
Keesokan paginya, semua orang berada di meja makan untuk menikmati sarapan pagi yang telah dimasak oleh ketiga gadis cantik yang kini tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya. Meskipun di bantu Ambu yang mengarahkan mereka.
Di meja makan, Zifran dan dan Arlan selalu memperhatikan gerak-gerik Maisya dan Alya yang tampak lihai dalam urusan dapur. Abah yang melihat anaknya seperti itu mulai membuka pembicaraan mereka.
"Kamu kapan, Ar membawa dan memperkenalkan Abah sama Ambu calon kamu?"
Arkan yang melirik Alya terlihat gelagapan mendengar apa yang ditanyakan Abahnya barusan.
"Ma-maksud ...nya?"
"Maksud Abah, kapan Om Arlan ngenalin calon istrinya sama Abah," sahut Leon yang menguping sambil melihat Maisya yang membawa piring ke meja makan.
"Tolong mata di kondisikan. Atau perlu saya colok tuh mata!" ketus Zifran sedari tadi memperhatikan.
"Maaf, khilaf."
"Khilaf kok keseringan," oloknya.
Abah yang melihat keduanya jadi mengurungkan niatnya sejenak.
"Jadi kapan, Ar. Kami ini sudah tua dan tentunya ingin melihat kamu bahagia."
"Tapi belum ada yang cocok, Bah. Aku nggak mau kejadian yang dulu terulang lagi. Aku nggak mau mereka merendahkan Abah dan Ambu," sahutnya.
"Lalu, wanita yang di sana bagaimana? Apa kamu tidak menyukainya?" Menunjuk Alya dengan dagu.
Arlan menoleh ke arah gadis yang membawa mangkuk di atas nampan.
"Darimana Abah mengetahuinya?" tanya Arlan memelankan suaranya.
"Hahahaha. Biar bagaimanapun Abah ini pernah muda," tawa Abah pecah melihat wajah pias dari putra sulungnya. "Setiap laki-laki yang menyukai lawan jenisnya akan memperlihatkan rasa peduli dan selalu mencuri-curi pandang atuh, Ar."
"Wah, diam-diam saya kalah saing lagi, Bah. Masa dua orang ini udah punya yang di taksir, saya belum. Bah, boleh saya minta ilmu untuk memikat perempuan? Soalnya saya selalu ditikung terus sama temen." Matanya melirik Zifran yang tersenyum sinis tidak memperdulikannya.
"Nak Leon bisa saja Abah mah tidak punya ilmu begituan, semuanya alami. Kalau nak Zifran kapan?" Kini beralih menanyai Zifran.
"Kapan apanya, Bah?" Melipat tangan di atas meja.
"Kapan Abah dapat undangan dari Nak Zifran. Abah liat sepertinya kalian serius?"
Zifran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah ...itu ... anu... . Masih lama Bah, nunggu dia selesai dulu. Seenggaknya tunggu dia siap," jawab Zifran spontan.
"Jangan lupa undangannya? Awas lih kalau sampai lupa."
"Iya, Bah." Zifran menjawab kikuk.
"Sebenarnya kalian ngomongin apaan sih. Serius banget? Penasaran gue. Jangan-jangan lagi ngomongin gue ya?" tanya Alya yang baru datang, melirik Arlan, Zifran dan Leon yang sedari tadi ia dengar suaranya. Walaupun tidak begitu jelas.
"Pede abis lo. Kayak nggak ada topik Sampek ngomongin Lo segala," sahut Leon.
"Sudah jangan ribut, ayo kita makan dulu. Neng Maisya, Neng Andin," panggil Ambu.
"Sebentar, Ambu, cuci tangan dulu!" sahut Maisya dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
*
*
"Mau langsung berangkat sekarang, Ar?" tanya Abah baru menyelesaikan makannya.
"Iya, Bah, soalnya udah di tunggu sama pak Arya. Abah sama Ambu nggak papa 'kan aku tinggal?"
"Ya tidak apa-apa atuh. Yang penting jangan lupa pulang saja," sahut Ambu sambil membereskan meja makan sendiri, sedangkan ketiga gadis itu membereskan pakaian mereka setelah membantunya mencuci piring.
"Ya nggak lah, Mbu." Dan Arlan menyempatkan untuk mengobrol bertiga dengan orang tuanya karena dirinya jarang pulang ke kampung dan jikalau pulang pun itu tidak sampai seminggu dan hanya beberapa hari saja.
"Dan ini ada sedikit uang untuk biaya sekolah si adek. Bilang sama dia kalau Aa-nya nggak bisa pulang dan jenguk dia di asrama," ucap Arlan menyodorkan yang cash di dalam amplop kepada Ambu.
"Tidak usah, Ar. Yang setiap bulan kamu kirim saja itu masih bisa untuk membiayai sekolah adikmu dan kebutuhan Ambu dan Abah. Sebaiknya kamu simpan saja untuk tabungan kamu ya?" Menyodorkan kembali amplop itu, namun ditahan Arlan.
"Nggak pa-pa Ambu. Anggap saja ini untuk tabungan Rian masuk kuliah. Sekarang, Arlan mau siap-siap dulu takut kesiangan, kasihan yang lain udah pada nungguin."
Setelah itu Arlan bangkit, namun sebelum itu dia menghampiri Abah yang duduk berjarak dengannya. "Doa'in, Arlan supaya dapat yang lebih baik dari sebelumnya, yang bisa menerima kekurangan kita."
