Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Rencana perjodohan


__ADS_3

Hari ini suasana kantin sekolah cukup sepi. sebab, hanya ada beberapa siswa dan siswi yang sedang menikmati jam istirahat setelah melakukan jam olahraga yang sangat melelahkan dan menguras tenaga itu.


Begitupun dengan Maisya and Duo A. Saat jam olahraga selesai mereka berbondong-bondong lari menuju kantin sekolah.


"Mau pesan minuman apa Lo berdua?" tanya Maisya saat mereka baru saja tiba di kantin Mak Onah.


"Apa aja yang penting di traktir, ya nggak Al!" celetuk Andin yang mengangkat kedua alisnya naik-turun saat menatap Alya.


"Bener banget tuh Din." balas Alya.


"Sia*lan kalian berdua."


Maisya melangkahkan kakinya menuju ke stand jualan Mak Onah untuk memesan minuman yang mereka inginkan.


Setelah kepergian Maisya, terlihat seorang pria dengan tubuh tinggi bak 'Tower' sedang mengarah ke arah tempat duduk yang dihuni oleh makhluk yang di idam-idamkan setiap siswa di SMA Bunga Darma. Setelah Maisya tentunya.


"Si Maimunah kemana? Tumben nggak bareng sama lo berdua," tanya pria itu.


Sementara yang di ajak bicara saling menatap satu sama lain. " Lo ngomong sama kita?" ucap keduanya kompak sambil menunjuk diri mereka bergantian dengan cara bersamaan.


"Ya iyalah, Lo kira gue ngomong sama siapa? Huh! Masa iya gue ngomong sama dala*man lo yang warnanya pinky. Tuh!" ucap pria itu sambil menunjuk ke arah dada Alya dengan bibirnya.


Sontak saja Alya langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Sia*lan lo Yon. kurang ajar, pantesan aja lo di tolak terus sama Maisya, ternyata otak lo udah nggak waras." omelnya kepada Leon.


Leon mendudukkan dirinya di bangku kosong sebelah Andin, "Asal lo tau, padahal gue ganteng iya, kaya apalagi. Terkadang gue heran sama Maisya, kurang apa coba gue?"


Leon menggeleng lirih saat mengingat tragisnya kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Lo itu kurang akhlak buat Maisya, dia tau lo itu playboy ular kadut yang suka gigit sana-sini. Nyadar dong lo Yon," cibir Andin menatap Leon dengan sinis.


Tak berselang lama Maisya pun kembali. "Hai, Yon," sapa Maisya.


"Kok lo ada disini? Bukannya anak IPA-1 masih ada jam ya, kok lo udah keluar? Jangan bilang kalo lo bolos. Wah! Parah nih anak." timpalnya sambil memberikan minuman kepada Alya dan Andin.


"Udah biasa kali." jawaban ketus Leon.


"Ye... gitu aja sensian." ucap Andin sinis.


"Eh Yon, itu punya gue, maen embat aja lo."


Teriak Maisya tak terima saat Leon meminum setengah dari minuman yang baru ia pesan.

__ADS_1


"Sya, sepulang sekolah jalan yuk! Mau kan?" ajak Leon.


"Sorry, gue nggak bisa soalnya gue udah ada janji sama kak Dion."


"Yah, gagal lagi gue." jeda, "It's okay, lain kali aja gimana?" tanya Leon penuh harap.


"Hemm."


Setelah mendengar jawaban singkat Maisya, hati Leon berbunga-bunga. Namun itu tak berlangsung lama,


"Tapi gue nggak janji." Seketika raut wajah Leon berubah drastis.


Sontak saja ketiganya tertawa puas saat melihat wajah Leon yang berubah masam seperti jeruk lemon. Hingga tak berselang lama terdengar suara bel istirahat berkumandang di SMA Bunga Darma.


****


Di gedung bertingkat ZA group.


Zifran yang saat ini masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai CEO terkadang membuatnya lupa akan waktu untuk ia mengistirahatkan tubuhnya.


Sama halnya seperti saat ini, dimana Zifran harus menyelesaikan tumpukan kertas yang harus ia periksa dan ia tanda tangani sesegera mungkin sebelum waktu rapat dimulai saat jam makan siang selesai.


Dengan wajah yang terlihat sedikit kusut dengan kantung mata yang terlihat menghitam, Zifran sesekali menguap untuk menahan rasa kantuk yang kini kian menderanya.


