
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pria tampan dengan sejuta pesona. Apalagi kini tubuh atletisnya terbalut handuk yang menutupi sebagian tubuh bagian bawahnya. Zifran yang baru saja selesai mandi berjalan ke ruang ganti sambil celingukan kesana-kemari mencari keberadaan istrinya yang ternyata tak ada di kamarnya.
Sepertinya, Maisya masih ngambek pada Zifran.
Setelah selesai mengenakan pakaian, Zifran turun kebawah untuk mencari Maisya. Ia khawatir takut terjadi apa-apa pada istrinya dan juga calon buah hatinya.
Sebab, Zifran tahu bagaimana sikap ceroboh Maisya bila melakukan sesuatu. Dan itu yang membuatnya khawatir.
Langkah kaki Zifran membawanya ke dapur. Bau aroma masakan membuatnya tahu jika Maisya pasti sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Maisya berbalik mengetahui kedatangan Zifran di sana.
"Baru bangun? Hemmmm... kok wangi banget, baru mandi ya?" tanya Maisya yang mengendus-endus wangi tubuh Zifran yang membuatnya candu dan juga nyaman.
"He'em. 'Kan mau jenguk cebong. Nanti kalau nggak wangi dia ngambek lagi kayak Mamanya," sahut Zifran langsung melingkarkan tangannya, memeluk tubuh Maisya dari belakang. Tak jarang pula Zifran mendaratkan bibirnya di leher Maisya. Kau memberinya sedikit lumatann kecil di sana.
Maisya yang masih memotong ayam langsung menghentikan aktivitasnya karena ulah Zifran yang membuatnya begitu menikmati hingga rasa itu berubah menjadi rangsangan yang begitu memabukkan.
"Kak, geli ih," lenguh Maisya.
Tubuhnya semakin meremang kala, Zifran semakin melancarkan aksinya. Tangan pria itu bergerak menelusup kedalam kaos over size milik Maisya. Bahkan kini bibirnya terus menjelajah ke bagian punggung Maisya yang terbuka. Tak hanya itu, tangannya pun turun bergerilya naik menangkup dua benda kenyal yang masih terbungkus. Menyingkap kaos yang Maisya sebatas dada mengeluarkan benda itu dari tempatnya.
Memutar tubuh Maisya dan mendudukkan Maisya di atas meja tempat Maisya motong ayam tadi dan langsung menyesap sebelah bukit kembar, dan sebelahnya lagi ia mainkan ditempatnya.
"Enggghh... ."
Maisya semakin tak tahan dengan perlakuan suaminya itu. Berkali-kali ia melenguh penuh kenikmatan saat tangan nakal Zifran semakin aktif memainkan pucuknya hingga tubuh Maisya bergerak menahan geli. Matanya terus terpejam, sementara tangannya meremas kuat rambut Zifran dan satunya melingkar di leher sang suami.
"Kak... ahhh... geli banget..."
Maisya semakin tak kuasa menahan gejolak dalam dirinya.
Zifran menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap wajah Maisya yang dilingkupi hasrat.
"Tapi enak 'kan?"
"Banget."
Zifran melihat keadaan sekitarnya.
"Kita main di sini ya?"
Dirinya ingin mencari sensasi baru baru. Bosan dengan suasana yang itu-itu saja. Mungkin dengan main di tempat ini akan sangat menyenangkan dan akan menjadi pengalaman pertama bercinta di area dapur.
"Ih... kok di sini sih! Nanti kalau ada orang gimana?" tolak Maisya manja.
"Kamu tenang aja, nggak akan ada orang 'kan cuma kita berdua di sini, sayang. Kamu mau 'kan? Ya... itung-itung cari sensasi baru. Bosen tau kalau main di atas ranjang, kalau nggak di sofa. Apalagi di kamar mandi," bujuk Zifran.
Sementara mulutnya berbicara, tangan terus memilin ujung pucuk benda kenyal Maisya.
"Ya udah deh. Sekali-kali berbeda yang penting asik, enak, kenapa enggak?"
