
Siang ini sekitar pukul 10, cuaca cukup menyengat kulit bagi siapa saja yang berada di bawah sinarnya.
Terdengar suara sorak-sorai memenuhi tribun penonton yang memadati lapangan basket SMA Bunga Darma.
Suara teriakan penonton yang berasal dari para siswa dan siswi yang tengah memberi semangat kepada pemain kebanggaan mereka yang saat ini sedang bertanding basket melawan antar sekolah.
Namun yang menjadi titik fokusnya kini adalah teriakan heboh para siswa yang menyemangati makhluk tercantik diantara para pemain basket yang lain. Bagaimana tidak? Diantara mereka hanya Maisya lah perempuan satu-satunya.
Kok bisa?
Karena kemampuan Maisya dalam bidang olahraga terutama basket tidak dapat diragukan lagi dan membuatnya terpilih menjadi captain dari tim Puteri. Makanya pelatih sekolah meminta Maisya untuk membantu tim putera yang di pimpin oleh Leon sebagai captain nya.
"MAISYA. AYO DONG SEMANGAT!!" teriak siswa yang ada di bangku penonton sambil bertepuk tangan dengan hebohnya.
"JANGAN KASIH KENDOR, SYA!" teriak siswa yang satunya saat Maisya mendribble bola kearah ring lawan.
"AWAS SYA DI BELAKANG LO!!" teriak siswa yang duduk di pinggir lapangan.
"WOY, JANGAN MAIN KASAR DONG SAMA BEBEB GUE!" Teriak seorang pria tak terima saat Maisya terjatuh karena permainan yang tidak sportif.
Dan masih banyak lagi berbagai teriakan dengan beragam ekspresi yang mereka tunjukkan hanya untuk satu nama, yaitu Maisya.
Sedangkan para siswi menutup telinga mereka kala mendengar teriakkan para makhluk pecinta Maisya. kalau pun mereka berteriak, sudah tentu pasti akan kalah jika dibandingkan dengan mereka kaum pria.
Di sisi lain Maisya yang sempat terjatuh menepi kepinggir lapangan ketika 'water break ' untuk mengobati lututnya yang terluka akibat jegalan dari lawan mainnya.
"Lo nggak papa, Sya?" ucap Leon si captain basket. Cowok yang selalu menyatakan cintanya namun berkali-kali di tolak Maisya.
"Nggak papa kok." balas Maisya sambil membalut lukanya.
"Ke UKS aja ya, biar lo di gantiin sama yang lain," Leon berjongkok memperhatikan luka Maisya.
"Nggak perlu, gue masih sanggup kok. Lagian entar lagi juga selesai, kan?"
"Yuk balik kelapangan, waktu istirahat udah selesai." timpalnya.
Setelah selesai membalut lukanya, Maisya dan Leon kembali ketengah lapangan dan melanjutkan permainan mereka yang sempat tertunda karena waktu.
Saat ini permainan cukup sengit diantara dua kubu yang saling memperebutkan skor. Tidak ada permainan yang sportif yang mereka lakukan, kini waktunya Maisya beraksi untuk membalas perlakuan yang mereka lakukan kepadanya beberapa waktu lalu.
Dengan gerakan gesit dan lincah, Maisya berlarian kesana-kemari mencari partner yang cocok untuk menangkap bola saat ia menyadari bahwa dirinya mulai terkepung oleh lawannya dari segala sisi hingga tak ada celah untuknya bisa lolos.
Saat situasi tak memungkinkan, sambil mendribble bolanya, Maisya menatap fokus ke depan tepat ke arah Ring basket lawannya. Dengan gerakan memutar, Maisya mencoba untuk menghindar ketika lawan hendak merebut bola yang ada di tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Maisya yang melihat waktu hampir usai, ia melompat setinggi yang ia bisa, dan langsung menembakkan bola itu kedalam ring yang jaraknya lumayan jauh. Namun dengan keyakinan sepenuh hati, akhirnya bola yang Maisya tembakan tepat sasaran dan...... Masuk.
Bersamaan dengan itu terdengar bunyi Pluit panjang dari wasit.
"YEAY KITA MENANG!!"
__ADS_1
"KEREN LO SYA."
"GOOD JOB SYA!"
Terdengar suara riuh tepuk tangan dan sorak-sorai dari penonton yang menyaksikan pertandingan hingga akhir.
Acara pertandingan telah usai, kini mereka saling bersalaman satu sama lain sebagai tanda persahabatan antar sekolah.
"Selamat ya! Lo hebat juga ternyata, dan maaf untuk yang tadi," ucap seseorang yang mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Maisya.
"It's okay. Gue nggak papa kok, dan makasih atas pujiannya." Maisya tersenyum menerima uluran tangan dari lawan mainnya. kemudian Maisya melanjutkan sesi salaman nya kepada lawan mainnya yang lain.
Setelah selesai acara salam menyalami, Maisya berjalan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggunya di pinggir lapangan basket.
"Sumpah, Lo tadi keren banget Sya!" puji Andin. Salah satu sahabat Maisya selain Alya.
"Iya keren. Sangking kerennya jadi pengen nutup mulut lo yang nggak ada akhlaknya teriak di telinga gue." omel Alya.
Maisya yang melihat adu mulut antara kedua sahabatnya bukan menengahi, malah menjadi kompor bagi Alya.
