
Kak Zi jahat banget tau nggak, ngasih ucup obat tidur. Entar kalau dia kenapa-napa gimana?"tanya Maisya.
"Biarin aja, siapa suruh ngikutin kamu!" Maisya Memainkan jemari Zifran, lalu menoleh, menatap tak percaya pria yang memeluknya dari belakang. Memandang hamparan perkebunan teh yang membentang luas dari atas balkon villa milik keluarga Samudera yang berada di kota kembang, Bandung.
Ada sedikit rasa takut di hati Maisya tentang tindakan konyol kekasihnya yang tega mencampurkan minuman Ucup dengan obat tidur yang sudah disiapkan oleh Zifran.
Flashback on.
Setelah kekasihnya tiba, Zifran mengintip dari balik dinding pembatas antara rumah keluarga dengan ruang tamu depan, melihat seseorang yang selalu mengekor dibelakang Maisya dan Zifran sudah duga pembunuh.
Cemburu? Sudah pasti.
Maka dari itu Zifran sudah menyiapkan sesuatu untuk pria yang bernama asli Yusuf Adnan, sesuatu yang akan membuatnya nyaman dan bahagia.
Sambil tersenyum licik Zifran meninggalkan tempat pengintaiannya.
Di dapur yang sudah ia anggap seperti rumah sendiri, Zifran dengan lihainya menuangkan jus jeruk yang sudah di campur dengan obat pencuci perut khusus untuk pria yang membuatnya kesal.
Tak hanya itu, Zifran juga sudah menyiapkan susu hangat yang dicampur dengan obat tidur untuk memulihkan tenaga pria tersebut.
Betapa baiknya Zifran bukan?
"Akhirnya selesai juga," ucap Zifran mengibas-ngibaskan tangannya yang kotor.
Tak berselang lama, Alya datang. "Udah siap, Pak?" tanya Alya.
"Udah. Tuh bawa, tapi jangan salah yang jeruk kamu kasih jangan yang lain."
"Beres, Pak!" Dengan wajah sumringah gadis itu membawa nampan berisi tiga buah jus berbeda rasa. Kemudian Alya berjalan meninggalkan area dapur.
Sesampainya di ruang tamu, Alya langsung menyuguhkan minuman yang ia bawa. "Silahkan diminum Mas jusnya," ucap Alya kepada Ucup.
"Makasih, Mbak. Baik banget Mbaknya." Tanpa malu-malu Ucup langsung meneguk minuman itu hingga tandas. "Enak Mbak jusnya!" seru Ucup.
Alya melihat itu hanya bisa tersenyum menahan tawa. Sementara Maisya, gadis itu tidak tau apa yang sedang terjadi untuk saat ini dan beberapa saat ke depan. Ia melirik Alya yang masih mengulum bibirnya.
Setelah lima sampai sepuluh menit, obat itu mulai bereaksi. Ucup yang memindai pandangannya tiba-tiba merasakan gejolak dalam perutnya membuat Ucup merasa gusar dan khawatir.
Duuttt!
Suara gas metana yang Ucup keluarkan membuat Maisya dan Alya sontak menutup hidung mereka bersamaan.
"Sia*lan lo Cup. Dasar ******, kentut sembarangan!" omel Maisya.
"M-maaf, Non eng-"
Prettt!
Ucup memegangi boko*ngnya saat ia merasakan sesuatu membasahi celana bagian belakangnya.
"Isshhh, Mas Ucup jorok." Alya membuang pandangannya. Begitupun Maisya.
"Mbak, saya numpang WC-nya dong!"
"Mas jalan aja lurus, entar belok kiri, kalau udah sampek dapur belok kanan. Nah, disi-" Ucup langsung berlari tanpa memperdulikan ucapan Alya selanjutnya.
__ADS_1
Pria itu lari tunggang langgang sambil memegangi perut dan boko*ngnya.
Disini Alya dan Maisya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian barusan. Maisya yang penasaran langsung menanyakan apa yang terjadi, Alya pun menceritakan semuanya pada Maisya.
"Jadi kak Zi ada disini! Dan ini semua ulahnya dia?" Alya mengangguk.
"Dasar jahat!" keluh Maisya.
Sementara di sisi lain.
"Dimana sih WC-nya?" gumam Ucup clingukan. "Ini mungkin kali ya" Karena merasa tak tahan, Ucup langsung masuk begitu saja.
"Akhhh, leganya!" ucap Ucup yang baru saja menyelesaikan hajatnya.
"Aduh, duh, duh." Ucup merasakan mules kembali. Akhirnya ia masuk lagi ke dalam toilet.
Begitulah seterusnya yang dialami oleh Ucup, hingga tubuhnya terasa lelah akibat bolak-balik ke kamar mandi.
Di seberang sana. Lebih tepatnya di meja dapur, sedari tadi Zifran tertawa penuh kemenangan melihat kesengsaraan Ucup karena ulahnya pria itu harus mondar-mandir keluar-masuk toilet. Merasa tak tega, Zifran pun menghampirinya dengan membawa segelas susu yang sudah ia siapkan.
"Nih, di minum susunya untuk tambahi tenaga." Zifran memberikan susu itu pada Ucup yang duduk bersandar di dinding kamar mandi.
Ucup yang tak mengenali Zifran mengambil susu yang diberikan pria itu kepadanya. "Makasih, Mas," ucap Ucup.
