Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Bertemu kembali


__ADS_3

Sementara siang ini di kamar dengan nuansa manly, Zifran baru saja menyelesaikan acara kemas mengemas beberapa barang yang akan ia bawa untuk menuju kota Bogor. Kota yang selalu di juluki sebagai kota hujan.


Dalam rangka meninjau proyek pembangunan salah satu hotel dari rekan bisnisnya membuat Zifran harus turun langsung untuk menanganinya.


Meski berat hati. Tetap saja, mau tidak mau ia gue pergi saat ini juga. Setelah tadi ia memberitahukan kepergiannya kepada Maisya, entah mengapa ia sedikit tidak rela untuk berjauhan dari gadis itu. Walaupun hanya untuk beberapa hari saja.


Zifran menghela nafasnya lesu. Padahal ini bukan pertama kalinya ia berjauhan. Tapi mengapa untuk saat ini rasanya berbeda.


Tap tap tap!


Ia menuruni anak tangga sambil menggeret kopernya seperti pria yang terusir oleh istrinya. Tak ada senyuman hangat yang terpancar dari wajahnya. Hanya tatapan sentuhan yang ia tampilkan.


Apakah ini efek jika seseorang sedang jatuh cinta?


Kini pandangannya menyapu seluruh sisi rumah, mencari kedua orang tuanya yang sejak tadi tak menampakkan batang hidung mereka.


Apa mereka tidak tau jika anaknya akan keluar kota x? Begitulah pikirnya.


"Bi, papa sama Mama kemana ya? kok dari tadi nggak keliatan!" ia menghampiri pembantunya yang sedang sibuk membersihkan ruang tamu.


"Loh, Si aden nggak tau ya, kalau Tuan dan nyonya sedang berada di Bandung." Bibi memberhentikan pekerjaannya.


"Emang ada acara apa, Papa sama mama ada di Bandung?"


"Kalau tidak salah dengar tadi nyonya bilang mau jenguk adik Tuan yang sedang sakit. Memangnya ada apa Den?" tanya Bibi.


"Nggak ada Bi. Ya udah Bi, aku pergi dulu. Titip rumah ya!"


Zifran berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir apik di halaman rumahnya dengan seseorang yang sejahtera tadi menunggunya seperti menunggu mantan lewat. Ia membuka pintu mobilnya, lalu menatap orang itu tajam. "Apa liat-liat. Mau gue potong gaji lo!?" tanyanya sarkas.


"Silahkan masuk pak boss!" ucap Arlan mempersilahkan Zifran agar masuk kedalam mobil. Ia tak ingin membuat drama dengan pria yang sedang dalam mode senggol potong gaji itu.


Percuma saja bekerja sebulan full jika ujung-ujungnya ia harus merelakan gajinya cuma-cuma. Mending ia kirimin ke kampung daripada terjebak drama yang merugikan dirinya.


"Ar, lampu mobil nggak lo nyalain. Gelap banget tau Ar!"


Arlan menatap Zifran kesal. "Dasar stress. Gimana nggak gelap coba, rang kacamata Lo nggak lo buka pe'a!" dengusnya kesal.


"Ah iya, gue lupa," kemudian Zifran melepaskan kacamatanya.

__ADS_1


Zifran membuka ponselnya untuk mengecek beberapa file yang sempat ia terima dari perusahaan cabang yang berada di Singapore.


Arlan terus melakukan mobilnya menyusuri kota Jakarta disiang hari yang terlihat sedikit senggang tanpa hambatan. Pandangannya terus terfokus menatap jalanan.


Sekilas Arlan melirik kearah sahabatnya yang sedari tadi tersebut mengeluh sepanjang perjalanan hingga terkadang ia merasa kesal dengan pria yang berada disampingnya ini.


"Ngomong-ngomong, kenapa muka lo dari dari tadi ditekuk mulu. Nggak dapet jatah Lo?" tanya Arlan memulai pembicaraan.


"Jatah apaan?"


"Ya jatah apa lagi kalau bukan... ekhem." Arlan mengkode Zifran.


"Sia*lan lo! Asal lo tau, beberapa hari ini gue selalu main solo. Lo bayangin aja gimana tersiksanya gue," jedanya. "Oh, betapa malangnya nasibmu Nak. Sabar ya, setelah kita kembali, kita akan bersenang-senang." gumamnya Zifran sambil mengelus sesuatu yang sedang tertidur lelap di bawah sana.


"Ih, dasar gelo!" Arlan bergidik ngeri membayangkan perkataan orang disampingnya itu.


