
Setelah kejadian beberapa waktu lalu Zifran memutuskan untuk mengantar Maisya kembali kerumahnya.
Di dalam kamar berwarna biru muda Maisya merebahkan tubuhnya seraya menatap wajah tanpa dosa dari pria yang selalu membuatnya kesal.
"Kak Zi, cukup hari ini aja lo nyiksa gue, sumpah kak, sakit banget kaki gue. Nih liat nih makin bengkak kan, kak!" Maisya menunjukkan kakinya kepada Zifran.
"Maafin kakak ya? Kakak kapok Sya, nggak bakal isengin lagi tuh herder. Mau minum?"
"Boleh deh!"
Zifran memberikan segelas air putih kepada Maisya.
"Makasih kak!" Maisya menerimanya. Pria itu membalasnya dengan senyuman.
****
Lo jadikan Yon, ke rumah Maisya?" tanya Alya menghampiri Leon.
"Ya jadilah!"
"Awas kalau lo macem-macemin sahabat gue, habis lo!" ancam Andin.
"Lo kenapa sih kalau sama gue kayaknya musuh banget lo." Leon menatap Andin nyalang.
"Awas benci jadi cinta loh?!" goda Alya.
"Amit-amit!" jawab keduanya kompak menatap ke arah Alya.
"Tuh kan, bener?!"
"Ba*cot Lo!"Andin meninggalkan Alya dan Leon di parkiran. sedangkan ia langsung masuk ke dalam mobilnya.
****
"Papa kamu kok nggak pernah nampak ya Sya? Apa karena kakak yang kurang perhatian ya?" tanya Zifran sambil rebahan di tempat tidur Maisya.
"Bokap gue orangnya sibuk kak, jarang di rumah dan jarang ada waktu buat gue. Makanya gue sering ngabisin waktu bareng sama sahabat gue. Dan juga elo." Zifran hanya ber'oh'ria.
"Lo nggak balik ke kantor kak? Ini udah jam tiga loh, entar Lo telat lagi!"
"Nggak lah! Kalaupun telat, pasti mereka bakal nungguin kakak, nggak mungkin mereka meeting tanpa CEO mereka." ucap Zifran dengan sombongnya.
Maisya memutar bola matanya jengah. "Ck! Dasar CEO mesum," gumamnya lirih.
Tok tok tok tok
"Siapa Sya?" tanya Zifran bangun dari rebahannya.
"Palingan Bi Na. Cepet kak, bukain pintunya."
Zifran berjalan menghampiri pintu sesuai dengan perintah gadis itu.
Ceklek!
"Ada apa Bi?" ketika pintu terbuka dan menampilkan dirinya.
"Itu Den, ada temennya Non Sasa yang mau ketemu, apa boleh?" tanya Bi Nana memastikannya.
__ADS_1
"Boleh Bi, silahkan!" Jawab Zifran ramah.
Setelah mendapat izin Bi Nana bergegas kembali kelainan bawah.
"Silahkan Den," Bi Nana mempersilahkan Leon.
"Terimakasih Bi!"
Pria itu melangkah menaiki tangga dengan perasaan bahagia dan senyum yang tak pernah memudar jika bersangkutan dengan sang pujaan hatinya.
Ceklek!
Leon membuka pintu kamar Maisya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Pandangannya tertuju pada sosok yang berbaring di tempat tidurnya.
Leon menghampiri Maisya. "Udah baikan?" tanyanya basa-basi.
"Lumayan. Lo sama siapa kesini?"
"Sendirian, tadi gue mau ngajakin Alya tapi dia lagi sibuk."
Tanpa pemuda itu sadari sepasang mata tengah memperhatikannya.
"Silahkan duduk Yon!"
Leon duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Zifran. Namun pria itu berpindah sejak mengetahui teman gadis itu akan datang menjenguknya.
"Kaki lo kok bengkaknya nggak berkurang sih Sya? Lo banyak gerak ya?" Selidik Leon membolak-balikkan kaki Maisya yang sakit.
"Bokap lo udah pulang kerja ya Sya?" sambungnya.
"Belum! Kenapa?"
Ekhem!
Ucapannya terhenti saat ia mendengar seseorang berdehem. Leon menolehkan wajahnya ke belakang menatap seseorang dengan santainya bermain ponsel.
"Itu...... kok ada disini Sya??" terlihat raut wajah kebingungan dari Leon. Pemuda itu berbalik menatap wajah Maisya, meminta jawaban kepadanya.
"Dia temen gue Yon," ucap Maisya memperkenalkan Zifran. pemuda itu berjalan menghampiri Zifran yang duduk di sofa yang terletak tidak jauh darinya.
"Maaf pak, saya kira Bapak pacarnya Maisya. Kenalin pak, nama saya Leon calon masa depannya Maisya!" Leon mengulurkan tangannya.
"Pak! Sejak kapan saya menikah dengan ibu kamu?!" Zifran tak terima dengan panggilan yang di gunakan untuknya.
"Mmmm, ma-maaf Om."
"Sejak kapan saya menikah dengan Tante mu?!" saut Zifran cepat.
