
Di gedung bertingkat yang bertuliskan ZA group.
Zifran baru saja turun taksi berjalan dengan begitu Maco nya, sehingga membuat setiap kaum hawa yang menatapnya akan berteriak histeris dan selalu memuja-muja namanya. Terutama untuk urusan ranjang.
Meskipun Zifran terkenal akan sifat bej*atnya, itu semua tidak mengurangi nilai plus pada diri Zifran.
Di dalam ruangan yang begitu luas tertata rapih dengan desain modern menampilkan nuansa berbeda bagi siapa saja yang berada di dalamnya.
Zifran mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya sambil memeriksa hasil laporan keuangan yang ia minta serta beberapa dokumen yang tertata apik di atas meja kerjanya.
Tok tok tok.
"Masuk!" ucap Zifran sedikit berteriak. Namun dirinya tetap memfokuskan pandangannya ke selembaran kertas yang ada di hadapannya.
Tap tap tap.
Langkah seseorang terdengar menyapa didalam sebuah ruangan yang hanya di tempati oleh sang Ceo.
Tanpa dipersilahkan oleh Zifran, pria itu langsung mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan meja kerja Zifran.
"Setelah jam makan siang kita ada meeting sama para investor. Jadi, lo jangan sampek telat dengan beribu alasan. Inget itu! ucap Arlan memberi peringatan kepada Zifran.
"Hem" ucapnya singkat.
"Lo denger gue ngomong nggak sih."
"Denger lah, Lo kira gue bu*deg." sambung Zifran santai.
Sumpah demi apapun, ingin rasanya Arlan mencekik lehernya. 'Untung lo boss gue, kalau nggak udah gue tukar tambah juga nih anak.' gerutunya dalam hati.
Sementara Zifran, ia hanya tersenyum simpul menatap sekilas wajah kesal Arlan.
"Nih, bantuin gue ngecek semua berkas-berkas yang udah pada numpuk dari pada lo di sini cuma nganggur doang."
Zifran memberikan beberapa map kepada Arlan. Arlan menerimanya dengan penuh drama, "Gue kesini tuh ngasih tau tugas lo, bukan gue yang lo kasih tugas. Heran gue sama bokap lo, kok bisa ya punya anak kayak Lo?"
"Gue lebih heran sama bokap gue, kok bisa-bisanya milih sekretaris model kayak lo. padahal kan masih banyak cewek yang mau jadi sekretaris gue,"
" Karena dia tau kalau ot*ak anaknya nggak jauh-jauh dari selang*angan." Arlan menatap Zifran sambil tersenyum sinis.
Jlebb!
SKAK MAT.
Sungguh perkataan Arlan barusan mengenai jantungnya. Zifran tak menyangkal bahwa ucapan Arlan ada benarnya.
Jika ingin menyalahkan, salahkan saja dedek gemesnya yang tidak kuat menahan godaan.
Zifran melemparkan pulpen ke arah Arlan, "Emang sia*lan lo!" umpatnya kasar.
Dengan gerakan cepat, Arlan segera menghindar dari jurus baling-baling pulpen yang Zifran layangkan kepada dirinya.
Demi kesejahteraan fasilitas kantor, Arlan mengambil map yang tergeletak di atas meja dan berlalu pergi meninggalkan Zifran.
__ADS_1
Zifran yang melihat kepergian Arlan menghela nafas panjang, "Fiuhhh."
"Gini amat punya sekretaris," ucap Zifran frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya di kepala bagian belakang.
****
"Mau pesan apa lo Sya? Biar gue sekalian jalan nih," ucap Andin.
"Mie ayam plus bakso, kayak biasanya. Terus sama siomay satu porsi, minumnya es teh tawar. Nih duitnya!" Maisya merogoh saku bajunya mengambil uang pemberian dari Zifran , tapi bukan pemberian sih lebih tepatnya memalak Zifran.
Andin menerima uang pemberian Maisya, "Gi*a nih anak pesenannya banyak banget. Kira-kira habis nggak tuh! ucap Andin sedikit meninggikan nada kala mendengar pesanan dari Maisya.
"Habis lah, kan tadi gue nggak sempet sarapan gara-gara gue kesiangan."
"Lo mau ikut atau sekalian?" tanya Andin ke Alya.
"Samain aja kayak punya lo, gue lagi mager soalnya."
"Hem." jawab Andin singkat.
Andin berjalan kearah kerumunan siswa-siswi yang sedang mengantri meninggalkan mereka berdua di tempatnya.
"Sya, sepulang sekolah kita jalan bareng yuk?" ajak Alya.
"Kemana?" Sesekali Maisya memainkan ponselnya.
"Nonton! Udah lama kan kita nggak nonton bareng," sambung Alya yang memainkan sendok dan garpu yang ada di hadapannya.
"Yuk!" semangatnya, "Di tempat biasa jam tiga," timpalnya lagi.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya Andin beserta makanan yang mereka pesan datang bersamaan.
"Sorry lama banget ya? Soalnya ngantri. Udah mbak taruh di sini aja, makasih mbak!" ucap Andin kepada wanita yang bekerja sebagai pelayan di kantin sekolah.
"Sama-sama" ucap wanita itu dan berlalu.