"Ngomong nggak jelas sekali lagi gue potong gaji Lo setengah. Mau!" Arlan hanya diam tak menanggapi perkataan Zifran barusan. Biarkan, cukup dia (Zifran) saja yang gila. Dirinya (Arlan) jangan.


Cukup lama mereka menempuh perjalanan Jakarta-Bogor. Akhirnya mereka sampai juga ditempat yang mereka tuju setelah 2 jam perjalanan.


Sebuah hotel mewah dengan desain dan rancangan yang begitu menakjubkan. Meski terlihat biasa saja, namun jika diperhatikan lebih detil, maka mata para pengunjung akan dimanjakan dengan segala fasilitas yang telah disediakan oleh pihak hotel.


Kini keduanya berjalan memasuki hotel untuk menaruh barang-barang mereka sebelum peninjauan dimulai.


Ceklek


Zifran masuk kedalam kamarnya. Begitupun dengan sekretarisnya. "Ngapain lo ngikutin gue? Masuk kamar lo sana!" omel Zifran karena Arlan terus mengikutinya.


Sambil menggeret kopernya Arlan berjalan begitu santai. "Sorry, tapi ini juga kamar gue."


"What!" pekik Zifran.


"Lo nggak usah pura-pura budeg, malem ini kita satu kamar, karena semua kamar lagi full ngerti!"


"Ya tapi nggak gini juga, ogah gue satu kamar sama Lo. Kalau nggak Lo cari tempat lain aja!" Arlan bangun dari rebahannya. Ia menatap tajam pria yang selalu membuatnya repot.


"Gue capek. Nggak ada waktu gue buat cari hotel lagi. Ayuk berangkat!" Zifran mendengus kesal kepada sekretarisnya itu. Bisa-bisanya ia mengatur dirinya.


***

__ADS_1


Sesampainya mereka di lokasi pembangunan, Arlan memarkirkan mobilnya tak jauh dari sana.


Ceklek!


Pintu mobil terbuka menampilkan sosok pria bertubuh tinggi dengan kacamata yang bertengger indah di hidung mancungnya.


Zifran berjalan begitu berwibawa dengan Arlan yang berjalan dibelakangnya. Dan tak lupa pula mereka untuk mengenakan helm sebagai standar keamanan ketika berada dalam area tersebut.


"Selamat siang Pak! Apa kabar?" sapa pria berbadan gempal.


"Bagaimana, apakah semuanya lancar!" tanya Zifran kepada kepala proyek.


"Lancar pak. Tidak ada hambatan sama sekali."


"Bagus! Kira-kira kapan semuanya selesai, karena saya tidak mau mengukur waktu dari yang sudah saya a sepakati."


"Anda tenang saja pak, semua akan Sekadau tepat waktu. Mungkin malahan akan lebih cepat dari yang Bapak targetkan. Ini hanya tinggal beberapa saja yang belum dirapikan Untuk pemasangan listrik dan pengecekan semua akan rampung satu atau dua mingguan Pak." Jelas kepala proyek itu sambil berkeliling memperlihatkan hasil kinerja mereka.


Zifran yang mendengarnya hanya sesekali mengangguk paham karena pandangannya masih terfokus menatap bangunan tinggi bertingkat yang sudah hampir mencapai tahap finishing.


Kini ketiganya kembali ketempat mereka semula setelah cukup lama berkeliling. Zifran pun merasa puas dengan hasil kinerja dari para kontraktornya.


Setelah selesai melakukan peninjauan, kini mereka pergi meninggalkan lokasi tersebut menuju kesebuah restoran yang berada tidak jauh dari sana untuk memberi makan cacing mereka yang sedari tadi sudah berdemo.


"Mau makan apa lo?" tanya Zifran.


"Udah sama'in aja." Jawab Arlan simple.


Zifran mengangkat tangannya kearah waiters.


"Mbak!" panggilnya


"Iya pak, mau pesan apa?" tanya wanita itu.


"Saya mau pesan ini dua, dan minumannya yang ini dua ya Mbak," tangan Zifran sambil menunjuk pilihan menu yang ia inginkan.


"Baik pa, mohon di tunggu ya," balasnya sambil tersenyum kearah Zifran.


Zifran yang melihat itupun merasa biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari senyumnya hingga seseorang menepuk bahunya membuat ia menoleh melihat siapa pelakunya. Begitupun dengan Arlan.

__ADS_1


"Hai Fran, apa kabar?" sapa seorang wanita perpajakan minim.


"Kamu? Ngapain kamu ada disini!"


__ADS_2