
"Berhati-hatilah di sana. Jangan lupa kabari Papa jika kamu sudah sampai," ucapnya memeluk Maisya erat seakan tidak tidak ingin berpisah dengan putri semata wayangnya itu.
"Jaga diri Papa baik-baik, Maisya selalu merindukan Papa. Maaf, Maisya sudah membuat Papa bersedih."
Papa Bram menggeleng "Pergilah, waktu keberangkatan kalian beberapa menit lagi. Papa akan selalu menghubungimu. Dan kau..." Melepaskan pelukannya pada Maisya, beralih pada sosok pemuda yang menjadi kepercayaannya kini. "tolong jaga putri saya baik-baik. Saya percayakan dia sama kamu," sambung Papa Bram memeluk Leon sambil menepuk bahu pemuda itu.
"Om tenang saja, saya akan menjaga Maisya dengan baik. Saya jamin itu. Oiya, Om. Saya punya satu permintaan," ucap Leon.
"Apa itu?"
"Tolong rahasiakan kepergian saya sama Maisya dari siapapun itu. Termasuk kedua sahabatnya. Dan tolong jaga rahasia ini baik-baik karena saya tidak mau jika Zifran terus mengganggu Maisya seperti yang sudah-sudah," tutur Leon mengambil keputusan sepihak tentang rencananya membawa Maisya pergi. Dan itu membuat Papa Bram awalnya menolak dengan kekeh sebelum Leon mrnberi pengertian tentang semua kejadian yang menimpa Maisya saat ini.
"Tentu saja. Apapun akan saya lakukan untuk Maisya, termasuk hal ini."
Sebagai seorang ayah, dengan segala pertimbangan ketidakrelaan, mau tidak mau demi sang putri, akhirnya pria itu menyetujui permintaan Leon yang terkesan berlebihan untuk status mereka sebagai seorang sahabat.
Setelah berpamitan, Leon dan Maisya masuk ke ruang tunggu penumpang, menunggu jadwal mereka tinggal beberapa menit lagi untuk keberangkatan mereka menuju negara yang akan menjadi tempat baru dalam menuntut ilmu sekaligus memulai kehidupan baru mereka di sana.
*
*
*
"Ini apartemen Lo. Dan apartemen gue ada dilantai ujung sana," ucap Leon memberitahu Maisya jika mereka tinggal di lantai yang sama.
"Makasih ya, Yon Lo udah bawa gue ke sini. Gue harap di tempat ini gue bisa memulai kehidupan baru tanpa rasa sakit yang pernah gue rasain. Makasih banyak buat semuanya," balas Maisya memeluk pemuda yang tingginya sekitar 190 sentimeter.
Leon membungkukkan tubuhnya membalas pelukan Maisya. "Gue akan selalu ada untuk Lo, Mae. Gue orang pertama yang akan selalu jagain Lo sekarang. Buat gue, Lo lebih dari segalanya. Lo cewek baik yang nggak pantes di perlakukan sama cowok bre*ngsek kayak dia. Mulai sekarang Lo harus bahagia. Buktiin ke dia kalau Lo baik-baik aja dan bahagia dengan kehidupan baru Lo sekarang. Jadi berhenti untuk mikirin pecundang kaya Zifran karena itu bakal nyakitin diri Lo sendiri," ucap Leon panjang lebar, berusaha meyakinkan Maisya tentang kehidupan baru mereka.
Maisya menyeka air matanya yang keluar tanpa diminta. Mungkin langkah ini tepat untuknya mengubur semua kenangan pahit atas cinta yang terluka.
Setelah itu Maisya menerima kunci dan membuka apartemennya. Sedangkan Leon, berjalan menuju apartemennya yang berselang beberapa pintu saja.
Di dalam sana, Maisya meletakkan koper di samping ranjang Big size dengan seprei berwarna biru muda bermotif awan. Merebahkan tubuhnya di atas sana sambil mengamati setiap sisi ruangan tersebut.
Kamar yang berukuran besar dengan kamar mandi lengkap dengan bathtub serta lemari yang lebarnya sekitar tiga meter dan meja rias yang tertata rapi samping lemari.
__ADS_1
Matanya terpejam menikmati suasana baru negeri orang membuat Maisya nyaman hingga terlelap.
*
*
*
"Gimana perasaan kamu, udah baikan?" tanya Leon berjalan di samping Maisya, merangkul sahabatnya posesif.
"Hem. Sebenarnya kita mau kemana sih? Udah dari tadi jalan nggak nyampek-nyampek. Mana kaki gue pegel lagi!" gerutu gadis itu yang tidak tau kemana tujuan mereka saat ini.
"Kita bakal keliling sebentar buat nikmatin udara Swiss di malam hari. Em... mau gue gendong?" tawar Leon berhenti saat lampu merah menyala.
"Boleh," jawab Maisya langsung naik ke punggung saat Leon membungkukkan tubuhnya.