"Ah, sialan emang. Gara-gara tadi malem gue jadi nggak konsen," gerutunya saat mengingat kegiatan panas yang ia lakukan bersama Casandra. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.


"Ar, tolong buatin gue kopi ya, dan anterin kopi keruangan gue sekarang. Ingat? Nggak pakai gula dan jangan terlalu pait." ucap Zifran dari sambungan telepon, lalu mematikannya tanpa sepatah katapun.


Sementara Arlan yang berada di ruangannya mengumpat kasar Zifran yang sudah mengganggu pekerjaannya.


Selang beberapa menit pesanan yang ia minta pun sudah datang dengan Arlan yang membawakannya.


Ketika Zifran sedang meminumnya, tiba-tiba saja dering dari ponselnya menghentikannya sejenak.


"Mama, tumben amat jam segini nelepon."


Saat melihat layar ponsel yang tertera nama sang Mama.


"Ya, Ma," jawab Zifran singkat.


"Jangan lupa sepulang dari kantor kamu mampir ke restoran temen Mama, ya. No penolakan." ucap Mama Sarah tegas.


'Emang ada apa sih Ma?" ucapnya sambil menyeruput kopinya.

__ADS_1


"Mama mau ngenalin kamu sama anak temen arisan Mama. Dia cantik kok, dan dia siap untuk menikah sama kamu."


Byurrr!


Semburan dengan kekuatan jurus kamehameha berhasil mendarat di wajah Arlan, karena Zifran yang terkejut saat ucapan tak main-main Mamanya itu yang nekat menjodohkannya dengan wanita pilihannya.


"Bang*sat, panas banget." umpatnya. Sementara Arlan menatapnya penuh kekesalan.


"Ngomong apa kamu barusan, Huh!" sarkas Mama Sarah mendengar umpatan dari putranya itu.


"Tapi hari ini aku lembur dan kemungkinan agak telat pulangnya."


"Mama nggak mau dengar apapun alasannya. Mama tunggu selesai makan malam di restoran biasa. Titik, tidak ada bantahan!" ucap sang Mama mutlak.


Tut!


Zifran meraup wajahnya dengan kasar setelah sang Mama menutup teleponnya tanpa basa-basi sedikitpun.


****


Di kediaman keluarga Samudera.


Seorang wanita paruh baya tengah menatap sang suami sambil tertawa puas saat mendengar nada frustasi dari putranya yang berada dari sambungan telepon.


"Semoga rencana kita kali ini berhasil ya, Pa? Mama udah nggak sabar untuk dapat mantu."


"Tapi apa ini tidak berlebihan Ma, masalahnya ini bukan pertama kalinya kita menjodohkan Zifran, Papa takut kalau dia akan berbuat hal yang memalukan seperti yang sudah-sudah."


"Udah Papa tenang aja, serahin semua sama Mama. Papa cukup bantu aja dengan do'a biar anak kita nggak ngelakuin hal aneh-aneh lagi."


Bukan tanpa alasan suaminya berbicara seperti itu. Masih terbayang jelas dalam ingatan Papa Arya saat acara makan malam bersama dengan keluarga wanita yang akan di jodohkan dengan putranya.


Namun tiba-tiba Zifran yang baru saja tiba dengan penampilan yang cukup berantakan dengan aroma alkohol yang begitu kentara, sehingga membuat siapa saja yang berada di dekatnya dapat merasakan aromanya.


Di sisi lain, Orang tua Zifran yang melihat anaknya seperti itu hanya bisa memandangnya dengan perasaan malu yang tak tertahankan dengan berbagai macam desas-desus yang di tujukan untuk putranya.


Bagaimana tidak? Dihadapan seluruh keluarga besarnya dan keluarga dari calon yang akan dijodohkan dengan putranya itu, justru sang putra hadir dengan penampilan yang cukup memalukan bagi keluarga dan keluarga besarnya.


Begitupun dengan keluarga wanita yang akan dijodohkan dengan putranya. Setelah kepergian Zifran tanpa menunggu lama dan basa-basi, seluruh pihak dari sang wanita tak mau melanjutkan rencana perjodohan yang sudah mereka sepakati dan langsung meninggalkan acara jamuan makan malam di kediaman keluarga Samudera.


Melihat semua kekacauan yang terjadi, seluruh keluarga besar Zifran tak mampu berkata lagi dengan keputusan mutlak dari calon mantan besannya itu.


Berbeda halnya dengan Zifran, pria itu sedang tertawa puas menikmati kekacauan yang baru saja ia ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2