
Cuaca semakin terik disaat mentari mulai meninggi dan memperlihatkan cahayanya kepada seluruh makhluk hidup yang hidup di bumi.
Maisya baru saja menyelesaikan latihan fisik yang akan diikutinya dalam pertandingan yang akan diadakan beberapa hari lagi dan diselenggarakan oleh pihak sekolah SMA Bunga Darma itu sendiri.
Masih mengenakan pakaian serba putih dengan sabuk di pinggang, Maisya berjalan menuju ruang ganti yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya latihan. Di sana ia tak sendiri, ada Alya yang selalu menemani dirinya.
"Al, lo nanti pulang bawa motor gue ya, soalnya gue ada urusan mendadak yang nggak bisa gue tinggal. Biasa kan?" ucap Maisya.
"Emang Lo mau kemana Mae?" tanya balik Alya.
"Tadi Mamanya kak Zifran nelepon gue ngajak ketemuan, katanya sih dia kangen sama gue." Gadis itu membuka satu persatu pakaiannya dan menggantinya dengan seragam sekolah.
"Cieeee, yang udah dapet lampu ijo!" goda Alya.
"Husst! Apaan sih Al, lo kan tau ini cuma sementara."
"Tapi tetep aja Sya, gue seneng."
"Ngaco lo!" Maisya melangkah meninggalkan Alya ditempatnya.
"Woy! TUNGGU !!" teriak Alya mengejar sahabatnya.
****
Tettt tett tett.
Bel tanda berakhirnya aktivitas belajar mengajar sudah berkumandang di seluruh penjuru sekolah SMA Bunga Darma.
Seluruh siswa berbondong-bondong meninggalkan ruang kelas mereka masing-masing. Begitupun dengan Maisya dan juga Alya, mereka tengah bergegas menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Duk!
"Awwwssh," ringis Maisya menatap sikunya yang berdarah.
Gadis itu menatap wajah ajah pelaku yang membuatnya jatuh.
"Sorry, Sya, gue nggak sengaja!" Zaki membantu Maisya berdiri.
"Lo gimana sih Zak, jalan nggak pake mata!" omel Alya.
"Aelah Al, dimana-mana itu jalan pake kaki mana ada yang pake mata."
"Udah nggak usah pada berantem gue nggak papa. Yuk Al, gue buru-buru!" Maisya berjalan menggandeng tangan Alya.
"Zak, lo ada liat Maisya nggak? Soalnya gue cari di kelasnya tuh anak udah nggak ada," Leon menghampiri Zaki di tangga.
"Baru aja pergi, lo telat datangnya."
__ADS_1
"Ya udah gue duluan mau nyusul Maisya!" Leon menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan meninggalkan Zaki yang berjalan bak siput.
Di parkiran sekolah.
Terlihat dua gadis cantik yang memiliki Surai panjang dengan warna yang berbeda tengah berjalan menuju kearah motor sport yang terparkir rapi di barisannya.
Keduanya tampak asyik dalam perbincangan yang mereka ciptakan.
"Lo di jemput sama siapa?" Alya melirik Maisya.
"Sama Mamanya kak Zifran, kenapa?"
"Nggak ada sih, cuma tanya doang! Oiya, lo jadikan nginep di rumah gue?"
"Jadilah! Tapi gue pinjem baju lo ya, soalnya gue nggak bawa ganti."
Tin tinnn!
Sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari tempat Maisya dan Alya berdiri saat ini. Tampak seorang wanita paruh baya dengan tampilannya yang elegan berjalan menghampiri kedua gadis itu dengan senyum hangat yang terpatri di wajah cantiknya yang tidak termakan oleh usia.
"Sudah lama menunggu Nak?" ucap Mama Sarah.
"Belum kok Tan. Oiya Tan, kenalin ini Alya sahabat Maisya!" ucap Maisya memperkenalkan Alya.
"Saya Alya Tante!" ucap Alya memperkenalkan diri.
"Bawa aja Tan. Nggak dipulangkan juga nggak papa!" canda Alya yang justru mendapatkan plototan tajam dari Maisya. Mama Sarah hanya tersenyum melihat tingkah kedua gadis itu.