Akhirnya Maisya pun menyetujui keinginan Zifran untuk bercinta di dapur.
Setelah itu, keduanya kembali melakukan pemanasan sebelum memasuki acara inti. Zifran memejamkan matanya saat lidah Maisya menari menjelajahi tengkuknya sampai kebelakang telinga. Tangan Maisya pun tak tinggal diam. Mulai membuka kaos tanpa lengan milik Zifran dan membuangnya ke sembarang arah. Mengecup, dan memainkan lidahnya diarea dada Zifran membuat pria itu semakin terbakar gairah. Apalagi tangan Maisya tanpa permisi langsung membuka kancing celana pendek, lalu memainkan benda yang sudah mengeras sejak beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Semakin tak tahan dengan permainan sang istri, Zifran langsung menangkup wajah Maisya dan meraup bibir mungil itu dengan rakus. Tangannya berusaha membuka kaos yang dikenakan oleh Maisya, namun tiba-tiba...
"Aduh, Pa, kayaknya kita salah waktu deh datang ke sini!" teriak Mama Sarah langsung berbalik menghampiri suaminya yang ada di ruang keluarga bersama Zean, setelah melihat pemandangan yang sangat memalukan.
Sementara Maisya merapikan kembali baju yang hampir terlepas dari tubuhnya. Kemudian turun untuk membantu Zifran yang terjatuh dilantai dengan posisi duduk akibat dorongan keras darinya.
"Aduh... maaf banget, kak, aku nggak sengaja," ucap Maisya prihatin dengan kondisi Zifran.
"Kalau mau dorong ya kira-kira, Yang. Ini sakit loh."
"Ya maaf. Kak, itu..." tunjuk Maisya kearah benda berurat yang terkulai lemas mengenaskan.
Rasanya Maisya ingin tertawa melihatnya yang sudah lemas tak berdaya sebelum perang di mulai.
Zifran hanya bisa tersenyum kecut melihat keadaan pusaka yang ia banggakan langsung menciut, dan kembali memasukannya ke dalam celana.
'Sialan! Gara-gara Mama si Otong jadi kena mental,' batinnya yang mengumpat kesal.
"Udah nggak pa-pa. Nanti kita lanjutkan aja di kamar," jawab Zifran, lalu beranjak dari sana untuk menghampiri kedua orang tuanya.
Begitupun dengan Maisya.
*
*
*
Wanita itu selalu menunduk tak berani menatap sekelilingnya, apalagi Mama Sarah karena kejadian yang memalukan itu. Padahal semua itu tak di sengaja dikarenakan Mama Sarah datang mengantarkan masakan untuk makan malam anak dan menantunya. Tapi justru semua di luar dugaan.
Di sampingnya, Zifran yang tampak bodo amat memiringkan kepalanya sedikit lebih dekat dengan Maisya. Kemudian berbisik padanya, "Kenapa diem aja? Kamu sakit?"
Maisya menggeleng cepat.
'Aku bukan sakit, Kak. Tapi malu,' batin Maisya.,g
Rasanya untuk bersuara pun ia malu. Bagaimana tidak. Kejadian yang bersifat pribadi harus terlihat oleh Mama mertuanya dan itu saat dirinya sedang mengoral ular kadut yang dalam kondisi tegang maksimal.
Huuuu... rasanya Maisya ingin mengubur dirinya dalam-dalam di tengah hutan antah-berantah yang tak ada satupun orang yang melihat dirinya.
Mama Sarah yang melihat kelakuan menantunya hanya bisa tersenyum penuh arti.
Sedangkan Papa Arya bingung melihat ketiga orang yang ada di hadapannya. Seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Atau mungkin ada sesuatu yang ia lewatkan.
Zifran masih merasa kesal pada Mamanya. Gara-gara kehadiran wanita , kegiatan mereka harus terhenti begitu saja tanpa akhir yang memuaskan.
