
Setelah mengantarkan, Maisya kembali ke rumah. Akhirnya, Zifran memutuskan untuk kembali kekantor untuk menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Namun bukannya melupakan, Zifran justru semakin mengingat semua percakapan yah ada diantara mereka. Sekuat apapun mengindari kenyataan, toh dirinya tetaplah seorang pria breng*sek yang akan selamanya tetap seperti itu.
Selama berada di kantor, semua pekerjaan yang ia tangani nyatanya sama selalu tidak membuatnya melupakan kejadian hari ini. Semua bayang-bayang dan perkataan, Amel masih jelas terlintas di dalam pikirannya sampai, Arlan yang harus turun tangan membantu segala sesuatu yang menjadi tegas Zifran.
Sambil menyandarkan tubuhnya di kursi, Zifran menghidupkan pemantik, lalu membakar rokok yang diapit oleh kedua jarinya. Benda yang beberapa bulan lalu ia tinggalkan, kini kembali dibutuhkan kehadirannya untuk menemani kegundahan dalam hatinya saat ini.
Setiap kepulan asap yang dihembuskan membuat Zifran seakan tenggelam dalam ketenangan sesaat. Bukan Hanya sebatang, tapi sudah tiga batang Zifran duduk dan menghabiskan benda ber-nikotin tersebut dengan tatapan kosong memandang langit-langit ruang kerjanya hingga kehadiran Arlan yang langkah tegas menghampiri.
"Lo itu sebenarnya Kenapa sih? Lo lagi ada masalah?" Arlan menarik kursi, mendudukkan tubuhnya di sana.
"Lo kebiasaan kalau masuk nggak pernah ketuk pintu dulu nggak sopan banget," decak Zifran meletakan sisa rokoknya ditempatnya. Ngapain Lo kesini?" Bukannya menjawab justru ia malah bertanya balik pada Arlan.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Gue tau siapa Lo? Lo nggak bisa nyembunyiin apapun dari gue, Fran. Gue paham siapa elo," ucap Arlan mendesak zifran agar mau bercerita padanya.
Zifran mengacak rambut frustasi. "Saat ini gue lagi ada masalah, Ar," ucap Zifran mengusap wajahnya dengan kasar.
"Makanya Lo cerita sama gue, jangan Lo Pendem sendirian karena itu nggak bisa menyelesaikan masalah."
"Tapi gue nggak tau apa yang sebenarnya terjadi sama gue yang nggak tau apa-apa. Dan Lo inget kejadian waktu Lo nyariin gue di club?" Arlan mengangguk. "Saat itu gue udah ngelakuin kesalahan besar sama Maisya karena udah ngekhianati dia."
"Maksudnya? Kalau cerita itu yang jelas, Fran."
"Gue nidurin cewek lain, Ar. Gue mabuk dan gue nggak tau itu." Zifran berkata jujur dan masih merahasiakan fakta jika dirinya akan menjadi seorang Papa. Dirinya tidak ingin melihat kekecewaan dari sahabatnya. Menundukkan wajah diantara lipatan kedua tangan.
"Ah, gila lo, Fran!" ucap Arlan terkejut setelah mendengar penuturan pria itu. Arlan yang semula duduk, seketika bangkit, menatap tajam Zifran. "Lo bener-bener gila, nggak punya otak! Sekarang kalau udah kayak gini, siapa yang sakit? Maisya, Fran!" maki Arlan geleng-geleng dengan kelakuan sahabatnya.
"Gue tau gue salah. Gue juga nggak pengen hal ini terjadi. Tapi gue dijebak, Ar. Minuman gue dikasih obat perangsang, terus gue bisa apa? Setelah itu gue nggak inget apa-apa lagi dan waktu gue bangun... Arrggghh, sial! Gue nggak bakal maafin dia," tutur Zifran yang terlihat emosi, bahkan untuk melanjutkan cerita saja ia tidak mampu membayangkan kembali pengkhianatan itu.
Arlan melihat Zifran hanya bisa merutuki kebodohan atasannya yang selalu bertindak sesuka hati tanpa memikirkan akibat setelahnya. Sudah berulang kali pria itu memperingatkan, namun ucapannya tidak pernah dihiraukan.
"Terus, apa sekarang cewek itu hamil dan minta tanggung jawab lo, Fran? Makanya Lo jadi berubah kayak tadi?"
Ukhuk!
Ukhuk!
Ukhuk!
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Zifran tersedak asap rokok yang ia hisap. Berulang kali pria itu menepuk-nepuk dadanya tang terasa panas. Meletakkan kembali sisa rokok yang baru ia bakar itu di atas meja.