Mereka bertiga makan di selingi dengan candaan, baik dari Maisya maupun kedua sahabatnya yang membuat suasana menjadi lebih santai.
***
Di apartemen di jalan Xx.
Zifran yang baru saja tiba di tempat itu sudah di hadiahi dengan ciuman mesra dari seorang wanita yang tidak lain adalah 'wanitanya' bernama Casandra.
Wanita yang beberapa saat lalu memintanya untuk datang dengan alasan merindukan dirinya. Tentu dengan senang hati Zifran mengiyakannya. Sebab, Zifran tau apa maksud dari kata 'Merindukannya'.
Casandra, wanita yang terobsesi pada Zifran hingga ia dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk Zifran. Tentu dengan senang hati Zifran menerimanya.
Zifran duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar itu sambil membuka satu kancing kemeja di bagian atas, dan iapun melonggarkan ikatan dasi menjerat lehernya. Setelah itu Casandra berjalan menuju kamarnya.
Dari balik pintu kamar yang terbuka lebar memperlihatkan seorang wanita yang tidak lain adalah Casandra yang saat ini tengah mengganti pakaian miliknya. Ia sengaja melakukan dan memperlihatkannya hanya untuk menggoda Zifran.
Zifran yang melihat itu semua tentu saja seperti kucing lapar yang melihat ikan asin. Tanpa menunggu lama pria itu langsung menghampiri Casandra.
__ADS_1
Wangi aroma maskulin dari tubuh Zifran membuat senyum Casandra terbit seketika. Wanita itu membalikkan tubuhnya agar dapat menatap wajah Zifran yang saat ini menginginkannya.
Melihat Casandra yang begitu menggoda, naluri kelakiannya seketika mencuat. Tanpa menunggu lama Zifran langsung mendorong tubuh wanita itu ke ranjang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Pakaian Zifran kini satu persatu mulai terlepas dari tubuhnya yang atletis. Begitupun dengan Casandra, wanita itu sudah tak memakai sehelai benangpun yang menutupi tubuh polosnya.
Cumbu'an demi cumbu'an di lakukan oleh Casandra yang menikmati tubuh kekar nan menggoda milik Zifran. Sementara Zifran, ia hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu kepada dirinya.
"Terus Casa," Zifran menikmati setiap sentuhan dan rangsangan yang di berikan oleh Casandra.
Sedikit info. setiap tulisan 'Casa' di baca 'Cesa' ya😊
Keduanya kini larut dalam buaian hasrat yang menggairahkan hingga mereka melupakan segala tentang kepenatan yang membelenggu jiwa mereka walau hanya sesaat.
Suara erangan dan des**han dari bibir keduanya membuat suasana di kamar itu semakin panas.
Zifran membalikkan posisinya saat ini. Perlahan tapi pasti ia melakukan tugasnya dengan begitu lihainya.
Zifran menggerakkan tubuhnya semakin menggila saat ia merasakan hasratnya sudah di ujung tanduk. Begitupun dengan Casandra,ia sudah tak bisa berkata-kata lagi saat ini.
Menyadari akan hal itu Zifran menghentikan sejenak aksinya, ia mengambil benda di laci nakas dan memasangnya ke si dedek gemes yang saat ini berdiri tegak dan menantang.
Setelah selesai memasangnya, Zifran kembali menghujam miliknya ke tempat yang semestinya.
Drettt drettt drettt.
Namun tiba-tiba suara dering ponsel menghentikan kegiatan panas yang tengah mereka lakukan.
"Agrrhh, shi***!" umpat Zifran mengacak rambutnya. Zifran yang menyadari siapa yang menghubungi dirinya hanya bisa mengumpat kasar atas kelalaian yang ia lakukan.
"Loh, Fran mau kemana?" tanya Casandra bingung ketika Zifran terburu-buru memakai kembali pakaiannya.
"Gue mau ke kantor ada meeting, gue lupa." Jawab Zifran ketus karena menahan kekesalannya.
"Terus ini bagaimana?" Casandra melirik ke arah bawah tubuhnya.
"Lo pikir aja sendiri, gue udah nggak mood."
Tolong bagi siapa saja ingatkan kepada Zifran, jika ia lupa untuk melepaskan sarung ninja yang masih setia membungkus miliknya.
"Tapi nggak bisa gitu dong Fran, "
"Untuk saat ini gue udah nggak mood, jadi nanti malam aja kita lanjutkan lagi." Mendengar penuturan dari Zifran Casandra tersenyum penuh kemenangan.
Setelah selesai memakai kembali pakaiannya, Zifran berjalan keluar dari apartemen milik Casandra.
"Siapkan terus ruang meeting nya, nggak lama lagi gue bakal Sampek." ucap Zifran yang baru saja menghubungi Arlan dan langsung memutuskan panggilannya.
Zifran berjalan cepat sambil mengumpati kebodohannya dan kecerobohan karena bisa-bisanya ia melupakan janji meeting hari ini.
Andai saja jika Casandra tidak menghubungi dirinya dan memintanya untuk datang ke apartemennya, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
"Hah, sungguh malangnya nasibmu nak! Sabar ya, entar malam kita kerja lagi, oke!" gumamnya sambil melirik ke arah sesuatu yang masih menggembung di bawah sana.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu lebih lama Zifran langsung menancap gasnya agar tiba ke kantor tetap waktu.