
"Elo! Ngapain Lo di sini!" Raut wajah keterkejutan Zifran melihat wanita tanpa busana melenggang keluar dari kamar mandi sambil mengusap rambutnya dengan handuk kecil yang berada di kepala.
"Santai dong, Fran. Nggak usah kaget gitu lah," ucap wanita itu dengan santai. Lo mau mandi?" tanya wanita itu yang tak di gubris Zifran.
"Ssshhh." Zifran memegangi kepalanya yang masih terasa pusing akibat pengaruh alkohol semalam. Mungkin ia terlalu banyak minum.
Ternyata keterkejutan Zifran tak sampai di situ. Ia kembali di kejutkan saat membuka selimut dan melihat tubuhnya ternyata tidak mengenakan sehelai benangpun. Wajahnya perah padam menahan amarah. Mengingat kembali kejadian semalam bersama seseorang yang sudah dari awal ia peringatkan untuk tidak menemuinya lagi.
"Gimana pelayanan gue, memuaskan? Ah, iya, gue lupa kalau Lo tadi malam mabuk."
"Apa yang udah Lo lakuin sama gue? Ini pasti kerjaan Lo yang udah ngasih obat luknut itu ke minuman gue. Ngaku Lo!"
"Eits. Tenang dulu dong," Wanita itu duduk di samping Zifran, mengusap wajah Zifran begitu menggoda. "Lo itu munafik tau nggak. Sekarang Lo bisa marah sama gue, tapi kemana diri Lo yang semalam yang muja-muja gue. Dan untuk obat itu, emang bener gue yang ngasih itu ke elo."
Zifran mengepalkan kedua tangannya di balik selimut. Ia tak menyangka jika harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Dalam hatinya Zifran mengumpat kasar dan merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisa ia melakukan hal itu bersama wanita lain.
"Emang bang*sat Lo, Mel!"
"Gue ngelakuin ini karena gue suka sama Lo! Gue nggak terima Lo nolak gue karena gadis ingusan itu! Lo mau kemana?"
Zifran bangkit dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Terus memakainya tergesa-gesa.
Tak lupa pula Zifran mengeluarkan dompet, mengambil kartu sakit berwarna hitam dan melemparkannya ke arah wanita yang duduk di ranjang dengan kaki bersilang menatap dirinya.
"Ambil itu. Gue tau yang Lo butuhkan itu 'kan? Ambil aja, gue nggak masalah. Tapi Lo harus pergi jauh-jauh dari hidup gue."
Kejadian semalam membuat Zifran gusar. Ia takut jika Suatu waktu Maisya mengetahui perbuatan dirinya yang telah mengkhianati cintanya. Ia tak sanggup jika hal itu benar-benar terjadi.
"Gue minta Lo pergi dari kehidupan gue. Gue nggak mau lagi berurusan sama Lo. Dan inget, Lo udah ngelanggar kesepakatan kita. Jangan salahin gue kalau ada apa-apa sama keluarga Lo."
Zifran melangkah keluar dengan raut wajah sulit diartikan. Langkanya tegas, namun terasa berat saat kejadian semalam kembali berputar seiring derap langkah kakinya menjejaki lantai hotel.
__ADS_1
Sementara di kamar hotel, wanita itu memutar-mutar kartu yang ada di tangannya, menampilkan seringai tipis dibalik wajah cantik, namun terkesan licik. "Lo itu ladang uang gue, mana mungkin gue ngelepasin elo gitu aja."
Wanita bernama Amel yang pernah dijodohkan oleh orang tua Zifran ternyata diam-diam menyimpan kekaguman dan ingin memiliki pria itu seutuhnya. Pria yang menolaknya setelah menghabiskan malam panjang dengan sebuah kesepakatan. Dari situlah Wanita itu terus mengintai Zifran hingga ke club. Dan memberi minuman yang berisi obat perangsang yang ia berikan kepada bartender.
"Uang Lo udah gue transfer. Kerjaan kalian berdua beres." Amel melakukan panggilan kepada seseorang yang jauh di seberang.
"Ok, makasih. Kalau ada kerjaan lagi jangan lupa hubungi gue," ucap pria itu tersenyum puas.
"Tentu aja. Ya, walau kalian berdua terlalu ceroboh, tapi gue suka cara kerja kalian. Dah, gue tutup dulu teleponnya."
