
Tettt.. tettt.. tettt.
Suara bel pertanda pulang sudah berkumandang di SMA Bunga Darma. Seluruh siswa-siswi berbondong-bondong meninggalkan ruang kelas mereka masing-masing, begitupun dengan Maisya dan kedua sahabatnya yang slalu berada di sisinya.
Ketiganya berjalan beriringan di koridor sekolah yang terlihat begitu ramai oleh murid yang berada satu lantai dengan mereka.
Pandangan Maisya tak henti-hentinya menatap ruang kelas yang mereka lewati mencari sosok seorang yang sejak tadi tidak menampakan batang hidungnya sama sekali.
"Derrr!" Seseorang menepuk pundak Maisya secara tiba-tiba dari arah belakang.
Bugh!
Sontak saja Maisya yang refleks memutar tubuhnya langsung menghadiahi orang tersebut dengan bogem mentah yang mendarat tepat di perutnya.
Maisya baru menyadari siapa orang yang baru saja ia berikan pukulan Mautnya.
Leon memegangi perutnya yang terasa sakit, "Aauwsh, gila lo Sya, pukulan lo kenceng amat lo cewek apa bukan sih, bar-bar amat."
"Hahaha Makan tuh keusilan!" suara gelak tawa dari Andin.
"Sorry Yon, gue nggak sengaja, lagian elo sih ngagetin gue!"
Maisya memegang lengan Leon. "Sakit banget ya, Yon?"
Leon menggeleng. "Nggak kok, udah biasa gue mah," Leon menampilkan senyumannya agar Maisya tak merasa bersalah. Jika di pikir-pikir dialah yang salah karena sudah mengagetkan Maisya.
Setelah semua kembali normal, mereka berempat berjalan menuju parkiran.
"Lo nggak Bawak mobil Sya?" Alya celingukan mencari mobil Maisya.
Maisya menggeleng, "Nggak!"
"Ya udah, lo gue anterin ya?"
"Nggak usah, lagian gue nggak pulang kerumahnya kok."
"Emangnya Lo mau kemana?" tanya Leon penasaran.
"Kepo!!" jawab Maisya, Alya dan Andin bersamaan.
Tak berselang lama terdengar suara klakson mobil yang memekakkan telinga yang terparkir di luar pagar sekolah SMA Bunga Darma.
Sebagian murid yang masih berada diparkiran menoleh kearah sumber suara, begitupun dengan Maisya dan ketiga orang yang berada di sampingnya pun ikut menoleh.
"Siapa sih, jadi orang belagu amat. Baru juga mobil kayak gitu? gue juga punya tuh, tapi gue nggak kayak dia." omel Leon menatap mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Iri, bilang boss!!!" saut duo A, lalu bertos ria melihat wajah kesal dari Leon.
"Sia*lan Lo berdua!" tunjuk nya kearah Duo A.
"Udah ah, lo bertiga apaan sih, nggak malu apa sama yang lain,"
Maisya menengahi ketiganya sebelum perang adu mulut yang ujung-ujungnya akan menimbulkan masalah bagi mereka semua. "Udah ah,. gue mau cabut, udah di tunggu tuh."
Maisya berjalan meninggalkan ketiga makhluk yang sedang menatap kearahnya.
"Tuh anak buru-buru banget mau kemana sih?" tanya Leon tanpa mengalihkan pandangannya.
"Loh, kok tuh anak masuk kedalam mobil itu sih!" tunjuk nya.
Duo A yang melihat itu mengangkat bahunya, "Tak tahu," jawab Andin. Lalu keduanya pergi meninggalkan Leon sendirian.
"Nasib gue gini amat ya."
***
Selama di perjalan menuju rumah kediaman Samudera, Zifran selalu di buat pusing oleh segala celotehan Maisya yang selalu mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi.
Tak lama , sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah bangunan megah bertingkat dengan pagar besi yang menjulang tinggi di depannya.
__ADS_1
Zifran dan Maisya keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan. Maisya yang berjalan di samping Zifran tak henti-hentinya menatap kagum bangunan yang berada dihadapannya bak sebuah mansion di cerita novel yang sering ia baca, bahkan jika dibandingkan dengan rumahnya, rumah pria itu jauh lebih besar.
