
Malam semakin larut. Namun, Zifran belum juga terlelap dalam tidurnya. Tidak seperti sang istri yang sudah terbuai ke alam mimpi. Pria itu tampak begitu gelisah, membolak-balikkan tubuhnya berulangkali seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
Tiba-tiba ia merasakan pergerakan dari Maisya, kau melihat ke arah istrinya.
"Kok bangun? Apa aku ganggu kamu, Yang?"
"Kenapa kakak bekum tidur?" Sambil mengucek matanya.
"Kakak laper," lirih Zifran sejak tadi gelisah dan itu karena menahan lapar.
Ck... ck... ck....
"Kalau lapar ya ayo kita turun biar aku buatin makanan."
Lalu Zifran menggeleng cepat. "Kakak mau seblak, tapi langsung dari tempat asalnya," rengek Zifran seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada Mamanya.
"Ya ampun, kak..... !" Maisya menepuk jidatnya. Mata yang semula mengantuk kini cerah seketika. "Ini udah malam, siapa yang mau ke Bandung, coba. Kamu itu ada-ada aja ih!"
"Tapi ini ngidam loh, Yang. Masak kamu tega sih sama kakak. Nanti kalau anak kita ngeces gimana? Gimana, mau tanggung jawab?"
"Masalahnya ini udah malam, terus yang kakak mau itu tempatnya jauh loh. Bukan kayak dari sini ke komplek depan. Heran deh, perasaan aku yang hamil tapi kenapa malah kamu yang banyak tingkah sih!"
*
*
*
Di apartemen yang jauh diseberang sana, Arlan yang masih terlelap langsung terbangun dari tidurnya. Padahal ia baru saja memejamkan mata, namun sudah terganggu oleh dering ponsel yang terus berbunyi.
Terus meraba, akhirnya Arlan pun menemukan ponselnya di atas nakas. Melihat samar siapa orang yang kurang kerjaan pagi-pagi buta sudah mengganggunya.
"Hem, ada apa?" Arlan kembali merebahkan tubuhnya dengan ponsel menempel di sisi bantal kiri dalam mode loud speaker.
"Ar, tolong beliin gue seblak dong. Gue lagi ngidam ini pengen banget makan seblak. Lo mau 'kan tolongin gue?"
Arlan membuka matanya dan melihat jam berapa saat ini.
"Gila Lo! Mana ada yang buka di jam segini Fran!"
"Ada, Ar. Ayolah.... Lo mau nanti anak gue ileran cuma gara-gara seblak doang? Ini gue udah kepengen banget, nggak bisa gue tahan."
"Yaelah... tapi ini udah tengah malem. Besok aja gimana?"
"Nggak bisa! Gue pengennya sekarang."
Arlan pun menghela napasnya berat. Mau nggak mau keinginan sahabatnya itu harus ia turuti. Semua itu ia lakukan hanya untuk calon keponakannya saja. Bukan untuk Bapaknya.
"Ya udah, gue bakal pergi. Kirimin dimana alamatnya cepetan, soalnya mata gue ngantuk bener gara-gara seharian kerja rodi."
"Ok, nanti bakal gue share lokasinya."
"Sialan! Emang nggak punya adab ini anak. Dia yang butuh main matiin gitu aja," dengus Arlan yang sudah beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Tring....
"Annnjing!! Ini anak otaknya emang udah lost. Jam segini gue disuruh pergi ke Bandung cuma nyari seblak doang? Emang nggak ngotak kalau pengen apa-apa!" maki Arlan setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Zifran barusan.
Tring....
__ADS_1
'Jangan lupa sekalian di foto tempatnya buat bukti. Awas Lo kalau bohong!' Pesan dengan emoticon marah yang baru saja Zifran kirim.
"Ck. Seharusnya gue curiga setiap dia nelfon tengah malem gini. Pasti ada maunya dan itu pasti nggak jauh-jauh dari acara ngidamnya yang nggak masuk akal. Sial! Rasa sakit jatuh dari pohon mangga aja belum hilang.... ini udah di suruh keluar kota. Nggak anaknya, nggak Bapak sama-sama nyusahin. Liat aja entar kalau udah lahir, semena-mena sama gue awas Lo!" hardiknya dan mengancam anak Zifran yang belum lahir ke dunia.
Masih teringat jelas bagaimana Zifran yang menyuruhnya tengah malam untuk menemani pria itu mencari mangga muda yang ingin di makan langsung dibawah pohon. Hal itu membuat Arlan mengurangi waktu istirahatnya. Dan lebih parahnya, Arlan di suruh mencuri dan memanjat pohon tersebut dengan dalih ngidamnya pengen Arlan yang memanjat pohon tersebut.
