
Hari menjelang petang Maisya baru terbangun dari tidurnya. Wanita itu berjalan menuruni tangga menuju ke dapur untuk melepaskan rasa dahaga yang kini menderanya.
Namun saat ia berada di lantai bawah pandangannya mengarah ke pada sosok pria paruh baya yang tengah bersantai di ruang keluarga.
Maisya menghampiri papanya dan melupakan tujuan awal ia ke dapur.
"Kok Papa udah pulang? Bukannya jam segini papa masih berada di kantor ya," tanya Maisya heran. Ia duduk di samping papanya.
"Papa lagi nggak ada kerjaan sayang, makanya papa cepat pulang, dan lagian papa mau mengajak kamu untuk menemani papa ke pesta pernikahan anak dari rekan bisnis Papa. Kamu mau kan?"
Dengan lembut Papa Bram membelai pucuk kepala putrinya yang bersandar di bahunya.
"Kok mendadak banget sih Pa,!"
"Papa juga baru dapet undangannya tadi pagi dari sekretaris papa. Dengar-dengar sih katanya anaknya itu sudah hamil terlebih dahulu. Jadi papa harap kamu jangan seperti itu ya Sya. Dan kamu mengerti kan, kenapa papa selalu melarang kamu untuk pacaran?"
Maisya iyakan ucapan dari Papanya. Tapi sungguh, ia telah berbohong dan menyembunyikan kebenaran tentang hubungan cintanya dengan sang kekasih hingga berakhir kandas dari sang Papa.
"Jam berapa acaranya?" Maisya mendongakkan wajahnya menatap sang Papa.
"Jam tujuh malam."
"Berarti masih ada waktu dua jam untuk Maisya bersiap-siap."
"Sudah cepat sana mandi, jangan lama-lama!"
"Iya-iya Papa bawel!" Maisya berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Papa bram hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya itu.
"Lihat May kelakuan putri kita, sama seperti dirimu yang terlihat tomboy dan sedikit bar-bar."
Papa Bram memandangi sebuah foto keluarga yang cukup besar terpajang di dinding ruangan tersebut.
Setelah itu Papa Bram bangkit dari duduknya berjalan menuju menaiki tangga menuju kamarnya.
****
"Fran buruan, kita udah telat!" teriak heboh Arlan yang berdiri dia bang pintu ruang kerja Zifran.
"Diem lo setan! Nggak usah ngeba*cot lo disitu. Sekali lagi lo manggil gue, gue tendang lo dari sini Sampek ke lantai bawah!" sentak Zifran emosi.
Sebab, sekretaris tak berakhlak itu selalu saja mengganggunya hingga ia harus mengecek berulang kali seluruh laporan keuangan yang ia kerjakan sedari tadi.
"Ya Tuhan, dosa apa gue dapet sekretaris kok gini amat. Bukannya ngurangin kerjaan gue ini malah nambahin!" gerutunya sambil mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa saat.
Sedangkan Arlan, pria itu sudah kembali ketempat asalnya. Dimana lagi jika bukan di ruangan sebelah tepat di samping ruangan Zifran.
Zifran bangkit dari kursinya setelah seluruh pekerjaannya telah ia selesaikan, ia segera pergi meninggalkan ruang CEO nya. Begitu juga dengan Arlan yang telah selesai dengan pekerjaan yang Ceo-nya limpahkan kepada dirinya.
Kini keduanya sama-sama menuju parkiran di lantai bawah gedung ZA group.
__ADS_1
"Lo mau balik ke rumah atau langsung ketempat acara?" tanya Arlan yang berjalan di samping Zifran.
"Ke apartemen dulu buat ganti baju!" jawab Zifran.
"Bukannya kalau lo ke apartemen itu bakal bolak-balik makan waktu ya? Kenapa nggak ke rumah aja yang deket."
"Kalau ada yang susah ngapain cari yang mudah."
Arlan membulatkan matanya tak percaya dengan isi kepala sahabatnya itu. Apakah otaknya masih bisa berfungsi atau sudah tergadaikan olehnya. Ah, entahlah sungguh pusing jika ia harus berdebat dengan sahabatnya sablengnya itu.
****
Tap tap tap.
Maisya dan Papa Bram memasuki gedung tempat acara berlangsung. Gadis itu terus berjalan di samping Papa.
Sesampainya mereka di dalam ballroom mata Maisya tak henti-hentinya menelisik seluruh ruangan dengan dekorasi yang begitu mewah dengan nuansa gold berpadu dengan silver yang menambah kesan elegan.
Namun tatapannya tiba-tiba saja terhenti saat melihat seseorang yang baru saja masuk kedalam ballroom sambil menggandeng seorang wanita di sampingnya.
'Kayaknya otak gue mulai konslet deh' batinnya. Maisya memukul pelan kepalanya agar ia tersadar dari segala pikirannya.
"Kamu kenapa Sya?" Papa Bram melirik sekilas putrinya.
"Engh! Nggak papa kok Pa." Maisya tersentak saat sang Papa memanggil namanya. Sebisa mungkin ia bersikap normal.
"Oiya, kamu mau ikut Papa atau menunggu disini?"
"Papa mau menemui rekan bisnis papa yang punya acara ini. Kamu mau ikut?"
"Enggak lah, aku nunggu disini aja!" tolak Maisya.
"Ya sudah kalau gitu Papa ke sana dulu."
