
Sementara, disisi lain Seseorang yang saat ini di tunggu balasan pesannya tengah asik memompa wanitanya dan mengabaikan notifikasi pesan masuk yang ada di ponsel miliknya demi mencapai puncak kenikmatan yang ia inginkan.
Tak selang berapa lama terdengar suara erangan dari keduanya, saat kenikmatan telah mereka capai di malam yang panas dan menggairahkan bagi keduanya.
perlahan Zifran mencabut alat tempurnya yang sejak tadi terbenam dibawah sana dan melepaskan sarung ninja yang membungkus miliknya yang kini sudah di penuhi dengan cairan putih kental yang lengket.
Setelah menyelesaikan rutinitas ranjangnya, Zifran mengambil handuk di dalam lemarinya, berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan wanita itu di atas tempat tidurnya.
Beberapa menit kemudian, Zifran keluar dari kamar mandi hanya berbalutkan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya berjalan ke arah nakas yang berada di samping tempat tidurnya dan mengambil beberapa lembar uang, lalu ia berikan kepada wanita sang pemuas nafsunya itu.
"Nih, cukup kan? Sekarang lo boleh pergi!" ucap Zifran kepada wanita itu.
"Wah! Kalau semua pelanggan gue kayak elo, bisa pensiun dini gue! Makasih ya, sering-sering aja lo hubungi gue, bakal gue kasih lo servis terbaik." Wanita itu dengan cepatnya mengambil uang tersebut dari tangan Zifran.
"Udah sana buruan pergi, dah ngantuk gue!" titah Zifran sambil mengibaskan tangan di udara.
"Bye, gue pamit." Bisik nya sensual di telinga Zifran.
Sebelum wanita itu melangkahkan kakinya, ia mengecup singkat leher Zifran dan melu*matnya sehingga meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Sementara Zifran, pria itu hanya terdiam menatap kepergian wanita yang menemaninya malam ini.
Setelah kepergian wanita itu Zifran merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Ia mengalihkan pandangannya kearah ponsel miliknya yang berada di atas nakas.
Seketika itu juga ia teringat akan notifikasi pesan yang sempat ia abaikan, kemudian Zifran meraih ponselnya dan membuka kode password di ponsel miliknya.
"Bocil?" ucapnya lirih ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Udah tidur belum ya tuh anak?" monolognya sendiri.
Zifran mengetik satu persatu huruf yang ada di papan keyboard di layar ponselnya,
^^^Me^^^
^^^Udah tidur cil?^^^
Lima menit kemudian
Bocil labil
Ada apa Om?
Ganggu orang lagi tidur aja.
^^^Me^^^
^^^Sorry, gue kira Lo belum tidur,^^^
Read
"Sadis amat nih bocah pesan gue cuma di read doang," gerutu Zifran ketika melihat centang biru di pesannya.
__ADS_1
Drettt... drettt.
Zifran menautkan alisnya ketika melihat siapa nama pemanggil yang terpampang di layar ponsel miliknya.
"Hallo, Om!" ucap seseorang dari sambungan telepon.
"Belum tidur cil?" tanya Zifran.
"Tadinya gue udah tidur sih, tapi gara-gara chat dari Om, gue jadi kebangun nggak bisa tidur lagi. Tanggung jawab Om!" Terdengar nada kekesalan darinya.
"Tanggung jawab apaan? Perasaan gue nggak ngapa-ngapain Lo cil, enak aja Lo minta tanggung jawab sama gue. Jangan kan nyentuh? Liat bentuknya aja gue nggak pernah," jawab Zifran sarkas.
"Isshh, dasar Om-om mesum! Maksud gue, temenin gue begadang. Heran gue sama lo," omel Maisya.
Dari balik sambungan telepon, Maisya sedang mengacak rambutnya frustasi karena mendengar ucapan frontal dari Zifran. Sungguh ia bingung kenapa Tuhan menciptakan makhluk seperti itu 'Zifran' di dunia ini. Maisya menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa kesalnya kepada pria itu.
"Ooooh, ngomong dong dari tadi," ucap ya begitu santainya.
Sementara Maisya yang mendengarkannya menghela nafasnya kembali.
"Dasar otak mesum."
"Wajarlah, kan gue ganteng,"
Diseberang sana Maisya menyerngitkan dahinya, "Nggak ada hubungannya mesum sama ganteng Om?" cibir Maisya.
"Suka-suka gue lah?" ucap Zifran tak mau kalah.
"Om," Panggil Maisya.
"Hem," jawaban singkat dari Zifran.
"Makasih banyak ya Om, tadi udah temenin gue dan mau dengerin curhatan gue," ucap Maisya.
"Udah merasa baikan sekarang?" tanya Zifran.
"Sedikit, tapi jauh lebih baik."
****
Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Samudera.
