
Setelah puas melepaskan rindu yang membelenggu hati, pria dengan gelar sang Casanova melepaskan pagutannya, menyudahi aksi mereka.
Menarik tubuh Maisya kedalam dekapannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita yang mampu membuatnya selalu merasa nyaman bila berada di samping wanita itu.
Sebuah senyuman terbit dari bibir tipis Maisya, gadis itu melingkarkan kedua tangannya membalas pelukan dari pria yang beberapa waktu lalu telah membuat kacau harinya.
Ia memejamkan mata menikmati setiap kehangatan dan kenyamanan membuatnya larut dalam lamunan sesaat hingga sebuah kecupan singkat mendarat di keningnya.
"Jangan bikin kakak cemburu lagi ya!" Zifran kembali mencium kening Maisya beberapa kali.
Maisya mengurai pelukannya, merasa bingung dengan ucapan pria yang memeluknya saat ini. "Emang gue pernah bikin lo cemburu kak, kapan?"
"Tadi malam. Kakak nggak suka liat kamu pelukan sama dia waktu kalian di taman."
"Kak Zi ngikutin gue ya?"
Zifran menggeleng, "enggak, enak aja! Janji ya jangan di ulang lagi."
Dadanya terasa sesak mengingat kembali saat wanita yang berada dalam dekapannya di pelupuk oleh pria lain di depan matanya. Mungkinkah ini yang di namakan cinta? Atau hanya sebuah kenyamanan semata.
****
Cuaca yang sebelumnya tampak cerah tiba-tiba saja menampakkan sisi lainnya. Suasana ibukota siang ini sungguh tidak bersahabat bagi dirinya yang tengah duduk di balkon kamarnya sambil menikmati udara dingin karena hujan mulai turun rintik-rintik membasahi bumi.
Terhitung sudah berapa hari sejak kepergian Zifran, gadis itu lebih sering menghabiskan waktunya bersama sang sahabat. Tapi untuk weekend kali ini entah mengapa ia merasakan perasaan yang tidak dapat diungkapkan oleh lisannya.
Sesaat senyumannya mengembang tak kala melihat nama pemanggil yang terpampang jelas di ponsel yang ia genggam. Dengan wajah sumringah Maisya mengangkat panggilan dari seseorang yang jauh di negeri orang.
"Hai cantik, gimana harinya? Nggak kangen nih sama Kakak," terdengar suara Zifran dari seberang sana.
"Nggak! Gue lagi kesel sama lo kak."
"Kok kesel?"
"Kenapa dari tadi ponsel Lo nggak aktif, lo lagi enak-enakan ya kak?!" jelas terlihat raut wajah kekesalan darinya yang sedari tadi menantikan panggilannya terhubung ke seberang sana.
"Coba liat ke bawah!"
"Ngapain gue meski liat ke bawah, ogah gue!" tolak Maisya.
"Cepet buruan, entar nyesel loh!" Maisya memutar bola matanya jengah.
Ia melihat kearah bawah sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Zifran. Pandangan terfokus kepada sosok yang saat ini berdiri sambil melambaikan tangannya. Jangan lupa sebuah boneka besar yang ikut menemaninya.
__ADS_1
Melihat siapa yang berada di bawah membuat suasana hatinya seketika membaik. Sebuah senyuman tak lepas ia berikan untuk seseorang yang membuatnya harus menahan rindu selama beberapa hari terakhir.
Maisya menuruni tangga dengan begitu tergesa-gesa hingga hampir saja menabrak Bi Nana yang sedang menyapu.
"Aduh Non, hati-hati atuh. Kenapa kok kelihatannya Non Sasa buru-buru banget." Wanita itu menghentikan aktivitasnya.
"Maaf Bi Na, Di depan ada seseorang yang menunggu Sasa." Ia bergegas berjalan menuju pintu utama. Bi Nana menggeleng melihat kelakuan putri semata wayang dari majikannya itu.
Ceklek.
Maisya membuka pintunya. Menatap seseorang yang berdiri dihadapannya dengan bibir membentuk bulan sabit. Pria itu mendekap boneka yang ukurannya sama seperti dirinya.
"Maaf!" ucapnya sambil memberikan boneka itu kepada Maisya.