'Jadi gue harus manggil apa ke elo Bambang! Sumpah! Ngeselin banget nih orang.' gerutunya dalam hati. Pria itu menarik tangannya kembali.
"Jadi gue harus manggil lo apa?"
"Terserah kamu!" balas Zifran seraya memainkan ponselnya.
Leon seketika ingat gerutuan yang ia layangkan untuk pria yang ada dihadapannya. "Sorry Mbang, ini panggilan terakhir buat elo. Gue harap Lo suka!" ucap Leon yang sudah frustasi karena Zifran.
"Boleh juga, Seenggaknya gue nggak terlalu tua." Zifran tidak menyadari dengan yang di ucapkannya barusan.
__ADS_1
'Emang dasar Bambang.' batin Leon tersenyum.
"Acaranya seminggu lagi, apa Lo siap Sya, dengan keadaan lo yang cidera gini?" Leon duduk di tempatnya semula.
"Siap.Demi kalian semua gue siap! Gue nggak mau ngecewain kalian yang tentu udah berharap banget sama gue."
"Tapi gue takut entar Lo kenapa-napa Sya?!" wajah Leon terlihat khawatir.
"Lo tenang aja, percayakan sama gue?"
"Bahas apa sih kalian, serius amat!?" Zifran mulai kepo setelah menyimak pembicaraan mereka.
Leon dan Maisya sontak mengarahkan pandangannya ke arah Zifran "Kepo!!" ucap mereka kompak.
****
Malam semakin larut, dinginnya udara kian menyapa membawa angin berhembus merdu di tengah indahnya ibukota.
Maisya, gadis cantik yang tengah duduk di balkon kamarnya memandang hamparan bintang yang bertaburan di langit yang gelap namun indah karenanya.
Seketika perhatian gadis itu teralihkan oleh derap langkah yang mendekatinya. Seorang pria yang terlihat tampan meski di umurnya yang sudah menginjak kepala empat tak mengurangi auranya.
Pria itu ialah sang Papa. Papa yang selalu ia tunggu kepulangannya. Pria yang seharusnya selalu ada disaat ia butuhkan. Pria yang selalu ia butuhkan kasih sayangnya. Pria yang telah mengubah segala kehidupan yang ia impikan sebelumnya.
Perlahan tangan papa Bram terulur menyentuh pundak putrinya, mendekapnya penuh kehangatan. Kehangatan yang sangat amat jarang ia berikan untuk putri semata wayangnya itu.
"Kenapa belum tidur. Hem! Nungguin papa?" tanya Papa Bram.
"Hiks... hiks... hiks."
Di dalam dekapan sang papa kini Maisya menampilkan sisi rapuhnya.
Seorang gadis kecil yang di tinggal sang Mama tujuh tahun lalu yang tidak memiliki sandaran untuk berbagi kisah dan memberinya kasih sayang.
"Kenapa menangis!" papa Bram menangkup wajah putrinya.
"Papa ja-jahat. Kenapa pa-pa nggak... hiks, pernah ne-nemen-in Maisya. Papa selalu a-ja s-sib-uk." Maisya berkata Sambil tersedu-sedu.
"Maafin papa Sya, ini semua Papa lakukan buat kamu. Papa ingin melihat kamu bahagia Nak!"
Maisya melepaskan pelukannya berjalan menuju kursi yang ada di balkon kamarnya.
"T-tapi bukan i-ini yang Maisya butuh! Maisya but-butuh papa."
"Tapi tanpa uang kamu tidak bisa hidup berkecukupan Sya. Papa tidak mau apa yang terjadi dengan Mama mu itu terjadi sama kamu. Papa tidak mau itu terjadi!" ucap Papa Bram dengan suara meninggi. "Tolong mengertilah Nak," ucap Papa Bram memelas menatap putrinya.
Maisya semakin terisak-isak hingga suara tangisnya tak terdengar. Apakah ia terlalu egois menuntut sang papa untuk bersamanya?
Dengan segenap hatinya, papa Bram mendekati putrinya kembali. "Kamu tahukan jika Mama mu meninggal karena penyakitnya. Itu semua kesalahan papa yang waktu itu tidak mempunyai uang untuk membiayai operasi Mama mu. Jadi sekarang mengertilah Nak, papa sangat menyayangi mu. Sungguh!" Papa Bram memeluk Maisya kembali. Ia mendaratkan kecu*pan singkat di dahi putrinya itu, berharap putrinya dapat mengerti keadaannya.
Maisya mendengar segala ucapan papanya semakin tak kuasa menahan air matanya untuk tidak menetes. Dekapan sang papa membuat hatinya luluh seketika.
Perlahan tangannya terulur membalas pelukan dari papanya. "Maaf. Maafin Maisya yang nggak pernah mengerti tentang papa."
Papa Bram semakin mempererat pelukannya. "Pa, dada Maisya sesak."
Seketika papa Bram melepas pelukannya. "Kamu sakit Sya? Ayo papa antar ke rumah sakit."
__ADS_1
"Bukan Pa. Dada Maisya sesak karena papa meluknya kenceng banget!" ucap Maisya Sambil tersenyum.
"Kamu ini bikin takut papa aja Sya," papa Bram mencubit hidung mancung putrinya.