
Sejak kejadian seminggu yang lalu, kini Zifran dan Maisya terlihat semakin sering bertemu dan saling mendekatkan diri demi meyakinkan Mama Sarah dan juga papa Arya tentang hubungan yang belakangan ini mereka jalani.
Seperti saat ini. Di sebuah cafe yang tak jauh dari pusat kota, tampak terlihat sebuah motor sport yang baru saja terparkir dengan seseorang yang masih berdiri di atasnya sambil membuka helm yang ia kenakan.
Seorang wanita cantik dengan seragam sekolahnya baru saja turun dari motor yang ia kendarai berjalan menuju sebuah meja yang tak jauh dari tempatnya memarkirkan motornya barusan.
Dari ujung meja terlihat seorang pria sedang melambaikan tangannya kepada seseorang yang berjalan kearahnya sambil tersenyum manis menatapnya.
"Sorry kak, gue telat soalnya tadi abis latihan basket, lo nggak marah kan?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Maisya.
Iapun langsung mendudukkan tubuhnya tanpa di persilakan terlebih dahulu.
"Hem." jawab pria itu singkat.
"Lo marah ya kak?" Maisya menatap wajah Zifran.
"Nggak, gue cuman kesel aja dari tadi nungguin lo kayak ikan asin di jemur dipanasan."
"Ya, maaf!" ucap Maisya lagi-lagi meminta maaf kepada Zifran.
Perlahan tangannya terulur mengacak rambut Gadis yang ada dihadapannya. "Lain kali jangan bikin gue nunggu, karena gue nggak suka nunggu kalau lo lagi sibuk, lo harus hubungi gue, paham." Maisya mengangguk paham.
"Lo udah makan cil?"
"Belum lah, kan gue langsung kesini, gimana sih lo kak?!" terlihat wajah kesal Maisya saat pertanyaan dari pria yang ia panggil 'Kak'.
"Mau pesan apa, biar sekalian sama gue?"
"Apa aja yang penting es Boba, kalo makanan samain aja kayak lo."
Mendengar itu Zifran langsung memanggil waiters yang sejak tadi menunggu ia untuk memesan setelah beberapa kali waiters itu menghampirinya.
Setelah menyebutkan pesanannya waiters itu pergi dan Zifran melanjutkan obrolannya dengan Maisya yang sempat tertunda.
"Nanti malam lo ada acara nggak cil?"
Msisya menggeleng. "Enggak! Ada apa emangnya?"
" Nanti Malam nyokap gue ultah, lo mau kan dateng buat ngasih kejutan ke nyokap gue?"
Spontan Maisya memukul lengan Zifran."Kok lo dadakan sih ngasih tau gue, mana gue belum nyari kadonya lagi." Maisya mendengus kesal.
"Ya udah dari sini nanti Kita langsung cari kadonya, gimana lo mau nggak?"
"Boleh,"
"Oke tapi gue nggak bisa lam-" ucapnya terhenti saat seseorang menyapanya.
"Hai Fran! Kok lo ada disini, bukannya tadi lo bilang lo lagi di kantor ya?" ucap seorang wanita sambil mencium bibir Zifran di tempat umum.
__ADS_1
Maisya yang menyakiti siksn adegan tersebut hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang barusan terjadi dihadapannya.
'Wah, gila nih tante-tente main nyosor aja. Disini ada bocil woi!" batinnya meringis.
Zifran menoleh melihat siapa yang berada di sampingnya, "Hai juga casa, kok lo ada disini?" Zifran membalas mencium pipi wanita itu.
"Woi! Om, tante, disini masih ada anak di bawah umur nih, kira-kira dong."
Entah mimpi apa ia semalam hingga disuguhkan pemandangan yang membuat jiwa jomblo nya meronta.
"Aissshh, gue lupa cil, sorry." Ia merutuki dirinya yang tak kuat menahan rang*sangan dari wanitanya itu untung tempat umum, jika tidak, sudah bisa di pastikan apa yang akan ia lakukan.
"Siapa dia Fran, keponakan kamu?" tanya Casandra melirik Maisya dengan skor matanya sambil tersenyum sinis.
"Bukan. Kenalin dia Maisya temen gue?" Zifran memperkenalkan Maisya kepada Casandra.
"Temen ranjang lo juga?" tanya lagi sambil menatap sinis Maisya.
Zifran hendak bersuara namun tiba-tiba Maisya sudah angkat suara terlebih dahulu.