Di sebuah kamar yang amat sangat luas, seorang wanita paruh baya yang sedang berbaring disampingnya suaminya tak henti-hentinya berceloteh tentang putranya yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling melewati lembah dan mengarungi dua samudra.
"Pa," panggil sang istri.
"Apa sih Ma, masih jam segini udah ngajak begituan,"
Seketika bola mata sang istri yang semula terpejam langsung membulat menatap horor wajah sang suami tercinta.
__ADS_1
"Ih, si Papa mulutnya minta di tabok ya? Bikin kesel aja."
wanita paruh baya itu bangun dari tidurnya dan mendudukkan tubuhnya menghadap sang suami.
"Pa, Mama punya rencana bagus nih buat Zifran mau untuk di jodohkan dan dia pasti tidak akan menolaknya."
Sedangkan sang suami, ia masih pada posisinya yang masih membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling sebagai pembatas antara dirinya dengan sang istri.
"Di jamin ampuh nggak, Ma? jangan seperti yang sudah-sudah, selalu saja gagal." balasnya menatap istrinya yang sangat antusias.
"Pasti Pa. Asalkan Papa mau ikuti semua rencana Mama, itu pasti sangat memudahkan. Dijamin nggak bakal gagal Pa!" ucapnya penuh dengan semangat.
Sungguh, ia berharap rencananya kali ini akan membuahkan hasil dan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang ia harapkan.
***
"Om, udah dulu ya? Hoamm... gue udah ngantuk!" ucap Maisya yang sudah beberapa kali menguap.
Zifran menganggukkan kepalanya, "Ya udah tidur sana, besok lo bakal kesiangan kalau jam segini lo masih begadang."
"Thanks untuk semua. Gue kira lo itu orangnya nggak asik, ternyata lo itu selain Om-Om mesum, lo juga bisa jadi temen curhat gue."
Pria itu berdecak kesal ketika Maisya menyebutnya sebagai 'Om-Om mesum'. "CK. Lo itu mau berterimakasih atau mau cibir gue sih cil. Dah lah tidur sana! Anak kecil nggak boleh begadang belum cukup umur."
Setelah mengatakan itu, Zifran kembali berdecak kesal saat Maisya tanpa permisi memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. "Dasar jelangkung! Nelepon tiba-tiba, matiin pun tiba-tiba. Emang dasar bocil luknat." Omel Zifran.
Sementara di seberang sana, Maisya tertawa cekikikan membayangkan wajah kesal dari seseorang yang menjadi teman begadangnya malam ini.
Entah mengapa, setelah ia bertemu dengan Zifran malam tadi dan menceritakan hal-hal yang random bersamanya sedikit banyaknya ia melupakan rasa kecewa di hatinya.
Ia tidak menyangka jika seseorang yang awal pertemuannya ia buat kesal kini justru mau menjadi pendengar yang setia mendengarkan segala ocehan yang sejak tadi mereka bicarakan.
Maisya berjalan menuju meja belajarnya untuk mengambil laptop miliknya, rasa kantuk yang sejak tadi menghampiri dirinya kini hilang entah kemana.
Maisya mulai menghidupkan laptopnya sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur kesayangannya, ia memutuskan untuk menonton drama Korea yang sudah lama ia download, akan tetapi belum sempat ia menontonnya.
Baru beberapa menit ia menontonnya, terdengar suara dengkuran halus dari Maisya yang sudah tertidur pulas dihadapan laptop yang posisinya masih menyala.
Sang papa yang baru saja membuka pintu kamar Maisya berjalan menghampiri Putrinya yang tertidur dalam posisi tak semestinya, melihat itu, Papa membenarkan posisi putrinya dan tak lupa ia mematikan laptop Maisya yang masih menyala.
Sebelum ia benar-benar pergi, tak lupa ia mengecup pucuk kepala putri semata wayangnya itu.
"Selamat tidur putri kecil Papa, Maaf kan Papa yang belum bisa menjadi Papa terbaik buat kamu nak!" Papa Maisya berjalan meninggalkan kamar putrinya.
Tanpa ia sadari sepasang mata sedang menatapnya dengan buliran air mata yang jatuh menetes membasahi pipinya.
Maisya, gadis itu menangis terharu mendengarkan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut sang Papa. Maisya yang tadinya terduduk merasakan sentuhan hangat dari tangan seorang pria yang sudah tak lagi muda, ia menyadari itu adalah Papanya.
Maisya terbangun ketika Papanya menggendong dirinya dan memindahkannya, namun untuk membuka matanya Maisya enggan, sebab ia tak ingin melewatkan kesempatan yang belum tentu akan ia dapatkan kembali.
__ADS_1
"I love you Papa," ucap Maisya lirih.
Setelah mengatakan itu, Maisya kembali memejamkan matanya dengan senyuman yang terus mengembang dari kedua sudut bibirnya. Ia berharap keesokan paginya, semua rasa malam ini akan tetap sama.