Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Kehidupan Maisya dan Zifran.


__ADS_3

Maisya yang baru pulang sekolah langsung memarkirkan motornya di garasi. Maisya berjalan dengan langkah gontai setiap kali ia menatap kearah pintu yang dahulu selalu terbuka lebar untuk menyambutnya kini seakan tak berpenghuni.


Maisya menarik nafas dalam-dalam lalu ia membuangnya kasar, "Huh!"


Perlahan Maisya masuk ke dalam rumah dan langsung menaiki tangga menuju kearah kamarnya.


Maisya yang merebahkan tubuhnya di atas kasur king size kesayangannya, sambil menikmati kesendirian yang selalu menemani dirinya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu kamar mengalihkan pandangan Maisya.


"MASUK!" teriaknya.


Ceklek..


Pintu kamar Maisya terbuka, menampilkan wanita paruh baya yang tengah berdiri diambang pintu.


"Masuk aja Bi! Ada apa?" ucap Maisya yang baru bangun dari rebahannya.


"Non Sasa mau makan sekarang atau mandi dulu?" tanya wanita paruh baya yang di panggil 'Bi' oleh Maisya.


Jangan heran dengan nama Sasa yang ditujukan untuk Maisya. Sejak Maisya kecil, Bi 'Nana' itu nama wanita paruh baya yang selalu merawat Maisya dan selalu memanggilnya dengan sebutan Sasa sebagai nama kesayangan untuk Maisya.


"Papa udah pulang Bi?" Bukannya menjawab Maisya malah balik bertanya.


"Belum Non, mungkin sebentar lagi," Jawab Bik Nana seadanya.


"Hemm." Maisya menghembuskan nafasnya berat.


"Selalu aja."


Maisya turun dari ranjangnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan Menganti seragam sekolahnya.


Maisya menuruni anak tangga sambil menatap hampa kearah pintu utama. Berharap sang Papa pulang dan menikmati waktu bersamanya. Namun, semua itu hanya khayalan yang entah sampai kapan ia nikmati.


Srettt.


Maisya menarik kursinya untuk ia duduki.


"Non Sasa mau makan apa? Biar Bibi yang ambilin," tawar Bik Nana.


"Nggak usah Bi, Sasa bisa sendiri kok Bi," tolak Maisya.


"Bi Nana makan juga ya, temenin Sasa." timpalnya.


"Tapi Non... Bibi harus beresin dapur terlebih dahulu."


"Ya udah kalau gitu, Sasa nggak jadi makan." Ancam Maisya.


"Aduh, jangan ngambek Non. Ya udah nih Bibi nemenin Non Sasa makan, tapi jangan ngambek lagi ya?" ucap Bik Nana mengalah.


Maisya tersenyum penuh kemenangan setelah Bik Nana akhirnya pasrah dengan ancaman yang ia ucapkan.


****

__ADS_1


Di waktu yang sama. Namun berbeda tempat.


Tap tap tap...


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang menuju kearah dapur untuk mengejutkan Mama nya yang tengah di sibukkan dengan adonan kue yang hendak dimasukkan kedalam oven.


Pria itu adalah Zifran. Dengan langkah mengendap-endap Zifran menghampiri sang Mama yang berdiri membelakanginya.


Namun naas, sebelum ia melakukan aksinya tiba-tiba saja sebuah panci mendarat mulus di dahi Zifran,


Tuenggg...


(anggap aja bunyi panci yang dipukul 😊)


Zifran memegangi dahinya yang terasa amat sangat sakti dan menatap sang pelaku utamanya.Dan pelakunya adalah Mamanya sendiri.


"Sakit?" tanya Mamanya dengan nada meledek.


"Seket?" ucap Zifran menye-menye. "Ya sakit lah! Kalau mukul kira-kira dong Ma." timpalnya ngegas.


"Makanya kalau pulang itu jangan suka ngagetin Mama dong, kamu mau Mama mati muda?" omel Mama.


Mama Sarah membawa Zifran duduk di kursi yang ada di dapur dan mendudukkan tubuhnya di sana.


Mama Sarah yang datang membawa baskom berisi air hangat dan memberikannya kepada Zifran. "Nih, kamu obati sendiri, di kompres yang bener biar memarnya berkurang." ucap Mama dengan nada judesnya.