"Mama udah nyampek bik?" tanya Zifran kepada salah satu pembantunya.
"Sudah Den, sejak tadi pagi."
Zifran dan maisya melangkah menaiki anak tangga menuju tempat di mana Namanya berada.
"Om, gue grogi banget tau nggak sih, pulang aja yuk! Gue belum siap!" ucapnya nyeleneh.
Bayangkan saja, sudah di depan mata masa iya mau balik lagi.
Tiba-saja Zifran menghentikan langkahnya yang mana membuat mauisya menabrak tubuh nan kekar itu.
Dugh!
"Auwshh" Maisya merintis memegangi dahinya.
"Jangan gitulah cil, udah tanggung nih, udah sampek sini juga. Gue percaya sama lo, bantuin gue ya? Pliss!" ucapnya memohon.
Maisya menghela nafasnya kasar. "Ok, tapi gue nggak janji ya!"
Setelah perbincangan kecil, mereka kembali melanjutkan kembali langkah mereka.
Di depan pintu yang berukuran besar kini keduanya berdiri menatap satu sama lain. Keduanya menarik nafas mereka dalam-dalam.
Tok tok tok..
Zifran mengetuk pintu itu.
Ceklek!
Terdengar suara pintu yang terbuka dari dalam menampilkan pria paruh baya yang wajahnya tidak beda jauh berbeda dengan Zifran.
Pria itu menatap kearah putranya dan Maisya secara bergantian,
'Kok berasa horor ya?' batin Zifran
Maisya sesaat terkejut mendengar suara yang begitu lembut menyapanya. "T-terimakasih pak," balas Maisya sedikit gugup.
Di sebuah kamar yang begitu luas dengan beberapa interior mewah di dalamnya. Terdapat sebuah tempat tidur berukuran besar yang diatasnya terlihat seorang wanita paruh baya tengah berbaring mengistirahatkan tubuhnya yang belum benar-benar pulih.
Zifran menghampiri Mamanya, begitupun dengan Maisya yang masih setia berada di samping pria yang kini menyandang status pacarnya itu. Tapi bo'ong.
Sang Mama yang menyadari kehadiran putranya bersama wanita yang masih mengenakan seragam sekolahnya segera membenarkan posisinya menjadi duduk menyandar tubuhnya ke kepala ranjang.
"Siapa dia Fran?" tanya Mama Sarah menunjuk Maisya dengan tatapan matanya.
"Kenalin Ma, dia Maisya pacar Zifran."
Uhukh!
Maisya tiba-tiba saja tersedak air liurnya karena perkataan Zifran barusan.
Mama Sarah menyerngitkan dahinya, begitupun dengan Papa Arya yang berada di sofa tidak jauh dari tempat mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putranya itu.
Maisya mengulurkan tangannya, "Perkenalkan nama sayal Maisya, Tante. Saya pacar Om--, aduh!" Maisya mengaduh kesakitan saat kakinya di injak oleh Zifran.
"Emm, maksud saya, saya pacarnya kak Zi..."
'Siapa lagi nama Om ini',' batinnya.
Bisa-bisanya ia lupa dengan nama orang yang selalu ia panggil dengan sebutan 'Om Mesum'.
Sementara Zifran yang berada di samping Maisya tengah merutuki kebodohannya yang tidak memperkenalkan namanya kepada Maisya.
"Nama saya Maisya Tan, saya pacarnya kak Zifran."
Mama Sarah menerima uluran tangan Maisya,
__ADS_1
"Saya Sarah, Mamanya Zifran."
Meskipun ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari keduanya namun ia tetap berpikir positif.
"Silahkan duduk Nak Maisya!" ucapnya lagi.
Maisya duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Mama Sarah, sedangkan Zifran, pria itu duduk ditepi ranjang tempat tidur sang Mama.
"Bukannya kamu ini salah satu siswi SMA Bunga Darma ya?" tanya Papa Arya yang baru saja ikut bergabung.
"Iya pak. Nama saya Maisya." Maisya mengulurkan tangannya.
"Panggil saja om. Oiya, sudah lama kalian kenal." Papa Arya membalasnya.
