Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
rencana jalan bareng


__ADS_3

Suasana SMA Bunga Darma, tampak begitu riuh dengan suara teriakan siswinya saat melihat kehadiran anak dari pemilik sekolah yang hadir dengan begitu memukau mata. Apalagi sang sekretaris yang selalu berjalan bersisian juga tak kalah tampan dari CEO ZA grup.


Setiap mata uang memandang pasti akan terpesona oleh penampilan Zifran yang jauh dari biasanya dengan tatanan rambut dan cara berpakaiannya yang rapi tanpa membuat dirinya terlihat jauh lebih muda dari usianya yang sudah memasuki ke 26 tahun. Sangat berbeda jauh dari sebelumnya.


Langkah tegas kedua pria itu tak luput dari mereka yang selalu memperhatikan, bahkan sampai masuk ke dalam ruangan khusus rapat pun mereka tak berkedip.


Sangat berbeda dengan ketiga siswi yang sedang duduk manis di pinggir lapangan dengan sebotol minuman yang sudah tandas tak tersisa karena cuaca yang sangat terik di siang bolong setelah selesai melakukan pelajaran olahraga yang mengeluarkan banyak keringat.


Meskipun ketiganya melihat kegaduhan yang terjadi, tetap dia stay cool di tempat dan tidak perduli dengan siapa yang menjadi biangnya. Menikmati rasa lelah yang perlahan mulai menghempaskan diri.


Andin di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah kedua sahabatnya itu. "Kalian nggak cemburu liat pacar kalian jadi di taksir sama anak-anak SMA Bunga Darma?" tanya Andin yang sedari tadi terus memperhatikan kelakuan para siswi yang berteriak memanggil nama keduanya.


"Nggak lah. Kalau, gue mah santai selagi, kak Zifran nggak nanggepin. Mau mereka teriak sampek ilang suara mah, gue bodo amat," sahut Maisya membuka kancing atas seragam olahraga.


"Nah, biasanya yang baru-baru ini yang agak sensitif." Andin melirik Alya yang masih mengikat rambutnya yang tergerai.


"Enak aja. Gue sama kayak, Maisya selagi kak Arlan nggak nanggepin, gue percaya sama dia. Emang elo yang selaku negatif thinking sama pasangan. Come on dong, move on dari mantan jangan terus-terusan kayak gini. Bukanya elo yang selalu nyemangatin si Mae dulu untuk movie on dari kak, Dion. Sekarang dia udah bisa kenapa malah lo yang gagal," cibir Alya menyenggol bahu Maisya.


"Mending Lo pacaran deh sama, Leon. Gue liat tuh anak banyak berubah. Siapa tau aja semenjak liburan di Bandung, dia naksir elo," celetuk Maisya yang terlihat biasa saja sambil memperhatikan siswi SMA Bunga Darma yang masih setia berada di sekitar tempat Zifran dan Arlan berada.


Sambil menunggu jam masuk, ketiga siswi tersebut bangkit dari lesehan mereka ke tempat yang lebih dingin menuju ke arah pohon yang tak jauh dari mereka karena matahari semakin terik.


Sambil melakukan peregangan, Alya yang bersebelahan dengan Maisya melihat seorang pemuda menghampiri mereka dengan tampang sok super cool di antara yang lain.


Berjalan dengan begitu santai, Leon selalu tebar-tebar pesona terhadap siswi yang melintas di depannya sambil menunjukkan deretan giginya yang tertata rapi.

__ADS_1


Di depannya, Andin terus memperhatikan gerak-gerik pria tersebut. "Lo bilang si Leon berubah? Nih Lo liat kelakuannya yang suka tebar pesona sama anak-anak lain," sungut Andin tidak melepaskan pandangannya ke arah Leon yang mengundang perhatian Maisya dan Alya untuk melihat.


"Cieeee, ada yang lagi cemburu," ejek Maisya yang terus menggoda.


"Cemburu tandanya cinta, Din," imbuh Alya turut menggoda.


"Kayaknya kalian berdua sarap karena nggak dapat perhatian dari pak Zifran sama kak Arlan, makanya jadi begini," cibir Andin diam-diam tersenyum jahil.


"Eh, Yon, si Andin kayaknya cemburu deh gara-gara lo tebar pesona sama anak IPS. Iya nggak, Al," celetuk Maisya saat Leon memberikan plastik yang ia bawa.


"Yoi, bener banget apa yang di bilang sama si Mae, Yon. Kayaknya tuh anak suka deh sama Lo," sambung Alya menimpali ucapan Maisya membuat suasana menjadi horor saat Andin menatap keduanya tajam.


