Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kelahiran Baby Zevano Alanta Samudera


__ADS_3

Setelah kekacauan yang terjadi di resepsi pernikahan Arlan dan Alya yang berlangsung beberapa waktu lalu yang membuat panik banyak orang termasuk para tamu undangan, baik Maisya maupun Zifran keduanya langsung di bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan pertama.


Maisya yang terus mengeluarkan air langsung di pindahkan keruang bersalin untuk melakukan pemeriksaan terhadap bayinya. Meskipun bukan rumah sakit besar, namun di sana peralatannya cukup lengkap dan memadai. Wanita itu berbaring di atas brankar di dampingi oleh Mama mertuanya.


Jangan tanyakan di mana keberadaan Zifran saat ini karena pria itu sedang mondar-mandir keluar-masuk toilet. Bukan sakit perut karena diare atau salah makan, menurut penjelasan Mama Sarah itu adalah efek dari kehamilan simpatik yang ia alami yang membuat Zifran semakin uring-uringan.


"Maaf, Mbak bisa dibuka sedikit kedua pahanya?" tanya Dokter yang menangani Maisya.


Maisya terkejut sekaligus malu dengan apa yang baru saja ia dengar. Karena selama ini melihat bagian sensitifnya hanya ia dan suaminya saja. Tapi kali ini...


"Buka, Sya. Nggak pa-pa, nggak usah takut gitu. Rileks. Lagian yang liat punya kamu juga perempuan kok. Udah cepetan di buka," desak Mama Sarah.


"Tapi, Ma, aku malu," jawab Maisya yang tampak biasa-biasa saja. Tak ada raut kesakitan dari wajahnya.


"Nggak pa-pa, sayang. Percaya deh sama Mama."


Setelah diyakinkan oleh Mama Sarah, akhirnya Maisya menuruti perkataan dari bidan tersebut. Dengan menahan malu, dan ragu, pelan-pelan Maisya membuka kedua pahanya.


"Tahan ya, Mbak. Saya akan memeriksa sudah bukaan berapa sekarang." Maisya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.


Dokter Ningsih dengan hati-hati memasukkan jarinya tangannya kedalam area sensitif Maisya. Membuat tubuhnya Maisya tersentak karena terkejut. Bahkan tanpa sadar wanita itu turut mendesah karenanya.


"Ahhhhh... Mmmp."


Dengan cepat Maisya mengatupkan mulutnya kembali. Malu, itulah yang saat ini ia rasakan.


Mama Sarah dan Dokter Ningsih tertawa saat itu juga. Mereka tak menyangka akan seperti ini jadinya. Ruang persalinan yang biasanya mendebarkan kini justru terdengar riuh oleh suara kedua wanita berbeda profesi tersebut.


"Jangan mendesah, Mbak. Kayak saya apa-apain aja. Saya masih normal, Mbak," goda Dokter Ningsih setengah menahan tawa.


"Ini sudah pembukaan enam ya, Mbak. Menurut perkiraan saya sekitar dua satu atau dua jam lagi pembukaannya baru penuh. Tapi tergantung intens-nya rasa sakit yang dialami ya. Semakin sering rasa sakitnya, semakin cepat pembukaan jalan lahirnya," jelas Dokter Ningsih.


"Tapi saya nggak ngerasain sakit apa-apa, Dok."


"Justru yang ngerasain sakit itu anak saya, Dok." Mama Sarah menimpali ucapan menantunya.


"Iya kah?" tanya Dokter itu menautkan kedua alisnya.


*


*


*


Suara rintihan kesakitan terdengar dari ruang bersalin Maisya. Rupanya wanita itu mulai mengalami kontraksi pada pembukaan delapan sekitar setengah jam yang lalu. Begitu merasakan sakit secara intens, Mama Sarah meninggalkan Maisya untuk mencari keberadaan Zifran karena Maisya yang meminta supaya pria itu berada di sampingnya saat ia melahirkan nanti.


Melihat istrinya meringis menahan sakit, hati Zifran tak sanggup untuk melihatnya. Cukup dia saja yang merasakan sakit itu, Maisya jangan. Namun, karena sudah kodratnya wanita, mau tak mau Maisya juga merasakannya. Yang membuat dirinya memahami rasa sakit yang sejak tadi dirasakan oleh suaminya tersebut.


Dengan lembut, Zifran mengusap perut Maisya. Sesekali membisikkan kata-kata untuk calon anaknya yang sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah mereka.


"Hai, anak Papa. Jangan nakal ya, sayang. Kalau kamu mau keluar, keluar lah tanpa harus membuat Mamamu kesakitan seperti ini. Kamu 'kan anak baik. Anaknya Papa," ucap Zifran tak mendapat respon.


"Kak, sakit." Sesekali Maisya menarik nafasnya untuk meredakan rasa itu, namun yang ia rasakan malah semakin sakit.


"Kalau gitu operasi aja ya? Kakak nggak tega liat kamu kayak gini. Kalau boleh milih, biar aku aja yang rasain sakitnya, Sya." Pria itu mengusap air matanya.


