Terjebak Cinta Sang Casanova

Terjebak Cinta Sang Casanova
Bahagia


__ADS_3

Slepp!


Dari arah belakang seseorang memeluk tubuhnya erat. Zifran terdiam, tersenyum membiarkan gadis itu memeluknya dengan begitu erat sampai membuatnya sedikit susah bernafas.


"Ulangi," ucap Maisya tersedu-sedu sambil menyandarkan kepalanya ke punggung Zifran.


"Apanya?" tanya Zifran bingung.


"Ulangi kata-kata kalau kak Zi suka sama gue." Semakin erat Maisya memeluknya.


"Buat apa? Toh kamu nggak suka kan sama kakak." Zifran terdiam di tempatnya.


"Dasar bodoh. Lo jadi cowok nggak peka amat sih kak! Gue itu tadi terharu. Isshhh, nyebelin."


Zifran membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan gadis itu. "Jadi, kamu nerima cinta kakak." Maisya mengangguk, "apa buktinya?"


Cup!


Maisya berjinjit mencium bibir Zifran sekilas. Yang mana ciuman secara tiba-tiba itu membuat ketiganya (Alya, Andin dan juga Arlan) membulatkan mata mereka tak percaya.


"Gue juga cinta cama Lo."


Mendengar jawaban dari Maisya, tak henti-hentinya pria tersenyum kearahnya. Zifran meraih tengkuk Maisya, menuntunnya perlahan supaya ia mudah meraih bibir mungil berwarna pink menggoda itu.


Cup!


Zifran membalas kecupan Maisya. Tapi bukan hanya sekedar kecupan biasa. Dengan begitu lembut ia melu*mat bibir itu dan memainkan lidahnya didalam sana. Yang mana aksinya menjadi tontonan gratis bagi mereka yang terpaku ditempatnya.


"Ah, sial. Mata gue ternodai!" dengus Arlan sambil menutup mata Alya yang berdiri disampingnya. Namun pandangannya terus mengarah kearah sepasang manusia luknat yang tak berakhlak.


"Oh, mata suci ku udah nggak perawan lagi," ucap Alya sambil menutup Andin. Namun dengan cepat Andin menepisnya.


"Wah, enak banget jadi si Mae. Mau dong aku digituin."


Plak!


"Belum cukup umur." Alya memukul lengan Andin.


"Wah, emang nggak ngotak tuh bocah maen nyosor di depan jomblo!" sambung Arlan.


Balik ke tokoh utama.


Zifran melepaskan pagutan sesaat mereka. Ia menangkup wajah Maisya. "Makasih. Makasih udah mau nerima cinta dari pria breng*sek ini." Ia mengusap bibir Maisya yang basah akibat ulahnya.


"Dasar cowok nggak romantis." Maisya menyapu sisa jejak air matanya.


"Kenapa?"


"Masak nembak cewek di tengah kebun binatang. Nggak elit banget sih kak!"


"Ya nggak papa. Ya itung-itung bikin yang anti-mainstream, gitu."


"Dasar Casanova pelit," cibir Maisya.


"Siapa bilang kakak pelit. Nih liat!"


Prok prok prok.


Zifran bertepuk tangan memberi kode kepada mereka yang di sana untuk melakukan sesuatu yang sudah ia beri tahu sebelumnya.


Maisya menatap kedua sahabatnya heran dengan apa yang mereka lakukan dan kerjakan saat ini. Begitupun dengan sekretaris dari pria yang baru saja resmi menjadi kekasihnya yang tengah sibuk menyiapkan beberapa peralatan seperti bangku dan juga meja yang berukuran sedang yang diletakkan tak jauh dari mereka berdiri.


"Kak, ini ada apaan sih?" tanyanya bingung.


"Udah nikmati aja dulu. Entar juga kamu tau."

__ADS_1


Tak berselang lama apa yang di inginkan oleh Zifran telah tertata rapi dihadapannya. Sebuah makan malam romantis yang dihiasi bunga mawar merah dan sebuah lilin yang menyala membahas kesan indahnya malam itu untuk kedua insan yang di sedang mabuk asmara.


Zifran membuka kursi untuk Maisya. "Terimakasih!" ucap Maisya tersenyum.


"Sejak kapan kalian kompak ngerjain gue? lo pikir gue nggak takut apa kalau sempet beneran gue bakal di jual sama Om-om. Ah, nggak bisa gue ngebayanginnya," omel Maisya. Ia jadi teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu yang ternyata sudah direncanakan sebelumnya.


"Hahaha, sorry, tapi itu ide Alya. Awalnya kakak nolak, tapi dia terus maksa."


"Kok bisa sih kalian jadi partner. Atau jangan-jangan... ." Maisya menggantungkan ucapannya.


"Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Kakak sama dia cuma kerjasama demi kepentingan pribadi. Kakak butuh dia buat bawa kamu kesini. Dia butuh kakak buat deketin si Arlan sama tuh bocah. Tapi selebihnya kakak nggak ikutan," sanggah Zifran.


"Kak. Ini nggak papa kita disini? nggak di marah gitu," ucap Maisya sambil menelisik kesana-kemari.


"Ya nggak lah. Tempat ini kan udah kakak sewa beberapa jam ke depan."


"Wah sombong."


"Mau kakak siuapin?" tanya Zifran menyodorkan potongan daging steak kearah Maisya. Tanpa rasa malu Maisya menggangguk, menerima suapan dari pria yang menurutnya memang tak ada romantis-romatisnya.