Dengan semangat, Leon menggendong Maisya berkeliling menyusuri satu tempat ke tempat lain untuk menikmati keindahan kota Swiss di malam hari.
Suasana malam yang dingin seketika menghangat dengan candaan yang mereka lontarkan. Mengejek, mencibir bahkan kata-kata umpatan selalu keluar dari mulut Maisya saat Leon menggodanya. Tak hanya itu, bahkan sesekali Maisya tak segan untuk mencubit lengan Leon hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Lo tunggu sini ya? Biar gue yang beli." Menurunkan Maisya di sisi jalan tak jauh dari gerai penjual eskrim.
Setelah kepergian Leon, Maisya mulai celingukan kesana-kemari melihat orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Sambil menggosok-gosok telapak tangannya, Maisya memperhatikan sepasang kekasih yang bermesraan di depannya hingga kehadiran Leon mengejutkannya.
"Hayo! Lagi liatin apaan?" goda Leon meletakkan eskrim di pipi Maisya membuat Maisya tersentak.
"Ih, Lo ngagetin aja tau nggak." Maisya memukul lengan Leon.
"Abisnya gue perhatiin dari tadi Lo bengong mulu, ada apa?" tanya Leon memastikan jika Maisya baik-baik saja.
"Nggak ada. Tadi gue cuma kepikiran sama Alya dan Andin. Gue nggak enak ninggalin mereka gitu aja," ucap Maisya berbohong.
"Yaelah... kirain apaan. Lagian kan Lo udah bilang ke mereka sebelumnya.Yuk lanjut lagi kelilingnya." Leon menggenggam tangan Maisy kembali menyusuri ibukota Bern, Swiss.
Melewati gedung-gedung bertingkat, jalanan yang ramai dipenuhi para pejalan kaki membuat suasana menjadi berbeda ketika berada di Indonesia. Dan ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua.
Sepanjang perjalanan, tangan Leon tak pernah lepas menggenggam tangan Maisya. Sesekali Leon juga merangkul tubuh Maisya, mendekapnya hangat.
__ADS_1
Setelah selesai berkeliling, Maisya menjatuhkan tubuhnya di samping Leon yang juga melakukan hal serupa seperti dirinya di sofa ruang tamu.
"Makasih ya, Lo udah ajak gue jalan-jalan malam ini. Gue jadi happy kayak nggak punya beban hidup. Ah... nyamannya hidup di negeri orang," ucap Maisy melirik Leon sambil meregangkan otot-otot tangan dan kakinya yang terasa pegal.
"Apapun bakal gue lakuin buat Lo, Mae. Gue biarpun gue orangnya kayak gini, tapi kalau berhubungan sama Lo, gue bakal jadi orang pertama yang pengen elo bahagia. Dan gue nggak bisa liat Lo kayak kemaren, hati gue terlalu sakit sebagai sahabat yang sayang sama lo."
'Dan selalu mencintai elo, Sya,' sambung leon yang hanya bisa membatin saja.
Tanpa permisi, Maisya langsung memeluk Leon. "Aaaa... makin sayang deh gue sama Lo, Yon. Lo temen cowok gue yang paling pengertian." Menyandarkan kepalanya di dada bidang Leon, membuat pemuda itu terkejut, namun tetap membalas pelukan Maisya.
Perlahan gadis itu mulai berdamai kembali dengan hatinya. Melupakan kisah cinta yang pupus di tengah jalan. Semua itu berbanding terbalik dengan seseorang yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Di tanah air, Zifran yang berpenampilan acak-acakan duduk bersandar di sofa ruang tamu di kediaman keluarga Samudera. Wajahnya tampak dingin dengan guratan kesedihan di sana. Pria itu memejamkan mata, menghela napas berat saat mendengar langkah kaki yang menghampiri, dirinya.
"Darimana saja kamu malam-malam begini?" tanya Papa Arya berdiri di hadapannya Zifran sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Bukan urusan Papa!" ketus Zifran bangkit dari sofa.
"Apa kamu masih mencari Maisya?" tanya Papa Arya yang mengetahui kegiatan putranya beberapa hari ini.
"Bukan urusan Papa! Gara-gara kalian, Maisya ninggalin aku. Dan aku nggak tau dimana keberadaan dia sekarang!"
"Papa minta lupakan dia sekarang. Sebentar lagi kamu akan menikah, Papa nggak mau kau mempermalukan keluarga kita seperti yang sudah-sudah!" tegas pria paruh baya itu.
"Pokoknya aku-"
"Suka tidak suka Papa tidak menerima penolakan!" ucap Papa Arya tak terbantahkan.
*
*
*
Hayo... siapa di sini yang seneng liat Maisya sama Zifran putus.
Dan menurut kalian, Maisya lebih cocok sama siapa? Leon atau si Zifran yang udah bikin Maisya sakit hati?
__ADS_1