
Selesai makan mereka melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda demi untuk mengisi perut yang keroncongan. Siang semaki terik, mentari membumbung tinggi memancarkan sinarnya bagi mereka yang tengah menikmati indahnya perjalanan menuju kesebuah tempat wisata yang ada di sekitaran Ciwidey, Bandung.
Di dalam mobil bersama Zifran, Maisya selalu mengoceh, terkadang menyanyi mengikuti alunan musik dari mobil yang baru dihidupkan.
Sementara di samping, Maisya, Zifran terus memandang kelakuan kekasihnya yang terbilang super aktif sehingga tidak bisa diam membuat dirinya harus ekstra fokus dalai menyetir.
"Lo kenapa natap gue kayak gitu, kak?" tanya Maisya yang sedari tadi merasa diperhatikan. Seketika itu juga Maisya pun berhenti dari acara ngamen di dalam mobil Zifran.
"Kok berhenti? Lanjutin lagi dong nyanyinya kakak suka denger suara kamu, Sya," pinta Zifran yang sambil mengemudi.
"Males, ah. Nggak enak di liatin 'kan gue jadi malu. Mending, lo fokus nyetir dari pada liatin gue." Sambil menutupi wajahnya yang tampak memerah.
"Kamu itu, semakin hari semakin gemesin tau nggak, Sya. Bikin kakak makin cinta aja sama kamu," ucapnya mencubit pipi Maisya.
"Sakit tau, kak. Apaan sih, lo!" pekik Maisya menepis tangan Zifran dari wajahnya. "Gue geli lama-lama deket Lo, kak. Sejak kapan gue punya pacar alay-nya nggak ketulungan kayak gini. Di mana cowok playboy yang dulu katanya digilai banyak cewek-cewek semok, kok sekarang jadi bucin," ucap Maisya.
"Entahlah. Terkadang kakak juga bingung, Kenapa kakak bisa berubah setelah bertemu kamu. Tapi semua itu buat kakak semakin nyaman sama kamu, Sya. Sekarang yang kakak mau cuma satu, setelah kamu lulus kakak pengen serius sama kamu. Kakak capek bohongi Mama dan Papa. Dan kakak juga kasian sama mereka yang terus berharap sama anaknya yang brengsek ini."
Perihal tentang awal kepura-puraan mereka baik Mama Sarah dan Papa Arya belum mengetahuinya. Ia tidak tahu apa yang sudah di lakukan dirinya di belakang mereka. Membawa gadis polos masuk kedalam jerat birahinya.
Setelah itu Zifran menghembuskan napas lega setelah mengeluarkan apa yang selalu menjadi inginnya. Meskipun itu terlalu cepat, namun dirinya tak ingin berbuat lebih jauh lagi terhadap wanita yang ia cintai.
Kau pandangannya menoleh pada Maisya yang tiba-tiba saja tak bersuara dan menatapnya dengan tatapan penuh harap akan sesuatu. darinya. Karena peka, Zifran meraih tangan Maisya menggunakan tangan kirinya.
"Kenapa kamu liatin, kakak kayak gitu? Apa ada yang salah, hem? Atau kamu meragukan kakak?"
"Jadi, lo serius sama apa yang lo bilang barusan, kak?"
Zifran mengangguk dan berkata, "iya."
__ADS_1
"L-lo nggak bo-bohong 'kan, kak? Lo nggak lagi becandain gue 'kan?" Antara percaya dan tidak dengan ucapan Zifran.
Jantungnya berdegup lebih cepat membuat pipinya sampai merona. Zifran yang yang melihatnya tentu peka dengan perasaan yang saat tengah menyelimuti hati Maisya. Biar bagaimanapun wanita itu tau siapa dirinya di masa lalu.
"Kak serius, Sya. Mana mungkin kakak becanda soal ini," Memarkirkan mobilnya di samping mobil Arlan yang baru saja terparkir. Melepaskan seat belt setelah mematikan mesin mobil. Zifran meraih kedua tangan Maisya, menatap gadis tersebut dengan tatapan serius. "biarpun kakak ini brengsek, tapi Kakak cinta sama kamu. Rasa yang sayang kakak yang ngeyakinin kakak untuk serius dalam hubungan ini. Apa kamu yang nggak mau serius sama, kakak?"
"Siapa bilang bilang gue nggak mau serius sama Lo, kak. Gue cuma takut kalau gue nggak bisa jadi yang terbaik buat Lo. Gue nggak sesempurna cewek-cewek lain, kak."