"Kok Lo tau?" tanya Zifran menatap Arlan dengan rasa penasaran.
"Lo itu emang baji*ngan sejati, Fran. Tega Lo ngelakuin itu sana Maisya. Kali ini gue nggak ikut campur sama urusan begini. Terus terang gue kecewa banget sama lo. Dah lah, gue balik. Lama-lama bareng lo, gue takut khilaf buat nonjok tuh muka. Gue harap, Lo bisa nyelesaiin ini baik-baik."
Sebelum pergi, Arlan menepuk bahu, Zifran memberi kekuatan untuk sahabat.
"EMANG SIALANNN!" teriak Zifran setelah kepergian Arlan dari ruangannya.
Prang!!!!
Meja kerja yang terbuat dari kaca seketika hancur berkeping-keping dengan pecahan kaca yang berserakan di mana-mana akibat Zifran memukulnya sekuat tenaga. Semua barang-barang yang ada di atas meja pun sekejap berjatuhan di lantai.
Dengan darah segar yang mengucur deras membasahi lantai berwarna putih kebiruan karena serpihan kaca yang ia genggam. Bahkan hancurnya meja itu tak begitu berarti jika di bandingkan dengan kehancuran hatinya saat ini. Membiarkan darah itu terus keluar dari luka yang tergores.
Tidak sampai di situ, Zifran kembali melayangkan kursi yang sebelumnya diduduki Arlan sembarangan arah yang mengenai figura yang ada di dinding samping kanan
Prang!!
Suara pecahan kembali terdengar di ruangan tersebut. Namun dapat di lihat oleh Arlan yang berada di ruangan samping.
Tak berselang lama, suara ponsel yang berada diantara tumpukan kertas yang berbaur dengan kaca. Zifran mengambilnya, langsung menekan tombol ikon hijau untuk mengangkat.
"Ha-halo," sapa Zifran terbata-bata karena menahan sesak di dada.
".........."
"Aku aku masih banyak pekerjaan yang-"
".........."
"Baiklah, aku akan segera pulang."
Dengan cepat Zifran bangkit dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas sambil berjalan keluar dari ruangan yang terlihat seperti kapal pecah. Berserakan kesana-kemari tanpa ada yang membersihkannya.
"Mau kemana?" tanya Arlan melihat kepergian Zifran.
__ADS_1
"Pulang."
*
*
*
"Bagaimana keadaan, Mama, Pa?" tanya Zifran ketika sampai di kamar Mamanya.
Arya yang melihat putranya berjalan mendekat segera bangkit dari duduknya.
"Kenapa Mama bisa-"
Plak!!
Tiba-tiba ucapan Zifran terhenti saat tangan Papa Arya mendarat mulus di pipinya membuat Zifran menoleh akibat tamparan yang begitu kuat yang dilayangkan Papanya.
"Kenapa, Papa menampar aku?" sambil mengusap bibirnya yang terluka.
"Dasar anak tidak tau diri! Kau sudah mempermalukan Papa dengan kelakuan be*jatmu, Fran! Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin melihat kami mati dengan kelakuanmu ini?!" maki Papa Arya sudah tidak mampu menahan emosi yang menguasai diri.
"Aku nggak ngerti apa maksud Papa. Kenapa Papa nampar aku?" tanya pria itu bertanya-tanya.
Plak!
Untuk kedua kalinya Zifran mendapatkan perlakuan yang sama.
"Gara-gara ulah mu, istriku hampir mati! Apa matamu buta?! Kau tidak melihat Mamamu terbaring di sana. Huh!" Papa Arya menunjuk ke arah ranjang.
"Kenapa kau lakukan ini pada kami, Fran?!" Dengan nada tinggi, pria paruh baya itu meluapkan segala emosi yang sejak tadi ia pendam.
"Sudah, Pa. Percuma kamu pukul Zifran seperti itu. Toh semua yang sudah terjadi tidak akan bisa terulang kembali," sahut Mama Sarah melihat pertikaian diantara keduanya.
"Mama jangan terlalu membela anak tidak tahu diri ini. Dia akan terus mempermalukan kita dengan sikapnya yang seperti binatang karena gara-gara dia, kamu seperti ini," ucapnya pada sang istri.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Pa. Kita bisa membicarakannya baik-baik."
__ADS_1
Zifran yang mengerti kemana arah pembicara mereka hanya bisa menundukkan kepala tak berani menatap wajah Mamanya. Wanita itu terluka pasti karena kelakuan dirinya.