Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Awal mula


__ADS_3

Terduduk di bawah langit malam berhiaskan bintang dan bercahayakan rembulan yang sesaat menyapanya.


Maisya, gadis cantik yang harus merasakan sakitnya sebuah penghianatan yang membuatnya jatuh dalam cinta yang semu. Cinta yang mampu menorehkan luka yang kini harus ia rasakan.


Menangis? Tentu saja. Sejak sedari tadi air mata itu ia tahan agar tak ada yang melihat kelemahan hatinya. Mencoba menutupi dengan ketegaran yang tak tau sampai kapan ia mampu.


Sejak kepergiannya dari cafe itu, Maisya memutuskan untuk menyendiri di sebuah taman yang tak terlalu jauh dari pusat ibukota.


Dibawah pohon rindang yang beralaskan sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu yang menjadi tempat ternyaman bagi Maisya saat ini untuk menikmati kesendirian yang menyakitkan ini.


Derai air mata tak henti-hentinya membasahi wajah cantik Maisya yang kini terlihat kacau karenanya.


Sesekali Maisya menyeka air matanya menggunakan punggung tangannya. "Begini kah rasanya sakit tak berdarah, tak ku sangka begitu hebatnya. Ini lebih pedih ini lebih perih, ini lebih sakit takkan lagi-lagi. Hiks...hiks... hiks."


Maisya menyanyikan sepenggal lirik lagu milik Wali yang mewakili isi hatinya saat ini.


"Aarrgghhh! EMANG SIA*LAN LO DIOOOON. BRENG*SEK, BAJI*NGAN, KEPA*RAT LO!!"


Teriaknya meluapkan segala emosi yang sejak tadi ia tahan.


Ah, entahlah. Sejujurnya saat itu juga Maisya ingin mencaci-maki dan menghajar pria itu sampai babak belur. Namun didalam hatinya ia tak mau melakukannya, sebab saat itu mereka tengah berada di dalam cafe dimana ia tak mau dirinya menjadi pusat perhatian orang sekitar.


"Gini amat nasib cinta gue, ditinggal pas lagi sayang-sayang nya. Huuuaaa....!"


EKHEM !!


Maisya menoleh ke belakang saat tiba-tiba suara dekheman menyapa Indra pendengarannya.


"Om mesum!"


"Elo, cil!"


Ucap keduanya sama terkejut.


"Ngapain lo malem-malem disini sendirian?"


"Lah, Om juga ngapain malem-malem disini? Ganggu aja!"


"Gue kira yang teriak-teriak barusan kuntilanak lagi kampanye, nggak taunya elo cil."


"Geser!" perintah Zifran yang baru saja duduk bersebelahan dengan Maisya.


"Apaan sih, Om, baru datang juga dah main geser-geser aja!"


Maisya tak terima ketika Zifran menggeser posisi duduknya.


"Nih! Hapus tuh ingus lo, jorok banget jadi cewek!" Zifran memberikan saputangan kepada Maisya.


Srottt! srottt!

__ADS_1


Maisya langsung membersihkan hidungnya dengan saputangan pemberian Zifran.


'Nggak ada jaim-jaimnya nih cewek.'


"Lo lagi patah hati ya cil?" Zifran menoleh menatap wajah sembab Maisya.


"Kok tau?"


"Penampilan lo kayak tuyul kenak razia gitu! Pppfftttt..." Zifran menahan tawanya.


"Diem deh Om! Nggak usah ngetawain gitu, nggak tau orang lagi patah hati?!" ketusnya.


Seketika Zifran terdiam tak bersuara saat mendengar nada ketus dari wanita yang berada disampingnya tersebut.


Sementara Maisya, gadis cantik itu kembali membayangkan kejadian saat di cafe tadi sesaat dadanya terasa sesak seperti terhimpit oleh dua buah batu besar yang siap menghancurkannya.


Dan bertepatan dengan itu, sekilas terlintas dalam benak Maisya untuk melakukan suatu hal yang belum pernah ia coba sebelumnya sebagai pelampiasan rasa sakit di hatinya.


"Om, ML bareng gue yuk?" ucap Maisya menatap wajah tampan yang ada dihadapannya saat ini.


Ya, tak ia pungkiri jika pria yang ia panggil 'Om' wajahnya tidak terlihat seperti Om-Om kebanyakan.


Sementara Zifran, "Ha! Maksudnya?" tanyanya bingung.


"Making love."


Mendengar kata 'Making love' Seketika Zifran tertawa terbahak-bahak Sambil menatap wajah Maisya yang terlihat sangat serius menatapnya.


Perlahan Zifran mengangkat satu tangannya ke arah Maisya, "Lo sakit? Tapi nggak panas tuh?" ucap Zifran Sambil meletakkan telapak tangannya di dahi Maisya.


"Apa jangan-jangan lo kesambet sama demit penunggu pohon ini ya?" timpalnya lagi.