Setelah melakukan panggilan, Amel memakai pakaiannya kembali, lalu memasukkan kartu pemberian Zifran ke dalam tas dan melenggang pergi dari kamar itu menuju lantai bawah.
***
Zifran baru saja memarkir mobilnya di parkiran apartemen miliknya. Merebahkan tubuh di atas kasur king size. Pikirannya kacau menerawang memikirkan kejadian yang menimpanya.
Segala pemikiran buruk tentang hal itu berseliweran mengusik dirinya. Entah seperti apa kedepannya. Ia butuh menenangkan diri agar siap menghadapi Maisya jika wanita itu melakukan hal yang nekat dan merugikan.
Rasa bersalah telah menghimpit dada, meninggalkan penyesalan mendalam bagi Zifran. Andai malam itu ia tidak ke club, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Menghianati Maisya adalah hal terburuk dalam hidupnya.
Akan tetapi, bukan seperti yang kita duga. Ternyata Zifran memiliki alasan lain
kenapa dirinya seperti itu.
Ia hanya butuh waktu untuk memantaskan dirinya menemui Maisya. Padahal Maisya tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Tapi hati kecilnya sangat malu untuk bertemu.
Di sisi lain. Sedari tadi Maisya hanya mengaduk makan yang di pisan. Tak ada niat gadis itu untuk menyantapnya. Maisya galau. Maisya kacau karena selama dua hari ini kekasihnya, Zifran tidak menghubunginya. Seperti sebelumnya, disaat ia ngambek pria itu tak henti-hentinya menelfon sampai-sampai ponsel Maisya di buat mode silent.
Berbeda dengan saat ini. Apakah segitu marah Zifran dengan dirinya yang membela Leon dan mengusirnya dari rumah?
Maisya menggeleng pelan, menepis prasangka buruk terhadap pria itu.e
__ADS_1
"Lo kenapa sih , Sya? Dari tadi ngadukin makanan terus. Lo nggak sayang apa yang bakso yang dari tadi Lo putar-putar. Yang ada tuh bakso pusing tau." Andin bingung dengan sikap Maisya.
"Pak Zifran belum ngasih kabar ke lo?" Maisya menggeleng. "Lagian menurut gue wajar sih kalau Lo marah. Tapi apa nggak sebaiknya Lo turunin ego Lo sedikit aja. Kasian tau pak Zifran." Kini giliran Alya yang bersuara.
"Gue udah ngalah dan nurunin ego gue. Bahkan gue udah nyoba telfon dia, tapi nomor dia nggak aktif. Gue harus gimana sekarang?" Dirinya benar-benar bingung saat ini.
Ya. Sejak kemarin Maisya berusaha menghubungi Zifran, namun tak ada jawaban dari pria itu. Maisya juga menghubungi Arlan dan pria itu juga sama seperti dirinya. Mencari keberadaan orang yang sama.
"Kenapa Lo nggak kerumahnya aja? Mana tau pak Zifran di rumahnya," ucap Andin.
"Bahkan gue udah nelepon Tante Sarah. Kata Mama kak Zifran, kak Zifran nggak ada di rumah. Gue bingung Din, Al."
"Lo tau 'kan apartemen pak Zifran, coba deh Lo ke sana. Mana tau tuk orang ada di sana." Alya mengelus bahu sahabatnya. Memberi kekuatan agar sahabatnya itu tetap berpikiran positif.
"Bener yang di bilang Alya, mending Lo samperin dia ke apartemennya karena cuma tempat itu doang yang belum Lo cari."
"Hem. Thanks banget ya. Lo berdua selalu ada saat gue butuh." Maisya berhambur memeluk kedua sahabatnya.
Namun tak berselang lama ponsel Maisya bergetar. Maisya merogoh saku bajunya dan melihat siapa yang meneleponnya.
"Kak Arlan," gumamnya lirih.
"Siapa, Sya?" tanya Andin dan Alya bersamaan.
"Dari kak Arlan. Lo berdua jangan berisik!" Keduanya mengangguk ketika Maisya menerima panggilan dari Arlan.
"Halo, kak."
"[.....]"__ Arlan.
"Ha'. Yang bener!"
__ADS_1
"[.....]"
"Oke, gue bakal ke sana sekarang!" Maisya mematikan ponselnya.