Biarpun ia laki-laki, jika melihat orang yang ia sayangi tersakiti, lelaki manapun akan begitupun dirinya.


"Aku nggak mau operasi, kak. Aku mau lahiran normal."


Tentu saja Maisya tidak mau karena banyak resiko yang akan ia tanggung setelahnya. Lagipula Dokter menyarankannya untuk melahirkan secara normal.


"Maafin kakak ya? Setelah ini kakak nggak mau lagi produksi bayi banyak-banyak. Cukup dia aja yang nyakitin Papa dan Mamanya," celetuk Zifran asal bicara.


Dokter Ningsih yang sedang menunggu Maisya memasuki detik-detik pembukaan terakhir Maisya hanya bisa menahan tawanya saat mendengar keluhan pria tersebut tentang dia yang tak ingin menambah momongan lagi setelah ini.

__ADS_1


Pasangan yang unik. Begitulah yang ada didalam pikiran Dokter Ningsih kini.


Tak lama berselang, kontraksi yang Maisya rasakan semakin rutin dan intens membuat tubuhnya yang semula berbaring ke kiri berganti posisi. Dan begitu seterusnya yang dilakukan hingga erangan kesakitan tak mampu lagi Maisy tahan. Tangannya juga semakin erat meremas jari Zifran yang terus menggenggam tangannya untuk menyalurkan rasa sakit yang ia rasa.


"Dok, sakit banget," rengek Maisya dengan keringat yang membasahi wajahnya.


"Tunggu, saya periksa dulu, Mbak." Dokter Ningsih langsung bangkit dari sofa, mengambil posisi di bawah Maisya. Juga di dampingi oleh suster di sampingnya.


"Pembukaannya sudah penuh. Sebaiknya Mbak Maisya siap-siap ya? Tenangkan pikiran, Mbak. rileks dan jangan memikirkan yang tidak-tidak ya," jelas Dokter Ningsih.


Maisya mengangguk diiringi Isak tangis menahan rasa sakit.


"Tolong dengarkan interupsi dari saya ya? Sekarang kita mulai ya Mbak," imbuhnya lagi.


"Sekarang tarik nafas...." Maisya menarik nafasnya dalam-dalam. "Keluarkan pelan-pelan... iya begitu." Maisya kembali melakukannya secara berulang. "Sekarang tarik nafas, dalam hitungan ketiga kalau saya bilang dorong, Mbak-nya harus mengejan ya?" Maisya mengangguk paham ucapan Dokter Ningsih.


Maisya kembali mengatur napasnya. Dalam hitungan ke tiga ia mulai mengejan sekuat tenaganya.


Satu kali tarikan nafas tidak berhasil.


"Sekali lagi ya, Mbak."


"Enggghh...!!! Hosh... hosh... hosh.."


Semua orang yang berada di luar begitu sangat khawatir karena sudah dua jam lamanya mereka menunggu, namun belum juga mendapatkan tanda-tanda suara tangisan bayi.


Mereka m tampak mondar-mandir kesana-kemari untuk menghilangkan kekhawatiran mereka semua.


Sementara itu didalam ruangan, Dokter Ningsih kembali memberi semangat pada Maisya


"Ayo, Mbak semangat!"


Maisya menjatuhkan kepalanya di sandaran dada Zifran dengan mata terpejam. Rasanya ia sudah tidak kuat untuk melakukannya lagi.


"Kakak percaya kamu pasti kuat, Sya. Lakuin sekali lagi demi anak kita. Tunjukkan sama dia kalau Mamanya itu kuat. Hem? Semangat sayang. Muach!"


Setelah mendengarkan penuturan Zifran, Maisya bangkit untuk kembali berjuang demi sebuah nyawa yang harus ia lahiran. Dan sebuah kecupan singkat dari sang suami menjadi penyemangat untuknya.


"Ayo, Mbak terus... sedikit lagi. Iya bagus, Mbak. Ayo dorong terus."


Sepertinya kali ini Dokter Ningsih bekerja lebih keras saat untuk menyemangati Maisya saat sebuah harapan itu mulai terlihat. Kepala bayi itu terus keluar dari jalannya seiring dengan dorongan dari sang ibu.


Maisya menarik, mencakar tangan Zifran dan mengoyak kemeja mahal yang dikenakan sang suami untuk menyalurkan rasa sakit yang begitu amat sangat menyakitkan saat bagian sensitif itu terkoyak secara paksa.


Secara bersamaan, lengkingan suara tangis bayi memecahkan segala kegelisahan dan ketegangan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Oekk... oekk... oekk...


Maisya menangis haru saat mendengar suara tangis malaikat kecilnya untuk pertama kalinya. Begitupun dengan Zifran, pria itu tak kalah harunya mendengar tangisan ia yang selama sebulan bulan menyiksanya baik secara fisik maupun mental.


