Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Semua karena Zifran


__ADS_3

Drettt drettt drettt


Suara dering ponsel kembali menyapa Indra pendengaran mereka berdua.


Zifran dengan rasa kesalnya melepaskan pagutannya mereka. "Shi***!" umpatnya kasar kepada seseorang yang menelponnya.


"Tunggu sebentar kakak terima telepon dulu," ucapnya sambil mengusap bibirnya Maisya yang basah karena ulahnya.


"Hem." Maisya menundukkan wajahnya malu menutupi semburat merah diwajahnya saat menatap wajah Zifran.


Zifran merogoh ponsel yang berada di saku celananya dan melihat siapa orang yang berani mengganggunya. Ia meletakkan ponsel di telinganya menjawab panggilan dari seseorang.


"Halo, Fran. Lo dimana? Dari tadi gue nyariin lo di pesta, gue tanya sama sekretaris lo dia aja nggak tau lo ada di mana!" cerocos seseorang dari seberang sana.


"Gue lagi nyari udara segar, ada apa?" ucap Zifran sesekali melirik kearah Maisya. Gadis itu mengangguk tersenyum.


"Gue menyusul lo ya, gue kangen banget sama lo. Lo dimana, biar gue ke sana?"


"Nggak usah Casa, entar lagi gue balik kok!"


"Gitu ya. Ya udah deh gue tunggu lo di apartemen gue ya, bye! Muach!" ucapnya memberikan ciuman jarak jauh kepada Zifran.


"Iya-iya, dah lah gue tutup dulu!" tanpa berkata-kata lagi Zifran langsung memutuskan panggilannya.


Setelah itu ia menyimpan kembali ponsel itu kedalam saku celananya.


"Siapa kak?" tanya Maisya.


"Casandra, temen kakak."


"Ooooh, Tante lohan toh!" celetuk Maisya tak bersalah.


"Kok Tante lohan sih Sya?" tanya Zifran bingung. Ia menatap gadis itu meminta jawaban.


"Ya iyalah, emang kakak nggak lihat ya bibirnya yang kayak ikan lohan. Tebal atas tebal bahwa. Pfffftttt!" ucap Maisya menahan tawanya.


"Kamu nih seneng banget ngatain dia. Mmmm mau di lanjutin lagi?" kini Zifran menatap Maisya dengan raut wajah yang tak terbaca.


"Kak, anterin pulang yuk! Ini udah malem gue takut bokap gue nyariin," ucap Maisya mengalihkan pembicaraan mereka. Ia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan jam 22:15 wib.


'Sorry kak, gue takut jantung gue lemah karena lo.' batinnya


"Yuk! Kenapa nggak bilang dari Sya?" Zifran bangkit dari duduknya. Namun sebelum itu,


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat di bibir Maisya dari Zifran sang pelaku.

__ADS_1


****


Maisya melambaikan tangannya kearah mobil yang di tumpangi oleh Zifran. Setelah kepergian Zifran dari kediamannya Maisya bergegasemasuki rumahnya.


Tetapi, tanpa ia duga sepasang mata kini tengah menatapnya tajam. Dihadapannya, sesosok pria paruh baya berdiri dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Maisya menghentikan langkahnya saat melihat sang Papa berdiri di depannya, ia menundukkan wajahnya menyadari akan kesalahannya yang telah ia perbuat.


"Kemana ponsel kamu? Kenapa dari tadi papa telepon tapi tidak kamu angkat. Apa yang sedang kamu lakukan di luaran sana Maisya!" pertanyaan tegas beruntun dari Papa Bram.


"Maaf Pa, tadi tas Maisya tertinggal di dalam mobil temen Maisya," jawab gadis itu sembari memainkan jari jemarinya untuk mengurai rasa takutnya.


"Masuk!" titah tegas Papa Bram.


Maisya berjalan menuju ruang keluarga terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh sang Papa.


"Duduk!" seru Papa Bram memberi perintahnya kembali. Maisya pun menurutinya.


"Darimana saja kamu Sya? Sudah jam berapa sekarang! Kenapa kamu baru pulang? Huh!" tanya Papa Bram dengan aura dinginnya.


Maisya hanya menundukkan wajahnya tanpa berani menatap wajah sang Papa jika sedang dalam mode begini.


Merasa tak mendapatkan jawaban Papa Bram mendekati putrinya. Ia duduk bersebelahan dengan Maisya yang masih enggan menatapnya.