Bukan, Maisya menolak. Tapi ia tau begitu banyak wanita yang menginginkan Zifran. Dirinya merasa insecure dengan mereka. Entahlah, padahal dirinya dan Zifran menjadi sepasang kekasih, namun rasa itu tidak iia pungkiri.
Hingga lamunannya buyar saat Zifran dengan hangat mencium keningnya sekilas. "Kamu adalah wanita sempurna untuk kakak, Sya. Ayo turun sudah sampai. Kasihan mereka udah pada nungguin kita," ucap Zifran setelahnya.
"Bakal gue tunggu hari itu, kak."
Zifran mengangguk, membantu Maisya untuk melepaskan seat belt.
Mereka telah tiba di Barusen Hills Ciwidey, yaitu taman bunga yang terletak di daerah Ciwidey, Bandung. Sebuah taman yang menjadi spot foto yang sedang nge-hits di kalang anak muda, di lengkapi dengan Waterboom dan beberapa tempat untuk bersantai.
"Maaf, pasti lama ya, nungguinnya?" Berjalan bergandengan dengan, membuat dirinya menjadi pusat perhatian sekitar.
Arlan, Alya, Andin dan Leon yang menunggu beberapa saat lalu menampilkan wajah sinis menatap pasangan yang berjarak beberapa meter dari mereka. Menunggu di bawah terik matahari bukanlah hal menyenangkan. Pikir mereka bersamaan.
"Abis ngapain lo di dalam mobil. Pasti abis macem-macem lo ya?" celetuk Arlan asal ceplos yang langsung mendapat tatapan tajam Zifran.
"Kalau iya kenapa? Mau ikutan?" jawab Zifran asal. Membiarkan mereka yang ada di sana berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka. Sementara Maisya, wanita itu melotot ke Zifran namun tidak di lirik, membuat Alya, Andin dan Leon membenarkan ucapan Zifran.
"Sialan, Lo! Kita-kita di sini jemur badan, Lo malah enak-enak di dalem. Emang nggak adab lo, Fran!" makinya.
"Dasar! Gue kira otak lo polos nggak taunya lebih mesum daripada otak gue. Gue sama Maisya di dalem lagi ngobrol penting, bukan kayak apa yang ada dipikiran kalian. Dasar otak mesum, lu pada!" hardiknya. "Ayo, Sya."
__ADS_1
Pria itu berjalan terlebih dahulu bersama Maisya yang memakai topi lebar di atas kepalanya dengan cardigan bermotif bunga-bunga, membuatnya tampak begitu cantik. Di tambah lagi dengan kacamata yang bertengger di hidung mungilnya menambah Maisya terlihat semaki mempesona.
Banyak pandangan mata yang tertuju pada mereka yang terlihat begitu serasi, membuat siapapun yang memandang akan merasa iri.
Dan di belakang mereka, sedari tadi Alya terus mengomel pada Arlan perihal perkataannya yang ceplas-ceplos tanpa tersaring seperti minyak jelantah.
Sambil berjalan Alya terus berkicau layaknya burung kutilang yang tak pernah digubris oleh Arlan yang bersisian dengannya.
Sesampainya di tempat yang mereka tuju, ketiga gadis itu langsung berlari ketengah-tengah hamparan bunga yang berwarna warna-warni, dengan jalan setapak sebagai lintasan. Andin, gadis berambut sebahu itu mengambil ponsel dari Sling bag, menekan tombol kamera untuk mengambil foto mereka.
"Guys... cissss!" teriaknya mengarahkan ponsel dengan gaya ubsurd ketiganya.
"Aishah. Bisa-bisanya mereka layak bocah," cibir Zifran yang melihat tingkah gadis SMA tersebut.
"Lo lupa kalau mereka emang masih bocah. Lo aja yang udah tua," cibir Ardan gantian.
"Tenang, Om, sesama tua tidak boleh saling menghina." Leon tertawa mengejek.
"Sialan, Lo!" sentak Zifran dan Arlan bersamaan.
"Nih, anak lama-lama ngeselin juga. Khilaf, gue buang lo di tengah jalan biar di angkut sama monyet buat temen mereka. Mau, Lo?!"
"Yaelah, Om baru gitu aja udah emosi. Inget, gue bisa nikung lo di sekolah."
Ucapan Leon pendapat kepalan tangan dari Zifran yang menatapnya.
"Berani Lo coba-coba, abis lo sama gue."
"Kak, sini!" Maisya melambaikan tangannya memanggil Zifran.
__ADS_1
"Tuh, liat. Maisya cinta mati sama gue. Lo nggak bisa ngambil dia dari gue," ucap Zifran memperingati sebelum dirinya pergi dari tempatnya.