Masak iya, seorang pewaris dari ZA group, menyatakan cintanya di kebun bintang. Hello, apa entar kata para kuda Nil dan para buaya yang melihatnya. Tapi apapun yang dilakukan oleh Zifran, ia akan menerimanya dengan senang hati. Anggap aja cinta itu buta dan tak tau tempat.


"Sya, kamu tau kancil?"


"Ya tau lah!"


"Ternya kancil itu kalah pinternya sama kamu."


"Kenapa gitu? perasaan gue nggak pinter-pinter amat."


"Kamu tuh pinter. Pinter meluluhkan hati kakak yang sebelumnya nggak pernah tersentuh oleh siapapun."


"Masak! Terus, hubungan kakak sama Tante lohan itu apa?"


"Hanya partner ranjang doang. Nggak lebih," ucap Zifran jujur. "Sya," panggilnya.


"Kamu tau persamaan kamu sama guling?" gombalnya lagi disela-sela makan mereka.


"Apa?"


"Sama-sama ngangenin dan pengen dipeluk. Eakkk," ucapnya sambil tersenyum.


Dengan gemasnya Maisya mencubit pipi pria yang ada dihadapannya. "Uluh, uluh. Sekarang udah Pande gombal ya. Belajar darimana, Hem."


"Dari mbak gogel yang Serba tau." Maisya manggut-manggut mendengar ucapan Zifran.


Cukup lama mereka saling mengobrol dan menghabiskan waktu mereka bersama, hingga tak terasa waktu semakin berlalu.


Zifran melirik jam yang berada di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan waktu pukul sepuluh malam.


"Mau pulang?"


Maisya mengangguk. "Iya."


"Ya udah yuk, kakak anterin." Zifran bangkit dari duduknya. Begitupun dengan Maisya.


"Nggak usah, nanti ketahuan papa kalau aku ketemu sama kakak."


"Itu urusan belakangan. Yuk! entar keburu malem."


"Terus Alya sama Andin gimana?"


Mereka ngikut dibelakang kita."


Zifran menarik tangan Maisya untuk ia genggam. Kini berdayanya berjalan beriringan menuju sebuah mobil yang khusus untuk pengunjung sudah menunggu mereka.

__ADS_1


Sementara itu seorang pria dengan wajah masam sedang melakukan tugas terakhirnya sambil bersungut-sungut mengumpat kasar sang sahabat yang tak berperipersahabatan yang tega-teganya memberikannya tugas yang begitu melelahkan untuknya. Belum lagi ia harus bolak-balik Jakarta-Bogor.


Dengan gerakan cekatan Arlan merapikan dan membersihkan tepat itu seperti sebelumnya dan ia di bantu oleh petugas di sana.


****


"Kak, ini mimpi nggak sih?" tanya Maisya yang masih tak percaya dengan statusnya kini.


"Maksudnya?" sambil menyetir mobil Zifran melirik sekilas ke arah Maisya.


"Sekarang Lo jadi milik gue seutuhnya."


Sebelah tangan Zifran menggenggam tangan Maisya dan membawa lebih dekat ke hadapannya.


Cup!


Zifran mencium mengecup punggung tangan Maisya. "Sekarang udah percayakan. Kalau ini bukan halusinasi."


Maisya tersenyum mendapat perlakuan manis dari pria yang telah mengubah hari-harinya menjadi berwarna. Pria yang saat ini telah menjadi kekasihnya menggantikan posisi sang mantan.


"Kak Zi janji ya, nggak bakal nyakitin hati gue kayak Dion," ucap gadis itu menoleh ke samping dengan Zifran yang terfokus di jalanan.


"Tentu aja. Sampai kapanpun kamu akan menjadi wanita yang paling kakak sayang.


Setelah 1 jam berkendara akhirnya mereka sampai di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi.


"Udah kak, gue turun sampai sini aja. Mending Lo pulang udah malem," ucap Maisya.


"Kenapa, kamu takut dimarahin sama papa kamu?"


"Bukan. Ini udah malem, entar papa marah sama kak Zi."


"Itu udah resiko kakak. Kakak nggak mau dibilang cowok pengecut yang nggak berani ngadepin papa kamu.


"Mending Lo pulang aja. Entar yang ada kalian ribut, kan nggak enak sama tetangga."


"Terus kamu gimana?"


Maisya menunjuk kearah mobil yang terparkir tepat di belakang mobil Zifran. "Tuh, udah ada mereka yang nunggu gue. Pergi sama mereka, pulang juga sama mereka."


"Terus kalau papa kamu tanya gimana?"


"Lo tenang aja, mereka ahlinya."


"Ya udah, kalau gitu kakak pulang dulu. Entar kalau ada apa-apa telepon kakak. Oke!"


Maisya mengangguk. "Hem."


Cup!


Zifran mencium kening Maisya lembut.


"Hati-hati," ucap Zifran.


Setelah itu Maisya keluar dari mobil milik Zifran dan beralih ke mobil yang di tumpangi kedua sahabatnya. Dengan lengkungan bibir yang terus mengembang, Maisya masuk kedalam mobil milik Alya.


"Weh, yang baru jadian, jangan lupa PJ nya ya? Ya nggak Al!" ucap Andin.


"Yo'i Kamen," jawab Alya. Mereka saling ber'tos'ria.


"Oke. Besok gue bakal ngajak Lo berdua nge-mall bareng. Tenang aja, gue yang bayar."


"Nah, cakep tuh!" seru keduanya.


"Yuk ah, buruan, entar bokap gue nungguin."

__ADS_1


Dengan semangat 45, Alya menjalankan mobilnya mendekati gerbang. Dan tak lama pintu gerbang terbuka setelah beberapa kali Alya membunyikan klakson mobil miliknya.


__ADS_2