Setelah meminum susu itu, tiba-tiba perut Ucup terasa mules, alhasil ia kembali masuk kedalam sana dan Zifran yang melihat hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ck, ck, ck. Sungguh malang nasibmu," ucap Zifran prihatin.
Sudah hampir 20 menit Zifran menunggu, namun yang ditunggu tak menampakkan wujudnya. Pintu kamar mandi pun sudah Zifran ketuk, tapi tak kunjung keluar.
Flashback off.
"Mau pulang atau mau disini?" tanya Zifran. Pria itu menunduk, meletakkan dagunya di ceruk leher gadisnya. Tangannya menelusup mengelus perut rata Maisya.
"Bentar lagi boleh? Soalnya gue suka sama udara disini."
"Tapi ini udah jam tiga sore, sayang."
"Kak, panggilan lo bikin gue meleleh tau nggak." Serasa terbang di atas awan mendengar ucapan kekasihnya barusan. Sebisa mungkin Maisya menormalkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Zifran membalikkan tubuh Maisya agar menghadap ke arahnya. "Dasar bocil baperan. Sebenarnya kakak pun masih pengen berduaan sama kamu, tapi papa kamu nyariin gimana?" Zifran menangkup wajah Maisya.
"Makanya besok-besok kalau mau bawa anak orang itu minta izin, datang ke rumahnya jangan main kucing-kucingan. Nggak gentle banget," cibirnya.
"Rencananya sih gitu. Tapi kalau ujung-ujungnya nggak bisa ketemu buat apa, mending kayak gini," sanggah Zifran.
Maisya melepaskan tangan Zifran. "Gimana mau dapet restu, kalau kelakuan Lo kayak gini."
"Yang penting kakak bisa jalan bareng sama kamu. Jangan ngambek gitu dong,"
"Siapa yang ngambek? Yuk pulang! Tapi gendong ya," ucap Maisya.
Zifran mengangguk, membalikkan tubuhnya, lalu membungkuk. "Cepetan naik!" perintahnya.
***
__ADS_1
Akhirnya Zifran dan Maisya pergi meninggalkan kawasan perkebunan teh milik keluarga Wijaya, tempat yang mereka kunjungi untuk sekedar menghabiskan waktu berdua di libur weekend kali ini.
Selama dalam perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu sepi. Tak ada sepatah kata pun saling terucap diantara mereka. Zifran yang tengah fokus mengemudi sementara Maisya, sejak kepergian mereka gadis itu sudah memejamkan matanya menuju ke alam mimpi akibat kelelahan karena sedari tadi mereka berdua terus berkeliling menikmati indahnya suasana perkebunan yang terasa sejuk dan udara segar yang jarang mereka nikmati.
Baru beberapa kilo Zifran berkendara, tiba-tiba ia mengerem mobilnya secara mendadak membuat tubuh Maisya terhuyung ke depan dan menatap dasboard mobil. Seketika matanya terbuka saat merasakan sakit pada area kepalanya. Begitupun dengan Zifran.
"Kamu nggak papa kan Sya?" tanya Zifran khawatir. Pria itu mengelus jidat Maisya yang terlihat memerah.
"Lo spa-apaan sih kak, sakit tau!"
"Sorry, sorry, kakak nggak sengaja gara-gara mereka tuh makanya kakak ngerem mendadak." Maisya menyerngitkan dahinya menatap arah yang ditunjuk Zifran. Ia melihat beberapa orang bertubuh tinggi berdiri didepan mobil yang menghadang mobil mereka.
"Lo kenal sama mereka kak?" tanya Maisya saat melihat salah satu dari mereka menghampiri mobil Zifran.
"Nggak."
"Mau ngapain mereka?"
Tok tok tok tok.
Zifran dan Maisya saling memandang satu sama lain, kemudian menoleh ke sumber suara. Seorang pria bertumbuh tambun berdiri di samping mobil Zifran dan mengetuk kaca mobilnya.
"Turun!" ucap pria itu memerintah agar Zifran dan msisya keluar dari dalam mobil.
"Ayo, kak kita turun." Maisya hendak keluar, namun tangannya dicekal terlebih dahulu oleh Zifran.
"Udah kita disini aja. Entar kalau mereka ngapa-ngapain kita gimana?"
"Ya kita hadapi."
"Keluar kalian, ngapain berdebat di dalam!" ucap pria itu tak tahan.
"Sebentar om, kami negosiasi dulu." Maisya tersenyum penuh arti.
"Kamu tunggu disini biar kakak yang keluar."
Zifran membuka pintu mobilnya, menghampiri orang itu.
"Ada urusan apa lo sama gue?" tanya Zifran dengan tampang songongnya.
"Serahin cewek itu sama gue, baru lo boleh pergi."
"Enak aja dia cewek gue!"
"Mau cara halus atau cara kasar?" tanya pria berbadan kurus yang baru saja ikut bergabung.
"Nggak dua-duan-"
Bugh!
Awwsshh
Zifran meringis saat salah satu dari mereka memberi hiasan pada wajah tampannya. "Sia*lan, lo berdua." Zifran mengusap sudut bibirnya yabg berdarah.
"Makanya serahin cew-" ucapan pria kurus itu terpotong saat bogem mentah mendarat diwajahnya.
__ADS_1
Bugh!