"Tentu saja. Abah akan selau berdoa apapun yang terbaik untuk kamu."
Setelah itu Arlan pergi ke kamarnya untuk mengambil barang yang ia bawa, lalu keluar dari sana menuku teras depan rumah di mana Zifran dan uang lain menunggu.
"Udah siap semua?" tanya Arlan diambang pintu utama.
"Udah," jawab mereka kompak
"Nggak."Mereka menjawab kompak.
"Ya udah ayo berangkat, tunggu apalagi?"
"Aa," panggil seorang wanita cantik yang tak sengaja melintas di depan rumah Arlan. Melihat Arlan, wanita itu datang menghampiri.
Arlan yang membuka pintu mobil langsung berhenti, melihat siapa yang memanggilnya. Kemudian menoleh. "Elis," gumamnya lirih setelah mengetahui wanita yang berdiri tak jauh dari pagar. Wanita cantik berkulit putih khas gadis pedesaan dengan rambut tergerai panjang dan indah.
Semua yang berada di teras melihat kedekatan diantara mereka berdua, termasuk tatapan Alya yang terlihat penuh arti.
"Aa' mau balik? Kok buru-buru sekali," ucap wanita yang bernama Elis semakin mendekat.
"Kamu di sini, bukan kamu di Kalimantan?"
"Iya, A', baru saja pulang dari dua Minggu lalu. Aa' mau balik?"
Arlan mengangguk. "Soalnya di sana banyak pekerjaan yang menunggu. Maaf ya, saya buru-buru. Ayo Al," jawab Arlan. Kemudian memanggil Alya untuk segera masuk.
Merasa tak ada pergerakan, Arlan menghampiri Alya dan menggenggam tangan gadis itu di hadapan Elis dan yang lain membuat semua terperangah karenanya.
"Kenapa diem aja?" Mereka lewat di depan Elis yang menatap mereka dengan raut wajah berbeda.
"Sikap, Lo aneh," jawab Alya.
"Tunggu!" Elis mencekal tangan Arlan. "Dia siapa A'?" tanya Elis melirik ke arah Alya sekilas.
__ADS_1
"Maaf, saya buru-buru. Ayo, Fran." Arlan tak menggubris pertanyaan Elis, seraya menarik tangannya dari cekalan wanita itu.
*
*
*
"Dia siapa, kak? Kelihatannya, kalian deket banget?"
"Bukan siapa-siapa. Kenapa, Kamu cemburu?" Arlan melirik Alya saat menyetir mobil yang melaju meninggalkan rumah orang tuanya dan juga wanita tersebut. Dan hanya mereka yang ada di dalam mobil, sedangkan Andin dan Leon berada satu mobil dengan Zifran yang melihat jika pemilik mobil sebelah sedang tidak baik-baik saja.
"Idih... ngapain aku cemburu. Pacar bukan kok di cemburuin. Nggak etis banget," desis Alya yang saat ini sedang membohongi perasaannya. Tak hanya cemburu, tapi hatinya sudah terbakar api kecemburuan dari wanita yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Syukurlah kalau kamu tidak cemburu. Jadi, say tidak perlu bersusah-susah untuk menjelaskannya.
"Jadi cewek tadi itu pacar kakak," ucapnya asal menebak.
"Bukan, tapi tunangan."
"Jadi kak Arlan sudah bertunangan dan tadi itu tunangan, kakak? Oh, astaga! Kenapa kakak nggak bilang? Dan apa-apaan kakak gandeng tanganku di depan dia? Aku nggak mau di bilang cewek perusak hubungan orang ya, kak!" pekik Alya yang menahan rasa sakit di dalam hati dan berusaha bersikap baik-baik saja setelah mengetahui jika ternyata pria yang ia sukai sudah memiliki tunangan. Pantas saja jika pria itu selalu cuek dan bersikap biasa saja terhadapnya.
"Bukan kayak gitu, Al-"
"Kayaknya kalian lagi berantem ya? Gue nggak mau lih ya di bawa-bawa. Aku nggak mau jadi orang ketiga diantara kalian. Aku nggak ikut-ikutan."
Pantas saja jika keduanya begitu akrab ternyata mereka memiliki hubungan dan dirinya sudah masuk diantara mereka berdua
"Kamu salah sang-"
Untuk kedua kalinya ucapan Arlan selalu dipotong Alya.
"Kak, bisa berhenti sebentar?"
"Kenapa?"
"Maisya chat aku, katanya ada pemberitahuan mendadak dari sekolah. Biasakan? Bentar aja kok."
"Sebentar," ucap Arlan yabg memelankan laju mobilnya untuk menepi. Tanpa banyak bertanya dia membiarkan Alya keluar dari dalam mobil begitu saja.
Dan mobil Zifran pun berhenti tepat di belakang sana. Membiarkan Alya masuk, kemudian Leon yang keluar dari dalam mobil itu, berjalan ke arah mobil Arlan.
"Ngapain kamu masuk?" tanya Arlan melihat Leon tiba-tiba duduk di samping kemudi.
"Saya di suruh Alya untuk nemenin, Om."
"Kok gitu?"
"Hem!" Leon mengangkat bahunya tidak tahu.
"Shi***!" Arlan mengumpat dan memukul kemudi lihat mobil Zifran melaju. Dia pun merutuki dirinya sendiri karena kesalahan pahaman diantara mereka berdua.
"Are you okay, Om?"
__ADS_1