"Enak aja! Jangan Lo percaya omongan bocah sarap kayak mereka. Nih dua curut mau jatuhin harga diri gue," hardiknya menarik ikat rambut Alya, sehingga rambutnya kembali tergerai.


"Ya abisnya lo aneh," sahut Alya yang selalu berpihak pada Maisya.


"Eh, Sya, kalau seandainya pak Zifran ketahuan lagi godain cewek lain, apa yang bakal Lo lakuin? Biarin aja aja Lo bakal balas?" tanya Andin membenarkan baju olahraganya yang terlihat acak-acakan akibat ulah Maisya yang menariknya kuat. Dan tanpa rasa bersalah gadis itu mengambil camilan yang tergeletak tidak berdaya.


Maisya yang hendak membuka bungkus camilan langsung berhenti sesaat. "Kok pertanyaan Lo kayak gitu, Din?"


"Kan cuma seandainya, Maemunah. Bukannya di jawab malah balik nanyak."


"Ya... tergantung, kalau cuma godain mah, gue bodo amat. Tapi kalau sampai lebih dari itu, siap-siap aja besok pagi tuh orang kagak bisa jalan. Tapi gue yakin banget, kak Zifran nggak bakal ngelakuin hal itu di belakang gue. Dia cinta mati sama gue dan gue pun sebaliknya. Gue nggak mau kejadian Dion dulu ke ulang lagi. Rasanya itu sakit banget kalau sampai dikhianati sama orang yang paling gue sayang untuk kedua kalinya." Sambil memakan camilan yang baru saja ia buka.


Zifran yang seketika menghentikan langkahnya di susul Arlan di samping. Mereka berhenti tak jauh dari tempat Maisya duduk membelakanginya.

__ADS_1


Sepintas kenangan beberapa bulan lalu kembali terlintas dalam memori Zifran di saat dirinya terjebak dalam situasi yang sulit diterima. Situasi yang membuat dirinya selalu dihantui rasa bersalahnya pada sang kekasih hingga suara seseorang kembali menarik Zifran menghadapi kenyataan.


"Lo tenang aja Mae. Gue dan yang lain bakal selalu ada untuk Lo di saat Lo lagi butuh sandaran. Dan terutama gue. Gue orang pertama yang akan selalu ada buat ngelindungi Lo kalau sampek tuh orang nyakitin hati cewek yang paling gue sayang. Itu janji gue," sahut Leon dengan tegas tanpa mengetahui seseorang di belakang tengah menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.


"Makasih banget, Yon karena Lo cowok paling care sama gue. Sialan lo, Din, bikin gue jadi keinget lagi 'kan sama tuh orang."


"Ya maaf 'kan gue cuma penasaran aja. Tapi gue yakin kok, kalau Pak Zifran sekarang udah berubah. Dan itu demi elo. Gue salaut sama Lo Mae, Lo bisa ngerubah orang yang dulunya itu minus akhlak jadi bucin sama Lo. Ngomong-ngomong, dapet ilmu pelet dari mana kok pak Zifran bisa tunduk banget sama cewek jadi-jadian kayak lo?"


"Siapa yang bilang cewek gue jadi-jadian?" tanya Zifran berdiri bersedakep di belakangnya.


Andin menoleh, menelan ludahnya susah payah karena tidak menyadari kehadiran Zifran di sana. "Hehehehe, canda Pak jangan di ambil hati ya. Tadi itu nggak serius kok, kita 'kan cuma becanda. Iya nggak, Mae," ucap Andin cengengesan sambil mengangkat kedua tarinya membentuk huruf 'V'.


"Apa perlu saya buktikan kalau Maisya itu cewek normal?"


"Em... nggak usah Pak. Saya percaya kok kalau si Mae itu cewek tulen, liat aja bodynya yang sexy menggoda. Mana mungkin dia cewek jadi-jadian. "


"Nah, tuh kamu tau. Jadi kenapa masih bilang si Mae cewek jadi-jadian. Geser Al," ucap Zifran sambil menggeser tubuh Alya untuk memberinya ruang.


"Yaelah, Mbang datang-datang main geser aja. Duduk di situ 'kan lebar, kenapa suka yang sempit sih?" sahut Leon.


"Karena yang sempit itu lebih enak dan nagih," jawab Zifran. "nanti pulang sekolah kakak jemput. Bilang sama Ucup untuk pulang duluan."


"Memangnya kita mau hangout bareng. Mau nggak?" tanya Zifran.


"Mau dong!" seru Maisya.

__ADS_1


"Lah, kita-kita nggak di ajak Pak?" tanya Alya.


"Minta sama pacarmu sana jangan sama saya," ketus Zifran yang Maisya.


__ADS_2