Sementara maisya, gadis itu merasa tak terima langsung bangkit dari duduknya.
Brak!
"Eh, tante, kalau punya mulut tuh dijaga jangan asal mangap dong! Emang gue elo yang asal nyosor aja nggak liat situasi kondisinya di mana?!" ucapnya sambil menggebrak meja sehingga mengundang atensi bagi pengunjung yang melihatnya.
"Ya emang lo tante-tante, liat aja dandanan lo yang menor begini. Apalagi bibir lo yang kayak ikan lohan yang habis minum cat, makanya lo cocok di panggil tante."
Ucapan Maisya pun tak kalah tinggi. Zifran yang menyaksikan keduanya hanya bisa memijit pangkal hidungnya saat ia merasakan pusing mendengar kegaduhan dihadapannya.
Tak berselang lama seorang waiters datang dengan membawa pesanan yang di pesan oleh Zifran.
"Letakkan saja disitu!" ucap Zifran kepada waiters sambil menunjuk
kearah mejanya. Kemudian ia mengibaskan tangannya kepada waiters itu untuk secerah pergi.
Sementara Maisya dan Casandra, mereka saling menatap satu sama lain saling melemparkan tatapan tajam keduanya dengan kedua tangan terlipat di depan dada mereka masing-masing.
Zifran melirik Maisya dan Casandra secara bergantian. "Udah berantemnya?" Terdengar nada dingin dari Zifran.
Keduanya menyadari aura yang terpancar dari wajah pria yang ada di hadapan mereka hanya bisa mengurungkan niatnya untuk saling adu mulut. Namun itu tak bertahan lama,
"Dia duluan yang mulai, masak dia ngatain aku tante-tante." Adu Casandra.
"Enak aja lo! Mulut lo duluan tuh yang ngatain gue. Emang mulut nggak pernah disekolahkan makanya asal mangap aja kalau ngomong. Asal Lo tau ya, gue tuh masih perawan tingting ngerti!" lantangnya.
Zifran semakin pusing melihat keduanya hingga ia memutuskan untuk pergi dan membiarkan mereka berdua dengan perdebatannya.
Namun sebelum itu ia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
Maisya yang menyadari kepergian Zifran tanpa ba-bi-bu langsung menyusulnya meninggalkan Casandra dengan segala kekesalan yang ia rasakan.
"Urusan kita belum selesai tante lohan!" teriak Maisya yang berlari sambil mengangkat jari tengah kearah Casandra.
Di ujung sana tampak Casandra sedang menahan emosinya saat melihat apa yang di lakukan Maisya terhadapnya. "Liat aja nanti, lo bakal bayar semuanya." gerutunya yang menatap sinis kepergian Msisya.
"Kak Zi, tungguin gue!" Maisya berjalan cepat menyusul Zifran yang hampir sampai di mobilnya.
"Cepat amat sih jalan lo kak? Capek gue ngerjer nya. Hosh... hosh...hosh" ucapnya sesekali membuang nafasnya kecapean.
"Masuk!" perintah Zifran.
"Masuk kemana?" tanya Maisya bingung.
"Masuk kedalam mobil Maisya Indira."
Tanpa banyak protes ia langsung masuk setelah Zifran memanggilnya dengan nama lengkapnya, seperti kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya memanggil Zifran dengan sebutan 'Om' di depan kedua orangtuanya langsung dihadiahi tatapan dingin dari Zifran.
Setelah Maisya masuk kedalam mobilnya Zifran merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel miliknya.
Tut...... Tut......
"Hallo!" Suara dari sambungan telepon.
"Nanti lo buruan ambil motor Maisya di cafe X nggak jauh dari kantor. Awas kalau Sampek lupa, bakal gue potong gaji lo 30 persen, paham Lo!"
Tut!
Zifran matikan ponselnya secara sepihak.
"Kita mau kemana kak?" Maisya menatap kearah Zifran yang perlahan melajukan mobilnya dijalan raya.
"Kita ke mall buat belanja keperluan entar malam."
"Kak,"
"Hem."
"Kak Zi!"
"Apa sih Sya?"
Selama di perjalanan tak henti-hentinya Maisya bertingkah menyebalkan yang terkadang mengundang rasa kesal Zifran terhadapnya.
"Sya, pelanin nggak musik nya? Ini didalam mobil gue nggak fokus nyetirnya."
"Apa? Gue nggak denger!" serunya menatap Zifran seperti sedang berkomat-kamit.
Zifran menepikan mobilnya.
__ADS_1