"Kak Zi!" betapa terkejutnya ia melihat siapa yang berada dihadapannya kini. "Kok kakak bisa ada disini? Bukannya kak Zi seharusnya masih di Singapore ya?" pandangannya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Pasalnya pria itu baru pulang esok lusa, kenapa kini tiba-tiba sudah ada di rumahnya. Maisya menatap ponselnya yang masih dalam mode panggilan.
"Kangen?"
"Banget." Zifran merentangkan tangannya dan langsung di sambut oleh Maisya.
Ekhem!
"Ngapain kamu disini, berani-beraninya kamu memeluk anak saya. Sudah berapa kali saya memperingatkan kamu jauhi anak saya."
Papa Bram menarik Maisya berdiri disampingnya.
"Apaan sih Pa," tanya Maisya tak terima.
"Masuk!" titah sang Papa.
"Nggak bisa gi-" ucapan Zifran terpotong.
"Diem kamu!" sentaknya.
"Papa bilang masuk Sya!" ucapnya lagi kepada sang putri.
"Ck." Maisya pergi dengan rasa kesal. Setiap langkah kakinya selalu ia hentakkan ke lantai secara kasar.
Kini tinggallah Papa Bram dan Zifran. Keduanya saling bertatapan dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Jauhi putri saya."
__ADS_1
"Jangan harap saya akan mengikuti keinginan anda!" sarkas Zifran.
"Apa mau mu?" Papa Bram melipat kedua tangannya di depan dada.
"Saya mau tempat duduk, pegel banget kaki saya berdiri dari tadi. Tuan rumah macam apa anda yang membiarkan tamunya berdiri di luar rumah." Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu disaat suasana terasa mencekam seperti ini.
"Saya tidak butuh tamu seperti kamu. Biarpun kamu rekan bisnis saya, tapi diluar jam kerja kamu bukan siapa-siapa. Jadi sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum saya panggil satpam buat usir kamu!" Zifran hanya terdiam mendengar ucapan dari rekannya itu.
Sementara dari dalam rumah.
"Di luar ada apa sih Non, kok ribut-ribut?" tanya Bi Nana yang datang menghampiri Maisya yang tengah bersembunyi dibalik tembok yang tak jauh dari pintu utama.
"Sstttttt! Jangan kuat-kuat Bi."
"Ada apa sih Non?" tanya Bi Nana penasaran. Maisya menaikan kedua bahunya tanda tak tau.
Bi Nana pun ikut mengintip seperti yang Maisya lakukan, "aduh, ada si Aden ganteng toh, kenapa nggak di suruh masuk Non!"
"Diem deh Bi, jangan ribut. Entar di amuk Papa loh!"
"Sekarang silahkan kamu pergi!" ucap Papa Bram dengan tegas.
"Jangan galak-galak kenapa sih, entar kena serangan jantung baru tau rasa!" ucap Zifran begitu santainya. "Dah lah saya balik dulu. Ada tamu bukannya disuguhi minuman ini malah di usir." Zifran melangkah pergi. Namun dengan cepat ia berbalik badan.
"Sya, ini bonekanya ketinggalan!!"
"Bawa pergi sekalian!" tegasnya melihat Zifran mendekati dirinya.
"Sorry, ini boneka buat Maisya, bukan buat anda. Nggak usah ge'er."
Zifran berjalan berjalan melewati Papa Bram mendekati Maisya yang berada tak jauh darinya.
"Makasih kak Zi!" Zifran hanya mengangguk sambil mengacak rambut Maisya yang tergerai bebas. Setelah memberikannya kepada Maisya, Zifran bergegas keluar dari rumah itu.
Pandangannya tak lepas mengarah kepada sosok yang menatap dirinya tidak suka, "Sampai jumpa di kemudian hari."
"Itu tidak akan pernah, karena saya tidak mengizinkan kamu mendekati putri saya."
"Tapi saya satu langkah di depan anda. Jadi kita lihat saja," bisik Zifran di samping lawannya.
Sementara Maisya, ia hanya melihat tanpa mendengar apa yang di ucapkan oleh kedua pria yang berbeda usia tersebut.
"Kalau begitu saya permisi!" Zifran merapikan jasnya dan meninggalkan Papa Bram yang menatapnya tidak suka.
__ADS_1