Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Diantara 2 wanita


__ADS_3

"Hai Fran, apa kabar?" sapa seorang wanita perpajakan minim.


"Kamu? Ngapain kamu ada disini!"


Zifran terkejut, pasalnya semenjak kejadian beberapa bulan lalu dimana setelah ia menghabiskan malam bersamanya Zifran memintanya untuk tidak bertemu ataupun menemuinya lagi. Dan ini? Apakah suatu kebetulan?


Arlan yang berada di samping Zifran ikut menoleh, menatap wanita itu tak suka. Meskipun dilihat dari penampilannya ia cukup cantik dan modis sama seperti Casandra. Namun entah mengapa pria itu merasa tak suka padanya.


"Boleh aku ikut bergabung?" tanpa tau malu wanita itu langsung duduk bersebelahan dengan Zifran tepat di samping kirinya.


"Ngapain kamu disini. Bukannya saya sudah pernah bilang untuk menjauh dari saya," pria itu memainkan ponselnya.


"Sorry, gue kira tadi siapa, makanya gue nyamperin lo," tangan wanita itu terangkat menyentuh rahang tegas milik Zifran.


"Eh, turunin tuh tangan. Celamitan amat jadi cewek!" ucap Arlan tak suka. Sedari tadi ia terus memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Entah siapa yang mengundangnya, atau bahkan tanpa di undang.


'Dasar cewek jelangkung!' batin Arlan kesal melihat wanita itu bergelayut di lengan Zifran.


"Apa-apaan sih Lo, nggak usah ikut campur jadi orang. Pergi sana!" ia mengusir Arlan.


"Yang seharusnya pergi itu elo, bukan gue."


"Lo berdua bisa diem nggak! Kalau nggak, berantem noh di trotoar. Berisik banget jadi orang. Nggak tau orang lagi pusing," omel Zifran. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri.


"Butuh bantuan?" tanya wanita itu sambil membenarkan posisinya.


"Nggak!"


Arlan terdiam menjadi penonton.


"Sekarang gue mau lo."


"Gue ogah!" Tak ada lagi kata kamu-aku yang terucap olehnya. Zifran bangkit dari duduknya. Namun tak tangannya tercekal oleh wanita itu. "Lepasin tangan gue Mel," pinta Zifran.


Bukannya melepaskan, wanita yang bernama Amel itu semakin melancarkan aksinya yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Ia menyentuh dada bidang Zifran, mengelusnya dengan lembut berharap pria itu akan luluh kepadanya. Namun sayang, bukannya demikian, justru membuat ia membuat singa yang tertidur kini terbangun.


"Menyingkirlah. Apa lo lupa sama perjanjian kita beberapa waktu lalu. Hem! Lo mau perusahaan bokap lo gulung tikar." kali ini ancaman Zifran tidak main-main. Ia mampu melajukan apapun yang ia mau.


Flashback on


Setelah acara makan malam. Zifran mengajak Amel ke sebuah hotel yang tak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Sesampainya mereka di sana Zifran langsung memesan sebuah kamar untuk mereka bermalam.


"Apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Zifran sambil meminum wine yang telah disediakan. Ia tahu apa yang diinginkan oleh Amel saat ini.


"Aku mau kamu." jawab wanita itu. Sudah sejak lama ia mengincar pria yang kini ada dihadapannya. Menikmati tubuhnya itulah yang ia inginkan.


"Oke. Tapi ada satu syarat yang harus kamu tepati. Jika kamu ingkar maka perusahaan Papamu yang akan menjadi taruhannya."

__ADS_1


"Baiklah."


Flashback off


'Sial!' batin Amel mendengar ucapan pria itu barusan. Berani sekali ia mengancam dirinya.


"Ayolah Fran, gue tau lo nggak bisa nolak. Jadi Lo jangan munafik."


Zifran mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia meletakkan uang itu di atas meja. "Lo mau balik atau gue tinggal!" Setelah itu Zifran pergi dari tempat yang membuatnya darah tinggi.


Begitu pula dengan Arlan. Tak lama iapun menyusul sahabatnya yang mulai menjauh, namun sebelum itu, "Dasar cewek jelangkung."


Amel yang merasa dipermalukan menatap tajam kearah keduanya. Terutama pada Zifran yang sempat menolak dirinya.


"Kali ini Lo boleh nolak gue, tapi next time Lo bakal tunduk sama gue. Jangan panggil gue Amel kalau nggak bisa ngedapetin apa yang gue mau." gerutunya.


****


Ketika malam menjelang, suasana di kamar Maisya terasa begitu hening. Tak ada keributan yang terdengar dari kamar itu seperti biasanya. Sendiri. Itulah yang Maisya rasanya Saat ini.


Padahal baru sehari dirinya tidak bertemu dengan pria yang selalu membuat resah hatinya. Namun rasa itu selalu datang apa bila ia merindukannya.