Dengan cepat Maisya menyingkirkan tangan Zifran dari hadapannya. "Ck, apaan sih om! Gue masih sehat ya!" sungutnya.


"Lo sadar nggak sama apa yang Lo ucap barusan?" tanya Zifran melirik kearah Maisya.


"Gue serius! Dan gue tau lo pasti nggak akan nolak kan?" ucap dengan rasa PD tingkat maksimal.


'Percaya diri sekali anda' batin Zifran.


"Tapi sorry, lo bukan tipe gue. Ya, lo tau sendiri lah tipe gue kayak apa? Sedangkan lo?" Zifran menelisik setiap tubuh Maisya.


Zifran memandang Maisya yang terdiam dalam lamunan sesaat. Apakah perkataannya barusan menyakiti hatinya?


Kemudian tangan Zifran terulur mendekati Maisya dan mengacak rambut panjang Maisya,


"Gue tau lo itu cewek baik-baik, beda sama cewek yang sering tidur sama gue. Jadi buang pikiran itu jauh-jauh dari otak lo yang cetek cil! Lagian nih ya? Mana mungkin gue punya partner anak ingusan kayak lo, cil, mende*sah aja pasti lo belum bisa kan?" ucap Zifran panjang lebar.


"Jadi om nolak gue?" Maisya menatap Zifran yang tersenyum tipis dan mengangguk menatapnya.

__ADS_1


"Belajar yang rajin, buang pikiran buruk lo tentang gue, gue tau lo itu lagi frustasi makanya lo cari pelampiasan dengan cara lo ML sama gue kan? Dasar bocil, di putusin gitu aja udah mewek, malah minta yang enggak, enggak lagi."


"Enak aja di putusin, asal om tau yang mutusin itu gue bukan dia!" ucap Maisya tak terima dengan pernyataan Zifran barusan.


"Lah, terus kenapa lo nangis sambil teriak-teriak kayak orang kesurupan gitu?"


"Gue patah hati Om, orang yang gue sayang selama ini bisa-bisa selingkuh di belakang gue. Dan yang lebih parahnya dia sampai menghamili selingkuhannya. Hiks..hiks...hiks!" Terdengar isak tangis di sela-sela sesi curhatnya.


"Terus!"


Maisya pun menceritakan semua kejadian yang terjadi di cafe tadi kepada Zifran dan untuk sesaat Zifran menjadi mendengar setia bagi Maisya saat ini.


"Sekarang gue tau apa alasan lo tadi ngajak gue Making love sama lo? Lo mau bales dendam kan sama pacar lo? Tapi nggak gini juga konsepnya cil,"ucap Zifran setelah mendengar semua cerita Maisya.


"Ya maaf Om, namanya juga orang patah hati, jadi pikirannya buntu," ucap Maisya memainkan ponselnya yang sejak tadi ia nonaktifkan.


"Bukan pikiran lo yang buntu, tapi otak lo yang buntu nggak bisa berpikiran jernih!"


Omel Zifran yang merasa kesal kepada gadis yang berada dihadapannya saat ini.


****


Maisya yang baru merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya, ia melirik kearah nakas dan melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Setelah hatinya merasa tenang, Maisya berpamitan kepada Zifran untuk segera kembali kerumahnya. Anggap saja ia tak tau diri, sudah di temani eh...malah pergi duluan!


Maisya bangun dari tempat tidur, kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai membersihkan tubuh nya, tiba-tiba saja Maisya teringat dengan ponselnya yang masih dalam mode nonaktif.


"Kayaknya besok bakal ada wartawan dadakan yang bakal introgasi gue," gumamnya setelah melihat beberapa chat dan panggilan tak terjawab dari kedua sahabatnya itu.


"Ah, bodo amat lah."


Kini Maisya beralih mencari daftar kontak nomor yang ingin ia blokir dari ponselnya. Setelah menemukannya, tanpa basa-basi langsung ia blokir.


"Good bye mantan," ucapnya seraya tersenyum sinis.


Kemudian setelah itu ia beralih lagi ke nomor seseorang yang sudah menemaninya beberapa saat lalu.


^^^Me^^^


^^^Hai Om! Makasih banget ya, tadi Om udah mau nemenin gue,😊^^^


^^^Me^^^


^^^Lagi sibuk ya Om?^^^


Cukup lama Maisya menunggu pesan balasan dari Zifran, namun yang di tunggu tak juga membacanya. Akhirnya Maisya pun memutuskan berbaring di ranjang kesayangannya menuju alam fantasi yaitu dunia mimpi.

__ADS_1


Sementara, disisi lain Seseorang yang saat ini di tunggu balasan pesannya tengah asik memompa wanitanya dan mengabaikan notifikasi pesan masuk yang ada di ponsel miliknya demi mencapai puncak kenikmatan yang ia inginkan.


__ADS_2