
"Kak, bangun, ih! Udah siang tau. Katanya mau pergi jalan-jalan, tapi kok jam segini belum bangun. Entar ke keburu panas Lo." Pagi-pagi sekali Maisya sudah tiba di kediaman keluarga Samudera untuk mengajak kekasihnya berlibur, menghabiskan waktu berdua mereka.
Sudah hampir setengah jam Maisya membangunkan pria yang masih setia berkutat dengan selimut dan bantal guling kesangsiannya hingga memuat gadis itu mengerang karena kesal.
Mengguncang tubuh Zifran berulangkali, tetap saja pria itu masih enggan untuk bangkit dari tidurnya.
Di bawah selimut, sebenarnya Zifran sudah bangun sedari tadi di saat Maisya membuka pintu kamar. Namun entah apa yang merasuki pria itu hingga ia melakukan tindakan konyol yang bisa saja membuat siapapun akan naik darah karenanya.
"Kak Zi, ayo bangun! Gue hitung sampai tiga ya, kalau Lo nggak bangun ini kamar bakal gue acak-acak!"
Percuma saja, Zifran tak menggubris ancaman Maisya. Pria itu tersenyum jahil dari bawah selimut yang tidak disadari oleh Maisya. Ia ingin melihat sampai dimana keberanian gadis itu terhadap wilayahnya.
"Gue hitung nih. Satu..." Penghitungan dimulai. Tak ada respon dari Zifran.
"Dua..." Masih sama.
"Dua setengah..." Senyum Maisya mengembang menyatakan pergerakan Zifran.
Maisya mengulurkan tangannya menyentuh selimut yang digunakan Zifran untuk menutupi tubuhnya. "Ti...g-"
Ketika Maisya hendak membuka selimut, di saat bersamaan Zifran mencekal tangan Maisya, menarik hingga tubuh Maisya terhuyung ke depan.
Brukk!
Maisya membuka matanya ketika merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Menatap seseorang yang tersenyum penuh arti kepada dirinya.
Cup.
"Morning kiss, sayang." Zifran mengecup bibir Maisya yang berada dalam dekapannya. Gadis itu masih menahan nafas kala mendapat perlakuan manis dari kekasihnya. Niat hati ingin membangunkan, malah justru mendapat hadiah di pagi hari.
"Sya," panggil Zifran saat tak ada pergerakan dari Maisya.
"I-iya," jawab Maisya gugup kala Zifran memanggilnya.
"Boleh kita lanjutin?"
__ADS_1
"A-apanya?" tanya Maisya bingung. Ia segera bangkit dari posisinya, menyadari jika itu akan mengundang bahaya untuk mereka berdua.
Namun sayang, Zifran terlebih dahulu mengucapkan sesuatu yang baru saja terlintas dalam benak Maisya.
"Intinya." Tangan Zifran sebelah kanan mulai menelusup ke dalam kaos yang dikenakan Maisya. Meraba dan sesekali mengelus perut rata Maisya yang selalu mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan blouse.
Pria itu menyibak selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya, membiarkan kulitnya menyentuh tubuh Maisya meski gadis itu mengenakan pakaian lengkap.
Dengan segala perjuangan akhirnya Zifran mampu menyingkirkan selimut dan membuang ke sisi samping tempat tidurnya.
Maisya menggeleng, menahan tangan Zifran yang hendak membuka kancing celana jeans yang digunakannya.
"Jangan, kak. Gue takut," ucap Maisya.
"Bentar aja. Janji!" Maisya menggeleng.
"Ayolah..." rengek Zifran. "Kakak kangen banget loh. Boleh ya," rayu Zifran memohon.
"Tapi gue lagi datang bulan, kak."
Namun bukan Zifran namanya jika tak memiliki cara lain untuk meredakan hasratnya saat ini. Dengan gerakan lembut, tangan Zifran beralih ke bagian lain dari tubuh Maisya, pandangannya tertuju pada dua buah yang berada dibalik penutup yang menutupinya.
"Yang ini bolehkan?" tanya meminta persetujuan dari sang pemilik.