"Jauhi dia Sya!" ucap Papa Bram dengan wajah datar namun tegas.


"Jauhi CEO ZA group. Papa tidak mau kamu memiliki hubungan dengan pria seperti dia."


Ia cukup tahu siapa itu Zifran Alanta dan seperti apa orangnya.


"Tapi Maisya cuma temenan doang Pa, nggak lebih!" sangkal Maisya.


"Apapun itu, pokoknya kamu harus jauhi dia Sya, Dia itu bukan laki-laki yang baik. Kamu harus tau itu! Lagian kamu masih sekolah Sya, buang jauh-jauh pikiran kamu buat pacaran. Papa tidak akan pernah mengijinkan kamu sebelum kamu selesai pendidikan kamu di SMA. Mengerti kamu!" jelas sang Papa.


"Tapi nggak bisa gitu dong Pa-" ucapan Maisya terpotong.


"Tidak ada tapi-tapian. Kamu menger-"


"Papa egois!" Maisya berlari menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Setelah kepergian putrinya, Papa Bram menyugar rambutnya frustasi. Ia berharap putrinya itu akan mengerti tentang ke khawatiran nya saat ini.


Sejak di pesta itu ia selalu memperhatikan keduanya yang tampak begitu akrab. Apalagi disaat pria itu memeluk tubuh putrinya sungguh ia amat tidak menyukainya.


****


Zifran yang baru saja tiba di apartemennya langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamunya.

__ADS_1


Ia merogoh ponsel yang berada di dalam saku celananya. Setelah membuka password, Zifran segera menghubungi sahabatnya, Arlan.


"Hal-" ucap Arlan namun terpotong.


"Dimana lo?" tanya Zifran to the point.


"Di jalan, mau ke apartemen lo. Kenapa?"


"Ya udah gue tunggu. Tapi dalam waktu lima belas menit lo nggak nyampe, gaji lo bakal gue potong."


Zifran langsung mengakhiri panggilan teleponnya. Sementara Arlan yang berada di seberang sana menggeleng tak percaya dengan permintaan konyol boss nya itu.


"Aishhh. Emang gila tuh anak, yang bener aja lima belas menit. Dia pikir ini jalan bapaknya yang bikin!" omel Arlan.


Tanpa ia sadari dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat pengguna jalan lain tak segan-segan mengumpatnya kasar.


Tak butuh waktu lama untuk Arlan segera tiba di apartemen Zifran.


"Ah, sia*lan lo. Gara-gara lo gue hampir mati sat!" ucap Arlan nyelonong masuk saat Zifran baru saja membuka pintunya.


"Emangnya ada apa lo nelepon gue sampai nyuruh gue buat cepet-cepet?!" Arlan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa.


Zifran menyusul Arlan. "Nggak ada! Gue bosen aja, main PS yuk!" ucapnya santai.


"What!!" pekik Arlan. "Yang bener aja lo! Gue hampir mati cuma gara-gara nemenin lo main game. Wah, parah lo Fran!" omel pria itu.


"Mau apa nggak, nggak usah banyak drama Lo disitu."


"Kuy lah!"


Akhirnya mereka berdua berpindah tempat. Duduk lesehan di karpet sambil memegang stik game nya masing-masing.


"Eh, Fran. Tadi Lo di tanyain tuh sama Casandra. kayaknya dia pengen banget ketemu lo," ucap Arlan sesekali melirik Zifran.


"Biarin aja, tadi dia juga udah nelepon gue, nyuruh gue datang ke apartemennya, tapi malem ini gue lagi males." Pandangan Zifran masih terfokus didepan layar.


"Lah, pasti dia lagi uring-uringan tuh!"


"Bodo amat!" saut Zifran cepat.


Benar saja yang dikatakan oleh Arlan. Saat ini Casandra tengah mengomel, menggerutu karena yang ia tunggu tak juga menampakkan batang hidungnya. Padahal ia malam ini sudah menyiapkan segala keperluan untuk mereka berdua.


Mulai dari baju ha*ram sudah ia kenakan. Minuman energi sudah ia racik. Sampai-sampai sarung Batman berbagai bentuk sudah ia siapkan. Namun apa yang ia dapatkan, hanya menunggu ketidakpastian dari yang ditunggu.


"Ck. Menyebalkan."


Casandra membuang ponselnya ketempat tidur setelah menelepon Zifran yang nomornya tidak aktif.

__ADS_1


__ADS_2