"
*
*
*
__ADS_1
Setelah kepulangan Mama Sarah dan Papa Arya, Zifran membawa Maisya untuk beristirahat. Si calon Papa itu tidak ingin melihat sang istri merasa capek apalagi sampai kelelahan, karena itu sangat mempengaruhi tumbuh lembah calon buah hati mereka. Dan tentunya Zifran tidak ingin jika sesuatu sampai terjadi pada Maisya.
Tanpa terasa jam sudah berlalu begitu cepat. Dan telah menunjukkan pukul 21:12 WIB. Sambil berbaring di samping Maisya, tangan Zifran senantiasa mengusap perut rata sang istri. Rasa itu sangat nyaman dan mungkin menjadi favoritnya saat ini.
"Kak, jangan dielus-elus geli tau!" sarkas Maisya menggeser tangan Zifran dari perutnya.
"Tapi, kakak suka, sayang. Jangan larang kakak kenapa untuk lakuin hal ini? Kakak mau memberikan kasih sayang kakak sama dia meskipun dia masih kayak cebong. Mana tau setelah ini dia langsung berubah ya 'kan?" sanggah Zifran yang tetap dengan kegiatannya.
"Apaan sih nggak jelas banget. Udah mau jadi Papa ngomong kok nggak di saring. Lagian tuh ya, kak, semua itu butuh proses nggak langsung jadi bayi. Gimana sih!"
Zifran terus mengusap perut Maisya tanpa memperdulikan ocehan yang istrinya. Rasanya semenjak Maisya hamil semakin cerewet dan selalu paling benar.
Apa iya jika wanita hamil seperti itu? pikirnya.
Tak lama kemudian, Zifran bangkit dari tidurnya saat mengingat sesuatu yang sejak tadi mengganjal dipikirannya.
"Kakak mau kemana? Di sini aja," tanya Maisya yang tak ingin ditinggalkan Zifran.
"Tunggu sebentar, sayang, kakak mau ambil sesuatu. Nggak lama kok."
Pria itu berjalan ke arah keranjang pakaian kotor yang ada di sudut kamar. Mengobrak-abrik pakaian, mencari sesuatu. Setelah menemukan, Zifran kembali ke tempat Maisya.
"Apa itu, kak?"
Maisya melihat sebuah kertas yang dipegang Zifran.
"Tadi Papa kasih tiket buat kita bulan madu. Rencananya sih Minggu, ini kakak mau ajak kamu honeymoon, sayang. Tapi setelah tau kamu hamil, kayaknya kita nggak perlu ini deh. Ya 'kan?"
Maisya langsung merebut dan membaca kertas tersebut.
"Wah....! Ini tiket bulan madu ke Sidney?"
"Kamu mau?" tanya Zifran melihat raut wajah bahagia Maisya.
Maisya langsung mengangguk dan berkata, "mau. Tapi...."
"Kita akan pergi ke sana, tapi setelah kamu lahiran dan kita akan membuat cebong Made in Sidney, Oke?"
Maisya langsung menghambur, memeluk tubuh Zifran. Menikmati aroma tubuh sang suami yang membuatnya merasa nyaman. "Terimakasih, kak."
Wanita itu semakin larut dalam dekapan Zifran, sampai sesuatu mengejutkan, membuat Maisya menepuk jidatnya mengetahui ponselnya yang masih ia silent sejak tadi.
Buru-buru ia mengambilnya di tas, kemudian melihat daftar panggilan tak terjawab dan juga pesan dari WA.
"Kenapa wajah kamu panik gitu, sayang? Apa ada masalah?" Zifran melihat perubahan wajah tegang Maisya.
"Kayaknya aku harus antisipasi sebelum kerajaan api menyerang, kak."
"Kerajaan api? Memangnya ada apa?"
Maisya menunjukkan ponselnya pada Zifran. Di sana tertera 26 panggilan tak terjawab dan pesan WA dari Alya. 14 panggilan tak terjawab dan 10 pesan WA dari andin. Dan belum lagi dari Leon sebanyak 34 panggilan tak terjawab dari Leon.
"Hehehe.... aku lupa nggak kasih tau mereka kalau aku nggak masuk kuliah hari," ucap Maisya cengengesan.
__ADS_1