"Kok bisa sih Papa yang lembut dan penyayang dapat istri galak bener," gumam Zifran lirih. Namun masih bisa didengar.


"Ngomong apa kamu barusan?" sentak sang Mama yang mendengar gerutuan Zifran.


"Tau ah. Mama malas untuk berdebat sama kamu!"


Setelah itu Mama kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tak lama setelah itu, terdengar suara dekheman tepat di belakang Mama Sarah, Mama Sarah kemudian berbalik dan menatap wajah siapa yang ada dihadapannya saat ini.


"Papa. udah pulang?" ucap Mama Sarah.


"Tentu saja sudah. kalau belum, mana mungkin Papa ada dihadapan Mama." balas papa Arya dengan senyuman.


Zifran yang mendengar ucapan sang Papa akhirnya bersuara, "Uuuhh, romantisnya papaku!" seru Zifran.


"Makanya kamu cepetan menikah, udah tua juga." saut sang Mama.


Mendengar kata 'Menikah' dari sang Mama, tiba-tiba saja mood Zifran yang awalnya baik-baik saja seketika berubah.


"Nggak usah ngomong nikah, kalau ujung-ujungnya di jodohkan." sungut Zifran.


"Nggak usah kayak cewek baperan!" balas Mama Sarah.


"Tau ah! Aku mau ke kamar dulu males lama-lama disini." ucap Zifran yang melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.


Sementara itu, Papa dan Mama yang melihat tingkah Zifran saling memandang satu sama lain, sambil mengangkat kedua bahu mereka bersamaan.


****

__ADS_1


Di sebuah ruangan keluarga. Seorang gadis remaja yang dalam sepinya malam masih setia menunggu sang Papa yang belum juga pulang.


Gadis itu menatap ke arah jam yang bertengger indah di hadapannya, ternyata jam itu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Hampir tiga jam sudah Maisya menunggu kepulangan Papanya. Namun semua itu serasa percuma saat papanya tak kunjung datang.


Dengan perasaan kecewa Maisya menutup kembali kotak kue yang sempat ia beli beberapa waktu lalu, Maisya berjalan dengan langkah gontainya.


Sesekali ia menghapus jejak air mata yang tidak sengaja luruh begitu saja tanpa ia minta. Di hari ulang tahun Papanya, Maisya mencoba memberikan sedikit kejutan untuk sang Papa. Tetapi rasa kecewa lah ia dapat.


Di kamar Maisya menjatuhkan tubuhnya di kasur kesayangannya sambil memandang ke arah langit-langit kamarnya.


Larut dalam lamunannya, Maisya tersentak ketika suara panggilan telepon terdengar nyaring tepat di sebelahnya.


Kemudian Maisya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya. Di gesernya ikon berwarna hijau sebagai tanda panggilan diterima.


"Ada apa kak?" ucap Maisya sedikit ketus.


"Kamu kenapa, kok jutek gitu sih? Ada masalah? Cerita sama kakak," ucap seseorang dari sambungan telepon.


"Nggak ada kok. Kak Dion sibuk, nggak?" tanya Maisya.


"Nggak! Kenapa?" balas Dion.


"Jalan-jalan yuk! Kan udah lama kita nggak jalan malem, mau nggak?" tawar Maisya.


"Ya udah, Kakak jemput sekarang!"


"Jangan lama-lama."


"Iya-iya, bawel banget sih,"


"Aku tunggu. Bye."


Tut!


Setelah memutuskan panggilan telepon. Maisya berjalan ke arah cermin untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan tak lupa ia juga memoles wajahnya senatural mungkin agar terlihat lebih fresh untuk menutupi jejak kekecewaan yang baru saja ia alami.


Tinn...tinnn!


Suara klakson motor dari luar membuat Maisya yang baru menuruni anak tangga terakhir berjalan cepat menuju pintu utama.


"Udah siap?" tanya Dion kekasih Maisya.


"Yuk kak! Entar keburu malem." Ucap Maisya yang sudah nangkring di jok belakang.


"Pake dulu nih helm nya!" seraya memberikan helmet yang ia pegang kepada Maisya.


"Terimakasih,kak!" ucap Maisya menerima pemberian Dion.


BRUMMM....


Suara deru motor sport yang membelah jalanan ibukota yang ramai di malam hari.


...****...

__ADS_1


__ADS_2