IPS. Gimana, Sya, Yon?" tanya Andin.


"Em... gue sih terserah sama Leon aja. Lagian si dia 'kan Deket sama Onad. Gimana, Yon?" tanya Maisya ikut bertanya.


"Oke. Nanti gue coba hubungi si Onad buat tanya hal ini," jawab Leon tersenyum menaik-turunkan alisnya menatap Maisya.


"Oiya, gue ke toilet sebentar ya kebelet pipis," ujarnya langsung buru-buru pergi ke toilet.


Setelah selesai, Maisya keluar dari kamar mandi sambil merapikan pakaiannya yang agar terlihat rapi kembali, namun Maisya tidak memperhatikan suasana sekitar yang terlihat beberapa pengunjung baru berdatangan hingga Maisya tak sengaja menabrak salah satu diantara mereka.


"Aduh," desis Maisya.


Maisya terkejut langsung mendongakkan wajahnya menatap seseorang yang baru saja ia tabrak.


"Maaf, Mbak nggak pa-pa 'kan?" tanya orang itu memegang tangan Maisya agar tak terjerembab.

__ADS_1


"Kak... Zi?"


__ADS_2