Huuuu.... Setelah dipikir-pikir emang nggak masuk di akal. Yang hamil siapa? Yang ngidam siapa? Yang berkorban juga siapa?
*
*
*
"Jam berapa sih ini, Yang? Kok Arlan lama banget beli seblak-nya. 'Kan aku udah laper, nanti keburu hilang nafsunya," cerocos Zifran yang kesal menunggu pesanannya belum juga datang. Padahal sudah lima jam lamanya ia menunggu yang sedari tadi ditunggu.
"Ini masih jam enam, kak. Kakak kira Jakarta-Bandung itu dekat. Apalagi kalau terjebak macet, ban bocor, dan yang lebih parahnya lagi kalau kak Arlan bawa mobilnya ngantuk, apa itu nggak berbahaya? Lain kali kalau ngidam itu yang deket-deket aja kenapa, kak? Kasihan tau kak Arlan."
Mendengar cibiran sang istri, Zifran merasa kesal. Kakinya di hentak-hentakkan ke lantai.
Drettt... Dreettt....
"Itu ponsel kamu bunyi, kak."
Zifran langsung mengambilnya.
"Lo lagi dimana!" sarkas Zifran setelah melihat Arlan lah yang meneleponnya.
"Nggak usah marah-marah. Cepetan bukain pintunya," jawab Arlan tak sabar karena sudah lelah dan mengantuk setelah melakukan perjalanan menuju ke Bandung di pagi-pagi buta.
"Tunggu sebentar, gue turun."
Zifran langsung bergegas keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.
"Lama banget sih bukain pintu gitu doang. Gue capek berdirinya!"
"Ya udah ma-"
"Gue numpang tidur, ngantuk." Arlan langsung nyelonong masuk begitu saja setelah memberikan plastik kresek hitam kepada Zifran.
Ternyata rasa mengantuk yang mendera tak cukup hilang meski sia sudah tertidur selama berada di pesawat tadi.
*
*
*
Setelah drama seblak di pagi hari, keduanya memutuskan untuk berkunjung ke kediaman utama karena Zifran dan Maisya sangat merindukan Zean yang beberapa hari tidak bertemu. Terlebih lagi Zean dan kedua orang tua Zifran baru saja kembali dari liburan mereka.
Namun siapa sangka wanita dengan perut membuncit itu sedang tidak baik-baik saja begitu sampai di rumah mertuanya. Wajah kekesalan penuh amarah begitu jelas terlihat di wajah chubby-nya sampai-sampai Mama Sarah dan Papa Arya dibuat kebingungan karena sikap menantunya yang tidak biasa.
"Yang, kamu masih marah soal tadi? 'Kan aku udah minta maaf Yang. Lagian itu bukan maunya aku loh. Itu maunya anak kita." Zifran mengejar Maisya yang berjalan begitu cepat.
"Bodo amat! Mana ada baby nyuruh Papanya ganjen sama cewek lain? Itu cuma akal-akalan kamu aja, kak!" sungut Maisya.
"Sebenernya ini ada apa sih? Datang-datang kok pada berantem?" tanya Mama Sarah. Wanita paruh baya itu meminta Bibi yang sedang bermain bersama Zean untuk membawa bocah itu ke lain tempat.
"Itu, Ma. Kak Zifran tadi godain cewek di depan aku. Pake acara bilang kalau cewek itu cantik banget. 'Kan aku jadi sakit hati. Apalagi dengan kondisi badan aku yang gemuk, kak Zifran mulai kumat lagi penyakitnya," adu Maisya yang mulai menceritakan awal mula kejadiannya, tak memperdulikan ocehan suaminya yang terus meminta maaf.
__ADS_1
Flashback on
Ketika hendak menuju ke rumah utama, Maisya meminta Zifran memberhentikan mobilnya di sebuah taman yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Taman mini yang biasa digunakan oleh warga komplek untuk bermain dan berolahraga di saat weekend seperti ini.
Merasa nyaman dengan suasana sekitar, Maisya dan Zifran berkeliling sebentar untuk menikmati waktu luang bersama karena pekerjaan Zifran yang sedang menumpuk.
Keduanya pun berhenti sejenak karena Maisya yang menang sudah tidak sanggup lagi berjalan terasa ngap-ngapan, walaupun hanya berjarak 50 meter saja.