Cup


Cup


Cup


Cup


"Terimakasih, sayang. Terimakasih. Terimakasih kamu sudah mau berjuang suntuk dia. Dan terimakasih kamu telah menghadirkan dia diantara kita."


"Sama-sama!" jawab Maisya lirih.


Tak lama, Dokter Ningsih memberikan bayi itu kepada Maisya untuk memberikan ASI pertamanya pasca melahirkan.


"Selamat ya, Pak atas kelahiran putranya. Bayinya sehat dan lengkap tanpa kekurangan suatu apapun.

__ADS_1


Maisya dan Zifran mengangguk bersamaan.


"Terimakasih banyak, Dok," ucap Zifran yang di balas senyum oleh Dokter Ningsih.


Setelah kepergian Dokter Ningsih, Zifran kembali menghujani wajah Maisya dengan kecupan secara bertubi-tubi untuk mengungkapkan rasa bahagia dan terimakasihnya pada sang istri yang mau berjuang sampai sejauh ini.


*


*


*


Setelah pasca melahirkan, Maisya di pindahkan ke ruang pemulihan bersama bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki itu.


Semua tampak berkumpul di sana. Ada Mama Sarah, Alya, Andin dan juga Casanova beserta dengan pasangan mereka masing-masing yang setia menunggu proses lahirnya penerus baru dari keluarga Samudera, sampai hari menjelang dini hari.


Raut kebahagiaan tampak terlihat dari wajah mereka saat bayi mungil itu menangis dengan kencang karena kehausan atau, bahkan mungkin bayi mungil itu pusing dengan segala pertanyaan dan ocehan tak berfaedah yang dilayangkan untuknya.


Dan tak jarang pula salah satu tangan jail dari mereka selalu mencubit gemas pipi bayi tersebut tanpa rasa bersalahnya.


"Kamu udah nyiapin nama untuk anak kamu, Fran?"


Wanita paruh baya itu tampak bahagia karena untuk pertama kalinya ia menggendong sang cucu dengan rasa bangganya.


Sesekali tangannya menepis tangan jail Arlan yang terus menoel-noel pipi chubby putra Maisya dan Zifran.


"Udah. Malah dari jauh-jauh hari aku dan Maisya sudah mempersiapkannya. Ia 'kan sayang?"


Maisya tersenyum mengangguk.


"Terus mau kasih nama siapa cucu tampanku ini?" tanya Papa Arya.


"Nama dia Zefano," jawab Maisya.


"Lebih tepatnya Zevano Alanta Samudera," timpal sang suami.


"Wahhhh... namanya bagus banget. Sesuai sama baby-nya. Hay baby Zevano! Kenalin nama Aunty Alya." Alya mencubit gemas pipi baby Zevano. Berbalik ke arah sang suami. "Kak, aku pengen kayak gini."


Andin dan yang lain merasa ambigu dengan perkataan Alya barusan. Semua pun mengarahkan pandangannya ke sepasang pengantin baru itu.


"Iya, nanti pulang dari sini kita buat. Lagian gara-gara dia juga malam pertama kita jadi tertunda," celetuk Arlan yang terlihat biasa-biasa saja.


"Hahahaha!!!" tawa mereka semua pun pecah dengan apa yang dikatakan Arlan. Tampaknya pria itu sedikit frustasi karena malam pertama mereka harus dihabiskan di rumah sakit ini.


Bahkan Maisya yang sedari tadi menahan diri untuk tida bersuara akhirnya ikut menertawakan pria yang berstatus sebagai suami dari sahabatnya.


"Boleh saya menggendong cucu saya, Nyonya Sarah?"


Tiba-tiba saja Papa Bram ingin menggendong baby Zevano. Meskipun terselip rasa takut, namun karena rasa penasaran dan bahagianya Papa Bram mau memberanikan dirinya.


Dari sinilah kebahagiaan Maisya dan Zifran bermula. Dari kehadiran baby Zevano membuat keluarga kecil mereka menjadi lengkap dan sempurna.


Dan kehadirannya pun di sambut bahagia oleh semua orang. Dan untaian doa terbaik mereka panjatkan untuk baby Zevano yang tampar begitu nyaman dengan suara canda dan tawa sekitarnya


Zifran mengecup pucuk kepala Maisya begitu lembut diiringi buliran kristal bening yang jatuh di pelupuk matan. Ia tak menyangka jika waktu berubah begitu cepat. Mengubah keadaan sedemikan rupa. Semoga kebahagiaan ini akan tetap bersama keluarga dan orang yang terkasih.


"Terimakasih sudah menjadi ratu dalam kehidupan kakak, Sya. Kamu dan Fano akan menjadi satu-satunya alasan kakak untuk bertahan dan apapun akan kakak lakukan untuk kalian berdua.


"Sama-sama. Dan terimakasih juga karena telah mempercayakan aku untuk menjadi ibu dari anak-anak Kakak. Dan terimakasih telah menghadirkan Fano dalam keluarga kecil kita.


Cup.


Maisya mencium bibir Zifran di saat semua tengah sibuk dengan putra kecil mereka.


TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2