Papa Bram pergi meninggalkan Maisya yang terduduk disalah satu kursi yang tersedia.
Sambil menunggu sang Papa, Maisya mengambil ponselnya yang berada didalam dompet yang ia letakkan di atas meja dan memainkannya.
"Hai Sya!" sapa seseorang yang berdiri disampingnya
"Kak Zi, kok lo ada disini! Lo sama siapa kak?" tanya Maisya terkejut dengan kehadiran Zifran disampingnya.
"Karena gue diundang. Tuh sama si curut," pria itu duduk di samping Maisya sambil menunjuk kearah Arlan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Kakak kira kamu nggak bakal dateng Sya!"
"Maksudnya?" Maisya pura-pura tidak mengerti maksud arah pembicaraan pria itu.
"Ya kakak kira kamu bakal nangis frustrasi kayak waktu itu," ucap Zifran mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Ishhh, apaan sih kak. Nggak usah di bahas lagi kenapa, kan malu!" Maisya memajukan bibirnya.
Pria itu tersenyum melihat tingkah gadis dihadapannya ini.
__ADS_1
"Sebenernya sih gue emang nggak niat buat pergi ke acara dia, tapi gue lupa tanggal berapa acaranya karena waktu itu undangannya udah keburu diambil sama Alya. Dan untuk sekarang, gue ada di sini itu karena bokap gue yang ngajak, kalau gue tau bakal ke acara dia gue juga ogah perginya."Maisya menimpali
ucapannya.
"Mau temenin gue nggak?" Zifran menatap gadis disampingnya itu.
"Kemana?" tanya balik Maisya.
"Tuh!" tunjuk Zifran kearah sepasang pengantin yang tengah bersua foto di pelaminan.
"Ogah! Nggak mau gue!" tolak maisya menta-menta.
"Kenapa? Lo masih cinta sama dia?" tanya Zifran penuh selidik.
'Pertanyaan macam apa itu!' batin Maisya.
Sadar diri di keramaian, Maisya memelankan suaranya."Ya nggak lah!"
"Ya udah, kalau gitu buktikan. Buktikan kalau cinta kamu ke dia udah hilang," Zifran memberi tantangan ke Maisya.
"Oke! Yuk!" Maisya menarik dan menggenggam tangan Zifran. Zifran, pria itu sama sekali tak menolaknya.
Di sisi lain. Sedari tadi tanpa Zifran dan Maisya sadari sepasang mata tengah menatap keduanya dengan raut wajah yang tak terbaca. Dengan pandangannya selalu terarah ke arah Zifran. Dan sesekali ia menatap dan membalas ucapan dari lawan bicaranya yang sedang bersama dia.
Di atas panggung Zifran dan Maisya berjalan beriringan dengan tangan Maisya memeluk lengan Zifran posesif hingga mengalihkan seluruh atensi para tamu undangan untuk menatap keduanya.
Banyak pasang mata yang menatap iri dengan Maisya. Terutama para kaum hawa yang sangat menginginkan prianya itu.
Tak jauh beda dengan yang dirasakan seorang pria yang berstatus sebagai mantannya itu yang kini berdiri dihadapannya. "Selamat ya untuk pernikahannya" Maisya mengulurkan tangannya.
"Terimakasih. Pacar kamu?" tanya Dion melirik sinis Zifran.
"Kenalin, gue Zifran pacarnya Maisya!" Zifran mengulurkan tangannya sambil memeluk pinggang Maisya posesif. Maisya menatap Zifran yang tersenyum sembari mengedipkan matanya genit. Gadis itu tersenyum membalasnya.
"Selamat buat lo. Gue minta sama Lo, jaga Maisya baik-baik, jangan pernah lo tinggalin apalagi lo sakiti dia. Cukup gue aja yang sakiti dan ngeduain dia. Gue harap lo jauh lebih baik dari gue!" ucap Dion membalasnya.
"Maafin gue Sya, maafin gue yang pernah ngecewain lo." Dion menatap Maisya dengan wajah sendunya.
Begitupun dengan Tari, wanita itu tersenyum bahagia menatap keduanya yang mulai berdamai dengan keadaan.
"Maafin gue ya Sya, gue tau gue salah karena udah rebut Dion dari lo. Gue minta sama lo jangan benci gue ya?" Pinta Tari kepada Maisya.
Maisya memberikan senyuman tulusnya untuk kedua pengantin yang tengah berbahagia itu. "Kalian tenang aja, gue udah maafin kalian kok. Gue yakin kalian bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu. Dah lah, gue nggak mau kalian sedih di hari bahagia kalian berdua. Selamat menempuh hidup baru buat lo kak!" gadis itu melirik sekilas wajah Dion yang mulai berembun di sudut matanya.
"Yuk kak, kita pergi dari sini." Maisya menggandeng lengan Zifran. "Sekali lagi selamat buat lo Tar dan juga bayi lo. Jaga dia baik-baik."
"Selamat ya buat lo berdua. Dan semoga bahagia." Zifran mengulurkan tangannya ke arah Dion dan juga Tari secara bergantian.
"Terimakasih doanya!" ucap kedua pengantin itu.
Setelah itu keduanya turun dari tempat yang menguras emosi tersebut. Mereka berjalan berdampingan berusaha mengabaikan ucapan orang-orang yang berbisik tentang hubungan mereka. Dan tak sedikit yang menatap sinis kearah gadis itu.
__ADS_1