Mata tak sengaja menatap seorang wanita yang mengenakan pakaian olahraga super letak hingga menimbulkan lekuk tubuh indah mempesona yang mampu mengikat tatapan lawan jenisnya termasuk sang mantan Casanova itu.
Entah setan dari mana yang merasuki Zifran sampai ia berani dan begitu santai mengamati body semok yang disuguhkan di depan matanya tanpa memperdulikan wajah Maisya yang mulai berubah.
"Cewek itu cantik ya, kak?" tanya Maisya yang memancing Zifran.
"Iya."
"Semok?" tanyanya lagi.
"Banget," jawab Zifran tanpa sadar.
Di sampingnya, Maisya berusaha menahan diri untuk tidak memukul suami mesumnya itu.
"Body-ku sama dia masih bagus mana?"
"Ya body di- Mmmmp!"
Zifran langsung menutup mulutnya seketika yang terlalu jujur dengan pertanyaan itu. Namun siapa sangka jika jawabannya justru menjadi bumerang bagi dirinya.
"Aissshhh! Kenapa punya mulut nggak bisa di ajak kompromi sih! Udah tau ibu hamil itu susah banget, eh.... maka nyari perkara. Tuh 'kan dia ngambek," gerutu Zifran.
"Sya, tunggu! Dengerin dulu maksud kakak. Maksud kakak itu body dia emang bagus, tapi nggak semontok kamu, sayang. Yang.... jangan tinggalin kakak dong!"
Pria dengan sejuta pesona itu terlihat panik melihat istrinya yang cepat-cepat masuk kedalam mobil. Dengan cepat iapun berlari untuk mengejar sebelum bumil itu nekat untuk mengendarai mobil sendiri.
Flashback off
"Enggak, Ma. Semua cum-"
Pluk!
Ucapan Zifran pun terhenti saat mainan Zean mendarat di kepalanya karena ulah Papanya.
"Dasar anak edan! Kalau bukan karena ulah kamu yang bikin perut istri kamu itu bunting, mungkin badan istrimu nggak se-cubby seperti sekarang ini. Ini semua gara-gara kamu! Jadi berhenti untuk godain wanita lain. Kalau Papa tau, Papa gantung kamu di tiang sutet, biar tau rasa kamu!" hardik Papa Arya pada putranya.
"Papa heran sama kamu, Fran. Perasaan waktu hamil kamu, Mama kamu nggak pernah ngidam yang aneh-aneh, tapi punya anak kok kelakuannya anehnya minta ampun! Lama-lama pusing kami liat kelakuanmu itu. Sebentar lagi udah mau punya anak itu harus mencontohkan yang baik. Takutnya nanti anakmu sesat kayak Papanya," lanjut Papa Arya yang menasehati putranya.
Namun yang di nasehati terus mencoba meluluhkan kembali hati dari ibu negaranya setelah negara api menyerang.
"Ihhhhh... amit-amit, Pa. Jangan sampai cucu kita punya kelakuan sebelas dua belas sama Papanya kasihan nanti menantu kita. Cukup kita aja yang repot karena ulah Zifran. Jangan sampai Maisya juga repot karena ulah anak dan suaminya. Aduh, Mama nggak sanggup bayanginya." Heboh Mama Sarah memegangi kepalanya dengan wajah kepanikan.
Di saat Zifran cemberut dengan apa yang ia dengar, justru berbeda pula dengan Maisya yang menahan senyum dengan celotehan Mama mertuanya yang menggerutu perihal sikap anaknya yang terlaku over kapasitas tingkah mesumnya seperti mana yang ia ketahui.
Ya... begitulah keluarga mereka yang selalu punya cerita yang membuat satu sama lain semakin merasa dekat dan saling menyayangi. Tentang Zifran, pria dengan level mesum tingkat akut tersebut hanya pasrah disaat kedua orang tuanya yang sekarang lebih berpihak pada menantu mereka. Bukan hanya sekarang, tapi sejak dulu emang selalu begitu padanya.
'Nasib-nasib... gini amat kalau dianak tirikan,' gumam Zifran di dalam hatinya
****
Gimana nih di bab ini. Pusing nggak sama tingkahnya si Papa labil dengan tingkat ke mesuman yang over kapasitas seperti Zifran. Pasti kesel 'kan?
__ADS_1
Nah.... berhubung ceritanya sebentar lagi mau tamat, siapin komentar unik kalian di setiap babnya ya?
Sampai ketemu di bab selanjutnya 🥰🥰🥰