Maisya meraih ponselnya yang berada di atas nakas mencoba untuk menghubungi seseorang yang berada jauh di kota sebrang sana.


Tutttt tutttt tutttt


Terdengar suara panggilan telepon yang belum tersambung.


Tutttt tutttt


"Ada apa cil, kangen?" tanya Zifran dari sambungan telepon.


"Apaan sih kak Zi. Jangan manggil bocil lagi bisa nggak sih!" dari seberang sana Zifran tengah tertawa cekikikan mendengar nada kekesalan dari bocah SMA itu.


Entah mengapa, setelah mendengar suaranya badmood yang sedari tadi menyerangnya kini hilang terhempas entah kemana. Sambil menahan tawanya ia kembali fokus dengan ponselnya.


"Iya, iya sorry. Ada apa , Hem?"


"Kapan kakak pulang. Apa kakak lama di sana? Kakak nginep dimana?" Zifran menggeleng mendapat pertanyaan beruntun dari Maisya.


"Satu-satu dong nanyaknya, kamu pikir kakak jalan tol yang bebas hambatan."


"Kangen," ucap Maisya dengan suara manjanya.


"Coba ulangi."


"Apanya?" tanya Maisya bingung.


"Kangennya cil."

__ADS_1


"Issh, elo mah bikin malu aja," dengusnya. Andaikan Zifran dapat melihatnya, tentu pasti ia akan tertawa melihat Maisya yang mengerucutkan bibirnya hingga beberapa Senti.


"Sya, kakak punya pertanyaan. Tapi jawab ya?"


"Kalau bisa jawab mau di kasih apa?" ucapnya antusias.


"Besok kakak bakal pulang."


"Cuma itu aja?" justru ia berharap lebih.


"Kaksk kasih lollipop buat kamu." di sana Zifran tengah menahan tawanya agar tidak pecah.


"Ya udah apa buruan!"


"Kamu tau nggak persamaan kamu sama bulan?" mode gombal telah diaktifkan. Namun sayang, ternyata realita tak seindah khayalan.


"Ogah gue disama-sama'in sama bulan. Asal Lo tau kak, bukan itu jelek, nggak rata. Berlubang sana, berlubang sini. Ogah, gue nggak mau!"


Mendengar perkataan Maisya membuatnya keram pipi. Niat ingin merayu eh, malah membuat pikirannya traveling kemana-mana. Emang susah kalau punya otak yang isinya selang*kangan yang selalu membuatnya gerah. Dengan cepat Zifran menggelengkan kepalanya mengusir pikiran mesum yang sempat terpikir olehnya. Ia tidak mau jika ujung-ujungnya Tante Lucy lah yang akan jadi partnernya.


"Ya udahlah skip aja."


"Kak," panggil Maisya.


"Hem, ada apa?"


"Jangan aneh-aneh ya di sana."


"Kenapa?"


"Nggak rela aja."


"Karena?"


"Gue nggak mau lo macem-macemin cewek lain. Gue nggak rela,"


"Jujur amat neng. Kalau Eneng yang Abang macem-macemin mau nggak?" goda Zifran dari seberang sana. Ada rasa bahagia dalam hatinya mendengar Maisya mengatakan hal itu. Jika saja pekerjaannya tidak menuntutnya hingga besok, sudah dapat dipastikan saat ini juga dirinya akan pulang dan langsung menerkam gadis itu dan mengurungnya dibawah kungkunganyanya.


Berandai-andai sungguh menyenangkan.


"Besok jadi pulang kan?" tanya Maisya mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kalau semua kerjaan beres kakak langsung pulang. Udah buruan sana tidur, udah malam!"


"Hem. Ya udah aku tutup panggilannya. Bye, Sampek ketemu besok kalau jadi pulang."


Setelah itu Maisya memutuskan panggilannya bersama Zifran. Ada sedikit rasa bahagia setelah dapat bersua dengan pria itu. Rasa gundah dan galau yang sejak tadi membelenggu kini perlahan terkikis oleh rasa bahagianya.


Sementara Zifran, pria itu saat ini sedang merasa jengkel dengan manusia yang bernama Arlan yang sedari tadi menguping dan mengganggunya terus menerus. Ingin rasanya ia mengubur sekretaris jaha*namnya itu. Itupun jika dirinya mampu menghadapi Omelan dari sang Papa yang akan ia dengar tujuh hari tujuh malam lamanya.

__ADS_1


Seharian bekerja akhirnya membuat tubuhnya terasa lelah. Tanpa menunggu lama akhirnya ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama berselang terdengar suara dengkuran halus yang menandakan jika ia kini sudah terlelap menuju ke alam mimpinya. Sedangkan Arlan, pria itu masih berkutat melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tanpa memperhatikan waktu yang kini menunjukkan pukul sembilan malam.


__ADS_2