Kini Maisya dan Tante Sarah berjalan menuju mobil yang terparkir di bawah teriknya sinar matahari namun tiba-tiba langkah Maisya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"SYA, TUNGGU!!" teriak pemuda yang setengah berlari. Maisya berbalik badan menatapnya.
"Siapa dia Sya?" tanya Mama Sarah.
"Leon, temen Maisya Tan."
"Oooh. Kalau begitu Tante tunggu di mobil ya!" Maisya mengangguk. Mama Sarah pergi meninggalkan Maisya.
"Ada apa Yon?"
"Ni, gue cuma mau ngasih ini ke elo, dari tadi gue mau ngasih, tapi lo lagi sibuk." Leon memberikan sebuah kotak kecil yang diatasnya terdapat pita.
"Apa ini Yon?"
"Hadiah buat lo. Semoga lo suka!"
"Thanks! Gue pamit ya, nggak enak udah di tunggu." Leon mengiyakannya. Maisya berjalan menyusul Mama Sarah menuju mobil.
__ADS_1
Kini mobil yang di tumpangi oleh dua wanita berbeda generasi itu melaju meninggalkan bangunan berlantai dua itu.
****
Di sebuah restoran mewah bergaya Eropa.
"Hai jeng, maaf ya telat! Oiya, kenalin ini Maisya calon mantu saya. Cantik kan?" ucap Mama Sarah yang baru saja tiba dengan begitu hebohnya.
Maisya yang berada disitu hanya bisa tersenyum canggung dengan situasinya saat ini. Berbeda dengan Mama Sarah yang tampak antusias dengan memperkenalkan dirinya sebagai calon menantu.
"Ooooh, jadi ini yang namanya Maisya, pantesan aja anak jeng Sarah nolak anaknya jeng Selfi. Iya nggak jeng?" ucap salah satu teman arisan Mama Sarah yang menatap kearah temannya yang di panggil 'Jeng Selfi'.
"Iya ya, mana geulis pisan anaknya, masih sekolah lagi. Aduh, beruntungnya Nak Zifran!" sambung yang satunya.
"Ahhh, kalian bisa aja!" balas Mama Sarah tersenyum malu. Ia memberi kursi untuk Maisya. "Oiya jeng, gimana kabarnya Amel, karena sejak kejadian malam itu saya tidak pernah melihat Amel lagi. Maaf ya jeng,"
"Nggak papa kok jeng. Kabar Amel baik, dia baru aja pulang dari London. Tuh dia!" tunjuk Selfi kearah putrinya yang berjalan kearah mereka.
Maisya menoleh kearah wanita yang berjalan dengan pakaian sexy.
'Ooh, jadi ini yang namanya Amel, yang sempet dijodohin sama kak Zifran. Kok bodoh banget sih kak Zifran nolak yang body-nya aduhai begitu. Dan anehnya malah minta tolong sama gue. Ah, bikin gue insecure aja." batinnya.
"Hai, semua!" sapa Amel yang dibalas dengan senyuman dari teman-teman Mommy-nya.
"Hai, Tan, apa kabar?" Amel cipika-cipiki dengan Mama Sarah. "Siapa dia Tan?" Amel menunjuk kearah Maisya.
"Kenalin ini Maisya, calon istrinya Zifran!"
"Hai kak, saya Maisya!" Maisya mengulurkan tangannya.
"Amel!" balas wanita itu.
Maisya dan Amel pun duduk bersebelahan.
"Kalian mau pesan apa? Pesan aja, hari ini saya yang akan traktir kalian sebagai rasa bahagia saya yang sebentar lagi bakal punya mantu!" ujar Mama Sarah dengan raut wajah sumringah.
Maisya hanya menampilkan senyumannya untuk menutupi rasa malu yang kini tengah menderanya.
"Tentu!" balas temannya.
"Sok atuh. Gass keun!" sambung satunya lagi.
Sementara disisi lain seorang wanita tengah menatap mereka dengan raut wajah yang tak terbaca.
"Selamat ya atas hubungan kamu dengan Zifran," ucap Amel.
"Terimakasih kak!" balas Maisya.
__ADS_1