"Kalau gue jadi lo, udah blacklist dia jadi temen gue." ucap Maisya melirik kearah Andin.
"Sialan lo."
Andin melemparkan botol minuman kearah Maisya, dan itu tepat sasaran mengenainya. Tak tinggal diam, Maisya yang merasakan sakit di kepalanya pun membalas perlakuan yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
Di sisi lain. Sebuah mobil sport mewah baru saja terparkir di pekarangan sekolah SMA Bunga Darma. Terdengar suara teriakan histeris dari murid terutama para wanita, saat melihat siapa yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah tersebut.
Pria itu berjalan dengan santainya hingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona oleh ketampanan dirinya.
Sementara di lain tempat.
"Eh, berhenti-berhenti. udah dong jangan kayak bocah Napa?" ucap Alya yang melerai pertikaian antara Maisya dan Andin.
"Tuh liat, ada apa rame-rame!" tunjuk nya kearah kerumunan.
Seketika keduanya menghentikan pertikaian yang terjadi. "Palingan juga anak-anak itu pada mau balik." ucap Maisya menunjuk salah satu anak basket yang menjadi rival nya barusan.
"Oh," jawab keduanya kompak.
"Eh tunggu! Kayak nggak mungkin deh karena anak SMA Tunas Bakti?" ucap Alya menyebutkan nama sekolah dari anak basket yang bertanding dengan sekolah nya.
"Atau jangan-jangan?" ucap Andin terhenti saat ia sedang memikirkan sesuatu. "Anjir, gue lupa!" sambungnya sambil memukul pundak Maisya dengan sekuat tenaganya.
Setelah menyadari siapa yang datang, Andin berlari ke arah yang menjadi tujuannya. Namun sayang, ia harus kembali berurusan dengan Maisya.
"Woy, tunggu! Sialan lo!"
Teriak Maisya sambil berlari mengejar Andin. Maisya yang melihat bola basket menghentikan langkahnya, kemudian ia mengambil bola tersebut dan melemparnya kearah Andin, "MAMPUS LO!" teriaknya.
__ADS_1
BUGHH!!
"Shitt." umpat seseorang.
Sementara Maisya yang melihat tembakannya meleset menelan salivanya dengan susah payah, "Mampus. Mati gue," monolog nya sendiri.
Melihat seseorang yang sedang menahan sakitnya, Maisya segera menghampiri orang tersebut yang sudah dikerumuni banyak orang. Termasuk Andin dan guru yang melihat kejadian itu.
"Anda tidak apa-apa pak?" tanya seorang guru yang membantunya.
"Hem" jawabnya singkat.
Maisya yang baru sampai langsung membelah kerumunan. "Maaf pak, saya nggak--" ucap Maisya terhenti saat melihat siapa orang yang ia lukai barusan.
Begitupun dengan pria itu, ia yang semula menundukkan kepalanya karena pusing, kini saat mendengar suara yang ia kenal pria itu langsung mengangkat wajahnya.
"OM. LO!" teriak keduanya bersama. Sementara Maisya semakin sulit untuk menelan ludahnya yang tersangkut di dalam tenggorokan.
Maisya yang menyadari akan situasi yang ada, dengan segala keberanian yang ia punya Maisya berbalik badan dan hendak lari. Namun sayang, tangannya sudah dicekal terlebih dahulu.
"Mau kemana lo? Tanggung jawab." tegas pria itu.
Maisya membalikkan tubuhnya, "Sorry om, gue nggak sengaja."
"Jangan panggil gue om. Gue bukan om lo, ngerti!" ucap pria yang di panggil om. pria itu adalah Zifran.
"Cepetan tanggung jawab."
"Tanggung jawab apaan?"
"Ya tanggung jawab karena Lo udah ngelempar kepala gue pake bola."
Selagi keduanya beradu mulut, seluruh manusia yang ada di sekitarnya hanya bisa menyaksikan drama yang sedang berlangsung secara live.
Hingga suara seseorang menghentikan keduanya, "Anda tidak papakan, pak? Maaf atas ketidak nyamanan yang di lakukan oleh murid kami. Sekali lagi saya minta maaf," ucap kepala sekolah yang baru saja tiba. Zifran tidak berkata sepatah pun.
"Mari pak, saya antar keruangan Bapak."
Akhirnya Zifran mau menuruti permintaan kepala sekolah. Namun sebelum itu, "Suruh dia keruangan saya!" Zifran berjalan sambil melirik kearah Maisya.
"Baik pak!" jawab kepala sekolah yang menatap Maisya sambil menggerakkan kepalanya kearah kanan seakan berkata 'ikut saya'. Begitulah kira-kira.
Dengan berat hati Maisya pun mengikuti kepala sekolah yang membawanya entah kemana. Dan seluruh siswa dan siswi maupun guru kembali ke tempatnya masing-masing. Namun berbeda dengan kedua sahabat Maisya, mereka mengikuti Maisya sampai di depan pintu ruangan yang di tuju.
...****...
🍂Hai semua...
jumpa lagi sama author yang amatir ini.
__ADS_1
Bagi kalian yang udah baca cerita ini, jangan lupa like, vote dan coment nya dong. Satu lagi, jangan lupa klik favorit biar kamu nggak ketinggalan update terbaru dari TCSC.
like dan coment kalian author tunggu. Terimakasih 🙏🍂