"Sudah Om," jawab Maisya tersenyum paksa.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" pertanyaan yang di lontarkan oleh Mama Sarah.
"Setahun! Sebulan!" jawab keduanya bersamaan saling memandang satu sama lain.
Mama Sarah menyerngitkan dahinya, "Yang bener yang mana?" ucapnya mengintimidasi.
"Maksudnya, kita pacarannya udah setahun lebih sebulan kan, SAYANG?" Zifran memberi kode dengan menekan kata sayang diakhir kalimatnya.
Huekk!
Mendengar kata sayang dari z, ingin rasanya Maisya muntah saat ini juga.
"Hehehe, ia betul itu Tan!" balas Maisya terkekeh merutuki kebodohannya.
Mama Sarah dan Papa Arya yang mendengarkan penuturan mereka menganggukkan kepalanya paham "Oh..!!" ucap mereka bersamaan.
"Jadi ini yang bikin kamu menolak kalau setiap kamu Mama jodohin sama anak temen Mama?" Zifran tersenyum menatap wajah Mama Sarah.
"Terus kenapa dari dulu nggak kamu kenalin ke Mama nak?"
Namun bukannya Zifran yang menjawab, melainkan Maisya lah yang menjawabnya.
"Sebelumnya saya minta maaf Tan, saya yang menyuruh kak Zifran untuk tidak mempublikasikan hubungan kami. karena saya takut kalau kedua orang tua kak Zifran tidak menyukai gadis seperti saya." ujarnya.
"Memangnya kamu seperti apa?" tanya Mama Sarah penasaran.
"Karena saya ini cuma anak SMA dari keluarga biasa. sedangkan kak Zifran, ia dari keluarga kaya dan terpandang. Saya takut jika Tante tidak menyukai saya. Sekali lagi saya minta maaf atas semuanya." Maisya mulai memainkan dramanya.
Mama Sarah yang menatap wajah Maisya yang terlihat sedih jadi merasa tak tega, ia pun menggerakkan tangannya memanggil Maisya untuk mendekat dengannya.
Perlahan Mama Sarah membawa Maisya duduk tepat disampingnya. kemudian ia mengulurkan tangannya menggenggam tangan Maisya.
"Kenapa kamu sampai mempunyai pemikiran seperti itu. Justru kami senang jika Zifran mempunya kekasih, sebab sudah beberapa kali kami menjodohkannya tetapi selalu saja ia tolak. Dan terimakasih karena kamu mencintai dan menerima Zifran yang banyak tingkahnya."
"Sama-sama Tante.
Setelah melewati suasana yang menegangkan, kini suana di kamar Mama Sarah kembali menghangat. Tidak ada lagi ketegangan yang menghampiri Maisya dan Zifran
Ternyata saran dari Arlan tidak terlalu buruk. Itu pikirannya saat ini.
Karena hari semakin sore, Zifran berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk segera mengantar Maisya kembali kerumahnya.
"Besok-besok main kesini lagi ya? Jangan kapok untuk main kesini."
"Iya, Tante, kalau ada waktu Maisya bakal main kesini lagi kok! Maisya permisi ya, Tan. cepet sembuh!" ucap gadis itu. kini perlahan tubuh dan bayangan kedua orang itu menghilang di balik pintu yang kini tertutup.
Sepasang suami-istri itu saat ini tengah menikmati waktunya bersama. Raut bahagia kini tampak jelas di wajah wanita yang kini diusianya yang tak lagi muda namun wajahnya masih terlihat cantik dan manis.
"Ha'!! Akhirnya rencana kita berhasil juga kan pa? Apa Mama bilang, anakmu itu paling nggak bisa kalau liat mamanya kenapa-napa. Akhirnya aku bakalan punya mantu juga Pa!"
Terlalu bahagia mengetahui rencananya berhasil, sejak tadi tak henti-hentinya ia memukul lengan suaminya yang sudah meringis kesakitan.
Dengan sisa tenaganya Mama Sarah mendekati suaminya, tanpa aba-aba ia langsung mendaratkan kecupan singkat di bibir suaminya tersebut.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Pa, udah mau bantuin Mama."
Papa Arya menatap wajah sang istri penuh dengan senyuman tulusnya. "Sama-sama."