"ZIFRAN ALANTA!!" teriak wanita yang berdiri di pintu kamarnya. "Dasar anak sableng. Berani-beraninya kamu mau berbuat mesum, huh!"
Belum sempat menjawab dan mendapat jawaban keduanya dikagetkan dengan suara teriakan berasal dari dalam kamar itu. Maisya bangkit, lalu membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Malu. Teramat malu Maisya rasakan ketika aksi mereka kepergok oleh wanita berstatus Mama dari kekasihnya itu.
Sama halnya dengan Zifran, pria itu terjingkat, bangun dari posisinya menyadari tatapan mematikan dari Mamanya yang menghampiri mereka.
"A-a-aduh, duh. Ampun, Ma!" ringis Zifran memegangi telinganya di jewer oleh sang Mama.
"Dasar anak kurang ajar. Dalam keadaan begini otak kamu masih bisa mesum!" omel Mama Sarah menarik telinga Zifran, menyeret putranya dari tempat tidur.
__ADS_1
"Tan, lepasin kak Zi, kasihan dia," pinta Maisya tak tega melihat kekasihnya diperlukan seperti itu.
"Jangan membela anak ini, dia hendak berbuat yang tidak-tidak terhadap kamu, Nak."
"Sakit Ma, lepasin dong! Lagian Maisya nggak diapa-apain juga," ucap Zifran memelas. Berharap Mamanya berbaik hati mau melepaskannya.
****
Di Taman Situ Lembang yang terletak di pusat kota, kini Maisya dan Zifran berada. Menikmati indahnya danau dan asrinya tempat itu menjadi pilihan Maisya untuk menghabiskan waktunya bersama sang kekasih saat libur weekend tiba.
Suasana yang jauh dari hingar bingar ibukota menambah sejuknya alam sekitar di Taman Situ Lembang, Maisya dan Zifran duduk di bawah pohon yang langsung menghadap ke danau.
Meskipun sebelumnya Zifran sempat menolak karena alasan ini, itu. Namun akhirnya pria itu setuju setelah maisya memberikan pengertian padanya.
Setelah kejadian tadi pagi, keduanya memutuskan untuk pergi sesuai rencana mereka sebelumnya.
"Kak, sumpah! Gue malu banget tau nggak sih. Mau tarok dimana coba muka gue kalau ketemu Tante Sarah lagi. Aaaaa...pengen rasanya gue ngubur lo di laut mati, sebel banget gue sama lo!" maki maisya mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Kak, Lo kok nyantai banget sih. Dasar nyebelin!"
"Udah?" Zifran melirik Maisya yang duduk bersisian dengannya.
"Apanya?" tanya Maisy kesal karena sedari tadi Zifran hanya diam.
"Kamu nggak capek dari tadi nyerocos mulu, ngomel mulu. Sebenernya kita kesini mau ngapain sih. Mau seneng-seneng atau mau ngambek-ngambekan, ha'?" Maisya tertegun mendengar ucapan sekaligus nada suara yang terlontar dari bibir kekasihnya. Terdengar kasar dan sedikit meninggi. Maisya tak menyangka jika orang yang ia sayang melakukan itu padanya.
Kemudian Maisya mengalihkan pandangannya menatap kesembarang arah. Tak mau menatap wajah kekasihnya saat ini.
"Oke, kakak akui kakak salah, tapi bisa nggak sih nggak usah dibahas lagi. Lagian Mama kakak nggak marah sama kamu, kan? Jadi kamu nggak usah mikirin yang tadi lagi. Seandainya kalau kakak disuruh nikahin kamu saat ini juga, kakak siap dan bakal tanggung jawab."
Tanpa Zifran sadari, mata yang semula berkaca-kaca kini mengalirkan airnya. Maisya narik nafas panjang, sebisa mungkin ia menahan tangisnya agar tak terdengar.
Bukan kalimat seperti ini yang ia butuhkan, melainkan solusi atas peristiwa yang telah terjadi bukannya malah membentak dirinya.
Menurut Maisya, ucapan Zifran tadi merupakan sebuah bentakan untuknya. Maisya menepis tangan Zifran ketika pria itu menggenggam tangannya. Sakit? Jelas teramat sakit.
__ADS_1